
. Avril berdiri disamping Aldi yang masih terdiam ditempatnya.
"Avil... kau yakin akan menerima Alvi? Kau tidak memberiku kesempatan kedua?" Aldi menoleh menatap sayu Avril yang semula menatapnya, kini memalingkan wajahnya.
"Bukankah kau sendiri yang mencegah Syifa membatalkan pertunanganmu." Gumam Avril mengepalkan tangan.
"Untuk apa? Percuma saja aku memberimu kesempatan, tapi ayahmu tidak." Ucap Avril kembali menoleh pada Aldi. "Sudahlah... jalan kita sudah berbeda. Aku mengenal Syifa, dia gadis baik. Aku tak ingin membuatnya bersedih. Dan aku harap kau tidak membuatnya terus merasa bersalah karena aku." Lanjut Avril meraih lengan Aldi dan melemparkan sebuah senyum ikhlas.
Aldi kembali memeluk Avril, dan seakan melepaskan kerinduan sekaligus menjadi terakhir kalinya.
"Aku tidak tahu kapan lagi aku akan memelukmu seperti ini jika kau benar-benar sudah menjadi milik Alvi." Ucap Aldi mengelus rambut Avril yang berada dipelukannya.
Namun Avril hanya terdiam, membalas pelukan Aldi dengan menepuk punggung Aldi pelan.
"Aku akan merindukanmu juga Al." Ucap Avril dengan suara lirih.
Aldi melepaskan pelukannya dan meraih pundak Avril.
"Kita seperti akan terpisah kota saja." Ucap Aldi tersenyum heran.
"Ini lebih dari terpisah kota Al." Jawab Avril tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Keduanya tertawa dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, rasa kecewa ikut terluapkan dalam tawa itu.
"Ehh mang Asep!" Panggil Aldi yang jelas tak ada siapa-siapa. Avril menoleh kearah tatapan Aldi, dan tidak menemukan Mang Asep, salah satu pelayan dirumahnya yang bertugas mengurus taman dan sekeliling rumah.
Avril menggembungkan pipinya, lalu kembali menoleh pada Aldi.
"Tid--"
'Cup.' kecupan hangat mendarat dipipi Avril. Avril terkejut dan langsung menjauh dari Aldi lalu menutupi pipinya.
"Apa yang kau lakukan?" Avril mendelik dan terus menjauh dari Aldi. Aldi terkekeh melihat tingkah Avril yang memggemaskan itu.
"Jika aku memintanya, kau tidak akan mau jika aku cium kan?" Avril sedikit menggembungkan pipinya sebelah dan menghampiri Aldi, lalu memukul lengan Aldi.
"Aku ternodai..." rengek Avril yang seperti anak kecil, membuat Aldi terheran lalu tertawa lepas.
"Kau dapat kata itu dari mana? Apa saat aku tinggalkan, kau menjadi seperti ini?" Ejek Aldi disela tawanya.
"Tidak lucu Aldi...." Avril kembali memukul lengan Aldi berkali-kali.
"Ahaha hentikan. Nanti aku dicurigai jika kau terus memukulku seperti itu." Aldi menggenggam kedua tangan Avril agar tidak terus memukulnya.
"Aku mau pulang Avil.... ayolah lepaskan tanganmu." Ucap Aldi yang masih menggenggam tangan Avril.
"Siapa yang menggenggam siapa tuan..." delik Avril.
"Apa kalian akan terus berpacaran didepanku?" Ucap seseorang yang sedang bersandar di mobilnya.
"Kak Galih?" Aldi dan Avril menoleh bersamaan.
"Sejak kapan kakak disana?" Tanya Avril menatap lekat Galih.
"Apa-apaan dengan tatapanmu itu. Aku benar-benar kakakmu, bukan halusinasimu." Ucap Galih kini berjalan melewati Avril dan Aldi, dan berlalu masuk kerumah.
Avril menyadari bahwa tangannya masih digenggam oleh Aldi.
"Apa kau masih akan terus memegangi tanganku tuan?" Tanya Avril dengan wajah datar.
"Jika aku lepaskan, kau akan terus memukulku gadis bodoh." Avril menganga mendengar kata 'bodoh' keluar dari mulut Aldi.
"Lepaskan aku Aldi... atau aku akan benar-benar berteriak bahwa kau mau--"
"Mau apa? Teriak saja! Ayo teriak!" Aldi menyela dengan wajah dan nada yang menantang.
"Kau serius menantangku?" Ucap Avril menyeringai licik.
