
. Damian berjalan menghampiri Avril lalu menepuk kepalanya pelan.
"Dalam sehari, kau menjadi terkenal dik." Damian terkekeh mengingat layar ponselnya dipenuhi berita dan artikel tentang Avril dan Alvi.
"Apa aku bisa meminjam Aldi sebentar?" Lanjut Damian menunjuk Aldi namun pandangannya yang tak lepas dari wajah teman-temannya.
"Silahkan." Kompak semua menjawab dengan polos. Hanya Aldi yang merasa heran.
Aldi mengajak Damian pergi ke kamar inapnya.
"Ada apa?" Tanya Aldi yang sudah duduk di kasur.
"Aku tahu, mungkin bukan saatnya untuk-"
"Ayahku ingin membalas dendam pada Alvi karena kematian kakak. Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa kakak sudah pergi." Aldi menyela seakan tahu arah pembicaraan mereka mengarah kemana.
"Sebelumnya aku minta maaf. Bukan maksudku membuatmu kembali bersedih."
"Tak apa kak. Aku tak bersedih lagi sekarang. Tapi rasa sesak memang ada saat kehilangan."
"Apa benar ayahmu menculik Reno dan Avril." Aldi mengangguk menanggapi pertanyaan Damian.
"Aku sudah mencurigai ayah, tapi aku tak ingin berperasangka terlalu jauh. Sampai aku tahu kebenarannya terungkap dari Alvi malam itu. Aku yang tak bisa menerima kenyataan, berlalu pergi dari rumah Alvi begitu saja."
"Kau ke rumah Alvi?"
"Iya. Aku menjemput Avil, tapi Avil menolak di ajak pulang."
"Lalu?"
Aldi menjelaskan dengan rinci kejadian malam itu.
. Pada malam keributan, Aldi yang merasa heran karena Avril yang tiba-tiba memutus sambungan telponnya, berlalu menuju rumah. Pikirannya masih kacau, kepergian Amel masih menjadi luka yang membekas dihatinya, ditambah sekarang sang ayah yang ingin membalas dendam pada Alvi yang jelas tak melakukan apapun. Amel meninggal karena penyakitnya. Tapi sang ayah tak bisa menerima, dan menyalahkan orang lain atas hal ini.
Sampai dirumah, Aldi mematung di ambang pintu saat mendengar bahwa kenyataan ayahnya adalah orang yang bertanggungjawab atas kecelakaan yang menimpa Alvi.
"Ayah..." panggil Aldi mengejutkan Adam yang kemudian menghentikan pembicaraan pada ponsel genggamnya.
"Jadi benar?" Tanya Aldi dengan ragu dan rasa tak percaya.
"Mengapa ayah melakukan ini?" Kini suara Aldi kian meninggi. Lalu terdengar suara tamparan keras mengenai pipi Aldi.
"Kau berani meninggikan suaramu pada ayah?" Adam menatap tajam pada Aldi yang mengusap pipinya pelan, hatinya terpukul mendapati kenyataan yang lebih pahit dari kematian Amel.
"Jadi benar?" Lirih Aldi mengulang pertanyaan itu kembali. "Jadi benar ayah yang mencoba membunuh Alvi. Mengapa ayah? Ayah bilang dia sudah seperti anak ayah sendiri? Bahkan ayah juga mencoba membunuh Avil? Dia salah apa ayah?"
"Karena mereka, Amel pergi. karena mereka juga ayah kehilangan putri ayah. Ayah hanya ingin mereka merasakan apa yang seharusnya mereka rasakan."
"Tidak ayah... kak Amel pergi bukan karena mereka. Kak Amel sendiri yang mengundang kematiannya. Jika saja kak Amel menurut untuk di operasi, mungkin sekar--"
"Dan jika saja Alvi menerima perjodohannya, Amel tak mungkin membiarkan dirinya dalam kesakitan yang amat dalam. Dan jika saja gadis itu tak bersama dengan Alvi, Amel pasti akan bertahan hidup dan masih ada disini sekarang." Adam menyela sebelum Aldi melanjutkan ucapannya.
"Hentikan ayah... kak Amel sudah tenang. Mengapa ayah menyimpan dendam yang tak seharusnya ada."
"Tahu apa kau tentang ayah? Sekarang, sebaiknya kau pergi ke kamar dan jangan mengganggu ayah."
