
. "Kau baik-baik saja?" Tanya Alvi meraih pipi Avril yang tepat berada dihadapannya.
"Khawatirkan dirimu sendiri." Ucap Avril kesal menepuk pipi Alvi pelan.
"Hei... anak durhaka. Apa kau akan bermesraan didepan ayahmu? Dan lagipula kalian belum menikah." Ucap Bagas menimpali adegan romantis yang seakan membuatnya sakit mata.
Galih keluar dari kamarnya dengan menggunakan pakaian kasual.
"Ayo Nadia..." ucapnya melewati kumpulan orang yang menatapnya heran.
"Apa?" Ekspresi sombong Galih dilemparkan pada Alvi yang terbaring karenanya.
"Apa kau benar-benar tidak berniat meminta maaf padaku?" Tanya Alvi memejamkan matanya.
"Maaf." Cetus Galih berlalu keluar.
"Apa?" Alvi membuka matanya menatap pintu yang terbuka lebar. "Apa seperti itu sikapmu tuan es beku?" Teriak Alvi membuat Avril menutup telinganya.
"Diam... sut diaaammm" geram Avril menutup paksa mulut Alvi.
"Ayah... maaf Nadia pamit pulang." Ucap Nadia mencium tangan ayah.
"Baiklah hati-hati nak. Dan sampaikan salamku pada keluargamu." Nadia mengangguk tersenyum kemudian berlalu menyusul Galih.
"Emmm ayah.... aku tidak melihat persiapan untuk hantaran kakak." Ucap Avril menoleh kesana kemari.
"Semua sudah siap. Hanya tinggal menunggu hari H saja." Jawab ayah, Avril mengangguk meski merasa heran.
Avril beranjak dan kembali duduk disofa yang berhadapan dengan ayah.
Alvi beranjak dan duduk, menyentuh tulang pipinya yang terus berdenyut. Melirik pada Baren yang masih menatapnya.
"Jangan menatapku seperti itu.... aku baik-baik saja." Decak Alvi
"Ya sudah.... aku akan lega meninggalkanmu pulang." Ucap Reno berbalik namun tak melangkahkan kakinya.
"Avriiilll.... apa aku boleh meminjam mobilmu?" Bujuk Bagas dengan wajah polos.
"Pakai saja..." delik Avril...
"Ayah.... kita pulang dulu...." Baren berlalu pergi meninggalkan rumah Avril.
. "Aku kekamar ayah." pamit Avril beranjak dari duduknya.
"Baiklah.. akan ayah bantu." Ucap ayah ikut beranjak.
"Tidak ayah.. aku bisa sendiri." Ucap Avril menahan perih dikakinya.
"Mau aku antar?" Tawar Alvi membuat Avril berpaling kasar. Alvi terkekeh melihat tingkah Avril yang menurutnya sangat menggemaskan.
. Setelah mengantarkan Syifa kerumahnya, Aldi masih menatap Syifa dari dalam mobil yang berlalu masuk kedalam rumah tanpa menoleh kearahnya. Aldi menghela nafas panjang mengingat bahwa dirinya bisa sekesal itu saat Syifa memberikan cincin pertunangan mereka. Mengingat apa yang Syifa ucapkan, memang benar, ini yang Aldi inginkan dari awal.
Aldi kembali melajukan mobilnya menuju taman kota, tak lupa membeli satu cup mocca kesukaannya, kemudian duduk dibangku taman. Terlintas kenangannya melewati sebagian otaknya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Lirihnya bertanya pada diri sendiri.
Dering ponselnya berbunyi membuyarkan lamunannya. Diambilnya benda canggih itu dari saku celananya.
"Ada apa?" Tanyanya menempelkan ponsel ditelinga.
"Kau dimana?" Tanya Reno dari seberang.
"Aku ditaman." Jawab Aldi.
"Kau mau bergabung? Aku ada di cafe B." Ucap Reno lagi.
"Baiklah aku akan kesana." Ucap Aldi menutup panggilan telponnya, lalu meneguk mocca ditangannya, dan beranjak dari duduknya, kemudian bergegas menyusul Reno.
. Sampai dicafe yang dituju, Aldi langsung masuk dan menemui Reno, dan sudah pasti ada Bagas disana.
"Kupikir kalian dirumah sakit. Apa Avril sudah membaik?" Tanya Aldi duduk disamping Bagas.
"Aku baru saja dari rumahnya. Bahkan membawa mobilnya." Jawab Bagas menunjuk kunci mobil yang diletakan dimeja. Aldi menyernyitkan dahinya tanda bertanya mengapa bisa.
