
. Pak Yusuf memasuki ruangan dan terheran ketika mendapati Alvi sedang duduk di sofa dengan wajah kaku dan panik, dan Avril membereskan majalah yang ada dimeja tak jauh dari Alvi.
"Apa tuan Alvi baik-baik saja?" Tanya pak Yusuf khawatir.
"Aku hanya terkejut pak." Pak Yusuf menyernyit dengan jawaban Alvi. Terkejut kenapa? Tidak biasanya Alvi terkejut seperti itu saat dirinya datang.
Pak Yusuf semakin heran ketika melihat seorang karyawan magang di ruangan Alvi. Seolah bertanya apa yang dilakukannya.
"Dia sedang membereskan ruanganku pak." Ucap Alvi menyadari keheranan pak Yusuf.
"Tapi, bukankah ada cleaning service?" Tanya Pak Yusuf lagi.
"Ak-aku.... sedang menghukumnya pak." Pak Yusuf semakin heran.
"Dia tadi menabrakku, aku hanya memberi sedikit hukuman." Jelas Alvi lagi dengan gugup dan melirikkan matanya kesana-kemari.
"Anda sudah saya asuh dari kecil tuan... jadi saya tahu tuan sedang menyembunyikan sesuatu atau tidak. Dan apa tuan pikir saya tidak tahu bahwa dia adalah nona Avril?" Avril terkejut kemudian perlahan menoleh ke belakang dengan tersenyum kikuk.
"Hehe... siang pak!" Sapa Avril.
"Siang nyonya." Jawab pak Yusuf sedikit menundukan kepala. Alvi tersenyum begitu lebar mendengar sapaan pak Yusuf. Hanya Avril saja yang mematung mendengar sapaan itu.
. Sampai sore, Avril baru kembali ke ruangan tempat magang nya. Semua pandangan tertuju pada Avril yang baru masuk. Avril menundukan pandangan menghindari tatapan intimidasi para karyawan disana.
Pak Deri selaku pimpinan dibagian itu menghampiri Avril lalu menepuk pundaknya.
"Kau baik-baik saja? Apa kontrak magangmu tidak diputus? Apa Tuan Alvi tidak macam-macam padamu?" Pertanyaan beruntun itu menjelaskan bahwa Deri dan yang lain sangat mengkhawatirkan Avril.
"Tidak pak. Sesuai yang dikatakan pak Alvi, saya hanya membereskan ruangannya saja." Jawab Avril yang didalam hatinya ingin tertawa terbahak-bahak menyebut Alvi dengan sebutan 'pak'. Dia berpikir mengapa sebutan itu tidak dijadikan sebagai panggilan sayang saja. Saking tak tahan menahan tawa, Avril menyunggingkan senyuman yang seperti orang gembira. Iqbal sedikit terheran dengan sikap Avril. Ditambah lagi saat Ray tiba-tiba masuk dan memberikan ponsel Avril, yang dengan alasan tertinggal di toilet dan ditemukan oleh cleaning service.
Padahal sudah jelas ponsel itu dipakai oleh Alvi.
"Terimakasih." Ucap Avril tersenyum riang.
"Sama-sama no-- ehem baiklah. Jangan teledor lagi. Masih beruntung ada yang jujur menemukan ponselmu." Ucap Ray dengan dingin.
"Saya tidak bermaksud tidak sopan. Mohon maafkan saya nona...." Gumam Ray.
Kemudian Ray kembali keluar dari ruangan.
"Kembali bekerja. Masih ada sisa waktu sebelum pulang." Titah Deri yang ditanggapi anggukan oleh Avril.
. Saat pulang, Dea memberi pertanyaan beruntun pada Avril tentang Alvi. Salah satunya pertanyaan tentang pasangan Alvi yang ditanggapi tertawa oleh Avril.
"Sepertinya kau bahagia?" Tanya Iqbal yang sedikit sinis melirik Avril.
"Tidak... biasa saja." Jawab Avril dengan jelas mengelak dari pertanyaan karena sangat terlihat perubahan sikapnya ketika sebelum dan sesudah dari ruang presdir.
"Avril... aku ingin bicara. Boleh?" Tanya Iqbal melirik ke arah Dea.
"Ohhh baiklah. Aku pulang duluan." Ucap Dea meninggalkan Avril dan Iqbal.
Setelah memastikan Dea sudah jauh, Avril kembali pada dirinya yang dingin. Mendadak, namun terasa hawa dingin menyelimuti keduanya.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Avril menoleh pada Iqbal. Tatapannya kini berbeda. Semula hangat menjadi sangat dingin.
