Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
67


__ADS_3

. "Sa-sayang.." lirih Noah melirik pada Demira dengan keringat dingin yang mulai mengalir di pelipisnya.


"Sayang sayang. Makan tuh sayang." Demira berlalu memalingkan wajahnya dengan kasar dan menutup pintu sedikit keras.


"Pacar dokter?" Tanya sang perawat.


"I-iya." Jawab Noah kaku.


"Ahahaha... lain kali jika ingin memeriksaku lihat-lihat dulu situasinya. Jika ada Demira, harusnya kau tak membawa perawat perempuan." Alvi tak henti-hentinya tertawa mengejek Noah. Terlihat sang perawat begitu terpesona oleh wajah Alvi yang tingkat ketampanannya bertambah berkali-kali lipat saat tertawa. Matanya tak berkedip menatap Alvi. Karena yang ia tahu, presdir perusahaan D sangatlah dingin, dan tak pernah tersenyum. Tak disangka, disini ia melihat langsung betapa sempurnanya ciptaan tuhan.


"Ehemmm..." Noah menyadarkan lamunan sang perawat dan meredakan tawa Alvi.


"Jangan lama-lama Noah... aku tak ingin membuat istriku menunggu." Ucap Alvi kembali pada mode dinginnya. Lalu Noah memulai pemeriksaan terhadap Alvi.


"Belum sah juga." Cetus Noah.


"Besok aku sah kan."


"Memangnya Avril mau menikah besok?"


"Jika aku suaminya, gadis mana yang tak mau?"


"Kau sungguh percaya diri. Tapi sayangnya, besok kau masih dirawat disini." Noah tertawa membalas ejekan Alvi.


"Dokter... tolong fokus." Ucap perawat membuat Noah berhenti tertawa.


. Diluar, Avril mengelus punggung Demira dengan lembut.


"Dem.. tenangkan dirimu. Didalam ada Alvi juga." Ucap Avril terus menenangkan Demira.


"Avil... tapi lihat tadi. Dia begitu dekat dengan Noah." Ucap Demira masih emosi.


"Ya dekat lah Dem... mereka kan partner." Cetus Reno menimpali. Avril menepuk dahi dan memejamkan matanya sambil mengehela nafas panjang. Reno malah memperkeruh suasana.


"Kau ini terlalu cemburu Dem." Ucap Aldi membuat Demira tersenyum sinis.


"Terlalu cemburu? Apa aku harus mengatakan sekali lagi daftar-daftar kejadian apa saja yang kau buat saat Avil didekati oleh ketua osis, lalu oleh senior populer di sekolah, dan oleh guru magang, bahkan oleh Baren. Apa kau lupa Aldiiiiii? Hmmmmmm?" Aldi menjadi salah tingkah mendapati serangan dari Demira. Apa lagi didepan Syifa, Aldi merasa sudah tak punya harga diri.


"Dem..." Aldi melotot kemudian menoleh pada Syifa yang terdiam dengan tatapan yang sayu.


"Jangan dengarkan Demi. Itu masa lalu." Ucap Aldi menggaruk kepalanya meskipun tak gatal.


"Masa lalu ya?" Gumam Avril tersenyum sendiri.


"Avil... apa kau tak berpikir Alvi akan tergoda oleh perawat itu?" Bagas tiba-tiba membuyarkan lamunan Avril. Avril terbelalak lalu beranjak dari duduknya dan membuka pintu dengan kasar.


"Awas kau Alvi." Ucap Avril dengan kesal. Namun seketika Avril terdiam dengan wajah memerah karena malu. Mengapa dirinya termakan omongan Bagas. "Ma-maaf..." lirih Avril yang kembali menutup pintunya.


Avril menutup wajahnya dengan memaki dirinya sendiri. Bagas menahan tawa karena berhasil menjahili Avril.


"Kau kenapa Avil?" Tanya Demira yang masih terheran.


"Bagas...." geram Avril yang berjalan menghampiri Bagas.


"Eh... apa? Mengapa kau marah padaku?" Bagas berjalan mundur mencoba menghindari Avril. Avril benar-benar malu, berpikir bahwa Alvi tergoda oleh perawat itu. Namun justru ia melihat Alvi yang memalingkan wajahnya ke jendela seakan tak mempedulikan keberadaan Noah dan perawat di dekatnya.


