
. Reno terlihat lebih banyak diam hari ini.
"Ren... kau baik-baik saja? Aku perhatikan, lama-lama kau semakin terlihat seperti Alvi. Dingin."
"Aku..." tak sempat melanjutkan, dering ponselnya berbunyi. Dahinya menyernyit mengapa Syifa menelponnya.
"Ada apa?" Tanya Reno.
"Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya?" Pertanyaan itu terlontar tanpa ada basa-basi terlebih dahulu.
"Apa maksudmu?" Reno semakin heran.
"Mengapa kau bilang pada Aldi bahwa--"
"Jika aku mengatakan bahwa kita hanya berpura-pura, dia akan berpikir bahwa kita sudah mempermainkan perasaannya."
"Aku jadi tak mengerti dengan tujuanmu Ren."
"Kau jangan khawatir. Tujuanku sudah tercapai. Tujuanku hanya ingin mempersatukan kalian kembali."
"Tapi kenapa?"
"Sudahlah. Kau sendiri sudah tahu dengan perasaan Aldi yang sebenarnya padamu. Jadi untuk apa mempermasalahkan ini kan?"
"Ya... kau benar." Syifa memutus panggilan telponnya dan Reno kembali mengukir wajah kesal saat meletakkan ponsel di meja.
"Kau suka Syifa?" Tanya Bagas meraih kopi di depannya.
"Tidak. Aku hanya membantunya."
"Aku tidak bertanya tentang itu."
"Bagas..." geram Reno.
"Benar kan? Aku hanya bertanya kau menyukainya atau tidak. Bukan bertanya kenapa kau dekat dengannya?" Reno memalingkan kasar wajahnya tanpa menjawab apa yang ditanyakan Bagas.
. "Syifa? Kau sudah disini?"
"Mama? Ak-aku..."
"Syifa menemani saya tante.. karena ayah dan mama pulang dulu." Jawab Aldi yang baru saja sampai dan membawa beberapa makanan dan minuman.
"Bagaimana kakakmu?" Tanya mama Syifa.
"Semakin memburuk." Jawab Aldi menunduk dan mencoba untuk tersenyum meskipun terpaksa. Setidaknya itu yang membuatnya terlihat kuat.
Noah dan beberapa dokter lain keluar dari ruangan.
"Aldi... kakakmu semakin kritis. Jika tidak segera di operasi, maka kakakmu...." Noah menggantungkan kata-katanya.
"Apa kakak setuju?" Tanya Aldi yang sudah pasrah dengan keadaan. Walaupun dalam hatinya, ingin kakaknya berubah pikiran dan bisa bertahan hidup.
"Sayangnya tidak." Lirih Noah.
"Dokter Noah..." Noah mengangguk saat dokter lainnya menepuk pundaknya lalu pergi beserta beberapa perawat.
"Aku ingin bertanya lagi padamu selaku keluarganya. Apa kau setuju Amel di operasi?"
"Ijinkan aku bertanya lagi. Dan akan aku jadikan pertanyaan terakhir untuknya, apapun itu jawabannya kali ini aku akan menerimanya."
"Baiklah silahkan. Tapi jangan sampai menggertaknya." Ucap Noah memberi jalan pada Aldi.
"Kau pikir aku sudah gila?" Tanya Aldi membuka pintu.
"Siapa tahu..." jawab Noah dengan mengangkat bahunya.
. Amel membuka matanya dengan menyipit menahan sakit.
"Mama?" Lirihnya nyaris tak terdengar oleh Aldi.
"Mama belum kesini lagi kak. Kau mau sesuatu?" Aldi mendekatkan wajahnya pada Amel.
"Aku ingin mama." Terlihat bulir bening berderai di pelupuk matanya.
"Kak... kondisi kakak semakin kritis. Di operasi ya! Aku mohon! Aku belum siap jika tak ada kakak." Lagi-lagi Aldi tak bisa menahan air matanya dihadapan sang kakak yang tak berdaya. Dan lagi-lagi Amel menggeleng dan mencoba untuk tersenyum.
"Kematian kakak sudah dekat. Kakak bisa merasakannya." Jawab Amel terbata.
"Apa kakak tega meninggalkanku?"
"Kakak tidak meninggalkanmu. Hanya saja kakak pulang lebih dulu, dan kakak pasti menunggumu. Tapi jangan cepat-cepat menyusul kakak. Kau harus membahagiakan ayah dan mama dulu."
