
. "Katakan padaku apa yang sakit?" Tanya Alvi dengan sangat panik menggenggam bahu Avril. Namun Avril enggan membuka tangannya.
"Avril.... ayolah. Jangan membuatku panik."
Avril membuka sedikit tangannya, dan hanya memperlihatkan matanya saja.
"Jangan tersenyum seperti itu didepan wanita lain." Ucap Avril membuat Alvi terheran.
Alvi menyernyitkan dahinya tak mengerti. "Apa maksudmu? Tersenyum apa?"
"Iiihhh mengapa kau tak mengerti Alvi. Saat kau tersenyum, kau tampak sangat manis. Saat kau dingin saja, banyak wanita yang menyukaimu. Apalagi saat kau tersenyum." Ucap Avril dengan nada lebih tinggi dan menunjukan wajah kesalnya. Avril melipatkan tangan didadanya dan memalingkan wajahnya. Alvi tersenyum puas saat mengetahui kecemburuan Avril.
"Kau cemburu?" Goda Alvi.
"Mengapa bertanya? Tentu saj--.. iiihhhhh" Avril memukul lengan dan punggung Alvi karena kesal.
"Hei... mengapa kau marah? Haha sudahlah jujur saja. Apa salahnya untuk jujur sayang." Alvi menghindari pukulan Avril dengan sambil tertawa.
"Sudah sudah cukup... aku minta maaf sayang. Aku tidak akan tersenyum dimuka umum. Dan aku hanya akan tersenyum didepanmu saja." Alvi menggenggam erat tangan Avril kemudian mengecup keningnya.
"Aku......" Alvi menyernyit ketika Avril tak melanjutkan ucapannya.
"Apa?"
"Ck. Mengapa sulit sekali untuk berkata bahwa aku mencintainya." Gumam Avril mendelik kesal.
"Kau masih marah?" Tanya Alvi mensejajarkan wajahnya.
"Tidak. Aku tidak marah." Jawab Avril dengan nada kesal.
"Lalu? Mengapa kau begitu kesal?"
"Aku kesal karena hanya untuk mengatakan aku mencintaimu saja aku tak bisa." Ucap Avril masih dengan nada kesal. Namun ketika sadar ucapannya yang semula tak bisa diungkapkan, kini sudah didengar oleh Alvi, Avril menutup mulutnya rapat-rapat dengan tangan.
"Apa? Kau tidak sedang membohongiku kan?" Avril menggeleng menjawab pertanyaan Alvi.
"Bagaimana dengan Aldi?" Avril menatap lekat mata Alvi seolah tak ingin menjawab pertanyaan itu.
"Alvi... maaf." Lirih Avril setelah hening beberapa saat.
"Sudahlah.." Alvi mendekap Avril dipelukannya.
"Tapi aku tidak mengkhianatimu." Lanjut Avril dengan lirih.
"Aku percaya." Ucap Alvi meyakinkan, meski hatinya masih yakin bahwa Avril masih mencintai Aldi.
"Aku dan Aldi hanya bercada untuk perpisahan."
"Iya aku tahu."
"Jadi jangan pergi."
"Tidak akan."
"Janji?"
"Aku janji."
Sulit rasanya bagi Alvi untuk berkata namun hati tak sejalan. Avril memeluk Alvi dengan erat seakan tak ingin dilepaskan. Mungkin dengan berusaha mecintai Alvi, Avril akan benar-benar rela melepas Aldi untuk sahabatnya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu Avril. Tapi kaulah yang akan meninggalkanku, kapanpun kau mau. Sesak jika dirasa, tapi aku tak bisa pergi darimu. Karena rasanya itu akan lebih menyesakkan dibanding melihatmu dengan Aldi." Gumam Alvi mengusap rambut Avril yang tergerai.
. "Avril... apa kau tidak akan melepaskanku? Aku masih banyak pekerjaan." Ucap Alvi merasa heran. Avril perlahan melepaskan pelukannya, lalu menatap mata Alvi.
'Cup.' Avril meninggalkan kecupan dibibir Alvi debelum dirinya berlalu meninggalkan Alvi yang terdiam.
"Jangan terlalu memaksakan. Istirahatlah jika lelah." Ucap Avril sebelum menutup pintu.
Alvi menoleh pada pintu yang sudah tertutup. Rasanya ingin mengikuti Avril keluar dari ruangan itu, namun tumpukan berkas dimejanya membuat niatnya urung begitu saja.
Batinnya terus berperang, bertanya-tanya apakah yang dilakukan dan dikatakan Avril itu benar? Atau hanya sekedar ingin dimaafkan saja.
