Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
33


__ADS_3

. "Sepertinya kau tak begitu berselera makan.?" Tanya ayah yang heran melihat putrinya.


"Kau merindukan Galih?" Tanya Alvi menebak pikiran Avril. Avril mengangguk menanggapi pertanyaan keduanya. Benar, ini hari pertama Galih berada dirumah Nadia.


"Nanti saat kau menikah pun, kau akan ikut dengan suamimu juga." Ucap Ayah dengan santai sambil melahap makanan didepannya.


"Tapi aku ingin tetap dengan ayah. Bolehkan Alvi?" Alvi tersedak mendengar pertanyaan dari Avril. Avril dengan cepat memberikan segelas air untuk Alvi.


"Pelan-pelan Alvi...." ucap Avril sambil menepuk pelan punggung Alvi.


"Mengapa bertanya padaku? Apapun yang membuatmu bahagia, lakukan saja! Dengan senang hati aku akan membahagiakanmu." Ucapnya santai setelah meredakan batuk yang sedikit mengganggunya.


Ayah hanya tersenyum menanggapi perbincangan kedua anaknya.


. Di kediaman Alvi, Demira menatap lesu pada makanan dihadapannya.


"I'm so sorry." Ucap Damian tiba-tiba yang menyadari kecanggungan diantara keluarganya.


"Hmmm" tanggapan Demira tanpa melirik kearah Damian ataupun ayah dan ibunya.


"Hari ini keluarga Adam akan kesini. Mereka akan membahas perjodohan Alvi dan Amel. Jadi ayah harap kau mengerti." Ucap Ayah menatap Demira lekat disela-sela keheningan.


"Yahhhh cuacanya bagus. Aku ingin berjalan-jalan hari ini. Aku ingin bernostalgia" Ucap Demira menunjukan kekesalannya dengan menghentakkan langkahnya meninggalkan ruang makan.


Damian jelas memperlihatkan selera makannya yang sama-sama menghilang. Kedua orang tuanya saling menoleh melihat kecanggungan kedua anaknya.


"Apa keputusan ayah dan mama salah?" Tanya ayah pada Damian. Damian melirik kearah ayahnya yang seakan meminta saran lain pada putra sulungnya.


"Tidak ayah. Meskipun Amel tidak sedang sakit, aku ingin perjodohan mereka tetap disepakati." Jawab Damian seraya menggeleng dan melemparkan senyuman pada ayahnya.


"Apa kau yakin?" Tanya mama ragu, mengingat putranya yang selalu membicarakan Amel. Meskipun dirinya tahu, kedekatan Damian dan Amel didasari hanya karena kedekatan antar keluarga saja. Namun Damian sangat menyukai Amel yang jelas mencintai sepupunya, Alvi.


"Untuk melihat sebuah kebahagiaan, bukankah harus ada sebuah pengorbanan? Asalkan Amel bahagia, aku baik-baik saja." Ucap Damian meyakinkan dengan senyuman yang dipaksa.


"Tapi bagaimana dengan Avril?" Tanya mama lagi dengan wajah khawatir. Bagaimanapun, Avril sudah dianggap sebagai putrinya sendiri. Mengingat ibunya yang sudah meninggal.


"Aku akan bicara pada Galih nanti." Ucap Damian


"Tidak. Biar ayah yang bicara pada Andre. Sekarang kita hanya perlu bersikap biasa saja. Seolah tidak tahu hubungan mereka." Timpal ayah.


"Sejujurnya, aku tak tega jika melihat Avril bersedih." Ucap Mama seakan membayangkan kesedihan Avril.


"Aku takut jika dia akan bertindak bodoh lagi. Aku dengar saat Avril tahu Aldian bertunangan dengan gadis lain, dia sengaja membuat kecelakaan tunggal. Bagaimana jika hal itu terjadi lagi?" Tanya mama meraih lengan ayah dengan nada bicara dan wajah yang semakin panik.


"Tenangkan dirimu. Avril akan baik-baik saja." Ucap ayah menenangkan.


Dengan seksama, Demira tak kuasa menahan air matanya ketika mendengar semua percakapan keluarganya diujung ruangan.


Demira semakin tak tega jika harus membuat Avril bersedih lagi.