"Berhenti bicara kak. Aku sudah tak ingin mendengarnya." Aldi terisak semakin keras.
__ADS_1
"Sejak kapan kau menjadi cengeng?"
"Kau pikir aku seperti ini karena siapa?"
"Aku ingin bertemu dengan Alvi dan Avril." Aldi tak menanggapi dan terus menunduk di samping Amel.
"Sudah... mengapa kau menangis sampai seperti itu? Aku jadi malu punya adik cengeng sepertimu." Ucap Amel menepuk pelan kepala Aldi.
"Aku lebih malu punya kakak keras kepala sepertimu."
. Sore hari, Alvi menepikan mobilnya di rumah sakit dengan Avril.
"Kau mau menemui kak Amel?" Tanya Avril sebelum Alvi keluar dari mobil.
"Aldi yang meminta." Avril menyernyit mendapati jawaban itu.
. Keduanya menyusuri koridor, dan berhenti tepat di depan Aldi yang menunduk. Aldi mendongak menatap Avril yang menatap nanar padanya.
Aldi kembali menunduk tak ingin memperlihatkan wajah menyedihkannya.
Alvi yang kembali ke mode dingin langsung memasuki ruangan dengan menarik tangan Avril. Avril terkejut mendapati kondisi Amel yang sangat parah.
"Avil..." lirih Amel ketika menyadari keberadaan Avril.
"Kak." Avril meraih tangan Amel yang terasa dingin.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Amel.
"Kakak..."
"Jangan memasang wajah seperti itu... aku baik-baik saja."
"Noah..." ucap Alvi seakan tahu bahwa Noah akan ada disana sekarang.
"Apa?"
"Lakukan sesuatu untuk membuatnya sembuh." Tegas Alvi tanpa memalingkan pandangannya dari Amel.
"Maaf." Hanya itu yang keluar dari mulut Noah.
"Apa maksudnya hah?" Alvi meraih kerah jas Noah dengan kasar.
"Dia yang tak ingin aku tangani." Noah tak kalah emosi.
"Hah?"
Aldi menyusul dan meraih tangan Amel seakan tak menghiraukan keberadaan mereka.
"Apa yang ingin kau katakan?" Tanya Aldi langsung ke intinya. Avril menoleh dan menatap pada Amel.
"Avil... maaf aku sudah mencintai tunanganmu sejak lama. Dan hampir merebutnya darimu. Tapi percayalah! Alvi sangat mencintaimu." Ucap Amel tersenyum.
"Alvi... terima kasih sudah membiarkanku mencintaimu dengan damai. Dan aku harap saat aku pergi nanti kau tak akan menangis. Tapi tak mungkin juga kau akan menangis untukku." Lanjut Amel tertawa kecil.
"Aldi... jangan menangis didepan Avril... itu memalukan."
"Sudah ku bilang jangan bicara lagi." Bentak Aldi menutup matanya dengan tangan yang mengepal.
Alvi kemudian menghampiri Aldi, dan mendorongnya sedikit kebelakang.
"Aku ingin melihat pernikahanmu dengan Avril. Tapi sayangnya aku tak bisa." Lagi-lagi Amel melemparkan sebuah senyuman.
"Aku tak pernah menyuruhmu mencintaiku, tapi apa aku pernah menyuruhmu meninggalkanku? Kau temanku yang berharga Amel... kau yang berusaha selalu ada untukku. Itu kenapa aku menjaga jarak denganmu. Aku tak ingin jika kita menjalin melebihi pertemanan, kita akan bertengkar dan tak menjadi teman lagi. Mengapa kau tak mengerti Amel?" Amel tersentak melihat air mata keluar dari kelopak mata Alvi.
"Kau menangis untukku?" Mata Amel kini sedikit berbinar.
"Teman mana yang tak akan menangis melihat kondisi temannya seperti ini? Kau pikir aku bahagia? Kau benar-benar keras kepala. Harusnya saat kau tahu kau mengidap penyakit mematikan itu, kau meminta untuk sembuh. Bukan malah ingin bertunangan denganku. Kau benar-benar bodoh." Decih Alvi tak bisa menahan derasnya air mata yang keluar.
Avril dan yang lainnya, menganggap kata-kata itu terdengar kejam. Tapi bagi Amel, itu sebuah rasa perhatian yang hanya disadari oleh sebagian orang.
'Cup' Alvi mengecup lembut dahi Amel yang terpejam.