Apapun itu, Alvi benar-benar merasa hatinya berbunga-bunga. Apalagi Avril meninggalkan kecupan perpisahan terlebih dulu, dan Alvi sendiri sudah berjanji tidak akan pergi dari Avril.
Dan yang lebih membuatnya senang bukan hanya itu saja, tapi melihat kalung pemberiannya kini dipakai oleh Avril.
. Avril menelpon Galih ketika dirinya sampai dilobby.
"Kakak dimana?" Tanya Avril ketika sambungan sudah terhubung.
"Kakak diluar.. apa kau sudah selesai?" Terdengar nada khawatir disebrang.
"Kakak bilang akan menungguku dilobby?" Rengek Avril menahan perih dikakinya.
"Kakak kira, kau akan lama. Jadi kakak bertemu teman dulu sebentar. Urusan bisnis." Jelas Galih membuat mood adik tersayangnya hancur seketika. Avril mematikan panggilan, lalu menyimpan kembali ponselnya ditas kecilnya.
Avril terdiam, berbalik hendak kembali keruangan Alvi.
__ADS_1
Namun karena perih, Avril terdiam kembali seketika membuatnya ditabrak oleh karyawan yang masih bekerja.
"Ma-maaf..." ucapnya tanpa membantu Avril berdiri dan langsung pergi buru-buru.
"Mengapa gadis itu duduk disana?"
"Apa dia tamu?"
"Kita tidak pernah melihatnya sebelumnya."
Berbagai bisikan terdengar oleh Avril, membuatnya begitu risih. Siapa yang mau terduduk seperti ini? Avril sangat kesulitan untuk bangun karena bekas patah tulangnya kini terasa kembali.
Divisi keamanan yang bertugas diarea CCTV melapor pada Ray bahwa ada masalah dilobby.
Ray terkejut ketika mendengar penjelasan petugas, dan ciri-ciri gadis yang sedang terduduk disana. Dengan berlari penuh khawatir dan marah, Ray menyusul Avril. Dan saat sampai dilobby, dentingan lift memecah kehenigan. Ray menerobos orang-orang yang hanya melihat Avril tapi tidak membantunya berdiri.
"Ada apa ini? Apa kalian tidak bekerja? Jika kalian tidak berniat membantunya, urus saja pekerjaan kalian." Teriak Ray membuat semua terdiam menunduk.
Memang benar, Ray adalah orang kedua yang disegani diperusahaan D.
Ray mensejajarkan tubuhnya dan meraih lengan Avril.
"Nona baik-baik saja?" Tanya Ray dengan nada pelan. Ray merasakan bahwa Avril gemetaran dan ketakutan melihatnya marah.
"Ma-maaf nona, saya tidak berniat membuat nona ketakutan." Avril tersenyum ketika Ray mengatakan hal itu.
"Aku tidak bisa berdiri Ray. Kakiku perih." Jawaban singkat itu seketika dimengerti oleh Ray. Ray membantu Avril berdiri dan melirik tajam nan dingin pada karyawan yang masih terdiam.
"Bubar, atau tuan Alvi akan memotong gaji kalian, jika beliau tahu sikap kalian pada tamu penting tuan seperti ini." Tegas Ray membuat nyali semua orang menciut dan bubar dengan kecanggungan dan ketakutan. Semua terkejut ketika mendengar tamu penting diucapkan Ray.
"Jangan marah-marah Ray, itu semakin membuatku takut." Lirih Avril menahan perih.
"Maaf nona" ucap Ray.
"Avril... kau baik-baik saja. Bukankah tadi kau dengan kakakmu? Ray biar aku saja yang membantunya." Ucap Irfan yang tiba-tiba menghampiri Avril dengan nafas terengah karena berlari dan wajah yang khawatir.
"Menjauh darinya Irfan. Jaga sikapmu pada tamu tuan." Ucap Ray kembali dingin. Seketika Irfan terdiam, menghela nafas panjang.
"Kau siapa Ray? Jangan hanya karena kau sekertaris dan asisten pribadi tuan Alvi, kau bisa seenaknya."
"Dan aku bertanya padamu. Apa wewenangmu terhadap nona Avril? Bukankah kalian hanya saling mengenal saat di SMA saja?" Tanya Ray menatap lebih tajam pada Irfan.
"Aku pacarnya Ray." Jawab Irfan membuat Ray terdiam lalu melirik Avril dan kalungnya. Ray tahu jika tuannya sudah melamar nona Avril dengan kalung itu.