Damian terdiam menutupi sebuah kenyataan yang tidak diketahui oleh kedua orang tuanya. Tak lain, Avril yang sudah mencegah Amel terjatuh ke air, dengan menukar dengab dirinya hingga tenggelam. Padahal orang terdekat Avril tahu, Avril sangat takut dengan air dalam. Termasuk keluarga Damian. Mengingat trauma Avril yang pernah tenggelam disungai saat diadakan jelajah alam dari sekolahnya. Bukannya mendapat hasil eksplorasi, Avril malah mendapat kesialan karena tergelincir, dan kehilangan kesadarannya selama 2 hari. Itulah kenapa Bagas, Aldian dan Reno selalu bersama Avril setiap saat.


"Maafkan aku dik." Gumam Damian.


. Hari sudah siang, Avril berdandan dengan anggun hari ini. Karena Alvi berkata akan membawanya secara resmi bertemu dengan keluarga Demira. Meskipun dirinya sudah mengenal keluarga sahabatnya, namun kali ini terasa berbeda. Kini ia datang bukan sebagai teman Demira, namun sebagai calon istri dari Alvian Revano.


Avril turun dari kamarnya menuju ruang tengah. Seperti biasa, Alvi sudah rapi dan menunggunya disana.


"Ayah..." panggil Avril ketika mengetuk pintu ruang kerja ayahnya, lalu membukanya sedikit.


"Apa?" Tanya ayah lembut ketika kepala putrinya mengintip kedalam ruangan.


"Ayah sibuk?" Tanya Avril.


"Hemmm..."


"Ayah. Aku pergi dulu dengan Alvi." Ucapnya lagi.


"Baiklah hati-hati." Jawab ayah yang kembali fokus pada berkas ditangannya.


Avril menutup kembali pintu ruangan. Ayah kemudian menatap pintu dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


"Mengapa aku sedikit gelisah." Batin ayah yang mencoba menjauhkan pikiran negatif yang terus mengahantuinya.


Terdengar dari luar Alvi meminta izin sambil terus menjauh dari pintu ruang kerja.


Mobil Alvi melaju menembus jalan yang sedikit padat namun masih lenggang untuk dilewati.

__ADS_1


"Emm... Alvi. Maaf untuk yang kemarin." Ucap Avril masih merasa bersalah atas sikapnya.


"Kemarin yang mana?" Tanya Alvi heran.


"Berfikir kau dan Demira..."


"Ohh... sudahlah.. itu bukan salahmu. Itu salahku tidak memberitahumu sejak awal." Ucap Alvi terkekeh.


"Jangan tertawa Alvi. Itu semakin membuatku malu." Ucap Avril menggembungkan pipinya.


"Baiklah sayang." Ucapan tulus itu kian membuat Avril semakin luluh. Kini tak ada keraguan lagi pada perasaannya untuk Alvi. Meskipun bayang-bayang Aldian masih saja terlintas dipikirannya. Avril menyernyit ketika mendapati sebuah cincin dijari manis Alvi.


"Sejak kapan kau memakai cincin?" Tanya Avril penuh kecurigaan.


"Sejak aku melamarmu." Jawab Alvi santai.


"Aku tidak ingat pernah memakaikannya padamu." Ucap Avril terdengar kesal.


"Ray yang memakaikannya."


"Hah?" Teriak Avril penuh keheranan.


"Suaramu membuat gendang telingaku pecah Avril" alvi mengusap kasar telinganya.


"Alvi aku serius. Apa kau bertunangan dengan gadis lain? Apa kau juga memberikan kalung dan cincin yang sama pada gadis lain? Apa kau juga--"


"Sutt suttt... stop sayang stop. Jangan diteruskan." Ucap Alvi meletakan jari telunjuknya dibibir Avril seakan memaksa Avril untuk diam.


"Jika aku bilang aku hanya mencintaimu, itu berarti tidak akan pernah ada gadis lain dihidupku. Kau, dan hanya kau satu-satunya. Namamu ada di cincinku." Lanjut Alvi menegaskan. Benar, hanya Avril satu-satunya, karena wanita pertama yang ia cintai lebih disayangi oleh tuhannya.


Perlahan Avril menggenggam tangan Alvi dan tak ingin melepaskannya, dan memalingkan wajahnya kearah lain.


Semula Alvi merasa heran, namun kini ia mengerti bahwa keduanya sudah tak ingin saling meninggalkan, ataupun ditinggalkan.


Senyum Alvi kembali tersimpul diwajahnya.


. Sampai akhirnya, mobil Alvi terparkir disamping mobil Damian. Namun Avril merasa aneh dan semakin gelisah ketika mendapati mobil Aldian disini.


Alvi terus menggenggam tangan Avril hingga memasuki rumah. Dan benar saja, diruang tamu keduanya mendapati Aldian, ayah dan ibunya disana juga keluarga Demira.


