
. Galih berjalan menghampiri Avril.
"Hai Avril Vania sayang? Kau tak merindukanku?." Sontak semua terkejut mendengar Nama Avril Vania yang disebut Galih.
"Dia benar-benar gila. Hemmm salah apa aku Tuhan? Sampai kau memberikanku kakak yang seperti ini. Dan ibu telah berbuat apa sampai dia melahirkan anak sepertinya." Gumam Avril menatap konyol pada Galih.
Kemudian Galih kembali berjalan dan terhenti tepat didepan Feri yang terlihat wajahnya membiru karena pukulan Irfan. Galih menjulurkan tangannya dan memberi kode agar Feri berjabat tangan dengannya. Dengan ragu, Feri mengangkat tangannya sejajar dengan tangan Galih namun tak menyentuhnya. Galih meraih tangan Feri, dan Feri terlihat terperanjat. Nyalinya seketika menciut.
"Dan apa yang kakak lakukan disini? Bukankah kakak sedang di London? Jika kakak disini, lalu yang menemani Alvi siapa?" Gumam Avril terus menciut memegang punggung Irfan.
"Avril.. apa tangan yang ini?" Tanya Galih terus menatap tangan Feri.
"Harus ku apakan?" Tanya Galih lagi.
"Avril... kau kabur? Mengapa tak menjawab?" Kali ini Galih menoleh pada Avril.
"Kakak mau apa?" Tanya Avril bersembunyi dibelakang Irfan.
"Aku kakakmu... bukan hantu hei." Galih memanggil Avril sedikit kesal dan enggan melepaskan tangan Feri.
"Kakak jangan macam-macam. Atau aku adukan pada ayah."
"Dia menyakitimu kan?"
"Tu-tuan sa-saya...." Terdengar suara rintihan Feri saat Galih menggenggam lebih kuat jemari Feri, lalu Galih sedikit membelokan tangannya dan hampir mematahkan tulang Feri.
"Sakit?" Tanya Galih menatap tajam wajah Feri yang tak henti merintih.
"Padahal kau sudah diperingatkan oleh teman adikku bukan?"
"Ma-maaf tuan...."
"Maaf? Wahhh kau sangat berani. Apa dengan maaf, hinaanmu pada adikku bisa terlupakan begitu saja? Apa yang akan kau lakukan jika adik perempuanmu dihina, dan disakiti didepan matamu? Ah.... tadi kau bilang dia simpananku?"
"Ti-tidak tuan aaaaaa." Feri kembali berteriak.
"Aku terkesan kalian tahu tentang keluargaku. Dari siapa ayahku, siapa aku, siapa istriku, dan kalian juga tahu siapa nama adikku, dan siapa dia sebenarnya. Kalian tahu Avril adalah tunangan presdir kalian. Namun nyatanya kalian sendiri tak tahu pasti yang mana adikku sampai kalian menghinanya seperti itu. Tapi mengapa kalian berbicara seolah kalian tahu segalanya tentang keluargaku." Suara Galih kian meninggi dan menundukan wajah para karyawan yang ada disana. Benar-benar menakutkan.
"Ada yang ingin membelanya?" Tanya Galih mengedarkan pandangan, namun tak ada yang berani menjawab, bahkan untuk sekedar mengangkat kepalanya pun tak ada yang berani.
"Avril itu simpanan berhargaku. Siapa saja yang menyentuh adikku, dia akan tahu konsekuensinya." Galih semakin kuat mengangkat tangan Feri dengan wajah tanpa ekspresi. Ternyata benar, siapa saja yang menyentuh keluarganya, maka tak ada ampun untuk mereka. Matanya seperti elang yang siap menyambar ular pengganggu. Avril sudah tak tahan dengan kemarahan Galih.
"Kakak hentikan.... aku baik-baik saja. Jangan seperti itu... tangannya bisa patah." Avril meraih tangan Galih dengan wajah panik dan gemetar. Galih tahu Avril sangat ketakutan saat dirinya marah.
"Khawatirkan dirimu Avril. Dia harus tahu akibat dari menyakiti adikku."
"Kakak... kau pikir ini akan menyelesaikan masalah? Ini hanya salah faham saja kak. Sungguh.! Aku tak mau kakak dimarahi ayah karena membuat masalah disini." Rengek Avril meluluhkan hati Galih dan melepaskan genggamannya pada Feri.
"Mana tanganmu?" Galih beralih meminta tangan Avril. Namun Avril dengan polosnya, menyembunyikan kedua tangannya dibelakang.
"Mana..."
