Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
59


__ADS_3

. Ray ikut berlari saat Alvi yang ikut melompat seakan tak menghiraukan lukanya yang masih parah.


"Tuan..." teriak Ray penuh dengan kepanikan. Ray menoleh pada Adam yang tergeletak di samping pembatas dengan wajah memucat. Ray kemudian meraih denyut nadi di leher Adam.


"Jadi begitu?" Ucap Ray pelan menoleh pada Andara.


"Lepaskan sialan." Teriak Reno dari dalam mobil, lalu terdengar suara keributan didalam, dan tak lama Reno dan Aldi keluar dengan saling menopang.


Sebagian bawahan Andara menyergap orang-orang suruhan Adam yang sudah babak belur juga didalam mobil, dan bisa di tebak itu perbuatan Aldi dan Reno.


"Benar-benar kacau." Ucap Ray melihat kondisi keduanya yang terhitung menyedihkan.


Andara berlari meraih Reno yang sudah habis babak belur. Sementara Aldi belum sadar sepenuhnya dan masih tak menyadari dengan situasinya. Hanya samar terlihat seperti ayahnya sedang tergeletak di depan Ray yang berjongkok. Setelah menggelengkan wajahnya kasar, Aldi terbelalak, matanya memerah, tangannya mengepal dan emosinya memuncak. Aldi berjalan setengah berlari menghampiri ayahnya, lalu terkejut melihat sang ayah sudah bersimbah darah. Aldi tiba-tiba memberikan pukulan beruntun pada Ray.


Reno yang menyaksikan itu, mencoba berlari namun kakinya tak meyakinkan untuk dibawa berlari.


"Diam disini nak. Biar ayah yang mengurus mereka." Ucap Andara seraya memberi kode bawahannya untuk sebagian menangkap orang-orang yang di hajar Reno di dalam mobil.


"Kau kan yang melakukannya sialan? Kau dan tuanmu itu yang melakukannya. Apa kematian kakakku belum bisa membuat kalian puas? sekarang kalian malah mengambil ayahku. Apa salahku pada tuanmu hah? Aku sudah menjauhi Avil. Aku sudah mengubur perasaanku dan merelakan Avil untuk tuanmu. Tapi kenapa semua yang aku korbankan seakan tak ada artinya." Aldi terus menerus memukuli Ray, hingga Ray terhuyung saat pelipisnya di hantam begitu keras.


"Mengapa asisten Alvi diam saja?" Gumam Andara seraya masih melangkah mendekati Ray yang seperti sudah pasrah di hajar habis-habisan oleh Aldi.


"Cukup Aldi." Tegas Andara seketika menghentikan Aldi.


"Katakan padaku siapa yang bertanggungjawab atas kematian ayahku Om?" Aldi menggertakkan gigi menahan amarah yang mungkin belum terluapkan semuanya.


"Yang pasti bukan orang yang kau pukuli itu." Ucap Andara tanpa menjawab pertanyaan Aldi.


"Lalu siapa? Apa om sendiri?" Aldi dengan tajam melirik ke arah Andara.


"Aku atau bawahanku sama saja. Pihak kepolisian yang bertanggungjawab atas kematian ayahmu." Semula Aldi hanya tersenyum sinis, namun semakin lama, Aldi tertawa ditengah depresi yang kini ia rasakan. Aldi berteriak frustasi seakan semuanya benar-benar tak adil.


"Aldi.... maafkan om. Tapi jika dibiarkan, nyawa Avril lebih terancam." Ucap Andara menghampiri dan hendak meraih punggung Aldi.


"Kenapa om? Kenapa harus Avil yang menjadi sandera ayah? Dan kenapa ayah begitu menginginkan Avil dan Alvi mati karena kak Amel. Dan kenapa aku malah tertidur saat situasi sedang kacau. Dan kenapa saat aku bangun, aku mendapati ayahku sudah seperti ini? Kenapa om?" Teriak Aldi didepan wajah Andara.


"Aldi tenangkan dirimu."


"Beri aku alasan agar aku bisa tenang om." Andara terdiam. Dirinya tak bisa memberikan alasan yang bisa membuat Aldi tenang. Di culik oleh ayahnya sendiri, di buat sandera, dan sekarang mendapati ayahnya yang sudah meninggal. Andara tahu bahwa kini Aldi sudah menyadari ketiadaan Avril.


