Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
42


__ADS_3

. Iqbal melirik kearah Rania. Melihat ketidaksukaannya pada Avril, Iqbal merasa waspada karena bisa saja Rania berencana membahayakan Avril.


"Maaf saya permisi bu." Ucap Iqbal sopan hendak menghindari kontak dengan Rania.


"Kau yakin akan diam saja melihat gadis yang kau sukai dekat dengan pria lain?" Iqbal terkejut mendengar Rania.


"Apa yang ibu rencanakan?" Iqbal mulai mencurigai tindakan yang direncanakan Rania, seperti memfitnah Avril agar Avril tak melanjutkan magang disini, atau tindakan-tindakan lain yang benar-benar membahayakan Avril.


"Bukan kejutan namanya jika aku memberitahumu." Jawab Rania dengan tersenyum manis. Rania berlalu meninggalkan Iqbal yang mematung.


. Hari telah berganti, bahkan minggu sudah hampir berganti pula, namun Iqbal tak menemukan kejanggalan apapun dari Rania dan Avril sendiri.


Ketika akhirnya, beberapa karyawan hampir mengetahui siapa Avril sebenarnya.


Hari itu Avril tak bersemangat berangkat bekerja, karena sudah 2 hari Alvi masih diluar kota.


Dengan santai, Avril berjalan diantara riuhnya karyawan yang berlalu lalang. Karena malas, Avril tak sempat menyelinap kedalam lift. Avril menunggu, dan sampai lift terbuka, sebuah tangan mendahului menekan tombol yang akan Avril tekan. Wangi parfum yang tak asing, dan jam tangan yang sangat dikenal. Tanpa menoleh dan tanpa berfikir apapun lagi, Avril memasuki lift dengan seorang pria dibelakangnya.


Avril melamun berfikir kapan Alvi pulang.


Avril menyadari pergerakan pria dibelakangnya, yang sepertinya bersandar dan menatapnya. Wajahnya samar terlihat di pantulan dinding lift. Tapi sepertinya pria itu tampan, dan gaya rambut hampir sama dengan Alvi.


Dengan terbelalak menyadari sesuatu, Avril menoleh pada Alvi yang tersenyum.


"Kau baru menyadari ada aku?" Tanya Alvi tak henti-hentinya mengejek. Tanpa menjawab pertanyaan Alvi, Avril dengan mata berkaca-kaca memeluk Alvi dengan erat.


"Maaf sudah membuatmu merindukanku." Ucap Alvi.


"Aku khawatir padamu bodoh." Alvi terkekeh mendengar ucapan Avril.


"Kau sakit?" Tanya Avril mendongak.


"Hanya sedikit tidak enak badan." Jawab Alvi melempar senyuman.


"Tidak tidak. Jangan bicara seolah kau tak apa-apa. Badanmu panas. Aku yakin kau pasti sedang pusing." Avril meraih dahi Alvi lalu kedua pipi Alvi. Alvi masih memberikan senyuman agar Avril tak cemas seperti itu.


"Aku memang pu.. sing..." Alvi tiba-tiba ambruk menindih Avril yang kemudian ikut terduduk karena tak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Alvi yang tiba-tiba pingsan semula dagunya menopang dibahu Avril, karena berat Avril pun ikut ambruk.


"Bagaimana ini?" Ditengah kepanikannya, Avril menepuk pipi Alvi berkali-kali dan memanggil nama Alvi. Avril mencoba memberikan nafas buatan berharap agar Alvi terbangun.


"Alvi aku mohon... bangunlah... jangan membuatku menangis terus karena ulahmu." Avril terisak memeluk kepala Alvi.


Avril mengusap pipinya ketika pintu lift terbuka.


Deri, Rania, Irfan, dan beberapa pimpinan lain yang bisa ditebak sedang menunggu lift karena ada meeting, terkejut melihat Alvi yang terbaring dipangkuan Avril.


"Avril..." dengan cepat Deri dan Irfan meraih Avril.


"Apa yang kau lakukan pada pak presdir?" Suara Rania terdengar sedikit marah.


"Avril... apa yang terjadi?" Tanya Irfan lirih.


"Telpon. Telpon." Pikiran dan perasaan Avril tak karuan sehingga dengan tidak menyadari posisinya, Avril dianggap lancang karena tanpa izin mengambil ponsel Alvi sendiri. Namun yang lebih mengherankan, darimana Avril tahu kode kunci ponsel milik Alvi?