"Avril kabur." Ucap Bagas membuat Aldi semakin tak mengerti.
"Bagaimana bisa?" Tanya Aldi penuh rasa penasaran.
"Alvi--"
"Apa lagi yang dia lakukan?" Aldi menyela dengan tangan mengepal dan penuh emosi.
__ADS_1
"Tenang dulu... aku belum selesai Aldi." Ucap Reno menenangkan.
"Avril yang salah faham. Avril berfikir Alvi ada apa-apa dengan kakakmu. Padahal Amel hanya ingin meminta maaf saja. Tapi.... memang Alvi salah juga, harusnya dia tidak membalas genggaman tangan kakakmu. Meskipun itu hanya untuk menenangkan saja." Jelas Reno.
"Tapi Alvi juga tidak tahu kan bahwa Avril akan menyusulnya?" Tanya Bagas seakan membela Alvi.
"Ahhh kau benar.. melihat betapa kerasnya Alvi berjuang untuk mendapatkan hati Avril, jadi tidak mungkin dia--"
"Kau mengajakku bergabung kesini, hanya untuk menyindirku saja? Asal kau tahu Reno, jika bukan karena balas budiku pada ayah Syifa, dan jika aku tidak salah faham pada apa yang aku lihat saat itu, aku juga tidak akan menerima perjodohan ini." Geram Aldi menarik baju Reno.
"Aldi apa yang kau lakukan?" Bagas bergegas melerai amarah Aldi.
"Kau pun sama Bagas. Kupikir kalian berdua mengerti perasaanku. Tapi ternyata, kalian sudah terbawa oleh Alvi." Ucap Aldi berdecih seraya menghempaskan Reno dengan kasar.
Aldi berlalu meninggalkan cafe, berjalan dengan wajah penuh amarah. Ia tak peduli dengan tatapan pengunjung lain yang menyaksikannya.
Bagas yang berniat mengejarnya ditahan oleh Reno.
"Aku yang salah disini Bagas." Ucap Reno memalingkan wajahnya.
"Lalu mengapa kau tak mengejarnya lalu meminta maaf? Jangan membuatku harus memihak salah satu diantara kalian. Kalian temanku, kita sudah lama bersama." Ucap Bagas kesal mengacak rambutnya.
Reno hanya terdiam, hatinya mulai merasa bersalah.
"Aku akan bicara padanya dikampus." Ucap Reno meneguk minuman yang sedari tadi didiamkannya.
. Aldi yang masih diselimuti amarah, melajukan mobilnya menuju rumah.
Setelah sampai, dan memarkirkan mobilnya, Aldi bergegas memasuki pintu rumah yang terbuka, berjalan dengan cepat dan membuka pintu kamar Amel dengan kasar.
Bukan hanya yang berada didalam yang terkejut ketika Aldi membuka pintu, tapi Aldi sendiri lebih terkejut saat mendapati kakak perempuannya yang tengah terbaring lemah.
"Bisakah kau tidak berisik?" Lirih mama yang berpaling setelah menoleh pada Aldi.
"Kenapa dia?" Tanya Aldi yang masih mematung didekat pintu.
"Bisakah kau bicara pada Alvi?" Pinta mama terdengar menahan isakannya. Tangan Aldi mengepal. Ada apa dengan Alvi, semua yang ditemuinya membicarakan tentang Alvi. Kini rasa benci pada Alvi mulai tertanam dihatinya.
"Bicaralah padanya untuk menerima perjodohannya." Kini isak ibunya terdengar oleh telinga Aldi.
"Tapi kenapa? Kenapa mendadak? Bukankah mama sendiri yang menyetujui jika Alvi menolak dan tidak meneruskan masalah perjodohan itu?" Tanya Aldi dengan pikiran yang tak karuan. "Jangan becanda ma... Alvi tidak mungkin menerimanya, dia dan--" lanjut Aldi menaikan suaranya namun mama dengan cepat menyela.
"Lalu?"
"Ini permintaan terakhir kakakmu." Aldi tersentak mendengar apa yang ibunya ucapkan. Apa maksudnya? Permintaan terakhir apa? Kakaknya baik-baik saja. Itulah yang terus terpikirkan oleh Aldi.
"Kakakmu pingsan saat setelah pulang dari rumah sakit. Mama fikir, kakakmu hanya sakit biasa. Tapi... mama menemukan ini" Ucap mama disela isakannya. Mama beranjak dan memberikan sebuah berkas berisi riwayat penyakit kakak perempuannya.
