Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
09.


__ADS_3

"Apa aku mengenalnya?" Ray tersenyum menanggapi pertanyaaan Avril.


"Seperti apa dia?" Avril menatap Ray penasaran.


"Mengapa nona sangat ingin tahu tentang siapa yang disukai tuan.?" Avril terlihat gugup lalu memalingkan wajahnya mendapati pertanyaan dari Ray.


"Ya.. s-siapa tahu ak-aku mengenalnya." Jawab Avril terbata.


Ray tersenyum kemudian menjelaskan.


"Bukan hanya cantik, tapi juga sangat baik. Bahkan semua yang melihat akan terpesona olehnya. Dia sangat dikagumi semua orang. Dan dia juga satu-satunya gadis yang sangat tuan cintai." Jelas Ray menatap kagum pada Avril. Entah apa yang dirasakan Avril, Avril menunduk. hatinya begitu sesak, jantungnya berdebar tak karuan.


"Ternyata benar, hanya dugaanku saja. Ahhh tidak... aku tidak berharap padanya." Gumam Avril menggelengkan kepalanya.


"Apa nona baik-baik saja?" Ray menatap khawatir pada Avril. Avril mendongak dan melemparkan senyumnya.


"Aku baik-baik saja Ray."


Dering ponsel Avril berdering. Mendapati nama yang tertera, seketika wajah Ray menjadi datar.


"Nona masih berhubungan dengan tuan Aldian?"


Avril menggeser layar ponselnya, dan menempelkan di telinganya. Avril melemparkan senyuman menanggapi pertanyaan Ray.


"Hallo." Ucap Avril


"Apa kau sedang sibuk?" Tanya Aldi dari sebrang.


"Tidak juga. Ada apa?"


"Apa kita bisa bertemu? Tunanganku merengek ingin bertemu denganmu." Avril terdiam mendengar apa yang Aldi ucapkan. Hatinya sempat ingin menolak, namun Avril juga merasa penasaran pada gadis yang dipilihnya. Walaupun terpaksa.


"Avil.. apa kau mendengarku?" Avril tersentak. Wajahnya mendadak mendung. Siapkah Avril bertatap muka dengan seseorang yang menurutnya telah merebut Aldi, meski dengan kata lain, tidak disengaja.


"Jika kau keberatan tak apa Avil. Aku tak memaksa."


"Baiklah. Aku akan menemuimu." Avril menutup panggilan telpon, dan memasukan ponselnya ke dalam tas. Beranjak melangkah menuju pintu.


"Nona. Bukankah tuan menyuruh nona menunggu disini?" Terdengar langkah Ray menyusul Avril.


"Aku ada urusan Ray. Katakan saja aku pergi dengan Bagas dan Reno." Ucap Avril berbalik mendapati Ray tepat dibelakangnya.


"Tidak nona. Nona jangan kemana-mana. Jika tuan tahu, tuan akan marah." Ray menarik tangan Avril, namun Avril menepisnya. Menatap Ray tajam.


"Tuan siapa maksudmu Ray? Kakak tak akan marah jika aku bersama Bagas dan Reno." Avril berbalik lalu menoleh kembali. "Jika yang kau maksud itu Alvi, apa sebabnya dia marah? Dia saja bebas bertemu dengan kak Amel." Avril membanting pintu ruangan Alvi. Ray kemudian mengikuti, hendak melapor pada Alvi, namun Ray urungkan.


"Jika aku melapor sekarang, tuan pasti akan langsung mengakhiri rapatnya." Ray berdecih menatap Avril yang mulai meghilang di ujung lorong.


Didalam taksi, Avril menelpon Bagas untuk membawa kembali mobilnya ke taman.


Sampai di taman, Avril dengan ragu berjalan pelan menuju tempat dimana biasa bertemu dengan Aldi.


"Apa karena mendadak, perasaanku tak karuan. Apa hatiku akan baik-baik saja? Bahkan aku tak mempersiapkan apapun."


Langkah Avril semakin berat. Meskipun dari jauh, Avril bisa melihat Aldi dari belakang.


"Jantungku terus berdegup. Meskipun perasaanku pada Alvi sudah tak lagi seperti dulu, tetap saja jika melihat pemandangan seperti ini, hatiku bisa hancur juga."


"Al." Lirih Avril terdengar gemetar. Aldi tersenyum saat berbalik dan menatap Avril. Tapi tidak dengan wanita disisinya. Keduanya berhadapan, mematung, dan sama-sama meneteskan air mata.


"Ti-tidak mungkin" gumam keduanya.