"Aku terkesan kau mau berkunjung kerumahku Aldian." Ucap Alvi dengan tatapan sinis. Avril semakin heran dengan situasinya, Avril beberapa kali menoleh kearah Alvi dan Aldi bergantian.


"Apa kau Avril?" Tanya Salma seakan meyakinkan dirinya.


"Kau semakin cantik nak." Lanjutnya menghampiri lalu meraih wajah Avril dan mengecup keningnya.


"Mama sehat?" Tanya Avril ditanggapi anggukan oleh Salma. Avril lalu menoleh pada Hendar. "Ayah sehat?" Dan ditanggapi anggukan juga oleh Hendar.


"Mama Dewi." Sapa Avril ramah namun tak tersimpan kecanggungan disetiap sikapnya. Ibu Aldian tersenyum menutupi penyesalannya.


"Dimana Demira?" Tanya Avril yang tak menemukan sahabatnya disana, yang ada hanya Damian yang menatapnya tanpa arti.


"Jaga tatapanmu Dami." Ucap Alvi sinis menegur Damian.


"Apa? Mengapa kau marah?" Tanya Damian seakan menantang.


"Jelas aku marah..."


"Alvi....." lirih Avril dengan kedipan menyuruh Alvi untuk diam.


"Kau mengenal Alvi?" Tanya Salma lagi ketika Avril kembali memandangnya. Avril mengangguk dengan senyum yang menunjukan kebahagiaan diwajahnya.


"Jadi kalian juga berteman? Baguslah. Mama senang melihatnya."


"Ahh tante... aku membawanya kesini sebagai--"


"Sebagai teman, Avril cukup baik, sampai mau mengantarkanmu pulang. Dan kebetulan, kita sedang membahas perjodohanmu, bahkan sudah disetujui kedua belah pihak. Dan tanggal pertunanganmu dan Amel sudah ditentukan. Jadi kau hanya perlu menunggu waktu itu tiba Alvi." Ucap Salma memotong ucapan Alvi yang jelas seperti petir yang menyambar Avril seketika. Jantungnya berdebar lebih cepat, lututnya lemas, pikirannya kacau. Avril dan Alvi saling pandang merasa tak percaya dengan ucapan ibu Demira.


"Tante.. apa maksudnya? Kau tahu aku--"


"Tante tahu kau dan Amel sudah dijodohkan oleh orang tuamu. Dan tante hanya melakukan apa yang seharusnya tante lakukan sepeninggal orang tuamu." Jelas Salma membuat Avril semakin kacau. Avril melirik tak percaya pada Aldian dan Alvi. Menahan air matanya untuk tidak terjatuh didepan Salma.


Dewi dan Aldian tahu, bahkan semua yang ada diruangan itupun tahu sehancur apa Avril saat ini. Namun Dewi memilih diam berpura-pura tidak tahu apa-apa.


"Apa ini rencanamu?" Suara Alvi kian berat menahan amarah pada Aldian.


"Rencana apa Alvi? Ini rencana keluargamu. Ayah dan ibumu."

__ADS_1


"Tak perlu membawa mama dan papa pada masalah ini."


"Ah... ahaha.. emmm tante, semuanya! Avril ada urusan. Jadi Avril pamit." Ucap Avril kikuk menahan diri untuk terlihat baik-baik saja. Tanpa pikir panjang, Avril bergegas meninggalkan Salma dan keluarga. Damian beranjak hendak mengejar Avril.


"Avril..." panggil Alvi, Aldi dan Damian bersamaan.


"Kau sudah puas?" Lagi-lagi tatapan Alvi tajam mengarah pada Aldi. Alvi berlari menyusul Avril yang kini berpapasan dengan Demira.


"Ini alasanmu menyuruhku menjauhi Alvi?" Tanya Avril berlinang air mata dan tidak di jawab oleh Demira. Demira terdiam semakin merasa bersalah pada Avril.


"Terima kasih Demi. Kau menjadi bagian dari hilangnya kebahagiaanku."


"Avil... maafkan aku." Lirih Demira yang kini tak kuasa menahan dirinya untuk tidak memeluk sahabatnya.


Alvi meraih Avril dari Demira. "Menjauh darinya." Alvi menatap tajam penuh kemarahan pada Demira.


"Alvi..." lirih Demira memohon.


Damian dan Aldi terdiam dibelakang Alvi yang merangkul pundak Avril. Avril perlahan melepaskan tangan Alvi dari pundaknya.


"Aku ingin pulang Alvi." Ucap Avril mengusap kedua pipinya yang sudah basah karena air mata.