"Jika kau ingin meninggalkanku, pergilah ke negara lain. Bukan ke dunia lain." Ucap Alvi mengelus rambut Amel lalu kembali menghampiri Avril yang tersenyum kearahnya di samping Noah.
"Jangan salah faham." Lirihnya saat memeluk Avril dan di tanggapi anggukan oleh Avril.
Amel tersenyum dan tak lagi membuka mata.
Semua mendadak lesu ketika layar EKG menampilkan garis lurus dengan bunyi yang menusuk telinga.
Aldi terduduk dengan tatapan kosong. Noah yang sibuk membenahkan seluruh alat yang terpasang ditubuh Amel, takut jika ada kesalahan dan kerusakan pada alatnya.
"kalian keluar dulu." Dengan langkah berat, ketiganya keluar dan Noah yang terlihat tak tahu harus berbuat apa setelah memanggil tim medis lainnya untuk menyusul kesana.
__ADS_1
Tak lama, beberapa tim medis berlari memasuki ruangan.
"Ini semua gara-gara kamu. Jika saja kamu tidak hadir dalam hidup Alvi, mungkin putriku tidak akan berakhir seperti ini." Ucap Adam seakan menusuk hati Avril yang kini tengah menangis di dekapan Alvi.
"Ayah! Mengapa ayah menyalahkan Avil?" Aldi tak bisa menahan diri untuk tidak membentak.
"Kau berani membentak ayah demi gadis sepertinya? Dia tak lebih dari seorang gadis rendahan yang hanya memandang harta. Buktinya dia lebih memilih Alvi yang lebih kaya dari keluarga kita."
"Ayah hentikan!" Kini suara Aldi kian meninggi.
"Pak Adam. Aku tahu kau merasa kacau atas apa yang sedang terjadi sekarang. Tapi apa alasan bapak menyalahkan Avril?"
"Tenangkan dirimu mas.." mama Dewi mencoba menenangkan Adam. Meskipun hatinya lebih hancur.
Aldi memeluk mama dengan tangis yang semakin menjadi.
Syifa dan keluarganya yang baru sampai terkejut dengan pemandangan didepannya.
Dan lebih terkejut saat melihat para dokter keluar dengan membawa Amel yang sudah tak bernyawa.
Tangis Syifa pecah lalu menghampiri jenazah Amel. Teringat setiap kali pertemuannya yang terhitung menyenangkan, meskipun tak sesering dulu. Amel yang menganggapnya seperti adiknya sendiri.
Aldi meraih Syifa yang terlihat lebih bersedih.
"Aldi... kak Amel..." ucapnya saat Aldi dengan erat memeluknya. Aldi tak bisa mengatakan apa-apa. Jangankan menguatkan orang lain, menguatkan dirinya sendiri saja Aldi membutuhkan penghiburan dari orang lain.
Mama Dewi menghampiri Avril lalu memeluknya.
"Jangan tinggalkan mama." Kata itu terdengar lebih menyakitkan sekarang. Mengingat Avril yang kehilangan ibunya, dan sekarang Dewi yang kehilangan putrinya.
"Kamu mau kan jadi anak Mama?" Lirih Maya kemudian.
"Bukankah mama sudah menjadi ibuku dari dulu?" Tangis mama semakin menyakitkan. Tak disangka gadis yang tak jadi menantunya itu masih menganggapnya ibu. Padahal Dewi tahu hancurnya hati Avril saat dirinya memaksa Alvi untuk menerima perjodohan dengan putrinya.
. Dipemakaman, semua anggota keluarga dan kerabat menghadiri, termasuk keluarga Damian.
Damian masih menunduk dengan menyentuh batu nisan Amel.
"Kak..." lirih Demira meraih bahu Damian. Damian hanya menoleh pelan dan terlihat wajahnya yang tak berdaya.
"Ayo pulang." Kembali Demira membujuk Damian yang tak menghiraukannya.
Alvi menoleh dan menatap pada Avril seperti memberi kode bahwa harus Avril yang membujuk Damian. Avril perlahan mendekati Damian lalu meraih bahu yang sebelahnya.
"Ayo kak." Ucap Avril.
"Kau tahu perasaan kakak dik?" Avril hanya menunduk.
"Bukankah saat mama Lidya pergi, kau juga tak bisa di ajak pulang kan?" Avril terdiam ketika mengingat saat-saat kelam itu.