"Tolong... ada penculik.... tolong ayah... kak Gal--hmmm hmmmm" Aldi dengan cepat menutup mulut Avril yang benar-benar berteriak.
"Avil.... sudah!" Wajah panik Aldi tak bisa disembunyikannya.
Avril tertawa melihat raut wajah Aldi yang panik menoleh kesana kemari karena teriakan Avril.
"Bukankah kau yang menantangku? Mengapa kau panik?" Tanya Avril disela tawanya.
"Jangan banyak tertawa Avil... nanti kau akan menangis." Ucap Aldi mengingatkan.
"Ahahaha... sepertinya begitu. Tapi aku tak tahu akan menangis karena apa, tapi sepertinya aku akan menangis dihari pernikahanmu." Ucap Avril masih disela dengan tawanya.
"Hah? Apa?" Aldi menyernyitkan dahinya seolah mengingat dan mencerna apa yang Avril katakan.
"Avil... katakan lagi apa? Kau tidak jelas." Ucap Aldi dengan ekspresi kesal.
"Tidak..." ucap Avril berpaling kearah mobil Galih, dan mendapati Alvi yang bersandar dimobilnya seperti yang Galih lakukan. Wajah panik, dan rasa bersalahnya tak bisa disembunyikan.
"Alvi..." lirih Avril kemudian berlari menghampiri Alvi. Alvi hanya tersenyum kemudian beranjak dan melangkah kembali meraih pintu mobil. Sebelum membukanya, Avril menarik lengan Alvi yang terasa lemas. Avril tak bisa mengabaikan wajah Alvi yang jelas masih penuh lebam.
__ADS_1
"Aku akan mengobatimu." Tawar Avril dan Alvi kembali tersenyum melepaskan tangan Avril perlahan.
"Tidak Avril... terimakasih. Tapi aku sudah lebih baik. Maaf mengganggumu." Ucap Alvi yang terdengar sopan namun sangat menyesakkan bagi Avril.
Alvi melirik Aldi yang masih berdiri ditempatnya.
"Bagaimana aku menjelaskannya, Kau pasti salah faham Alvi. Aku menemuimu untuk menerima perjodohan dengan kak Amel, lalu sekarang malah bertemu denganku disini dengan situasi seperti ini." Gumam Aldi memalingkan pandangannya.
"Ternyata benar dugaanku, dia hanya mencari alasan untuk mendapatkan Avril kembali." Gumam Alvi menoleh dan menatap pada Avril yang menatapnya penuh rasa bersalah.
"Jangan memaksakan hatimu" Alvi menepuk pipi Avril pelan lalu kembali meraih pintu mobil.
"Ahh Avril... katakan pada kakakmu, persiapannya sudah siap." Alvi menoleh kembali pada Avril yang mematung.
"Persiapan?" Avril menyernyitkan dahinya, mencoba mencerna perkataan Alvi.
"Iya persiapan pernikahan kakakmu. Lusa kan? Tadinya aku ingin menjadi pendampingmu diacaranya, tapi sepertinya sudah jelas aku datang terlambat." Senyum Alvi kembali tersimpul, menyesakkan nafas Avril yang menyaksikan Alvi memasuki mobil dan menjauh dari pekarangan rumahnya.
"Kapan dia sampai? Apa aku terlalu sibuk bercanda dengan Aldi, sampai kak Galih dan Alvi datangpun, aku tak menyadarinya." Gumam Avril menutupi wajahnya yang tak bisa menahan sesak karena kesalahannya.
"Maaf." Lirihnya ambruk terduduk ditempat.
Aldi terkejut kemudian menghampiri Avril dan membantunya kembali berdiri.
"Avil.... maafkan aku. Alvi pasti salah faham." Ucap Aldi.
Avril menggeleng kemudian melemparkan senyumnya.
"Dia akan mengerti. Aku yang akan bicara padanya."
Bisa-bisanya Avril dengan mudah tersenyum. Padahal hatinya benar-benar sesak saat ini. Rasanya ingin menyusul Alvi yang mungkin akan keperusahaan atau pulang kerumahnya setelah ini.
"Aku akan menemuinya nanti." Gumam Avril menatap kearah gerbang yang selalu terbuka ketika ayah ada dirumah.
"Avil.... harusnya aku pulang sejak tadi."
"Tidak Aldi, sudahlah. Ini hanya salah faham biasa." Ucap Avril menyela.
"Tidak Avil.... meskipun terlihat baik-baik saja, laki-laki pun sama, bisa merasakan sakitnya menahan cemburu. Bahkan bisa lebih mengerikan saat melampiaskannya." Avril sedikit tersentak mendengar perkataan Aldi.