"Tidak mau... kakak pasti akan melakukan hal seperti tadi padaku kan?" Galih mendelik dan berdecih dengan kelakuan adiknya.
"Kau pikir aku kakak antagonis?" Galih meraih tangan Avril dan meniup pergelangannya yang terlihat merah.
"Mulai besok. Kau jangan magang disini lagi. Orang-orangnya jahat semua." Cetus Galih menarik Avril meninggalkan tempat itu.
"Ehhh...."
Setelah memastikan Galih sudah tak terlihat, semua menjadi riuh.
"Dia benar-benar nona Avril.."
"Iya tak ku sangka tuan Galih ada disini."
"Sejak tuan Alvi dinyatakan kecelakaan, tuan Galih yang memegang kekuasaan disini."
"Habis riwayatmu Feri."
Feri berdecih kesal dengan kecerobohannya.
Dengan santai Irfan tersenyum pada Feri.
"Tadi aku sudah peringatkan, tapi kau tak percaya. Itu baru tuan Galih, Kakaknya! Tinggal tuan Alvi, calon suaminya. Bersiaplah Feri! Setelah tuan Alvi, bisa jadi Andara yang mengintrogasimu. Maaf aku tak bisa membantumu mempertahankan jabatan dan pekerjaanmu." Irfan kemudian berlalu dengan senyum penuh kemenangan.
"Kau kurang beruntung menargetkan korban Fer..." Ejek yang lain diiringi tawa.
"Saat tuan Alvi kembali, langsung temui beliau." Ucap Roby yang ikut berlalu.
Gosip tentang hubungan Avril dan Alvi kian menyebar. Namun semua tak mempermasalahkan, karena Roby melihat kinerja Avril, dan karyawan lainpun sama dengan Roby.
"Aaaaa.... aku iri padamu Avril..." Ejek Salsa.
"Iri apa kak?"
"Berapa lama kalian tunangan?"
"Emmm beberapa bulan yang lalu. Sebelum kakakku menikah."
"Hemmmm bolehkan aku berteman denganmu?"
"Kak Salsa ini kenapa? Siapa yang tak boleh berteman denganku?"
"Aaa... terimakasih...."
"Hei kalian sedang apa?" Tegur Roby menyadari Salsa dan Avril tertawa kecil.
"Tidak pak..." jawab keduanya.
. Semua menjadi berbeda ketika Avril datang ke perusahaan. Rasanya menjadi lebih canggung. Beberapa hari ini, Avril belum mendapat kabar Alvi. Dirinya semakin khawatir dan kerjanya pun tidak fokus.
"Apa kau sakit Avril?" Tanya Roby melihat Avril yang terus memijit dahinya.
"Tidak pak... saya...."
__ADS_1
"Jangan dipaksakan.. kamu ke klinik saja."
"Ehhh... pak saya benar-benar tak apa-apa."
"Mungkin Avril sedang merindukan tuan Alvi pak.." teriak salah satu karyawan disana dan ditanggapi tawaan oleh yang lain.
Terlihat Roby menerima sebuah pesan di ponselnya.
"Pak direktur memintaku membawamu ke ruangannya." Ucap Roby.
"Tapi saya belum selesai dengan laporannya pak."
"Saya atasanmu disini."
"Di-dimengerti pak." Lirih Avril kemudian mengikuti Roby.
. Avril dan Roby memasuki ruangan direktur dan disambut hangat oleh pak Yusuf.
"Tuan Alvi meminta nona untuk membereskan ruangannya." Ucap pak Yusuf. Avril menyernyit, bahkan saat jauhpun dia masih sempat menjahili Avril.
"Ba-baik pak." Avril kemudian berlalu menuju ruangan Alvi.
"Kau bisa kembali." Ucap pak Yusuf pada Roby.
"Dimengerti pak." Roby ikut berlalu kembali ke ruangan kerjanya.
"Kapan kau pulang?" Lirih Avril ketika memasuki ruangan Alvi. Avril mengedarkan pandangannya dan hanya terheran melihat kursi yang membelakangi meja. Meskipun janggal, namun Avril tetap tak memikirkan hal lain selain kesepian saat ini.
"Kau merindukanku?" Alvi memutar kursinya dan menghadap pada Avril dengan senyum yang sangat manis.
Entah Avril merasa terkejut atau bahagia, dirinya mematung tak bergerak. Dan terlihat tatapan Alvi kembali hangat. Avril memasang wajah menyedihkan karena tak bisa menahan tangisnya.
"Ehhh... wajah apa itu? Mengapa kau memperlihatkan wajah seperti itu?" Alvi beranjak dan berjalan mendekati Avril.