Ditengah acara kejar-kejaran Avril dan Bagas, Noah keluar dan diikuti oleh perawat dibelakangnya. Demira menolehkan wajahnya kearah lain dengan santai dan berpura-pura seolah dirinya tak melihat keberadaan Noah.


"Kalian boleh menemui Alvi kembali." Ucap Noah setelah menyuruh sang perawat lebih dulu kembali ke ruangan dokter.


"Iya pak dokter." Jawab semuanya serempak kecuali Demira.


Mereka kembali memasuki kamar Alvi namun tidak dengan Demira. Noah yang tahu bagaimana sikap Demira saat cemburu, kemudian duduk disamping Demira yang masih memalingkan wajahnya kesisi lain.


"Hei.. lihat aku." Ucap Noah hendak menghadapkan Demira padanya, namun Demira enggan menghadap pada Noah.


"Sayang..." panggil Noah dengan lembut.

__ADS_1


"Kau masih marah? Maafkan aku.. tapi ini sudah jadwalnya."


"Apa harus dengan perawat cantik itu?"


"Lalu harus dengan siapa? Perawat disini cantik-cantik." Seketika Noah menutup mulutnya dengan tangan setelah melontarkan kata itu.


"Tuh kan.... kau selalu menebar pesona pada semua perawat disini." Ucap Demira menoleh pada Noah dengan setengah berteriak.


"Jangan keras-keras. Ini rumah sakit. Bukan rumahmu."


"Sudahlah. Jika kau tak serius denganku, lebih baik katakan sekarang." Demira memalingkan kembali wajahnya. Namun tatapannya kini berubah lesu.


"Begini saja. Jika kau tak percaya pada perasaanku, mulai sekarang aku akan berhenti menjadi dokter. Aku akan menjadi tukang bangunan saja. Biar teman kerjaku lelaki semua." Demira berbalik lalu menatap konyol pada Noah.


"Ya tidak seperti itu juga.." ucap Demira menghela nafas berat.


"Lalu seperti apa?"


"Ya.......... sudahlah. Tak apa. Kau kembali bekerja saja." Demira melemparkan senyumnya meskipun Noah tahu Demira saat ini sedang tak ingin tersenyum.


"Baiklah maafkan aku." Noah beranjak lalu berjalan menjauh dari Demira.


"Bahkan kau tak mengerti perasaanku dan pergi begitu saja." Gumam Demira.


"Maafkan aku yang tak mengerti dengan perasaanmu. Maaf karena memang aku bukan orang yang kau cintai sepenuhnya. Dari awal kita memang saling melampiaskan perasaan saja." Gumam Noah yang semakin ragu untuk melangkah. Noah berbalik dan masih melihat Demira yang tengah duduk dengan memalingkan wajahnya kearah lain seperti tadi.


"Tapi nyatanya aku benar-benar mencintaimu sekarang. Aku tak bisa jauh darimu, bahkan aku tak rela jika kau pergi sekarang. Bagaimana caraku mencegahmu kembali ke London? Aku yang tak bisa menyusulmu karena tanggung jawabku disini." Noah kembali berjalan menghampiri Demira dan berdiri tepat didepan Demira.


Demira mendongak menatap Noah yang sedikit terengah. Noah duduk dan meraih pundak Demira, lalu memeluknya dengan erat.


"Jangan pergi. Aku mohon jangan pergi. Mungkin kata itu yang kini terus berada di benakku Dem. Tapi aku tak bisa mencegahmu untuk kembali ke London hari ini. Rasanya ingin sekali aku berada disisimu setiap saat. Aku mencintaimu Demira. Aku tak peduli dengan restu keluargamu, yang jelas aku tak ingin berpisah denganmu." Noah semakin erat memeluk Demira dengan mata terpejam.


"Noah...." lirih Demira.


"Tetaplah disini dulu. Sampai aku benar-benar siap kau tinggalkan."


"Noah... aku sulit bernafas." Demira memukul pundak Noah semakin keras hingga Noah melepas pelukannya.


"Noah aku..." Demira tak melanjutkan ucapannya. "Sudahlah tak penting." Lanjutnya kembali melemparkan senyumannya.


"Katakan saja. Jangan terus seperti ini. Karena tidak semua orang mengerti dengan yang kau sembunyikan dengan memberi isyarat atau dengan diam. Aku tak paham Dem. Katakan saja apa yang ingin kau katakan."