Mengingat Alvi yang selalu melampiaskan kekesalan atau kesedihannya dengan pergi ke club dan menghabiskan malamnya disana.
"Aldi... kau ingin pulang? Baiklah hati-hati, dan maaf aku kedalam dulu untuk menemui ayah." Ucap Avril dengan tergesa-gesa setengah berlari memasuki rumah.
"Eh?" Aldi melongo heran menatap kepergian Avril yang berlalu begitu saja dibalik pintu.
Aldi kemudian memasuki mobilnya, dan meninggalkan kediaman Avril.
"Sudah berpacarannya?" Tanya Galih tanpa menoleh pada Avril.
"Antar aku." Ucap Avril singkat.
"Kemana?" Kini Galih menoleh pada Avril dan mendapati adiknya yang terengah dengan wajah panik.
"Alvi..... tadi..."
"Dia melihatmu dengan Aldi?" Avril mengangguk pelan menjawab pertanyaan Galih.
"Mengapa kau khawatir? Dia tidak akan apa-apa. Paling jika memang cemburu pun, dia akan melompat dari gedungnya." Ucap Galih santai.
"Kakak...." Avril menggembungkan pipinya kesal. "Yasudah. Jika kakak tidak mau menemaniku, aku bisa sendiri." Avril berbalik,dan terdiam diambang pintu yang masih digenggamnya.
"Kenapa? Kau lupa mobilmu tidak ada?" Ejek Galih tanpa berniat beranjak dari duduknya.
"Dibawa Baren." Ucap Avril dengan wajah polos yang menoleh kembali menatap Galih.
"Hmmmh apa boleh buat." Galih beranjak dari duduknya menghampiri Avril yang menatapnya dengan tatapan memelas. Avril tersenyum puas ketika meraih lengan kakaknya itu.
"Dia bilang persiapan untuk pernikahan kakak sudah diap." Lirih Avril yang hampir tak terdengar oleh Galih.
"Hemmm" Galih mengangguk pelan tanda mengiyakan adiknya.
"Kenapa dia tidak jujur saja alasannya kembali lagi kerumah." Gumam Galih menghela nafas kasar.
"Kakak tidak ingin mengantarku? Jangan memaksakan. Aku bisa sendiri." Ucap Avril memalingkan wajahnya.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi sendiri lagi, dengan kondisimu yang masih sok kuat?." Delik Galih membiarkan Avril menggandeng lengannya, dan merasakan bahwa Avril gemetaran.
Galih membawa Avril ke perusahaan D.
Sampai disana, kembali semua mata tertuju pada Galih dan seolah bertanya-tanya tentang keberadaannya disana.
Irfan dengan kebetulan menyapa Avril.
"Avril.... kau kesini lagi?" Avril hanya mengangguk dan tersenyum. Namun Galih hanya melirik tajam pada Irfan yang tampak akrab dengan adiknya. Tatapan intimidasi dirasakan Irfan, sehingga membuatnya canggung pada Avril.
"Ayo Avril." Galih berjalan terlebih dahulu, disusul Avril sedikit lebih jauh darinya.
__ADS_1
"Maaf kak Irfan aku duluan" ucap Avril berlalu meninggalkan Irfan yang mematung menatapnya.
"Bagaimana aku mengatakannya? Melihat Galih saja nyaliku sudah ciut." Gumam Irfan berpaling lalu pergi.
"Kenapa mendadak Kak Galih berjalan begitu cepat? Aku sulit mengejarnya." Gumam Avril menggembungkan sebelah pipinya.
"Kakak..." panggil Avril membuat Galih terhenti lalu menoleh pada Avril dibelakangnya yang tertinggal jauh.
Galih sempat ingin menghampiri Avril kembali, namun urung ketika sang asisten pribadi Alvi menghampiri Avril. Galih menghela nafas lega melihat Ray dengan sigap membantu Avril.
"Benar-benar jeli kau Alvi. Kau benar-benar tahu siapa yang bisa diandalkan." Gumam Galih tersenyum menunggu Avril dan Ray mendekat kearahnya.
"Untung kau datang Ray." Ucap Galih tersenyum puas.
"Tuan sangat usil, menjahili nona Avril sampai seperti itu." Ucap Ray sopan namun seakan memberikan peringatan.
"Kau menakutkan saat serius Ray." Ucap Galih melirik Ray yang kini memasang wajah datar.
"Mari nona. Saya akan membantu nona." Ucap Ray seolah tak menganggap Galih ada disana.