Bagai tersambar petir, lutut Avril terasa begitu lemas. Rasanya ingin pingsan, namun Avril terus menguatkan seluruh tubuhnya.


Aldi menarik Avril tepat kehadapan tunangannya. Sekaligus teman baik Avril, Syifa.


Syifa dengan cepat memeluk Avril begitu erat.


"Kenapa kau tak bilang? Kenapa kau diam saja selama ini. Andai jika kau memberitahuku dari awal bahwa Aldi lah kekasih yang kau tunggu." Isak tangis Syifa semakin menjadi. Avril termangu tak membalas pelukan Syifa.


"Tidak mungkin. Ini salah kan? Kau bukan orangnya. Tunangan Aldi bernama Annisa bukan Syif--" seketika Avril tersentak ketika mengingat nama Syifa yang tak lain adalah Annisa Syifa Almaira.


"Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf." Syifa semakin erat memeluk Avril. Namun Avril tetap tak bergeming.


"Al.. ayo kita bicara pada orang tua kita untuk membatalkan pertunangan ini." Avril tersentak mendengar apa yang Syifa ucapkan. Dengan cepat Avril melepaskan Syifa.


"Jangan becanda bodoh. Jangan karena aku, kalian membatalkan pertunangannya. Meskipun memang awalnya Aldi menjalin hubungan denganku, tapi sekarang dia milikmu. Dan.... meskipun aku mencintainya, aku tak menginginkan perpisahan kalian." Tegas Avril. Syifa tercengang, karena baru kali ini Avril membentaknya. Entah itu memang menasehatinya, atau Avril sangat marah padanya.


Syifa kembali menangis.


Aldi berjalan ke samping kedua wanita dihadapannya. Melihat Avril yang terus terlihat tegar, namun sebenarnya hatinya sangat hancur. Lebih hancur dibandingkan saat hanya mengetahui bahwa Aldi bertunangan dengan wanita lain.


"Al... Syifa adalah sahabatku. Jangan sesekali kau membuatnya menangis, apalagi menyakitinya. Dia sangat berharga untukku." Ucap Avril datar. Pikirannya benar-benar kacau. Rasanya ingin ke jembatan layang, lalu menjatuhkan diri di air yang sangat deras.


"Avil... jadi kau dan Syifa...."


"Sudah kubilang dia temanku Aldi." Avril menatap Aldi dengan kesal.


Dari belakang, seseorang menepuk bahu Avril. Avril menoleh, menatap siapa yang datang.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja?" Tanyanya menatap iba pada Avril.


Avril berbalik dan berhadapan dengannya.


"Kau sudah tahu semuanya? Tapi kau tidak memberitahuku apapun." Air mata Avril mulai bercucuran.


"Avril aku kira kau sudah tahu. Karena kau dan Syifa sangat dekat." Jelas Bagas menatap Avril.


Avril merebut kunci mobilnya dan berjalan menjauhi mereka. "Aku pergi dulu." Ucapnya semakin cepat berjalan.


"Tidak. Jangan lagi." Ucap Aldi menatap Avril. Aldi mengejar Avril, dan berhasil menarik tangannya.


"Lepaskan aku Al." Tegas Avril.


"Tidak. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Membiarkanmu pergi dalam keadaan pikiranmu sedang kacau, lalu membiarkanmu membanting setirmu dan melihatmu terbaring dirumahsakit dengan luka di sekujur tubuhmu?" Ucap Aldi semakin erat menggenggam tangan Avril.


"Aku tidak selemah itu. Lepaskan aku." Teriak Avril menarik paksa tangannya. Aldi melepaskan genggamannya, dengan cepat memeluk lembut Avril yang hendak melangkah.


"Jangan pergi. Aku mohon...." lirih Aldi.


"Lepaskan aku Al...." Avril sedikit mendorong Aldi, namun Aldi mempererat pelukannya.


"Tidak. Aku tidak akan melepaskanmu lagi. Dan kau mendengar sendiri bahwa Syifa juga yang meminta untuk membatalkan pertunangan ini." Ucap Aldi.


"Jangan becanda Al..." lirih Avril membenamkan wajahnya pada Aldi namun tidak membalas pelukannya.


"Sungguh maafkan aku Avil..." kini isak tangis Avril terdengar semakin cepat.


Dari jauh, tepat di sebelah mobil berwarna hitam, seseorang menatap kearah Avril dan Aldi dengan kesal. Berbalik, dan membuka pintu mobil, lalu melajukan mobil meninggalkan tempat itu.