"Aku ada di sana saat itu. Membujukmu, menemanimu, dan saat itu aku yang hanya tahu bahwa kau terlalu berlebihan saat terlarut dalam kesedihan. Dan sekarang aku mengalaminya. Jadi, jangan memaksa ku untuk segera pergi dari sini." Avril gemetar mendengar perkataan Damian. Damian sendiri merasakan bahwa Avril mendadak down karena perkataannya itu. Seketika dirinya tersadar, bahwa Avril pun mencoba untuk kuat dengan cara menguatkan dirinya. Damian meraih tangan Avril dan Demira di pundaknya.
Dan dua adik itu memeluk Damian dengan terisak.
"Apa aku boleh menangis?" Tanya Damian yang ditanggapi anggukan oleh kedua adiknya. Dan pada saat itu juga, Damian terisak menangis di samping peristirahatan terakhir gadis yang lama ia cintai.
Mama Dewi memalingkan wajahnya, dan tak ingin memperlihatkan kesedihannya didepan orang lain. Adam menepuk punggung Dewi dengan pelan.
"Aku bersamamu." Dan pada saat itu, tangis Maya kembali pecah.
"Putriku..." lirih Dewi.
. Saat semua sudah beranjak meninggalkan pemakaman, Avril masih diam disana dan menatap lekat batu nisan bernamakan gadis yang sudah ia anggap sebagai kakaknya.
"Aku masih merasa bersalah." Ucap Avril menoleh pada Alvi yang berdiri di sampingnya.
"Tak ada yang bersalah disini. Semuanya sudah ditakdirkan, untuk menyesal pun tak akan ada artinya." Avril beranjak dan mendahului Alvi.
"Sejak kapan kau menjadi bijak?" Alvi tercengang mendengar pertanyaan itu. Apa selama ini dirinya benar-benar tidak bijak?
Alvi hanya tersenyum menanggapi, melihat Avril tersenyum untuk saat ini saja sudah membuat hati Alvi lega.
Tapi sepertinya ada yang lebih kehilangan darinya, yaitu Demira yang tak henti-hentinya menangis meskipun Noah sudah mencoba menghibur dan menenangkannya.
Bagaimana tidak, di kota ini, atau di luar negeri sekalipun, Amel selalu menyempatkan diri untuk menemani Demira saat keluarganya sedang sibuk.
Amel seakan menjadi kakak perempuannya, dan itu juga menjadi alasan kenapa Damian menyukai Amel.
Namun yang menyakitkan untuk Damian, Amel dengan keras kepala mencintai Alvi sampai akhir hidupnya. Ternyata benar, kata yang pernah di ucapkan Amel pada Alvi dulu, kini terbukti. Dan Alvi sedikit tersentuh, namun tak larut dalam perasaannya. Jelas kini dirinya sudah bersama Avril. Gadis yang dicintainya, dan satu-satunya wanita yang bisa membuatnya jatuh cinta dengan sesungguhnya perasaan cinta, bukan karena nafsu, atau kesenangan semata.
. Kata-kata Amel mendadak muncul dipikiran Alvi. Amel sempat mengatakan bahwa dirinya akan mencintai Alvi sampai akhir hidupnya. Tak peduli jika Alvi atau dirinya bersanding dengan orang lain. Dan kata-kata itu terus terngiang di telinganya. Kata yang dulu tak pernah Alvi hiraukan, dan suara yang dulu tak pernah ia dengarkan, kini terasa menyejukkan jika sekedar dikenang. Alvi sadar namun tak menyesal karena mengabaikan Amel. Bukan Alvi jahat ataupun kejam pada perempuan, tapi melainkan untuk membuat Amel tersadar bahwa perasaannya akan sia-sia. Dan sempat Alvi menegaskan bahwa jika manusia hanya memikirkan perasaan, itu takan ada ujungnya.
Tapi sekarang, perasaannya pada Avril pun tak tahu sampai mana ujungnya. Bahkan sampai mati pun, perasaan itu akan tetap ada dan saling menuntun untuk dipertemukan kembali.
__ADS_1
"Aku akan selalu menunggumu. Disini, dan di dunia setelahnya." kata itu membuat Alvi menyernyit. Kenapa semua kata yang diucapkan Amel mendadak terdengar kembali. Padahal Alvi menganggapnya itu tak penting dan hanya ungkapan perasaan yang biasa. Namun setelah kepergian Amel, kata itu seakan menjadi hal yang bermakna cinta sebenarnya.
-bersambung