"Aku butuh bantuan.." teriak salah satu bawahan Andara dari bawah jembatan. Andara menoleh kearah suara, dan melihat Alvi yang memeluk Avril diatasnya dengan kemeja yang sudah berlumuran darah.


"Sial." Cetus Andara kemudian berlari melewati sebuah jalan yang sangat terlihat tak ada yang pernah melewatinya sejak lama.


"Mereka masih hidup pak. Hanya saja, kondisi nak presdir tidak memungkinkan." Jelas bawahan Andara saat Andara sudah berada didekatnya.


"Apa maksudmu tidak memungkinkan?" Andara menyernyit tak mengerti.


"Saat aku periksa, detak jantungnya melemah. Dan luka-lukanya semakin parah."


"Lalu kenapa kalian malah diam saja? Cepat bawa mereka ke rumah sakit." Ucap Andara dengan nada tinggi.


"Ba-baik pak."


Mereka membawa Avril dan Alvi naik ke atas jembatan dan membiarkan Ray membawa tuan dan nona nya menuju rumah sakit.

__ADS_1


Aldi yang sedari tadi masih frustasi berdiam melihat ayahnya yang sudah dibawa para anggota polisi.


Reno masih berada ditempatnya memperhatikan gerak-gerik Aldi. Aldi berjalan dengan sempoyongan menuju tepi jembatan dan menatap pada arus sungai yang terlihat tenang namun mungkin sedikit dalam.


"Aldi..." panggil Reno pelan namun jelas masih terdengar.


"Mengapa kau tak ikut meninggalkanku Ren?" Aldi sedikit menolehkan wajahnya dengan senyum getir yang dipaksakan.


"Aku tak akan meninggalkanmu Al. Kita teman. Bahkan lebih. Aku tak mau membiarkanmu melakukan hal bodoh yang akan kau sesali nantinya." Reno berjalan semakin dekat pada Aldi yang terduduk lesu di pembatas jembatan.


"Ayahku sudah membuatmu babak belur seperti itu. Bahkan aku tak tahu sekarang keadaan Alvi dan Avril seperti apa."


"Aldi... ayo ke rumah sakit denganku. Luka mu sama-sama parah." Ucap Reno seraya mengulurkan tangan dan menyadari bahwa Aldi hendak merencanakan sesuatu.


Saat Aldi duduk di pembatas jembatan, Reno menarik kasar tubuh Aldi sehingga terpental ke tengah jalan.


"Apa yang kau pikirkan hah? Kau mau bunuh diri? Kau mau meninggalkan mama sendiri? Aku tahu kau terpukul, setelah kematian kakakmu, kini ayahmu. Tapi jangan berpikir pendek. Kau masih memiliki aku dan yang lain. Kau tidak berpikir bagaimana perasaan mama jika kau tinggalkan? Dia sendirian. Siapa yang akan mengurusnya jika bukan kau. Berpikirlah dengan tenang Al... jangan gegabah. Bukan hanya mama yang kehilanganmu nantinya. Tapi Syifa, Avil, aku, Bagas." Mendengar ocehan Reno, Aldi menunduk dan mulai sesenggukan.


"Kau tak mengerti rasanya Ren. Kau tak tahu karena keluarga mu masih utuh." Aldi mendongak dengan tatapan tajam dan dengan nada tinggi. "Kau bicara seperti itu karena orang tuamu masih lengkap. Kau tak tahu karena kau tak merasakan bagaimana hari-hariku tanpa kakak, dan sekarang aku tak tahu harus apa setelah kepergian ayah." Lanjut Aldi kembali menunduk.


"Tapi mati bukan jalan keluarnya Al. Aku dan Bagas akan selalu membantumu. Kita selesaikan kuliah, lalu aku akan mendampingimu untuk melanjutkan perusahaan ayahmu." Reno ikut berjongkok dan meraih bahu Aldi.


"Woy... ternyata kondisi kalian lebih parah dari yang ku duga." Ucap Bagas berlari menghampiri keduanya.


"Dari mana kau tahu kita disini?" Tanya Reno menyernyitkan dahinya. Seingatnya, Bagas sedang ada pertemuan dengan keluarga ayahnya di luar kota.