"Tidak Avril.. aku tidak akan membiarkanmu pergi." Lagi-lagi Alvi menarik tangan Avril yang hendak meninggalkannya.


Avril kemudian mengirim pesan pada Reno untuk menjemputnya. Meskipun butuh waktu lama menunggu Reno sampai, mungkin Avril akan gunakan waktu itu untuk menyampaikan kata perpisahan terakhirnya dengan Alvi.


"Aku mohon Avril. Jangan pergi. Jangan percaya. Aku hanya mencintaimu. Aku juga tak akan menerima perjodohan itu."


"Alvi kau--" Aldi menahan Damian yang ingin menghampiri Alvi.


"Aku tidak mencintainya. Aku hanya mencintaimu Avril. Percayalah. Aku mohon. Bukankah aku sudah berjanji tidak akan meninggalkanmu? Bukankah aku sudah membuktikan perasaanku padamu dengan--"


"Alvi hentikan. Memang harusnya kita tidak bertemu. Mau bagaimanapun, kau hanya akan bersama dengan kak Amel." Avril kembali menepis kasar tangannya.


"Avril..." kini Alvi terasa kacau. Dirinya ingin marah, namun tak ingin melampiaskannya didepan Avril.


"Harus bagaimana lagi aku meyakinkanmu?" Avril terdiam menunduk dengan masih berderai air mata.


"Jawab aku Avril..." Alvi meraih bahu Avril mengharap jawaban. Namun Avril hanya memalingkan wajahnya.


"Sudahlah. Kita memang tidak untuk bersama Alvi. Terimakasih sudah mau menemani dan mencintaiku." Avril memaksa pergi meninggalkan Alvi yang mencoba menahan Avril untuk tidak pergi, meskipun gagal karena Avril yang bersikeras untuk tetap berlalu meninggalkannya.


Dari gerbang, masuk sebuah mobil yang sangat mereka kenali. Ya, Reno yang sampai, turun dari mobil.


"Kau kacau sekali Avril." Reno meraih Avril yang tak berhenti menangis.


"Cih... aku tak bisa lagi berkata-kata." Reno tak kalah kesal melihat satu persatu wajah yang diyakininya tak akan membuat Avril bersedih.


"Jujur aku kecewa" decih Reno menatap Demira dan Aldi bergantian sebelum akhirnya membawa Avril memasuki mobilnya, dan berlalu meninggalkan rumah Alvi. Alvi berlari menuju mobil, menatap paman dan tantenya yang sedari tadi menyaksikan mereka dari teras depan. Alvi memasuki mobil, lalu melaju mengejar mobil Reno, diikuti Demira yang ikut mengejar.


. "Untung saja aku sedang diluar Avril." Ucap Reno sedikit lega, meskipun merasa risih dengan suara isakan Avril.


Reno sangat membenci dengan namanya tangisan.


"Sudahlah. Aku tak akan membiarkan mereka menyentuhmu lagi." Reno mencoba menenangkan, meskipun ia tahu itu tak akan berhasil.


. Sampai akhirnya didepan rumah Avril. Avril langsung berlari memasuki rumah, diikuti Reno, lalu Alvi dan Demira. Namun karena kakinya yang masih saja belum pulih, kembali terasa sakit membuatnya tersandung pada teras rumahnya. Avril ambruk terduduk dengan isakan yang tak kunjung mereda.


Alvi meraih Avril mencoba membantunya, dan dengan kasar ditepis lagi oleh Avril.


Avril yang menunduk dengan rambut yang menutupi sebagian wajahnya.


"Avril... dengarkan aku.!" Bentak Alvi. Avril terdiam meskipun masih terdengar isakan kecil darinya.


Alvi memeluk Avril dengan hangat. Mencoba meyakinkan Avril bahwa dirinya tidak akan pergi.


"Pergi Alvi. Aku membencimu." Lirih Avril yang memegangi lengan Alvi yang mendekapnya.


"Pergi Alvi pergi!!" Kini Avril sedikit meronta namun tangannya masih enggan melepaskan Alvi.


"Kau yakin?" Avril mengangguk.


"Jika aku bertunangan dengan Amel, apa kau tak akan menyesal?" Avril menggeleng dengan isakan yang semakin keras.


"Aku tanya sekali lagi! Kau menyuruhku pergi, apa kau tak akan menyesal?" Kini Avril melepaskan tangannya dari Alvi seperti mempersilahkan Alvi untuk pergi.


"Baiklah! Jika ini keputusanmu."

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2