"Yang aku ingin lihat itu wajah menggemaskanmu." Lalu Alvi meraih kedua pipi Avril.
"Aku mimpi?" Lirih Avril membalas meraih pipi Alvi dan seakan tak percaya bahwa Alvi bisa melihat kembali.
"Mau dicoba?" Alvi mengecup kening Avril lalu memeluknya.
"Apa aku menepati janjiku?" Mendengar ini, tangis Avril pecah dan membalas pelukan Alvi.
"Mengapa lama sekali.... Berhari-hari kau tak mengabariku."
"Maaf sayang... aku menjalani operasi. Aku sibuk tidur beberapa hari ini." Jawab Alvi namun tak meredakan tangis Avril.
"Hei hei... kenapa kau terus menangis?"
"Jangan meninggalkanku lagi sialan.... aku tak sanggup setiap malam merindukanmu terus."
"Sudah... yang penting aku sudah pulang dan sembuh kan?"
"Tetap saja aku khawatir." Avril memukul lengan Alvi dengan keras.
"Kau yang menyebalkan."
"Iya iya aku yang menyebalkan." Alvi menepuk dahi Avril pelan dengan rasa gemas.
"Kapan kau pulang?" Avril mendongak menatap wajah Alvi.
"Malam."
"Bahkan kau tak mengabariku..."
"Bukan kejutan namanya jika aku memberitahumu."
"Tapi aku khawatir."
"Malam ini ibu memintaku membawamu. Katanya dia rindu." Avril hanya mengangguk tersenyum.
. Jam pulang, karena tahu Avril tak lembur, Alvi sendiri menemui Avril ke ruangan magangnya.
Roby menunduk ketika menyadari ada Alvi disana. Meskipun semua sudah tahu, tetap saja Avril merasa canggung saat melihat Alvi berada disana.
"Apa dia lembur?" Tanya Alvi pada Roby.
"Karyawan magang saat ini tidak lembur tuan." Jawab Roby masih menunduk.
"Baiklah... kalau begitu aku bawa anak itu."
"Si-silahkan tuan."
Alvi berjalan menghampiri Avril yang mematung melihat dirinya.
"Berkedip!" Seketika Avril berkedip heran.
"Ayo pulang." Avril mengangguk kemudian menoleh ke sekelilingnya yang diam-diam mengintip dibalik komputer.
"Kau.. mak-maksudku pak presdir duluan." Ucap Avril kaku dengan sedikit berbisik.
"Apa?" Alvi mendekatkan telinganya karena tak terdengar.
"Duluan..." Avril membalikan tubuh Alvi dan mendorongnya sampai ke luar ruangan.
"Wajahmu merah." Ucap Alvi ketika menoleh ke belakang. Namun Avril memalingkan wajahnya kasar dan berjalan mendahului Alvi.
"Mulai lagi..." Alvi memijit dahinya pelan.
Alvi dan Avril berlalu menuju parkiran. Terlihat Ray sudah sigap untuk mengantar Alvi. Namun Ray merasa heran mengapa Alvi dan Avril sibuk dengan ponselnya masing-masing.
"Mau beli sesuatu?" Tanya Alvi yang fokus pada ponselnya.
"Tidak..." jawab Avril terdengar malas. Alvi mendongak dan meletakkan ponselnya.
"Kau marah? Kenapa? Kan aku sudah pulang dengan selamat dan tidak menikahi gadis lain." Avril menoleh seketika.
__ADS_1
"Apa maksud perkataanmu itu? Kau mau mengungkit masa laluku?" Tanya Avril setengah emosi.
"Ti-tidak Avril... ja-jangan salah faham... aku hanya becanda."
"Becanda saja terus...." Avril memukul-mukul lengan Alvi.
"Aduduh jangan memukul tangan..." Alvi merintih kesakitan.
"Iihhhh mengapa kau tak bilang lukamu disebelah sana. Alvi.... maafkan aku...." Avril mendadak panik sendiri.
Alvi membuka jasnya dan terlihat kemejanya sudah ada bercak darah karena lukanya kembali terbuka.
"Alvi... berdarah..." rengek Avril dengan mata berkaca-kaca dan wajah yang penuh rasa bersalah.
"Apa kita akan ke rumah sakit dulu tuan?" Tanya Ray yang khawatir dengan kondisi Alvi.
"Tidak Ray... di rumah saja."
"Maaf Alvi..." lirih Avril
"Jika lukamu terbuka lagi, pasti seru." Alvi terkekeh menunjuk dahi Avril yang masih terpasang kain kasa dan plester. Avril meraih dahinya dan membayangkan betapa perihnya jika luka itu terbuka lagi.