"Tidak ayah... aku tak akan membiarkan ayah membahayakan Avil"
"Kau berani menentang ayah demi gadis sepertinya?"
"Dia tidak salah ayah... pandangan ayah saja yang tertutup pada Avil. Dia gadis baik. Mengapa ayah begitu membencinya."
"Karena dia anak Andre. Orang yang tak ingin membantuku disaat aku hampir kehilangan segalanya, dan sekarang dia menari-nari dengan kesuksesan dan kekayaannya."
"Tidak ayah... om Andre tidak seperti itu. Bukankah saat ayah hampir bangkrut, perusahaan om Andre juga sedang tak stabil bahkan memecat hampir separuh karyawannya."
__ADS_1
"Siapa yang kau bela?"
"Ayah.... sudahlah.. aku berjanji akan melakukan apa saja yang ayah mau, asal ayah menghentikan pikiran bodoh ayah yang ingin membahayakan Alvi." Tak disangka, tiba-tiba Adam memukul wajah Aldi dengan keras. Bukan lagi menampar. Adegan itu dilihat jelas oleh Dewi yang keluar dari kamar karena mendengar keributan di ruang keluarga.
"Aldi..." teriak Dewi berlari dan menghampiri Aldi yang terjatuh ke lantai.
"Apa yang kau lakukan mas? Dia putramu." Teriak Dewi menatap tajam pada Adam dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tatapan apa itu? Apa pantas seorang istri menatap suaminya seperti itu?" Adam tak kalah tajam menatap Dewi yang menunduk karena perkataannya.
"Ibu mana yang tega melihat putranya dipukuli, sekalipun itu oleh suaminya sendiri." Dewi beranjak dan membantu Aldi berdiri dengan tanpa menoleh pada Adam.
"Kau ikut menyalahkanku?"
"Apa aku harus mendukungmu? Kau berniat membunuh Alvi yang tak tahu apa kesalahannya, dan sekarang apa kau juga berniat membunuh Aldi karena egomu. Aku tahu kau kehilangan Amel, tapi apa kau tak berpikir bahwa ada yang lebih kehilangan daripada kau? Aku mas. Aku ibunya. Aku yang sepenuhnya menjadi bagian dirinya." Pecah sudah tangis Dewi lalu menoleh menatap Adam yang emosinya semakin memuncak. Adam menghampiri Dewi, lalu mengangkat tangannya yang bisa dipastikan akan menampar Dewi. Dengan sigap, Aldi meraih tangan Adam sebelum menyentuh wajah ibunya.
"Ayah. Ayah boleh memukulku, tapi jangan sekali-sekali ayah menampar mama." Teriak Aldi dengan lantang.
"Dimana etika mu saat berbicara denganku." Kembali Adam memukul wajah Aldi dengan keras.
"Mas.. hentikan. Mengapa kau menyiksa Aldi."
"Itulah akibatnya jika kau terlalu memanjakan Aldi. Dia semakin kurang ajar pada orang tua."
"Mengapa kau menjadi seperti ini sepeninggal Amel?" Dewi kembali berteriak membuat Adam refleks menoleh lalu menampar pipi Dewi. Aldi terbelalak mendapati apa yang ayahnya perbuat.
"Sejak kapan menjadi seperti ini?" Gumam Aldi yang tak merubah posisinya dan tanpa sadar, air matanya mengalir tak terbendung.
"Mengapa tak sekalian saja ayah membunuhku." Teriak Aldi yang sudah tak kuasa jika harus melihat kehancuran keluarganya.
Kemudian dengan amarah yang memuncak, Adam menyeret Aldi sampai keluar rumah. Terlihat 5 orang bawahan Adam yang berjaga menoleh bersamaan kearah Adam.
"Amankan dia." Ucap Adam dengan dingin yang ditanggapi anggukan oleh para bawahannya. Mereka lalu membawa Aldi dengan paksa memasuki mobil Van dan mengikat Aldi dengan terduduk dikursi.
"Sialan. Apa yang kalian lakukan. Aku majikan kalian." Aldi meronta-ronta berharap bisa melepaskan diri dari mereka. Namun apa daya, Satu lawan Lima hanya sia-sia saja jika memberontak.