"Aku..."
"Aku tak punya waktu lama. Ada yang sudah menungguku diluar." Ucap Avril dengan cepat menyela sebelum Iqbal melanjutkan. Avril tahu saat ini Iqbal akan menyatakan perasaannya.
"Kau punya pacar?" Tanya Iqbal ragu.
"Tidak." Jawab Avril singkat.
"Sebelumnya aku minta maaf jika lancang." Ucap Iqbal kemudian menghela nafas sejenak.
"Katakan saja. Tak perlu meminta maaf."
"Jika aku ingin menjadi pacarmu, apa kau akan menerimaku?" Tanya Iqbal lagi setelah mengumpulkan keberanian untuk mengatakan itu.
"Maaf tapi aku tak bisa." Jawab Avril tanpa harus berfikir terlebih dulu.
"Apa kau--"
"Aku sudah bertunangan." Jawaban itu cukup membuat Iqbal terdiam. Iqbal tak menyalahkan pertanyaan ataupun jawaban Avril. Memang benar Avril tak punya pacar, tapi tunangan sudah lama menjalin.
"Maaf." Lirih Avril.
"Tak apa... aku justru merasa lega sudah mengungkapkannya padamu." Iqbal tersenyum hangat, Avril tahu senyum itu untuk menutupi luka yang ia buat pada Iqbal. Rasanya memang menyakitkan. Tapi bagaimana lagi, Avril sudah memiliki Alvi dan dialah yang dilihat nyata mencintai Avril dengan sungguh. Dan tidak ada alasan lagi untuk Avril berpaling darinya. Dan sudah terbukti juga Alvi tak sedikitpun berniat meninggalkan ataupun mengkhianati Avril sendiri. Jelas saja, jika Alvi hanya mempermainkan Avril, Alvi mungkin sudah bertukar cincin dengan Amel. Tapi nyatanya tidak, pada malam acara pertukaran cincinnya, Alvi bahkan masih memakai cincin pertunangannya dengan Avril.
__ADS_1
"Maaf Iqbal. Aku tidak berniat menyakitinya. Dan juga aku bukan orang seperti itu. Dia sudah banyak berkorban untukku, dan aku pun mencintainya. Aku tidak punya alasan untuk berpaling darinya." Ucap Avril menjelaskan agar Iqbal mengerti dengan keadaannya.
"Tak apa Avril. Setidaknya aku tak akan berharap lebih. Dan terimakasih atas waktumu. Maaf sudah membuatmu merasa tak nyaman dengan gosip tentang kita selama ini." Ucap Iqbal tersenyum seakan tanpa beban.
"Selama tunanganku tidak tahu, tak akan ada masalah." Canda Avril dan keduanya tertawa terbahak-bahak.
"Ehem... karyawan magang di jam ini seharusnya sudah pulang. Apa kalian lembur?" Tanya Ray dari belakang dengan melirik jam di tangannya mengejutkan Avril dan Iqbal. Rasanya Avril ingin memukul Ray dengan keras, namun sadar disampingnya masih ada Iqbal.
"Ma-maafkan kami pak." Ucap Iqbal menundukan pandangannya.
"Ftftt" Avril tak bisa menahan dirinya untuk tertawa. Sebutan 'pak' sangat menggelikan untuk orang sedingin Alvi dan Ray.
Ray dan Iqbal menatap Avril yang terlihat kikuk.
"Ehem... pak. Kalau begitu, kami pulang. Semangat pak Ray!" Ucap Avril terdengar mengejek untuk Ray, namun terdengar berani bagi Iqbal. Iqbal berfikir gadis seperti Avril mengapa begitu berani memberi semangat pada orang yang sangat menakutkan seperti Ray.
Avril menggandeng lengan Iqbal menuju pintu keluar. Security yang di sapa Avril sedikit menyernyit. Seakan ingin berkata "aku pernah melihat gadis ini."
. Terlihat Reno melambaikan tangannya saat Avril berjalan didekat gerbang. Iqbal memperhatikan setiap langkah dan sikap keduanya. Iqbal berfikir bahwa Reno adalah tunangan Avril, apalagi melihat keakraban dan kejahilan keduanya. Terlihat saat Avril yang ingin masuk ditempat supir, dengan cepat Reno mendorong Avril sampai ke pintu lainnya.
Avril yang terus tertawa, dan Reno yang jengkel dengan sikap Avril. Memang pasangan yang harmonis.