"Kan aku sudah meminta maaf." Bentak Avril membungkam mulut Alvi.
"Harimau nya keluar lagi." Gumam Alvi sedikit menghimpit ke pintu.
"I-iya aku maafkan." Alvi tersenyum kikuk. Avril menggembungkan pipinya dengan menggemaskan didepan Alvi. Alvi semakin dekat dan menyandarkan kepalanya di bahu Avril.
Avril mencuri-curi menoleh pada Alvi yang memejamkan matanya. Jika dilihat lebih teliti, ada luka gores dipipi Alvi. Mungkin karena panik yang berlebih, saat Avril ke London, Avril tak menyadari luka-luka itu.
Avril tersenyum lalu ikut menyandarkan kepalanya di kepala Alvi.
"Ray. Apa kondisi Alvi benar-benar membaik?" Tanya Avril
"Menurut rekam medis disana, tulang tangannya retak dan beberapa luka ditubuhnya belum benar-benar bisa disebut membaik nona. Apalagi luka di bahunya."
"Bahunya terluka?"
"Iya nona. Harusnya tuan tak boleh kemana-mana, tapi nona sendiri tahu bagaimana keras kepalanya tuan jika ingin bertemu dengan nona." Ucap Ray membuat Avril tertawa kecil.
"Ray... apa kau pernah berpikir mengapa dia sangat menyebalkan?"
"Sa-saya tak terpikirkan nona. Dimata saya, tuan adalah orang yang sangat baik."
"Kalian membicarakan ku?" Timpal Alvi yang enggan membuka matanya dan tetap bersandar pada Avril.
"Upsss ku kira tuan sudah tidur dengan pulas." Ejek Avril.
Alvi mengangkat kembali kepalanya namun tidak membuka matanya.
"Jika mengantuk, tidur saja tuan." Ucap Avril meraih kepala Alvi lalu kembali di sandarkan di pundaknya.
. Sampai di rumah Alvi, Alvi sengaja terus menyandarkan kepalanya di kepala Avril sambil berjalan.
"Alvi..."
"Apa sayang?" Namun Avril hanya diam tak menanggapi lagi.
"Aku pusing.." Avril menyentuh pelipisnya.
"Kau sakit?" Alvi mendadak panik lalu meraih wajah Avril.
"Kepalamu berat." Avril menghela nafas berat.
"Mana yang sakit?."
"Khawatirkan dirimu Alvi... perhatikan lukamu."
"Apa kau akan menangis lagi?" Avril menggeleng lalu meraih tangan Alvi yang terluka.
"Bagaimana bisa aku menguatkanmu jika aku sendiri saja lemah?"
"Itulah kenapa aku ada untuk melindungimu." Alvi mengacak rambut Avril dengan gemas.
"Ihhh rambutku jadi berantakan." Rengek Avril kembali menggembungkan pipinya. Lagi-lagi Alvi mencium pipi Avril karena gemas. Sempat Avril akan memukul lengan Alvi, namun urung saat mengingat kondisi Alvi yang masih terluka.
"Mau apa? Mau memukulku?"
"Tidak.... ak-aku mau.... mengusap pipimu." Lalu Avril mengusap pipi Alvi dan mencubitnya dengan keras.
"Aaaa... kau... mengapa kau selalu menyiksaku?" Teriak Alvi karena kesakitan. Kini Alvi yang terlihat kesal. Namun Avril terus tertawa kecil menanggapi kemarahan Alvi.
Alvi memeluk Avril dengan erat dan tak bisa menahan gemas.
"Alvi... ak-aku susah bernafas..." ucap Avril terbata. Seketika Alvi melepaskan pelukannya.
"Kau yang membuatku gemas." Ucap Alvi menyentil dahi Avril.
"Kau menyiksaku, bukannya meminta maaf, tapi kau malah menyalahkanku. Suami macam apa kau?"
"Jika kau tak menggemaskan, tak mungkin aku akan memelukmu seperti tadi."
"Saat sakit kau sangat mengkhawatirkan, tapi saat sembuh kau sangat menyebalkan."
"Ehhh.... kau malah menyalahkanku."
"Iya... memang kau yang salah."
"Wahhh... berani kau ya?" Avril berlari menghindari Alvi yang ingin menjahilinya.
Ray tersenyum melihat kebahagiaan sederhana tuannya. Tiba-tiba ponsel Ray berdering.
"Ya pak Andara."
-bersambung
__ADS_1