"Kau tak akan bisa menghentikan ayah. Karena besok semuanya akan berakhir." Ucap Adam dengan dingin seakan menembus jantung Aldi. Apanya yang berakhir? Apa benar ayahnya akan membunuh Alvi dan Avril secara bersamaan. Tapi Aldi mencoba untuk tenang, karena tak mungkin Avril akan begitu mudah tertangkap oleh mereka. Dan Alvi juga dengan ketat menjaga Avril.
Mobil melaju meninggalkan kediaman Adam. Sepanjang jalan Aldi hanya menatap tajam pada salah satu bawahan ayahnya. Dan mobil sampai disebuah rumah megah yang tak lama Aldi tinggalkan itu. Aldi menyadari mereka berhenti didepan rumah Alvi.
"Apa yang akan kalian lakukan?" Tanya Aldi dengan panik.
"Khawatirkan dirimu sendiri tuan muda." Ucap salah satu dengan senyum licik.
"Kau..." Aldi mencoba beranjak walaupun dirinya tahu semua usahanya akan sia-sia.
"Tuan jangan memaksakan diri. Atau anda akan terluka. Bagaimana jadinya jika nona Syifa melihat kondisi anda yang menyedihkan ini." Cetusnya menyeringai begitu menyebalkan.
"Sialan kau. Jangan berani-berani menyentuh Syifa. Aku tak segan membunuhmu."
"Wah... aku takut tuan..." ejeknya lagi. Membuat Aldi berdecih jijik dan membuat bawahan ayahnya naik pitam. Aldi dipukul dan terlihat darah di ujung bibirnya.
"Tuan jangan memancing emosi saya. Atau bisa saja tuan akan mati sebelum Alvi disini."
"Hentikan. Tuan besar bisa marah jika mengetahui tuan muda babak belur seperti ini."
"Kau beruntung karena kau putra dari tuan besar."
"Aku tak butuh belas kasihan mu bedebah sialan." Ucap Aldi kembali berdecih. Seketika itu pula, Aldi kembali mendapat pukulan di kepala dan perutnya. Yang lebih menyakitkan, saat sebuah benda keras menghantam bagian perutnya yang membuat Aldi menahan nafas seketika. Bukan hanya itu, kepalanya terbentur keras hingga dirinya tak sadarkan diri.
. "Aku tak mengingat apa-apa lagi sampai aku mendengar samar-samar suara teriakan Avil dan Alvi yang bersahutan. Dan lalu Reno juga berteriak didekatku. Saat aku terbangun, aku mendapati Reno yang diikat dengan wajah yang sudah babak belur sepertiku. Saat Reno berhasil melumpuhkan bawahan ayah, aku dan Reno keluar mobil dan sudah mendapati ayah tergeletak didepan Ray. Aku pikir Ray yang membuat ayah seperti itu, tapi para polisi yang menembak ayah karena mencoba membunuh Avil." Ucap Aldi yang menatap kosong pada mata Damian didepannya.
"Tapi aku senang kau baik-baik saja sekarang Aldi. Bukan hanya karena aku mencintai kakakmu, tapi karena aku benar-benar menyayangimu sebagai adik laki-lakiku." Damian beranjak lalu merangkul Aldi pada pelukannya.
. Pintu perlahan terbuka memperlihatkan Syifa yang termangu melihat Aldi berada dipelukan Damian. Aldi menyadari tatapan Syifa yang terasa ganjil itu.
__ADS_1
"Eh... i-ini tak seperti-- kak menjauh dariku. Syifa jadi salah faham karena mu." Teriak Aldi mendorong Damian menjauh darinya.
"Syifa..." panggil Aldi. Namun Syifa masih terdiam di tempatnya dengan tatapan yang tak berubah.
"Aha haa... aakuuu..." Syifa hendak berbalik, namun dengan cepat Aldi beranjak lalu berlari dengan masih membawa kantung infusan dan meraih tangan Syifa.
"Jangan pergi." Ucap Aldi dengan manja. Damian ternganga menyaksikan perubahan sikap Aldian yang drastis itu.
"Tapi...." Syifa tak melanjutkan dan menoleh pada Damian.
"Apa yang kau pikirkan?" Aldi menepuk dahi Syifa dengan gemas. "Kau berpikir bahwa aku sedang pacaran dengan kak Damian? Aku masih normal Syifa... jika aku sudah tak normal, tidak mungkin aku mencintaimu." Semula senyum yang terlempar dari wajah Syifa, kini berubah menjadi wajah sendu. Syifa termangu mendengar perkataan Aldi. Meskipun sedang becanda, tapi Aldi menunjukan kejujurannya.
