Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
52


__ADS_3

. Avril meletakkan ponselnya dan kemudian berlari seakan benar-benar melupakan yang ada disana.


Mereka pikir Avril akan ketoilet, namun Avril berlalu keluar dan secepat mungkin mereka mengejar Avril yang kini sudah berada dibawah gerimis air hujan yang semakin deras.


Reno dengan cepat meraih Avril yang tak henti menangis.


"Avril ada apa? Ini hujan. Kau bisa sakit." Avril ambruk dan terduduk didepan Reno lalu menutup wajahnya.


Reno berjongkok meraih bahu Avril. Avril perlahan membuka kedua tangannya dan menatap pada Reno.


"Alvi Ren... Alvi..." lirih Avril.


"Alvi kenapa?"


"Alvi kecelakaan... dia kritis sekarang." isak tangisnya semakin menjadi.


"Tenangkan dirimu dulu Avril.." Reno membawa Avril pada dekapannya.


"Kau pikir aku bisa tenang? Dia berjanji akan kembali dengan selamat. Tapi dia malah..."


"Avril sudah... sebaiknya kita ke mobil. Hujannya semakin deras." Ucap Reno yang menahan dadanya yang semakin sesak.


Bagas meraih ponsel Avril yang masih tersambung dengan panggilan Demira.


"Demi... ini Bagas." Namun Bagas menyernyit ketika mendengar isak tangis Demira.


"Alvi kritis Gas... kecelakaan beruntun. Dia yang paling parah." Bagas mematung seketika. Firasatnya benar.


"Kau becanda kan Dem?"


"Kau pikir aku becanda? Semua saksi bilang dia mabuk, tapi aku tak percaya. Dokter tak menemukan ada alkohol ditubuhnya. Bagas... tolong selidiki pada ayah Reno... siapa yang ingin mencelakai Alvi...."


"Apa maksudmu Demi?"


"Kakak ku melihat cctv di jalanan itu, mobil yang dibawa Alvi tak bisa di hentikan saat lampu merah."


"Maksudmu, remnya blong?"


"Itu mobil kakak ku. Aku tahu betul bagaimana kakak menjaga mobilnya. Dan aku tak akan percaya jika kakak yang melakukan ini pada Alvi. Bagaimana pun kakak juga menyayangi Alvi."


"Demira sudah... tenangkan dirimu dulu... aku akan menenangkan Avril disini." Ucap Bagas menyusul semua teman-temannya. Syifa terlihat berlari membawa payung untuk dirinya dan Avril. Reno membawa Avril kedalam mobilnya. Jika dalam kondisi biasa saja, mungkin semua anggota geng itu akan tertawa terbahak-bahak ketika Bagas dengan percaya dirinya membawa tas selempang Avril dan ponsel ditangannya.


Dering ponsel Bagas berbunyi.


"Hallo om."


"Bagas... tolong bawa Avril ke bandara."


"Ba-baik om. Avrilnya..."


"Om tahu... makanya om minta tolong kamu sama Reno untuk antarkan Avril."


"I-iya om."


Reno dan Bagas bergegas mengantar Avril menuju bandara.


Sepanjang jalan Avril tak berhenti menangis.


Sampai di bandara, Avril bergegas berganti pakaian karena kedinginan.


Reno merasa heran ketika ayahnya berada di bandara bersama Andre. Semakin dekat, perbincangan mereka semakin terdengar.


"Maafkan aku Andre, aku belum mendapat informasi tentang siapa yang sengaja membuat Alvi seperti itu. Untuk mencurigai Hendar pun aku tak punya bukti." Jelas Andara.


"Mengapa kau mencurigai Hendar?"


"Apa kau tak pernah berfikir dia akan menentang wasiat yang di tinggalkan Ahmad. Dimana disana tertulis saat Alvi menikah, semua aset harta kekayaannya resmi menjadi milik Alvi. Maka tidak menutup kemungkinan jika dia ingin membunuh Alvi agar garis keturunan Ahmad hilang. Dan semua harta peninggalannya menjadi hak milik keluarga kandungnya. Meskipun Ahmad sudah menyatakan bahwa harta itu akan di donasikan, Hendar pasti tak akan setuju."


"Andara... dulu padaku, sekarang pada Hendar. Apa hidupmu kau habiskan untuk mencurigai orang? Aku tak yakin jika Hendar berani berbuat seperti itu. Alvi keponakannya, anak dari kakaknya. Tidak mungkin..."