"Aku juga tak ingin pergi Noah...." pecah sudah tangis Demira yang beralih lebih dulu memeluk Noah.


"Aku tak ingin jauh darimu, dari Avil, dari semuanya. Aku bahagia disini." Ucapnya lagi disela isak tangisnya.


"Sudah.... selesaikan dulu kuliahmu. Setelah itu kau boleh memutuskan untuk tinggal disini atau menetap di luar negeri." Ucap Noah menenangkan.


"Siapa kau? Berani mengatur kehidupan Demira?" Demira menarik diri dari pelukan Noah saat mendengar pemilik suara yang terdengar sangat dingin itu. Demira menoleh dan menatap wajah sang kakak yang tengah menatapnya dengan tajam.


"Kenapa kau selalu muncul tiba-tiba? Kau ini manusia atau hantu?"


"Menurutmu aku apa?" Tanya Damian mendekatkan wajahnya pada Demira.


"Wajahmu menakutkan sialan." Demira mendorong wajah Damian dengan keras.


"Apa ada yang menjenguk Alvi?" Tanya Damian lagi.


"Banyak." Jawab Demira.


"Hah banyak?" Damian menyernyit tak mengerti.


"Anak-anaknya sedang menjenguk." Timpal Noah menunjuk pada pintu dengan lirikan matanya.


"Anak-anak? Kapan Avril melahirkan?" Tanya Damian polos dengan wajah tak percaya. Damian membuka pintu dan terkejut karena memang banyak anak-anak yang menjenguk Alvi saat ini. Damian menatap konyol pada setiap wajah pengacau diruangan itu. Apalagi Avril yang duduk di ranjang dengan Alvi.


"Benar-benar anak-anak pengacau." Cetus Damian. Terlihat Avril terbelalak ketakutan dan berlari menghampiri Bagas.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Bagas heran karena Avril tiba-tiba berlari ke belakangnya.


"Hei adik... kenapa kau begitu takut melihatku? Apa aku seperti hantu?" Damian berjalan mendekati Avril.


"Kakak lebih menakutkan daripada hantu." Avril semakin menghimpit di belakang Bagas.


"Kau berkali-kali berbicara seperti itu. Kau tak mengerti dengan perasaanku?" Mendengar pertanyaan itu Avril hanya bergidik geli lalu berlari lagi menghindari Damian yang terus mengejarnya. Reno dengan sigap menghalangi jalan Damian dan membiarkan Avril berlindung di belakang Aldi. Tangannya tak sadar memegangi bahu Aldi dengan kepala sedikit bersandar. Aldi menoleh perlahan pada Avril dengan perasaan gugup.


"Mengapa jantungku masih saja tak bisa ku kendalikan saat dengan Avil.. sial... semakin aku ingin melupakannya, semakin besar juga perasaan yang muncul begitu saja. Tidak tidak. Aku tak boleh membiarkan perasaanku pada Avil kembali. Aku harus bisa menghilangkan namanya. Aku tak ingin lagi menyakiti Syifa. Lagi pula sekarang Avril sudah bahagia dengan Alvi. Jika aku kembali mencintainya pun akan sia-sia saja." Gumam Aldi memalingkan wajahnya menahan diri agar tidak salah tingkah dan gugup.


Alvi menyadari ketidaknyamanan Aldi berada dekat dengan Avril. Alvi hanya menatap datar pada Avril yang terlihat sudah tak canggung lagi dengan Aldi. Namun yang tak mereka tahu, kini Avril tengah menahan diri untuk tidak memperlihatkan perasaannya yang kian tak karuan. Jantungnya berdetak keras sampai Aldi sendiri menyadari bahwa Avril sama gugupnya.


Perlahan Avril menjauhkan diri dari Aldi dan menoleh pada Alvi yang tak merubah ekspresi wajahnya.


Terlihat dahi Alvi berkerut karena menahan denyutan di beberapa lukanya. Avril berjalan menghampiri Alvi dan meraih tangannya yang diperban.


"Sakit kah?" Tanya Avril yang tak menghiraukan Damian.


"Dik... kau mengabaikanku." Teriak Damian yang menghampirinya.


"Dami... apa kau akan menetap disini?" Tanya Alvi mengabaikan pertanyaan Avril. Damian terdiam dan hanya menghela nafas sejenak.


"Perusahaan yang di London itu sudah ada om Hendar yang mengatur. Jadi untuk apa kau kembali kesana?" Alvi sedikit memperlihatkan wajah putus asa nya.