"Kak Irfan. Tolong telpon Noah. Mak-maksudku dokter Noah. Dan Ray mak-maksudku pak Ray." Dengan masih heran Irfan mengangguk dan mulai mencari kontak yang dimaksud Avril. Irfan tak menemukan nama-nama yang disebutkan. Dirinya malah salah fokus pada nama kontak 'istriku' dan jelas itu adalah foto Avril. Irfan menoleh perlahan pada Avril yang sangat panik.


"Nama pak Ray disini ditulis apa?" Irfan mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini tidak nyata.


"Rayzal Randyan." Jawab Avril dengan cepat.


Irfan menemukan nama yang disebutkan Avril. Bahkan Avril tahu nama panjang dari Ray.


"Halo tuan."


"Ray ini aku Irfan. Cepat turun ke lantai 6. Tuan Alvi tak sadarkan diri." Ucap Irfan terus menatap Avril. Hatinya masih terluka saat ini. Mengetahui Avril sudah bertunangan masih membuatnya merasa sesak, dan sekarang kenyataan bahwa tunangan Avril adalah bos besarnya, itu lebih menyesakkan.


"Lalu, nama dokter?" Tanya Irfan lagi. Suaranya melemah karena kenyataan itu.


"Noah Fadi Alvaro." Jawab Avril dengan cepat. Lalu Irfan kembali mencari nama yang disebut.


"Kak Irfan cepat..." desak Avril menekan Irfan.

__ADS_1


"I-iya sebentar..." tangan Irfan gemetar. Entah karena sakit hati atau karena kini Avril adalah nyonya besar perusahaan D.


"Kau tak sopan berkata seperti itu pada manager, anak magang." Ucap Devia menghampiri dan hendak menyentuh Alvi. Dengan cepat Avril menepis tangan Devia. Devia terbelalak mendapat perlakuan dari seorang anak magang yang seakan melarangnya menyentuh orang yang disukainya.


"Kau berani padaku? Aku atasanmu. Aku bisa kapan saja mengeluarkan dan mem-black list mu sekarang juga." Geram Devia mengulurkan tangannya meraih rambut Avril. Avril meringis saat rambutnya ditarik oleh Devia.


Semua yang melihat ribut sibuk melepaskan cengkraman tangan Devia pada rambut Avril yang tak ingin dilepaskan. Avril semakin kesakitan dan sebuah tangan mencengkram tangan Devia.


Tatapan tajam dan menusuk itu menembus kedua mata Devia.


"Lepaskan tanganmu atau aku bunuh kau sekarang." Ucap Ray dengan amarah yang sengaja ditahan olehnya.


Devia tersentak lalu melepaskan rambut Avril.


"Jangan berani menyentuh apa yang bukan milikmu, manager Devia. Apalagi didepan pemiliknya." Devia sedikit berfikir maksud dari perkataan Ray.


Ray berjongkok menghadap pada Avril.


"Nona tak apa?" Tanya Ray pelan. Avril mengangguk menanggapi lalu menatap Ray penuh harap.


"Saya akan segera menghubungi Noah." Ucap Ray selanjutnya. Semua pimpinan dengan kompak membawa Alvi ke ruang presdir. Karena Ray tahu tuannya akan marah jika dibawa ke rumah sakit.


Irfan dan Avril mematung menyaksikan pintu lift tertutup.


"Avril... jawab pertanyaanku." Avril menoleh heran pada Irfan seraya mengusap kedua kelopak matanya.


"Apa kau dan Tuan Alvi.." Avril terbelalak menyadari Irfan yang pasti sudah mengetahui kebenarannya.


"Kak.. aku mohon rahasiakan masalah ini selama aku magang. Biarkan orang tidak tahu siapa aku. Aku ingin mendapatkan hasil dari kerjaku sendiri. Bukan karena diperlakukan istimewa." Mohon Avril dengan wajah memelas.


"Mengapa kau tak bilang? Aku setiap saat memikirkanmu, dan kau sendiri sudah tahu aku mencintaimu sejak dulu." Ucap Irfan seakan kekesalannya meluap saat ini.


"Maaf kak. Tapi aku sudah harus bekerja." Ucap Avril berbalik hendak berlalu.


"Aku sedang bicara padamu Avril.." Irfan menarik lengan Avril hingga Avril menghentikan langkahnya.


"Maaf kak. Aku tak ingin membuat orang-orang yang melihat salah faham." Avril mencoba melepaskan genggaman Irfan.