'Leukimia stadium 4' tulisan yang tercetak 1 tahun yang lalu.
"Jika ini satu tahun yang lalu, maka sekarang bukan lagi stadium 4 kan? Apa ini becanda? Bukankah kak Amel baik-baik saja selama ini." Gumam Aldi yang masih tak percaya dengan apa yang dibacanya.
"Sudahlah... bangun kak. Aku tahu kau sedang berpura-pura kan? Ayolah kak. Kau tidak bisa menipuku semudah itu. Kau berpura-pura sakit, agar kau bisa mendapatkan Alvi kan?" Aldi mendekati ibunya, dengan nada bicara yang sedikit berteriak dan mencoba meyakinkan dirinya bahwa kenyataan ini tidak benar. Meskipun tidak dekat seperti orang lain, tapi Aldi merasa sesak jika harus kehilangan saudarinya.
Melihat Amel yang tak kunjung bangun, Aldi semakin frustasi. Aldi terduduk lemas disamping ranjang Amel.
"Aku tak bisa kak. Aku tak ingin kehilanganmu. Tapi aku juga tak bisa jika harus menyakiti Avril lagi." Ucap Aldi menunduk.
. Disisi lain, Avril kembali turun setelah mandi dan mengganti baju pasiennya. Duduk disamping ayah dan bersandar dibahu ayah.
"Kenapa kau tidak duduk disampingku saja? Bahuku selalu siap untukmu bersandar." Ucap Alvi melirik pada Avril.
"Kau ingin mati dengan cara apa nak?" Tanya ayah melirik tajam dan menantang kepada Alvi.
"Ahaha ayah... aku hanya becanda." Alvi tertawa sambil meggaruk kepalanya.
"Apa ada yang sakit?" Tanya ayah menoleh pada Avril. Avril hanya menggeleng meskipun kakinya masih terasa nyeri.
"Ayah... berhubung aku sudah melihat Avril baik-baik saja, jadi aku pamit... aku masih ada pekerjaan." Ucap Alvi beranjak dari duduknya.
"Tapi jangan terlalu memaksakan. Kau masih harus beristirahat." Ucap ayah dengan wajah cemas.
"Tidak ayah... ini bukan apa-apa." Alvi tersenyum meyakinkan.
"Tolong maafkan Galih. Ayah akan memberikan yang kau inginkan. Asal kau memaafkannya."
"Yang aku inginkan hanya Avril ayah." Avril tersentak, lalu menatap tajam pada Alvi. "Tapi aku tidak mau jika Avril menjadi bayaran atas perbuatan Galih." Lanjut Alvi membuat ayah tersenyum.
"Jadi, kapan kau akan melamar Avril?" Tanya Ayah membuat Avril menoleh pada ayah.
"Bukannya tinggal jawabannya saja?" Tanya Alvi dengan wajah polos.
__ADS_1
"Kau benar, kau sudah melamarnya saat itu. Tapi, Sudah ayah terima nak." Jawab ayah masih memasang senyumnya.
"Kapan?" Alvi dan Avril bersamaan dengan wajah heran.
"Sekarang. Ayah menerima lamaranmu nak. Dan ayah yakin Avril tidak akan menolak. Kan?" Ayah menoleh pada Avril yang memalingkan wajahnya dengan wajah tersipu.
"Apa ayah serius?" Tanya Alvi tak percaya. Ayah mengangguk.
Alvi tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Kemudian seperti teringat sesuatu dan merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah dan memberikannya pada ayah.
Avril terkejut dan bertanya-tanya tentang benda itu.
"Hanya ini yang aku bawa ayah..."
"Kau selalu membawanya?" Ayah menerima kotak itu.
"Aku tak ingin jika itu hilang. Jadi aku selalu membawanya. Hanya itu peninggalan mama" Ucap Alvi dengan memaksakan senyumnya.
"Jika ini satu-satunya peninggalan ibumu, mengapa kau memberikannya pada Avril?"
"Yaa.... aku juga tidak tahu ayah... tapi aku merasa bahwa itulah yang harus aku berikan pada calon menantunya." Jawab Alvi mengelus lehernya.
Ayah mengangguk, lalu membuka kotak kecil ditangannya. Terdapat sebuah kalung dengan cincin yang menjadi liontinnya. Didalam cincin itu terukir nama Alvi.
Ayah mendongak kembali menatap Alvi.