"Kutarik kata-kataku Alvi." Galih memijit pelipisnya ketika Ray menuntun Avril memasuki lift.
"Hei... kalian meninggalkanku." Galih berlari ketika pintu lift hampir tertutup.
"Sial kau Ray. Mengapa sikapmu berbeda padaku dan Avril.?" Delik Galih namun tak dijawab oleh Ray.
Pintu lift kembali terbuka ketika sudah sampai. Ray kembali menuntun Avril berjalan menuju ruangan Alvi.
"Aku bisa sendiri Ray." Ucap Avril meyakinkan.
"Baiklah nona" jawab Ray kemudian berjalan dibelakang Avril dan Galih.
Galih membuka pintu ruangan Alvi. Alvi mendongak sesaat ketika dirinya tengah sibuk dengan ponselnya.
"Kau sedang sibuk?" Tanya Galih yang masih memegangi gagang pintu dan tak membiarkan orang dibelakangnya untuk lewat.
"Ah.." jawab Alvi jelas terlihat malas.
"Mengapa kau tak bersemangat? Aku memberi kabar gembira untukmu." Ucap Galih dengan wajah datarnya.
"Paling kabar bisnis kemarin telah disetujui oleh pemerintah kan?" Tanya Alvi kembali fokus pada ponselnya.
"Dia benar-benar tidak memikirkan Avril. Tidak, bukan seperti itu. Tapi dia sedang mencoba untuk tidak terus memikirkan Avril." Gumam Galih kini menatap nanar pada Alvi.
"Avril bilang padaku dia merindukanmu." Ucap Galih kemudian, namun tak dihiraukan oleh Alvi.
"Cihh dimana Ray? Mengapa lama sekali." Alvi berdecih lalu beranjak dari duduknya.
"Apa dia benar-benar kakak nona?" Tanya Ray berbisik pada Avril.
"Tentu saja. Memang kenapa?" Avril sama berbisik dengan menoleh heran pada Ray.
"Tidak... hanya saja saya merasa heran. Mengapa sikap nona dan tuan Galih sangat berbeda." Avril menyernyit semakin heran.
Mendengar bisik-bisik dibelakangnya, Galih menoleh dengan tatapan mengintimidasi.
"Kau bersama seseorang?" Alvi menoleh pada Galih yang mengangkat kedua bahunya.
"Hanya sekertarismu." Jawab Galih membuat Alvi berbalik menatap pada jendela.
Terlihat jelas bahwa Alvi kini tengah mengharapkan kehadiran Avril, meskipun perasaan itu disembunyikan olehnya, tapi Galih dengan mudah bisa mengetahuinya.
"Masuklah. Bicaralah baik-baik. Aku akan menunggumu di loby." Ucap Galih pada Avril. Avril dengan ragu memasuki ruangan.
Galih menutup pintu kembali, membiarkan Avril dan Alvi berada didalam.
"Apa Kak Galih tidak cemas meninggalkanku dengan Alvi begitu saja?" Gumam Avril masih ragu untuk memanggil Alvi yang tak menyadari keberadaannya.
"Sial..." cetus Alvi membuat Avril terkejut.
Saat Avril kendak memanggil Alvi, Alvi menoleh dan terkejut mendapati Avril. Alvi menggosok matanya lalu menatap kembali Avril dengan tatapan tidak percaya.
Avril berjalan dengan wajah kesal lalu memukul lengan Alvi sembari menggembungkan pipinya sebelah.
"mengapa kau memukulku?" Alvi mengusap lengannya kasar.
"Aku bukan hantu..."
"Bukan begitu... apa ini benar-benar kau? Aku pikir aku sedang berhalusinasi karena terus memikirkanmu." Seketika raut wajah Avril menjadi tersipu.
"Alvi..."
"Sudahlah. Aku sudah melupakannya. Kau tak perlu seperti itu padaku. Wajar saja jika kau dan Aldi masih saling mencintai. Perpisahan kalian bukan karena disengaja, melainkan keterpaksaan bukan?" Tanya Alvi mengusap kepala Avril lembut dan melemparkan senyum manisnya.
"Pantas saja banyak gadis yang terpesona padanya, saat senyum Alvi sangat--" Avril memalingkan wajahnya kasar. Gumamannya sudah melewati akal sehatnya. Bagaimana mungkin Avril benar-benar jatuh cinta pada Alvi secepat ini.
"Kau baik-baik saja? Mengapa wajahmu merah?" Tanya Alvi meraih pipi Avril dengan panik.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja Alvi." Avril menutup wajahnya yang masih tersipu.
-bersambung.