"Dan kau acuh saja saat menangisi Tuan Alvi didepan semua orang yang tadi menyaksikanmu tanpa kau berpikir mereka mencurigai siapa dirimu, sementara kau memohon padaku untuk merahasiakan ini?" Irfan tersenyum sinis dan semakin kuat menggenggam tangan Avril.


"Benarkan? Kau tak berpikir kau akan ketahuan dengan sikapmu itu." Lanjut Irfan dengan nada kesal.


"Kau pikir aku harus memasang wajah bahagia saat menyaksikan calon suamiku terkapar tak berdaya dipangkuanku?" Pertanyaan itu membuat Irfan terdiam membisu. Semula Irfan hanya berfikir bahwa Ray lah tunangan Avril.


Iqbal yang lewat merasa heran melihat Avril yang meronta-ronta. Niat ingin membantu, namun urung ketika seorang pria tampan menghampiri keduanya lalu memisahkan Avril dari sang manager keuangan di perusahan itu.


"Lepaskan." Tegas Noah memberi penekanan pada nada bicaranya.


"Siapa kau?" Tanya Irfan


"Aku? Aku orang asing." Jawab Noah menyembunyikan Avril dibelakangnya.


Siapa lagi pria yang dekat dengan Avril? Pertanyaan itu berkecamuk dikepala Iqbal saat ini.


"Apa kau terluka?" Tanya Noah pada Avril yang ditanggapi dengan gelengan kepala.


"Baguslah. Jika kau dalam bahaya, berteriaklah. Jangan takut. Perusahaan ini ada dalam kendalimu sekarang. Harusnya bajingan ini tahu cara memperlakukan nyonya besarnya." Lirik Noah pada Irfan dengan tajam.


Iqbal semakin tak bisa mengerti lagi dengan Avril. Semua pria menyukainya, memang Avril cantik. Tapi sepertinya ada sesuatu yang lain yang lebih kuat menjadi daya tarik tersendiri bagi seorang Avril. Kebaikan dan rendah hatinya menyempurnakan kecantikan yang terpancar dari sisi manapun.


Avril menyadari ada Iqbal yang berdiri tak jauh dari mereka. Dengan cepat Avril menghampiri Iqbal dan bersamaan menuju ruangan mereka bekerja.


"Ada apa?" Tanya Iqbal melihat kekacauan wajah Avril yang terlihat jelas sudah menangis.


"Hanya salah faham." Jawab Avril menunduk.


"Maafkan aku. aku sempat berfikir yang tidak-tidak padamu." Lirih Iqbal.


"Tak apa." Avril melemparkan senyumnya menutupi kekhawatiran pada hatinya dengan kondisi Alvi saat ini. Dirinya tak bisa berada disisi Alvi sekarang.


. Sepanjang menjalani pekerjaan, Avril terus melirik ponsel yang berada dimeja nya. Berharap antara ketiga pria menyebalkan itu menghubunginya, bagaimana keadaan Alvi? Beberapa kali Avril memijit dahinya.

__ADS_1


Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Avril membuat Avril sedikit melonjak karena terkejut.


"Pak direktur memintaku membawamu." Avril menyernyit mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh Deri.


"Ada apa pak? Apa saya melakukan kesalahan?" Deri menggeleng menanggapi pertanyaan Avril.


"Kita akan tahu saat sudah disana." Avril mengangguk kemudian mengikuti Deri menuju ruang direktur.


. Saat keduanya masuk, Devia menoleh dengan lirikan sinis.


"Saya sudah membawa Avril pak." Ucap Deri menundukan kepala.


"Ray... benar dia yang kau maksud?" Tanya Pak Yusuf tanpa menoleh pada Ray, dan terus menatap Avril dengan gelisah. Pak Yusuf berdiri lalu menunduk membuat Deri dan Devia terbelalak heran.


"Mohon maafkan kekhilafan bawahan saya nyonya. Dan saya harap nyonya tidak memberitahu tuan tentang ini. Saya sudah memberitahu Ray untuk merahasiakannya. Dan saya langsung yang akan mengurus manager Devia sendiri. Mohon nyonya tak boleh ambil hati. Sebagai gantinya, saya yang akan menerima konsekuensinya. Katakan apa yang harus saya lakukan agar nyonya memaafkan manager Devia."


'Nyonya?' Kata itu semakin membingungkan Deri dan Devia. Mengapa direktur, jabatan tertinggi dari mereka menyebutnya nyonya?