"Kau pikir berita ini tidak viral?" Bagas memberikan ponselnya yang dipenuhi berita meninggalnya ayah Aldi dan beberapa artikel tentang Alvi.


"Bagaimana bisa sampai masuk berita?" Reno menarik ulur layar ponsel Bagas.


"Mengapa mereka menculikmu Al?" Tanya Bagas polos sambil terus berjalan pelan menahan beban kedua sahabatnya yang merangkul ke pundaknya.


"Tak tahu..." jawab Aldi yang enggan membahas permasalahan ini.


"Syukurlah kalian masih selamat. Dan aku harap Avil baik-baik saja." Bagas menerawang jauh menjauhkan pikiran negatif tentang kondisi Avril.


"Ren.. maaf. Kau jadi babak belur." Ucap Aldi yang semakin sempoyongan karena lemas.


"Iya... dan kau harus menebus kesalahanmu di kemudian hari. Jika tidak, aku tak akan memaafkanmu." Reno melirik tajam pada Aldi, memperlihatkan candaan namun dengan nada serius. Aldi mengerti maksud Reno, yang tak lain agar dirinya tetap hidup. Aldi tersenyum kemudian setelah mengingat kembali masa SMP yang ia habiskan dengan Baren.


"Kalian babak belur seperti ini menguntungkanku loh." Cetus Bagas setelah hening beberapa saat.


"Maksudmu?" Reno menoleh dengan memasang wajah heran.


"Iya. Disini aku jadi yang paling tampan. Karena wajahku tidak terluka"


"Ohhhh kau mengejek kita?" Reno meraih kepala bagian belakang Bagas dan sedikit mendorongnya.


"Ehh... awas. Kita bertiga bisa jatuh. Kalian sangat berat. Padahal saat SMP dulu, kalian sangat kurus." Bagas kembali menyeimbangkan langkahnya karena kejahilan Reno.


"Iya dan kau yang paling tampan. Pak jendral." Sindir Reno mendelik kesal.


"Kenapa Ren?" Tanya seseorang dari dalam mobil dan berhasil mengejutkan Reno.


"O-om jendral?" Damar tersenyum tanda menyapa Reno yang masih terlihat tak mempercayai bahwa kini Reno kembali bertemu dengan Damar.

__ADS_1


"Kau parah sekali Ren."


"Begitulah om. Namanya juga lelaki." Reno tersenyum kikuk.


"Aldi? Kau lebih tinggi dari Bagas ternyata." Damar terkekeh saat melirik anaknya.


"I-iya om." Jawab Aldi, yang mungkin hanya itu yang dapat keluar dari mulut Aldi. Rasanya mulut itu ingin tertutup saja.


Damar mengantarkan ketiga anak muda itu ke rumah sakit, dan sekalian menyusul yang lain.


"Aldi... bagaimana pun keadaannya, jangan berpikir untuk lari. Hadapi saja, kita ada bersamamu. Jika bukan kau yang melanjutkan perusahaan ayahmu, kau pikir siapa lagi?" Damar memulai pembicaraan yang mungkin akan di abaikan oleh Aldi sendiri.


"Semua orang sudah tahu ayah meninggal. Jadi, mungkin mereka semua tak akan percaya jika aku yang memimpin perusahaan." Aldi bersandar dengan menerawang jauh ke luar.


"Tidak jika kita ada di pihakmu. Aku dan yang lain akan meyakinkan mereka bahwa kau berbakat."


"Justru aku tak ingin merepotkan siapapun."


"Kita tak merasa direpotkan Al. Sudah ku katakan aku akan menemanimu berjuang. Aku akan menjadi partermu yang selalu ada di sisimu." Reno menepuk bahu Aldi dengan wajah percaya dirinya.


"Aku sudah punya Syifa Ren. Aku masih normal." Aldi menepis tangan Reno dengan memasang tatapan sinis. Seketika wajah Reno menjadi geram mendengar ucapan Aldi.


"Kau pikir aku tak normal? Meskipun aku jomblo, aku juga menyukai wanita." Ucap Reno setengah berteriak.


"Benarkah? Dan wanita yang kau sukai itu tak lain adalah tunanganku. Iya kan?" Aldi tak kalah meninggikan suaranya.


"Al... sudahlah... aku tak mau ribut denganmu."


"Kenapa kau mengelak Ren. Apa rencanamu yang sebenarnya mendekatiku agar kau lebih mudah merebut Syifa?"