"Apa? Kau mengaku pacar nona yang sudah jelas sudah bertunangan?" Irfan tersentak lalu melirik tangan Avril dan tersenyum ketika tak mendapati cincin melingkar dijarinya.
"Apa kau tidak melihat cincin dikalung nona?" Pertanyaan yang membuat Irfan sesak nafas seketika. Ray lagi-lagi menuntun Avril berlalu meninggalkan Irfan yang terdiam.
"Apa Avril benar-benar bertunangan? Tapi dengan siapa? Mengapa aku tak tahu? Tidak ada pesta ataupun berita tentang pertunangan putri dari pemilik perusahaan A. Dan Pertanyaanku pada hubungan tuan Alvi dan Avril sangatlah mustahil. Setahuku Tuan Alvi sangat menjaga jarak dengan gadis-gadis, bahkan Amel yang digosipkan dijodohkan dengannya, terus menerus dia hindari. Dan tuan bukan type yang mudah menerima perjodohan sebagai imbalan kontrak bisnis antar perusahaan. Dan jika dilihatpun sangat mustahil perusahaan A memberikan Avril sebagai alat untuk mereka bekerjasama. Karena sudah jelas, perusahaan A lebih maju dari perusahaan D. Jika benarpun ada kesepakatan, harusnya perusahaan D yang memberikan jaminannya." Gumam Irfan benar-benar tak mempercayai kenyataan yang jelas terlihat didepan matanya.
. Alvi terkejut ketika Ray membuka pintu dengan Avril disampingnya.
"Avril." Alvi beranjak lalu menghampiri Avril, dan Ray melepaskan tangannya dari Avril.
"Terimakasih Ray." Ucap Avril tersenyum.
Ray membalas senyuman Avril lalu berbalik kembali ke mejanya.
"Apa kau terjatuh?" Alvi menuntun Avril menuju sofa, lalu duduk disampingnya.
"Tidak." Jawab Avril menahan perih yang terus menerus mengganggunya.
"Lalu? Kenapa?" Kekhawatiran Alvi tak bisa disembunyikanya.
"Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja kakiku perih." Jelas Avril.
"Itulah akibatnya jika kau selalu menjahiliku." Ejek Alvi
"Kapan aku menjahilimu?" Avril menyernyit heran.
"Kau tidak ingat?" Avril menggeleng, lalu Alvi mengecup bibir Avril membuat Avril terdiam.
"Apa kau sudah ingat?" Avril memalingkan wajahnya, bahkan tubuhnya memutar membelakangi Alvi. Menyembunyikan wajahnya yang merah.
"Hei nona... aku sedang bicara denganmu." Alvi meraih dagu Avril dan kembali memutarkan wajah Avril kembali menghadapnya.
"Diam.." ucap Alvi membuat Avril menurut.
Alvi mencium Avril, dan kini Avril tak menamparnya bahkan Avril memejamkan matanya. Membiarkan Alvi melakukan apa yang dia mau kecuali tubuhnya.
"Apa kau baru pertama kali?" Avril mengangguk.
"Pantas." Alvi tersenyum puas. Avril hanya memalingkan kembali wajahnya. Alvi sengaja melakukannya dengan pelan dan tidak membuat Avril sesak. Dan benar saja, itu hal pertama yang Avril lakukan. Karena selama dengan Aldi, tidak mungkin anak dibawah umur berciuman.
"Sudah.. duduklah disini dulu, tunggu pekerjaanku beres, baru kita pulang." Ucap Alvi mengusap kepala Avril.
"Tapi kak Galih?"
__ADS_1
"Aku sudah menyuruhnya langsung pulang saja. Dia pasti lama jika sudah memulai membicarakan bisnis." Jawab Alvi beranjak dari sofa, lalu kembali ke mejanya.
Ray membuka pintu dan memberikan beberapa laporan pada Alvi untuk ditandatangani.
Banyak yang berdatangan secara bergantian memberikan laporan pada Alvi. Dari manager, sampai sekertaris direktur dengan dandanan yang stylish, yang siapa saja melihatnya langsung luluh. Tapi Alvi tidak meliriknya sama sekali. Entah memang begitu biasanya, atau karena ada Avril diruangannya.
Dan yang membuat penasaran, siapa direktur diperusahaan D. Jika diperusahaan A, sudah jelas kini diduduki ayah, yang bertukar jabatan dengan kak Galih.
Setelah sekertaris cantik itu kembali menutup pintu, Avril dengan ragu, bertanya pada Alvi yang sangat sibuk menandatangani berkas-berkas.