"Kupikir kau akan menghampiri mereka, lalu memukul si lelaki yang berani memeluk adikku." Ucap Galih dengan santai melirik kearah Alvi yang kesal mencengkram setir.


"Aku bukan tipe orang yang mengganggu kesenangan orang lain." Ucap Alvi masih terdengar kesal.


Avril mendorong Aldi dengan kuat.


Saat memasuki mobil, Avril benar-benar terkejut mendapati Reno.


"Kau menangis?" Reno menatap lekat pada Avril. Avril mengusap pipinya. Lalu melemparkan senyuman pada Reno.


"Tidak."


"Jangan berbohong Avril." Reno terlihat kesal melihat Avril yang berpura-pura tegar didepannya.


"Biar aku yang menyetir. Aku belum mau mati di umur yang masih muda." Reno keluar dan berlari, lalu membuka pintu mobil dimana Avril masih duduk di tempat.


"Geser.!" Ucap Reno menatap kesal.


Disepanjang perjalanan, tidak ada yang berbicara.


Sampai di rumah, Avril heran mengapa mobil Alvi ada disini.


"Sudah pulang?" Tanya seseorang yang terdengar sangat menjengkelkan.


"Sedang apa kau?" Avril melirik pada Alvi yang berdiri dibalik tiang.


"Kau menangis? Padahal kupikir kau sangat bahagia." Sindir Alvi melipatkan tangannya.


"Apa maksudmu?" Avril mematung menatap Alvi.


"Bukankah kau baru saja bertemu dengan Aldian? Dan kau berpelukan didepan umum. Adegan yang sangat romantis." Alvi mendekati Avril yang semakin tajam menatapnya.


"Kau mengikutiku?"


"Ahhh... kebetulan kakakmu sangat cemas, jadi aku ikut menyusulmu dan membatalkan pertemuan penting kami." Avril memalingkan wajahnya.


"Siapa yang cemas Alvi?" Tanya Galih yang tiba-tiba berdiri didepan pintu. Alvi terkejut dan melirik tajam ke arah Galih. "Bukankah kau yang memaksaku ikut menyusul Avril." Lanjut Galih membuat Wajah Alvi menjadi mendung.


"A-anuu..." Reno mengangkat tangan kanannya ketika tepat berada dibelakang Avril.


"Saya permisi pulang." Reno menyerahkan kunci mobil Avril.


"Bawa saja mobilku. Dan jemput Bagas. Lalu besok kalian jemput aku berangkat." Reno terdiam lalu mengangguk.


Sebelum Reno memasuki mobil, Alvi memanggil Reno dan memalingkan wajahnya.


"Terima kasih sudah membawa Avril dengan selamat."


"Tak apa. Avril temanku, dia sangat berharga. Mana mungkin aku mencelakainya." Ucap Reno tersenyum lalu pergi meninggalkan rumah Avril.


"Kau mempercayai anak itu?" Alvi menatap Galih.


"Kenapa tidak?. Justru Kau lah yang harus di waspadai disini." Jelas Galih melirik tajam Alvi.


"Eehhhh.... kenapa aku?" Alvi menunjuk dirinya sendiri.


"Aku ingin sendiri kak." Ucap Avril melewati Galih dan berlari menuju kamarnya. 'Nyuttttt' Avril meringis dan terduduk di tengah anak tangga.


Galih berlari ketika melihat Avril yang terlihat kesakitan.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja?" Galih meraih pundak Avril.


"Kakiku sakit." Avril mengusap kakinya yang saat itu patah.


"Jika selalu sakit, harusnya kau jangan berlari." Galih menggendong Avril ke kamarnya.


"Avril....." teriak Alvi menyusul dari belakang.


"Diam kau. Dan biarkan Avril sendiri." Galih keluar dari kamar Avril. Namun Alvi berjalan mendekati Avril yang terduduk di kasurnya.


Alvi ikut duduk disamping Avril.


"Apa dia melukaimu?" Tanya Alvi, namun Avril terus diam.


"Baiklah jika kau tak ingin bicara. Aku mengerti." Alvi beranjak dari duduknya. Saat Alvi hendak melangkah meninggalkan Avril, ujung lengan kemejanya ditarik perlahan oleh Avril. Alvi kembali menoleh pada Avril yang masih menunduk.


"Apa kau akan meninggalkanku juga?" Lirih Avril.


"Hemmmm?" Alvi menyernyitkan dahinya.


"Apa kau akan meninggalkanku seperti yang dilakukan Aldi?" Avril mendongak dan sedikit berteriak.