"Kenapa? Eh kau tak berangkat kerja?" Tanya Aldi yang baru menyadari.
"Aku izin."
"Sengaja?" Syifa hanya mengangguk menanggapi.
. "Kak Damian. Kita lanjutkan obrolannya nanti saja." Ucap Aldi yang menoleh pada Damian yang sedari tadi duduk di ranjang Reno.
"Kau mengusirku secara halus nak?" Damian beranjak dan merapikan jasnya.
"Ehehehe.... ayolah kak. Aku ingin bicara dengan Syifa." Bujuk Aldi memasang wajah konyol. Damian tersenyum geli melihat tingkah Aldi yang mendadak menjadi kekanak-kanakan.
"Baiklah. Tapi jaga batasanmu."
"Iya kak. Aku tahu..."
Damian berlalu meninggalkan Aldi dan Syifa disana. Aldi kembali duduk di kasurnya, dan Syifa duduk di kursi samping kasur Aldi. Mendadak wajah Aldi yang semula manja menjadi sendu.
"Al...." lirih Syifa kemudian berdiri dan meraih lengan Aldi. Aldi terdiam lalu memeluk Syifa dengan erat. Suara isakan membali terdengar menandakan bahwa Aldi tengah menangis.
"Jangan pergi.. aku tak tahu hidupku akan seperti apa jika kau juga pergi." Ucap Aldi disela isakannya.
"Aku tak akan pergi Al.. aku akan selalu berada disisimu." Syifa mengelus lembut kepala Aldi didekapannya.
"Maaf... jika aku terlambat mencintaimu. Tapi sekarang aku benar-benar tak ingin kehilanganmu." Seketika bulir bening ikut terjatuh dari kelopak mata Syifa. Pengakuan Aldi benar-benar membuatnya bahagia. Tapi, rasa ragu akan perasaan Aldi yang sesungguhnya masih menjadi penghalang kepercayaan Syifa untuk Aldi. Melihat bagaimana Aldi mencintai Avril begitu dalam.
Syifa membenamkan wajahnya di kepala Aldi. Rasanya sama seperti yang Aldi katakan. Rasa takut kehilangan dan rasa penyesalan karena pernah menyia-nyiakan.
"Maaf Al..." lirih Syifa ketika mengingat pernah memberikan cincin tunangannya pada Avril, dan kedekatannya dengan Reno saat itu.
"Apa kau sedang tid.... dur?" Reno terdiam melihat apa yang seharusnya tak ia lihat. Reno kembali menutup pintu perlahan, sebisa mungkin tak mengeluarkan suara.
"Kenapa?" Tanya Bagas heran.
"Ad-ada Syifa." Jawab Reno terbata.
"Mana aku lihat..." Bagas perlahan membuka pintu dan seketika terbelalak mendapati pemandangan yang membuatnya mematung. Dimana kini Aldi tengah meraih wajah Syifa dan mengecup bibirnya.
"Aku tidak lihat." Cetus Bagas kembali menutup pintu dan terengah kemudian bersandar. "Mataku ternodai." Ucapnya lagi.
. Syifa terkejut lalu menarik diri sedikit mundur menjauh dari Aldi ketika mendengar suara orang datang. Dan bisa ditebak adegan itu dilihat dengan jelas. Wajah Syifa memerah lalu kembali duduk di kursi.
"Aldi menahan senyum melihat wajah Syifa yang seperti tomat matang itu. Aldi beranjak, lalu membuka pintu perlahan. Terlihat Bagas terjatuh karena tengah bersandar dipintu. Jelas terlihat kecanggungan diantara mereka.
"Ha-hai Syifa..." Bagas melambaikan tangannya dengan posisi masih terbaring. Terlihat Reno menghampiri dan mencoba membantu Bagas berdiri.
"Sedang apa kalian?" Tanya Aldi.
"Ini kamarku juga." Jawab Reno yang terlihat risih dengan infusannya.
"Lagian kau ada-ada saja. Pacaran di rumah sakit. Pintunya tidak di kunci pula." Ucap Bagas dengan nada pelan sembari membenahkan pakaiannya.
"Katakan dengan jelas Bagas..." geram Aldi menatap dengan tajam.
__ADS_1
-bersambung