"Pak Yusuf. Orang kepercayaan papa dari dulu. Dan jika dia tak ada, aku juga tidak tahu siapa yang akan menjadi penggantinya." Jelas Alvi sesekali melirik Avril yang kini duduk disofa dekat jendela.
"Bagaimana dengan Ray?"
"Hemmm mungkin."
Pintu kembali terbuka disela percakapan Avril dan Alvi.
"Tuan memanggil saya?" Avril menoleh ketika mengenali pemilik suara itu.
Alvi memberikan salah satu berkas dan menyuruhnya untuk mrlakukan sesuatu.
Setelah menerima berkas, Irfan menoleh pada Avril yang sudah memalingkan wajahnya. Rasa tak percaya masih melekat dipikiran Irfan. Pertanyaan benar atau tidaknya Avril bertunangan, terus terpikirkan olehnya.
"Kalau begitu saya kembali tuan." Alvi mengangguk mempersilahkan Irfan meninggalkan ruangannya.
"Sebenarnya seberapa penting Avril disini? Apa dia berpengaruh untuk perusahaan?" Pertanyaan demi pertanyaan muncul dibenak Irfan.
"Apa kak Irfan dibagian keuangan?" Tanya Avril menoleh pada Alvi.
"Iya... dia managernya." Avril mengangguk tanda mengerti.
"Bukankah dia menyukaimu?" Tanya Alvi membuat Avril menyernyitkan dahinya, bertanya mengapa Alvi tahu?
"Apa-apaan tatapanmu itu? Aku tahu Avril. Siapa saja yang menyukaimu, aku tahu semuanya. Termasuk Noah."
"Hah?" Avril memasang wajah tak percaya.
"Kau tak tahu? Apa kau tak menyadarinya? Aku saja menyadarinya Avril." Ejek Alvi memutar kursinya dan menghadap pada Avril.
"Hemmmmm"
"Hanya hemmmm?" Tanya Alvi dengan menyernyit.
"Apa aku harus menerimanya juga?" Tanya Avril tanpa menoleh.
"Apa kau bilang nona? Apa kau yakin akan menerimanya juga?" Alvi tiba-tiba sudah berada dibelakang Avril dan mencubit pipinya.
"Awww.. sakit..." Avril mengusap kasar pipi chuby miliknya.
"Berlebihan. Aku tidak mencubitmu dengan keras." Ucap Alvi merajuk kesal. Avril tertawa kecil melihat tingkah kesal Alvi.
"Maafkan aku tuan..." ejek Avril namun Alvi hanya meliriknya saja.
"Kau marah? Aku hanya becanda..." ucap Avril masih dengan nada ejekannya.
"Kau tidak tahu Avril... becandamu ini menakutiku." Ucap Alvi datar menatap kaca dengan tatapan kosong.
"Maafkan aku Alvi." Lirih Avril memancing agar Alvi tidak marah padanya.
Alvi berjalan kedepan Avril, lalu kembali menghadap jendela dengan memasukan kedua tangannya kesaku celana dengan santai.
"Kau tahu Avril... hal yang paling aku takutkan selain kepergian orang tuaku, adalah kehilanganmu." Alvi menoleh dan melemparkan senyuman pada Avril yang termangu.
"Aku tahu Alvi." Ucap Avril dengan membalas senyuman.
Keduanya kembali menatap kota dan gedung-gedung dibalik kaca.
. Esok harinya, Avril kembali menjalani aktifitasnya menjadi mahasiswi. Seperti biasa, Avril dan Syifa berjalan menuju kelas yang biasanya disusul oleh Baren. Namun kini sepertinya tidak ada tanda-tanda Baren akan menyusul.
Diujung koridor, Sammy cs kembali berpapasan dengan Avril yang tak meliriknya, dan fokus berjalan kedepan.
"Putri orang terkaya memang sangat sombong. Berapa harga yang harus kubayar untuk satu malamnya nona?"
Pertanyaan yang membuat Avril berhenti dan mengepalkan tangannya.
"Ayo Avril.. jangan didengarkan." Syifa menarik tangan Avril. Namun tangan Syifa ditarik oleh Raka.
'Buk' Aldi tiba-tiba memukul Raka.
"Menjauh darinya sialan." Tegas Aldi memberi peringatan. "Beraninya kau memukulku." Sammy dengan cepat menahan Raka yang akan membalas pukulan Aldi.
"Jangan menyentuh tunanganku." Syifa tersentak mendengar pengakuan Aldi. Namun meski sesak Avril tersenyum dibelakang Aldi.
"Akhirnya kau mengakuinya Aldi." Gumam Avril.
-bersambung.
__ADS_1