Iqbal kembali teringat kata-kata Avril tentang tunangannya. Jelas saja Reno sangat sempurna. Wajah yang rupawan, berwibawa, dan memperlakukan Avril dengan baik. Tidak heran jika Avril sangat mencintainya.
Avril tersenyum dan melambaikan tangannya ketika mobil melaju melewati Iqbal yang masih mematung di dekat gerbang.
. "Dia temanmu?" Tanya Reno.
"Iya..."
"Sepertinya dia menyukaimu?"
"Justru dia baru saja menyatakan perasaannya padaku."
"Benarkah?" Avril hanya mengangguk.
"Lalu?"
"Aku tolak."
"Kenapa? Dia tak kalah tampan dariku. Haha"
"Benar juga. Tapi, sepertinya dia mengira akulah tunanganmu." Reno terkekeh mengingat senyum paksa dengan raut wajah Iqbal yang menerka-nerka.
"Avril... besok yang menjemputmu antara Aldi dan Bagas. Sepertinya aku harus mengantar ibuku ke rumah nenekku. Jadi aku tak akan sempat jika karus menjemputmu ke sini." Ucap Reno setelah Avril tak menanggapi ucapan Reno.
"Yaa baiklah. Asal jangan Alvi saja, nanti aku ketahuan dan karyawan di perusahaan D akan salah faham padaku." Avril mengangguk pelan menanggapi obrolan seraya mengiringi musik di mobil Reno.
"Kau tak sedih lagi?" Tanya Reno menoleh pada Avril.
"Menurutmu apa yang membuatku sedih? Aku punya keluarga yang menyayangiku, teman-teman yang perhatian dan pengertian, dan seorang kekasih yang setia." Avril membalas menatap Reno yang kini sudah kembali fokus pada jalanan.
"Baguslah jika kau sudah tahu. Aku hampir gila saat itu mencarimu sampai bandara. Syifa dan Famela sudah hampir histeris jika seandainya mendapatkan kabar kau hilang." Ucap Reno dengan nada seraya dibuat-buat untuk mengejek Avril.
"Reno... jangan berlebihan. Aku tidak akan percaya."
"Ahahaha memang siapa yang serius. Aku hanya becanda. Syifa dan Famela sangat khawatir padamu, emmm siapa ya yang menangis? Aku lupa."
"Pasti Famela." Avril menghela nafas berat.
"Ahh benar. Karena Deyan terus memeluknya. Dan saat itu juga, aku membawa kabur Syifa dari Aldi hahahaha." Avril hanya menatap konyol sahabatnya, sepertinya Reno sangat senang jika merebut milik Aldi. Begitu pikir Avril.
"Ya Tuhan.. sejak kapan dia gila?" Ucap Avril menatap ke atas membuat Reno berhenti tertawa.
. Esok hari, Avril sedikit berlari memasuki gerbang perusahaan D. Avril terengah saat memasuki lift. Tanpa sadar sebuah tangan merangkul lehernya. Deru nafasnya terasa dikepala Avril.
"Alvi.. tolong...." lirih Avril memejamkan matanya. Seketika Alvi tertawa terbahak-bahak dan melepaskan rangkulannya.
"Ihhhhh...." Avril memukul lengan Alvi dengan kesal. Alvi tertawa mengejek mendapati pukulan Avril.
"Kena yaaa..." ejek Alvi mengacak rambut Avril.
"Kau menyebalkan."
"Tapi kau mencintaiku kan?" Tanya Alvi terus mengejek Avril.
"Sangat." Jawab Avril manja.
"Kau kesiangan?" Tanya Alvi seraya mengecup kening Avril.
__ADS_1
"Ya begitulah..."
"Sepertinya kau sibuk memikirkanku semalaman."
"Tidak..."
"Lalu?"
"Alvi... jangan mengejekku." Avril mengusap wajah Alvi yang tersenyum mengejek dengan bersandar di dinding lift menatap betapa menggemaskannya Avril saat ini.
"Dimana Ray?" Tanya Avril mengalihkan keadaan.
"Kau sangat berani menanyakan pria lain didepan suamimu." Alvi semakin dekat pada wajah Avril.
"Yaaa... biasanya kau selalu dengan Ray.." Avril memalingkan wajahnya menghindari Alvi.