"Hentikan Al. Kau pikir aku teman macam apa?"


"Tapi terbukti kan? Saat itu kau terang-terangan menegaskan hubunganmu dengan Syifa bukanlah sekedar teman."


"Karena aku muak dengan sikapmu yang terus mengabaikannya Al, kau terus terang-terangan mengatakan bahwa kau mencintai Avril. Aku berpura-pura menjadi pacarnya hanya untuk membuatmu sadar saja dengan kehadiran Syifa. Bagaimanapun dia yang menjadi tunanganmu, bukan Avril."


"Apa? Pura-pura?" Aldi menyernyit tak mengerti. Dan semakin heran saat melihat Bagas menepuk dahinya sendiri dengan bergumam tanpa suara.


"Baren. Apa maksudnya? Kau dan Syifa hanya berpura-pura untuk melihat bahwa aku mencintainya atau tidak? Begitu?"


"Al.... bukan begitu." Reno mencoba menjelaskan meskipun tahu bahwa Aldi tak akan mendengarkannya.


"Lalu apa? Apa aku salah jika mengkhawatirkan Avil saat dia tiba-tiba hilang dari acara dirumahku? Bukankah kalian juga khawatir? Kita berlima sudah berteman dari sekolah dasar. Hanya Demi yang berpisah saat SMP. Dan aku juga meninggalkan kalian setahun setelah Demi pindah. Setelah Avil selalu menasehatiku untuk menerima kehadiran Syifa, saat itu juga aku mulai menerima Syifa di sisiku." Aldi mengusap kasar wajahnya. Cobaan yang datang padanya seakan berturut-turut. Kematian kakak, lalu sekarang kematian ayahnya, dan tak lama pula waktu berselang, Aldi mendapati kenyataan yang mungkin sekarang terasa menyayat hatinya. Dimana Aldi yang sudah terang-terangan pada Syifa bahwa dirinya mencintai Syifa. Namun ternyata selama kedekatan Syifa dengan Reno hanya memancing perasaan Aldi saja. Aldi merasa tak habis pikir mengapa temannya sendiri sampai seperti itu. Meskipun memang benar kenyataan bahwa Aldi menunjukan sikap yang tidak menerima Syifa.


"Kau tak tahu Ren. Bagaimana perasaanmu saat harus dengan terpaksa melepaskan gadis yang kau cintai selama 6 tahun, lalu karena kesalahfahaman, kita harus dengan sukarela menerima gadis lain yang bahkan belum pernah kita temui. Disaat itu juga kita tahu bahwa gadis itu adalah teman dari seseorang yang kau cintai. Perasaan yang tertanam selama 6 tahun itu sulit dihilangkan dalam sekejap mata Ren. Butuh waktu yang lama untuk melupakan Avil, apalagi aku bertemu dengannya setiap waktu. Aku tak bisa dengan sekejap mata mencintai Syifa begitu saja. Kau tak pernah tahu Ren. Karena kau tak pernah berada di posisi seperti ini. Dulu pun kau hanya mencintai Demira saja, dan merelakan untuk temanmu." Ucap Aldi yang tak menyadari bahwa kedua temannya terbelalak bersamaan dengan masing-masing pikiran yang berkecamuk. Reno yang tak percaya bahwa Aldi akan mengutarakan kenyataan yang tersimpan 6 tahun silam didepan Bagas langsung. Dan Bagas yang tak percaya bahwa Reno juga mencintai Demira di waktu yang sama dengannya dulu. Namun saat itu Demira memilih Bagas sebagai pacarnya karena Reno tak pernah mengutarakan perasaannya pada gadis manapun. Sampai akhirnya tahu bahwa Bagas juga menyukai Demira, Reno hanya bisa memendam perasaannya dalam-dalam.


"Ren... apa itu benar?" Tanya Bagas masih memasang wajah tak percaya.


"Iya Gas... aku mencintai Demi saat kau juga mencintainya."


"Mengapa kau tak bilang?"


"Aku tak ingin pertemanan kita retak karena masalah itu."


"Ren.... bukan itu yang ku maksud. Mengapa kau tak bilang sejak dulu, mungkin aku akan menjauhkan Demi darimu." Cetus Bagas membuat Aldi dan Reno menatap konyol padanya.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2