"Mungkin saja om. Om Hendar menyuruh orang agar dirinya tidak dicurigai." Timpal Reno menyela sebelum Andre menyelesaikan ucapannya.


"Reno benar. Saya pun berpikir demikian." Noah ikut menyela saat tiba-tiba dirinya muncul disana.


"Kau akan ke London juga?" Tanya Bagas.


"Alvi itu temanku, dan aku juga harus menenangkan Demira disana." Bagas membisu mendapati jawaban dari Noah.


---


"Apa? Mengapa dia tak mati?" Teriak seorang paruh baya dengan lantang.


"Tapi kondisinya masih kritis pak."


"Cih... aku tak akan tenang jika dia tak mati. Buat dia mati, bagaimanapun caranya.!" Ucapnya tegas dengan amarah yang ditahan.


"Tap-tapi..."


"Jika kau tak sanggup, maka aku yang akan membawamu ke polisi disini."

__ADS_1


"Ba-baik pak. Saya mengerti." Pria itu kemudian berlalu dan menuju rumah sakit.


Namun saat di rumah sakit, niatnya urung karena disana tak ada celah untuk memasuki ruangan.


"Maaf pak. Disini sangat ketat. Saya tak bisa sembarangan memasuki ruangan itu, atau kita akan mendapat masalah." Ucapnya melapor kepada sang bos misterius itu.


"Aku beri waktu sampai besok. Jika kau tak bisa melakukannya, kau juga tahu nasib mu bagaimana."


"Ba-baik pak." Pria itu menutup panggilan telponnya dengan wajah menyesal.


"Mengapa aku harus terjerumus semakin dalam? Jika saja aku tahu lubang itu sangat dalam, mungkin aku tak akan memasukinya." Gumamnya bersandar di tembok rumah sakit.


Perjalanan jauh yang melelahkan saat ini tak membuat Avril merasa lelah. Avril terlihat tergesa-gesa berlari meninggalkan Noah dan ayahnya di lobi rumah sakit. Demira menunggu di depan lift dan keduanya langsung menuju dimana kamar Alvi.


Terlihat disana sudah tak ada bodyguard yang berjaga, hanya ada ibu Demira, dan Damian saja.


"Dik... kau sendiri?" Tanya Damian meraih kedua lengan Avril. Avril menggeleng kasar dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


"Tidak kak. Aku dengan ayah." Lirihnya menjawab pertanyaan Damian.


"Baiklah.. aku pergi sebentar. Ada urusan bisnis yang belum selesai." Ucap Damian menatap sayu adik-adik kesayangannya secara bergantian.


"Mama akan menemui ayahmu dulu di ruangan dokter. Semoga ada kabar baik tentang kondisi Alvi." Demira mengangguk menanggapi keduanya.


"Avril izin melihat Alvi tante.."


"Baiklah nak... kau jangan terlalu khawatir. Berdoa saja semoga Alvi baik-baik saja." Ibu Demi memeluk Avril dengan hangat dan kemudian berlalu meninggalkan mereka.


"Avril kau kedalam duluan. Aku akan menjemput Noah dan ayahmu dulu."


"Baiklah.. maaf."


Avril memasuki ruangan dan kembali menangis saat melihat kondisi Alvi yang begitu parah.


"Alvi.. kenapa kau mengingkari janjimu? Kau bilang kau tak sama dengan Aldi. Mana? Kau bilang akan pulang dengan selamat. Tapi malah aku yang menyusulmu kesini."


Avril menggenggam erat tangan Alvi. Terasa sedikit hangat telapak tangan yang ia rindukan, dimana dengan tangan itu yang selalu menepuk pipinya dengan lembut.


"Mau sampai kapan kau tidur? Apa kau tak kasihan padaku? Kau bilang kau tak akan membiarkanku sendirian."


Dahi Alvi sedikit berkerut, namun tak kunjung membuka matanya.


"Ayo pulang..." Avril semakin lirih membenamkan wajahnya di kasur.


Terdengar pintu terbuka, Avril menoleh dan terkejut mendapati seseorang dengan hoodie putih dan masker yang menutupi bagian bawah wajahnya.


"Siapa?" Tanya Avril menyernyit.


"Anda dari Indonesia?"


"Apa nona tidak dengar?"


"Sepertinya kau berbeda dengan Noah."