"Aku pamit ayah..." ucap Alvi tersenyum kemudian mencium tangan ayah, lalu melirik Avril yang tiba-tiba terlihat canggung, dan keduanya mendadak menjadi salah tingkah. Kemudian Alvi berlalu meninggalkan ayah dan Avril.
"Dimana Ray? Mengapa dia menghilang tiba-tiba." Ucap Alvi setelah menutup pintu mobil, lalu melajukannya menuju perusahaan D.
Sampai diperusahaan, Alvi bergegas menuju ruangannya dengan lift.
Saat lift terbuka, Alvi mendapati Ray yang dengan sigap berdiri dari duduknya setelah melihat dirinya keluar dari lift dan berjalan kearahnya.
"Dari mana saja kau Ray..." geram Alvi melirik tajam pada Ray.
"Ma-maaf tuan. Saat tuan tengah mengejar nona Avril, klien kita sudah menunggu untuk rapat. Dan terpaksa saya kembali keperusahaan untuk menggantikan tuan." Jawab Ray menunduk. "Silahkan jika tuan akan memotong gaji saya." Lanjut Ray terdengar pasrah.
Alvi hanya menghela nafas panjang lalu memalingkan pandangannya.
"Tidak Ray... aku tidak ada hak untuk memotong gajimu hanya karena alasan seperti ini. Justru aku berterimakasih padamu, dan maafkan aku." Ucap Alvi membuat Ray mendongak lalu tersenyum.
Alvi memasuki ruangannya, meninggalkan Ray yang dipenuhi pertanyaan atas wajahnya yang babak belur.
"Apa tuan dipukuli karena mengejar nona Avril?" Gumam Ray kembali duduk dan menelpon office boy untuk mengantarkan secangkir mocca. Lalu kembali fokus pada pekerjaannya.
Tak lama kemudian, datang seorang pria yang meminta untuk bertemu dengan Alvi. Ray memasuki ruangan Alvi lebih dulu, kemudian mempersilahkan Aldi untuk masuk.
"Ada apa?" Tanya Alvi dengan santai dikursinya, diikuti Aldi yang duduk didepannya.
"Aku ingin berbicara penting Alvi." Jawab Aldi dengan wajah yang merasa bersalah.
"Ada apa dengan wajahmu? Itu tidak seperti dirimu. Apa kau mau meminta Avril? Aku tidak akan memberikannya Aldi. Aku sudah resmi melamarnya." Ucapan Alvi membuat Aldi tersentak.
"Jangan becanda Alvi." Aldi menggebrak meja Alvi.
"Aku tidak pernah becanda dengan perasaan." Tegas Alvi membuat Aldi kembali duduk.
"Alvi.... aku harus bagaimana?" Aldi mengacak rambutnya yang terlihat jelas sedang frustasi.
"Kau kenapa Aldi? Sudah kubilang aku tidak akan memberikan Avril padamu. Terserah kau mau menyebutku egois atau apa, tapi untuk ini, aku benar-benar tidak ingin dia dimiliki orang lain lagi selain aku." Tegas Alvi membuat Aldi menunduk dimejanya. Alvi menyernyitkan dahinya ketika mendengar Aldi terisak.
"Apa dia menangisi Avril? Padahal dia sudah bertunangan dengan yang lain." Gumam Alvi keheranan.
"Justru kau yang egois Aldi. Kau menginginkan Avril padahal kau sudah bertunangan dengan yang lain.." ucap Alvi membuat isakannya semakin menjadi.
"Ini bukan tentang Avril..." jawaban Aldi membuat Alvi semakin heran.
"Lalu? Apa tentang dirimu sendiri yang menginginkan keduanya diwaktu yang sama?"
"Ini.... ini tentang kakakku." Jawab Aldi mendongak dengan wajah yang dipenuhi air mata.
"Apa? Apa maksudmu?" Tanya Alvi berdiri dari duduknya.
"Aku tidak tahu harus bagaimana, dan harus apa. Bahkan aku tidak tahu harus berbicara padamu mulai dari mana. Tapi yang jelas, aku ingin kau menyetujui perjodohan yang pernah orang tua kita bahas dulu." Jelas Aldi dengan putus asa.
"Jangan becanda Aldi. Kau tahu bahwa aku hanya mencintai Avril, tapi kau memintaku menyetujui perjodohan yang sudah jelas aku tolak sejak lama." Ucap Alvi penuh emosi.
"Aku mohon... demi kakakku aku bersedia berlutut padamu." Aldi beranjak dari kursi lalu berlutut didepan Alvi.
-bersambung.
__ADS_1