Avril menangis sambil tertawa.


"Pak Yusuf mengapa membocorkan ini? Apa jadinya dengan magangku? Aku ingin bekerja sebagai mahasiswa magang. Jika orang lain tahu, penilaian terhadap pekerjaanku akan sia-sia nanti. Aku ingin mendapatkannya murni karena kerjaku."


"Maafkan kami nona. Jika kami terus merahasiakannya, saya tidak menjamin dengan keselamatan nona. Biarkan 2 orang ini tahu. Setidaknya hanya ketiga manager saja yang tahu itu sudah cukup untuk menjaga keselamatan nona." Timpal Ray membuat Devia gemetar.


"Bagaimana keadaan Alvi Ray? Dari pagi kau tak menghubungiku. Kau tak tahu aku khawatir?"


"Maafkan saya nona.. melihat nona dalam bahaya, saya mengesampingkan kabar mengenai keadaan tuan pada nona. Maaf." Ray menunduk dengan hati menyesal dengan keteledorannya.


"Bolehkah aku menemuinya pak? Sebentar saja. Pak Deri sudah terlanjur mengetahui siapa aku, jadi hanya sebentar aku ingin memastikan keadaan Alvi." Pinta Avril menatap harap pada Pak Yusuf dan Deri bergantian.


"No-nona jangan seperti itu... silahkan jika nona ingin menemui tuan." Ucap Deri terbata.


"Tidak pak. Pak Deri atasanku. Aku tak ingin menjadi besar kepala hanya karena statusku. Jadi tolong izinkan aku. Hanya 15 menit. Setelah itu aku akan kembali bekerja." Deri tertegun dengan kerendahan hati Avril. Deri mengangguk dengan tersenyum. Avril dengan girang berlari menuju ruang presdir.


"Hati-hati.. kaki nona bisa sakit lagi." Lirih Ray


. Avril membuka pintu ruangan Alvi, dan mendapati Noah sedang memberikan obat pada Alvi yang bersandar lemah disofa.


"Istrimu datang tuan..." ejek Noah.


"Kau dari mana saja sayang? Apa kau baik-baik saja? Apa ada yang sakit? Aku sedikit mengingat sebelum aku pingsan, aku seperti terjatuh menimpamu. Dan pasti aku sangat berat lalu membuatmu terjatuh kan. Pasti sakit... katakan apa yang sakit?" Tanya Alvi dengan menatap Avril yang berjalan semakin dekat kearahnya.


Avril memukul lengan Alvi lalu memeluknya dengan erat sambil terus terisak.


"Siapa yang mengkhawatirkan siapa suami bodoh. Harusnya aku yang bertanya semua itu."


"Ahaha aku yang sakit, mengapa kau yang menangis?" Alvi mengelus rambut Avril dipangkuannya sesekali mengecup kening Avril dengan hangat.


"Hei kalian.. tak bisakah menyadari keberadaanku sekarang?" Delik Noah.


"Diam kau dokter bodoh." Ucap Alvi melotot pada Noah.


"Jika aku bodoh, mana mungkin aku menjadi dokter?" Noah menunjuk kepalanya seolah mengejek Alvi.


"Pergi sana."


"Kau mengusirku? Ah tapi baiklah.. aku ada sedikit urusan dengan salah satu bawahanmu. Tadi tak sempat membereskannya karena Aku khawatir padamu. Takut-takut jika aku terlambat, kau malah sudah mati disini." Ejek Noah kemudian berlalu dibalik pintu.


"Aku hanya sebentar Alvi..." lirih Avril.


"Kau tak ingin menemaniku?"


"Bukan begitu. Aku harus kembali bekerja."


"Merawatku disini juga termasuk bekerja sayang. Itu kewajiban seorang istri bukan?"


Tapi... "


"Sut... sudah... Ray akan mengurusnya."


. Di ruang direktur Ray menatap tajam pada Devia.

__ADS_1


"Meskipun nona bukan calon istri tuan Alvi, harusnya kau tak boleh melakukan kekerasan seperti itu. Aku tahu kau menyukai tuan. Tapi apa kau pernah berfikir, wanita kasar sepertimu apakah pantas disandingkan dengan tuan? Kau sudah melihatnya sendiri bagaimana baiknya nona Avril padamu. Nona tidak memberi titah apapun untuk menghukum mu" ucap Ray mengepalkan tangannya.


-bersambung


__ADS_2