"Apa yang nona bicarakan?" Mendapati pertanyaan itu, Avril tersentak dan merasa waspada. Jika benar dia teman Alvi, tak mungkin dia tidak mengenal Noah.


"Maaf... sebaiknya anda yang pergi." Ucap Avril membuat pria itu menjadi kesal.


"Baiklah. Mengapa tak sekalian saja?" Pria itu mendekat dan Avril mundur beberapa langkah.


"Ap-apa maksudmu?" Avril menghimpit ke ranjang Alvi. Dan pria itu begitu sangat dekat.


Tangannya menjulur, hendak meraih alat oksigen Alvi. Avril dengan cepat menyadari niat pria itu dan langsung meraih tangannya untuk menghindar dari dekat Alvi.


"Sudah kuduga, kau bukan temannya." Avril masih menarik tangan pria itu dengan sekuat tenaga. Pria itu menghempaskan tubuh Avril yang kecil hingga Avril terbentur ke dinding. Samar-samar terlihat pria itu mengeluarkan sebuah pisau lipat dan hendak menusuk Alvi.


Avril kembali menarik tangan sang pria dan tangan itu lagi-lagi di hempaskan hingga pisau itu mengenai dahi sebelah kiri Avril. Pria itu panik melihat darah yang berlumuran dibalik tangan Avril yang dipakai untuk menahan perih di dahinya.


Pria itu bergegas keluar ruangan dan melemparkan pisau itu tepat disebelah Avril yang tergeletak.


. Noah berpapasan dengannya ketika didepan lift. Namun Noah tak tahu bahwa pria itu mencoba membunuh sahabatnya.


Saat membuka pintu, Noah terkejut mengapa bisa Avril tergeletak dengan kepala yang berlumuran darah. Dan ditambah detak jantung Alvi semakin melemah. Dirinya dengan sigap meraih beberapa alat yang terpasang di tubuh Alvi, lalu setelah kondisi Alvi stabil, kembali Noah meraih Avril yang kini dipangkuan Demira.


"Beritahu om Andre sekarang." Ucap Noah membawa Avril ke luar kamar dan mencari petugas rumah sakit disana. Demira berlari mencari keberadaan Andre dan Andara.


"Lukanya tidak fatal, tapi kulitnya tetap harus di jahit karena robek." Ucap Noah yang ikut bertindak bersama dokter disana.


"Are you a doktor?" Tanya salah satu dokter yang memperhatikan kecekatan dan keterampilan Noah dalam menangani pasien.


"Ya.." hanya itu yang terlontar dari mulutnya.


"She your friends?" Noah mengangguk menanggapi seolah memberi penegasan pada mereka untuk tidak terus bertanya.


"Ohh.. i'm sorry."


. Noah memberi tahu nama kamar yang ditempati Avril.


Andara semakin heran dengan kasus itu.

__ADS_1


"Kita akan tahu setelah Avril sadar."


Ucap Noah yang khawatir pada Alvi saat ini.


"Sepertinya Alvi akan membaik, tapi aku tak tahu dengan kondisi tubuhnya. Jika melihat kesehatannya, dia sudah stabil." Lanjut Noah masih memikirkan siapa dalang dari insiden ini.


"Om Andara bisa ke ruangan cctv untuk menyelidiki siapa yang terakhir memasuki kamar Alvi setelah Avril." Ucap Noah menatap harap pada Andara.


"Aku mengerti Noah... tolong jaga Alvi sebentar." Andara kemudian berlalu menuju ruang Cctv di koridor itu.


Avril membuka matanya dan hanya mendapati Demira di sampingnya. Avril terbangun dengan cepat lalu meraih tangan Demira.


"Alvi Dem... Alvi... apa orang itu sudah ditangkap? Dem... dia mau membunuh Alvi..." Avril mencoba turun dari tempat tidur.


"Avil jangan... tenangkan dirimu. Alvi baik-baik saja Avil..."


"Dem... aku takut.." lirih Avril memeluk erat Demira.


"Avril tenanglah... dan jangan ceroboh lagi.. bagaimana jika terjadi apa-apa yang lebih buruk padamu."


"Aku akan menyesal seumur hidupku jika saat itu aku percaya bahwa dia teman Alvi."


"Kau mengenalnya?" Avril menggeleng dengan menunduk.