"Maaf Al.. sore ini aku dan Demi akan kembali ke London. Tugasku disini sudah selesai." Ucap Damian dengan datar.


"Tapi Aldi membutuhkanmu Dam..." Damian menyernyit lalu menoleh pada Aldi di belakangnya. Aldi hanya terdiam tak menjawab, bahkan dirinya tak mengerti dengan maksud dari Alvi.


"Aldi?" Damian kembali menatap lekat wajah Alvi.


"Aku yang membutuhkanmu Dami... hanya kau keluarga yang aku punya. Kalian tega meninggalkanku disini sendiri? Apa kalian pernah berpikir untuk menemaniku, seorang saja di antara kalian. Aku ingin seperti orang lain yang tinggal dengan keluarganya. Aku hargai om dan tante yang harus keluar negeri karena memang bagian yang om Hendar terima itu disana. Tapi apa harus kau dan Demi meninggalkanku juga?" Mengalir bulir bening dari sudut mata Alvi setelah mengatakan isi hatinya itu. Avril terdiam sedikit menunduk dengan apa yang ia dengar. Alvi yang kesepian. Kehadirannya tak cukup untuk mengobati rasa sepi di hati Alvi.


"Maaf Al... tapi kau juga tahu, aku sendiri sudah membuka bisnis disana dan Demi harus menyelesaikan kuliahnya. Maaf... bukan kita tak menyayangimu atau tak peduli padamu. Tapi..."


"Sudahlah Dam... pergilah. Tinggalkan aku sendiri. Aku sudah terbiasa hidup sendiri. Maaf sudah berharap yang tidak-tidak. Sampaikan salamku pada om dan tante." Ucap Alvi kemudian berbaring dan memejamkan matanya. Semua menjadi canggung hingga Bagas mengajak Reno dan yang lain untuk menghibur Alvi.


"Kalian keluar saja. Aku ingin tidur." Ucap Alvi menghentikan langkah Bagas yang hendak menghampirinya.


"Al..." lirih Avril. Alvi membuka matanya lalu menatap Avril yang terlihat khawatir padanya.


"Bukankah kau ingin aku sembuh?" Tanya Alvi yang ditanggapi anggukan oleh Avril.


"Noah bilang aku harus banyak istirahat agar cepat sembuh. Jadi kuharap kau mengerti." Ucap Alvi kemudian melemparkan senyum pada Avril.


"Tapi...."


"Avril... jangan khawatir. Pulanglah. Ayah pasti mencemaskanmu, dan Galih pasti memarahiku jika kau terlalu lama disini."


"Aku ingin disini saja." Ucap Avril dengan nada pelan.


"Ren... tolong antarkan Avril pulang. Kau tak keberatan kan?" Tanya Alvi menoleh pada Reno.


"Oh... oke.. kau yakin tak apa jika kami tinggalkan? Ray masih bekerja kan?" Tanya Reno yang ragu meninggalkan Alvi sendiri. Damian tak tahu harus berbicara apa lagi, karena jika bicara pun akan sia-sia saja. Alvi pasti marah padanya.


Satu persatu teman-teman Avril meninggalkan ruangan, lalu hanya menyisakan Avril dan Reno saja.


"Ayo Avil..." ajak Reno dengan ragu.


"Aku ingin disini sebentar lagi Ren." Ucap Avril membuat Reno mengerti dan terpaksa meninggalkan Avril yang masih terdiam ditempatnya.


"Kenapa kau keras kepala? Aku menyuruhmu pulang. Kau tak menurut?"


"Apa kau juga pergi saat aku kecelakaan? Bukankah kau juga terus menemaniku walaupun kau sedang sibuk. Kau menjemputku saat aku keluar dari rumah sakit, berkata bahwa ayah yang menyuruhmu. Padahal aku juga tahu kau yang meminta pada ayah untuk menjemputku kan?"


"Jadi?" Tanya Alvi polos membuat Avril menghela nafas kesal.


"Jadi jangan menyuruhku pulang terus. Aku ingin menemanimu disini." Rengek Avril dengan sedikit keras. Avril menggenggam kuat tangan Alvi lalu meletakkan didahinya.

__ADS_1


"Jangan menyuruhku pergi. Aku ingin terus bersamamu." Ucap Avril menyimpulkan senyum diwajah Alvi.


-bersambung


__ADS_2