. Lift terbuka, dan Avril kini berada dibelakang Alvi yang berdiri tegak dan wajah datar dilengkapi tatapan yang dingin, seolah pertemuan keduanya hanya kebetulan semata, pertemuan seorang mahasiswi magang dan presdir perusahaan. Dirinya tahu, adegan itu pasti terlihat di CCTV. Namun Alvi sangat santai, membiarkan sedikit karyawannya tahu tentang kebenarannya.
Avril berlari ketika dirinya keluar dari lift, meninggalkan Alvi yang masih mematung.
Iqbal kembali menyaksikan sebuah kebetulan antara Avril dan Alvi.
"Avril." Panggil Iqbal.
"Ya?"
"Aku boleh bertanya sesuatu.?"
"Apa?" Avril berfikir pertanyaan Iqbal akan mengarah pada Alvi. Apa yang harus dijawabnya? Apa kebenarannya akan terungkap lebih cepat dari perkiraannya?
"Apa yang kemarin itu tunangan yang kau maksud?"
"Eh?" Avril menghela nafas lega. Ternyata bukan.
"Ah... bukan. Dia temanku dari kecil." Jawab Avril dengan santai.
"Ohh kupikir itu tunganganmu. Kalian sangat akrab."
"Yaa begitulah jika sudah bersama dari dulu."
"Jadi, apa aku boleh tahu siapa tunanganmu? Agar aku tak menerka-nerka seperti ini. Aku ingin mencoba tidak peduli pada apapun tentangmu. Tapi rasanya aku malah semakin ingin tahu." Ucap Iqbal seolah menyalahkan dirinya sendiri.
"Maaf.. tapi aku tak bisa memberitahumu. Untuk saat ini, aku belum bisa menjelaskan alasannya. Tapi ku harap kau mengerti." Iqbal semula terdiam. Dan akhirnya hanya mengangguk menanggapi ucapan Avril.
. Setiap hari, Ray selalu mengawasi kedekatan Avril dan Iqbal. Semakin lama, keduanya semakin akrab. Dan selama itu pula, Alvi selalu terlihat kesal saat melihat Avril dekat dengan Iqbal.
Sudah hampir 2 minggu Avril menjalani magang di perusahaan D, Avril mendapati perlakuan sedikit berbeda dari pimpinannya, Rania. Rania diketahui sangat mengidolakan Ray. Melihat Avril yang selalu berinteraksi dengan Ray, Rania merasa bahwa Avril suka menggoda Ray dan Ray pun menyukai Avril. Bahkan Rania pernah melihat Ray memberikan bekal sarapan untuk Avril yang saat itu tak bisa sarapan dirumah, dan jam kerja sudah hampir dimulai.
Hari ini, Avril diberi tugas untuk membantu Rania mengerjakan beberapa proposal.
Beberapa kali Rania mengacuhkan Avril yang susah payah membantunya kesana-kemari.
Ditambah Iqbal yang semakin hari sikapnya semakin membingungkan Avril.
Saat makan siang, bahkan Iqbal melirik Avril seolah merendahkannya.
"Iqbal... kau kenapa?"
"Sudahlah Avril, jangan berpura-pura baik padaku. Sebenarnya kau ingin aku menjauhimu kan?" Avril menyernyit mendengar pernyataan yang diucapkan Iqbal.
"Jangan berlagak heran. Kau bilang sudah bertunangan, itu hanya alasan kan? Setiap harinya kau dijemput oleh pria yang berbeda, dan seolah sudah terjadwal untuk menjemputmu. Lalu kau bilang mereka teman masa kecilmu. Dan kau juga dekat dengan Sekertaris presdir, atau mungkin pak Ray lah tunanganmu? Bukankah kau bilang tunganganmu juga berada diperusahaan ini."
"Jika kau tak tahu apa-apa--"
"Iya memang. Aku tak tahu apa-apa karena kau yang tak ingin memberitahuku."
"Lalu? apa untungnya jika kau tahu kebenarannya?"
"Jadi benar? Kau setiap hari berganti pria--"
'Plak' Avril terbelalak lalu menutup mulutnya ketika Dea dengan keras menampar wajah Iqbal.
"Aku tak tahu masalah kalian apa, tapi jika kau bicara seolah Avril wanita rendahan, lebih baik kau jangan mendekatinya lagi." Dea menarik tangan Avril berlalu meninggalkan Iqbal yang terdiam.
"Menyebalkan bukan?" Tanya Rania tiba-tiba dari belakang Iqbal.
"Menurutmu apa ini kebetulan? Pak Ray dan Avril sama-sama merahasiakan tentang pasangan mereka." Tanya Rania.
-bersambung.
__ADS_1