"Dia... seperti orang yang kebingungan Dem... sepertinya ada yang menyuruh. Aku lihat sorot matanya yang penuh kasih sayang itu merasa terpaksa. Tapi dia harus melakukannya. Entahlah.... mungkin itu hanya pemikiranku saja." Avril mengusap kasar wajahnya.


"Aku... aku takut jika dalang dari insiden ini adalah keluargaku sendiri." Demira menunduk lesu.


"Apa maksudmu?"


"Kau sendiri tahu ayahku dan paman Ahmad masing-masing punya perusahaan sendiri. Dan sepeninggalnya paman, pasti semua aset dan seluruh harta warisan jatuh pada Alvi saja."


"Demi... jangan berpikir yang tidak-tidak. Bagaimanapun ayahmu adalah satu-satunya anggota keluarga Alvi sekarang."


"Justru karena itu Avil... aku lebih takut."


"Demi... aku ingin bertemu Alvi.."


"Jangan dulu... sebaiknya kau istirahat. Lukamu masih--"


"Dem... aku mohon... aku tak akan percaya Alvi baik-baik saja jika aku tak melihatnya sendiri."


"Aku panggil Noah sebentar." Demira mengambil ponselnya dan langsung menelpon Noah. Tak lama, Noah masuk dan sedikit berlari.


"Alvi sadar... kau bisa menemuinya." Ucap Noah yang lebih memperlihatkan raut wajah yang girang.


"Noah... Avil masih sakit."


"Bawa saja cairan infusnya. Kan di Indonesia pun kau selalu melakukannya." Ejek Noah menyunggingkan senyum kecut diwajah Avril.


"Terimakasih dokter sialan." Decih Avril beranjak dan dibantu oleh Demira.


. Sampai dikamar Alvi, semua sudah berdiri mengelilingi Alvi yang masih terbaring. Avril berjalan dan berdiri tepat disamping kepala Alvi.


"Avril..." Alvi menoleh pelan namun dengan tatapan kosong.


Avril kemudian memeluk Alvi dengan tangis yang pecah.


"Kenapa kau tidur lama sekali... apa kau tak tahu aku mengkhawatirkanmu..."


"Maaf sayang. Aku mengingkari janjiku ya?"


"Jangan diulangi."


"Dimengerti sayang." Alvi membenamkan matanya dengan setetes air mengalir dari kelopak mata hingga di pelipisnya.


"Tapi mungkin aku akan mengingkari janjiku yang lain setelah ini." Avril mendongak.


"Apa maksudmu?" Alvi tak langsung menjawab pertanyaan Avril. Alvi malah menangis sesenggukan. Yang lebih mengherankan, ibu Demira juga menangis didekapan Hendar.


"Ayah... bagaimana aku menjelaskannya pada putrimu?" Namun ayah memalingkan wajahnya ketika Alvi bertanya demikian.


"Ayah... maksudnya apa? Apa kalian merencanakan sesuatu ketika aku tak sadar?" Alvi mencoba meraih wajah Avril yang kini berpaling dari hadapannya.


Saat Avril kembali menoleh, Alvi tak sengaja menyentuh perban didahi Avril yang membuat Avril meringis.


"Apa yang sakit?" Tanya Alvi yang tak melihat langsung wajah Avril.


"Avril...." panggil semuanya bersamaan ketika darah di lukanya mulai kembali terlihat dibalik perban.


"Avril kenapa? Katakan padaku Avril kenapa?" Teriak Alvi menyembunyikan frustasi yang mulai menyelimuti hatinya. Kini Avril sadar, mengapa sebelumnya Alvi mengatakan tak akan lagi menepati janjinya. Alvi tak bisa melihat.


"Ayah... mengapa kalian diam? Noah.. apa ada Noah? Aku mendengar suaranya. Noah!" Perlahan Alvi memperlihatkan sikap frustasinya.


"Avril... jangan didekatku... aku takut aku akan menyakitimu." Namun Avril kembali memeluk Alvi. Rasanya lebih sakit dari sayatan pisau yang mengenai dahinya itu.


"Aku tak akan meninggalkanmu." Lirih Avril.


"Tinggalkan aku Avril... aku tak bisa melihat. Aku tak akan bisa membahagiakanmu. Aku tak bisa menepati janjiku." Meski begitu, Avril enggan melepaskan pelukannya dari Alvi.

__ADS_1


"Aku istrimu. Bukankah seorang istri tak akan meninggalkan suaminya dalam keadaan apapun?" bisik Avril menahan isakkan.


-bersambung


__ADS_2