Alvi menatap lekat pada Avril yang mulai kembali menangis.


Seketika Alvi merasa kesal ketika melihat air mata Avril yang mengalir dipipinya.


"Tunangannya adalah temanku." Lirih Avril membuat Alvi tersentak.


"Meski begitu, kau masih mencintainya kan?" Tanya Alvi datar.


"Aku ingin melupakannya Alvi...." Avril semakin kuat mencengkram ujung kemeja Alvi.


"Cih... apa kau ingin aku jadi bahan pelampiasanmu?" Aura dingin Alvi mulai terasa oleh Avril. Sehingga Avril melepas cengkramannya.


"Aku memang mencintaimu. Tapi bukan berarti kau bisa mainkan perasaanku begitu saja." Alvi membentak Avril yang terkejut mendengar apa yang Alvi katakan.


"Jangan becanda Alvi. Jangan berbohong bahwa kau mencintaiku." Air matanya semakin deras menatap Alvi.


"Ya... mungkin kau tidak akan percaya, karena yang ada dihatimu hanyalah Aldian saja." Alvi berlalu meninggalkan Avril yang masih termangu.


Avril terus terisak tak mempedulikan ponselnya yang terus berdering. Entah berapa panggilan yang tak ia jawab.


"Apa dia akan baik-baik saja?" Alvi kembali menoleh ke kamar Avril.


"Biarkan saja." Jawab Galih.


"Kau begitu santai. Aku benar-benar mengkhawatirkannya." Alvi menyandarkan tubuhnya di sofa.


. Tak seperti biasanya, Avril lebih banyak diam saat di kampus.


"Apa kau marah padaku? Avril.... jika kalian masih saling mencintai, aku akan melakukannya." Ucap Syifa menggenggam tanyan Avril.


"Tidak. Jangan Syifa. Aku tidak apa-apa." Avril melemparkan senyumannya. "Apa aku terlihat menyedihkan? Sampai kau menatapku seperti itu?" Sudah jelas Avril tersenyum dengan air mata yang terbendung di kelopak matanya.


"Bukan begitu... aku hanya....." Syifa terdiam memalingkan wajahnya.


"Sudahlah Syifa... jangan mencari alasan." Avril memalingkan wajahnya. Sebisa mungkin harus terlihat tenang di depan Syifa. Meskipun untuk melakukannya butuh tenaga ekstra.


Waktu bergulir berlalu begitu saja, Avril benar-benar semakin dingin. Bukan hanya mengabaikan setiap laki-laki yang menyukainya, namun Reno dan Bagaspun tak lagi Avril pedulikan.


Benar-benar menyedihkan. Reno dan Bagas tidak bisa berbuat apa-apa melihat Avril yang selalu menyendiri.


Aldi mencoba menghampiri Avril. Duduk disampingnya, dan menatap Avril yang tak meliriknya sedikitpun.


"Bahkan sepertinya kau mengabaikan kehadiranku." Namun Avril masih fokus pada novel nya, Seolah tidak ada orang disampingnya.


"Avril aku akan membatalkan pertunanganku." Ucap Aldian menatap harap pada Avril. Namun lagi-lagi Avril seperti tak mendengarnya.


Aldi mulai melihat kesedihan di wajah teman-temannya.


Bagas dan Reno yang mulai kehilangan semangatnya, membuat dosen pembimbingnya heran bukan main.


Syifa yang selalu murung memalingkan wajahnya saat jam kuliah. Avril yang selalu fokus pada pelajaran, dan tidak peduli lagi pada apapun.


Perkataannya semakin tajam, dan sikapnya semakin dingin.


Suatu hari, Sammy menemui Avril untuk mengucapkan selamat tinggal. Beberapa waktu lagi, Sammy akan wisuda dan menginggalkan kampus.


"Aku tidak peduli." Ucap Avril datar dan berlalu meninggalkan Sammy yang mematung. Hatinya perih bagai tercabik-cabik.


"Benar-benar menyakitkan." Ucap salah satu teman Sammy.


Sammy mendelik menanggapi temannya.


Sesuai rencana, Reno dan Bagas membawa Avril ke sebuah cafe. Avril masih diam memalingkan wajahnya keluar. Menatap mobil yang berlalu-lalang.


"Gadis bodoh. Mau sampai kapan kau akan mengabaikan kita?" Bagas menarik kerah baju Avril.


"Hentikan Bagas." Reno menengahi. "Kembalikan Avril yang dulu." Geram Bagas.

__ADS_1


-bersambung.


__ADS_2