Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
48


__ADS_3

. Beberapa hari setelah kepergian Amel, Aldi selalu menyendiri dan melamun.


"Aldi..." lirih Dewi ketika menghampiri Aldi yang terdiam di sofa ruang tengah dengan menatap poto lama dirinya dan Amel.


"Mama ingat pernah berpesan pada Aldi?." Dewi menyernyit mencoba mengingat apa yang dimaksudkan Aldi.


"Mama pernah berkata bahwa aku dan kakak menjadi saudara yang saling melengkapi dan saling melindungi. Saat itu aku masih berumur 9 tahun kan? Dan aku satu sekolah dengan kakak. Pesan mama terus terngiang di telingaku. Kakak yang sebagai anak sulung, harus bisa melindungi adiknya. Dan aku, meskipun aku anak bungsu tapi aku laki-laki yang harus melindungi perempuan. Dan itu membuatku berpikir bahwa kakak lah yang harus selalu aku lindungi. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk melindungi kakak dari apapun dan siapapun. Tapi... sekarang aku gagal menepati janji itu." Dewi tertegun mendengar pernyataan dari anaknya yang masih ia anggap sebagai Aldi kecil yang belum bisa makan sendiri, kini memiliki pemikiran yang melebihi kakaknya. Dewi tersenyum haru merasa beruntung memiliki putra yang menyayangi keluarganya.


"Mama tahu? Aku pernah berkelahi dengan teman sekelas kakak karena dia mengganggu kakak terus, lalu kakak melindungiku dibalik punggungnya. Dan aku yang terus mengingat pesan mama, menukar posisiku dengan kakak dan membiarkan kakak yang berada dibelakangku. Dan dengan lantang aku berteriak dihadapan semua orang 'jika kau mengganggu kakakku, maka kau berurusan denganku.' Dan mama pun akhirnya hanya tahu aku anak nakal yang setiap hari hanya mencari masalah saja. Tapi kini aku memberitahu mama, aku nakal karena hanya ingin melindungi kakak saja." Dewi berkaca-kaca memeluk kepala Aldi.


"Aku mulai merindukannya ma... jika saja ini hanya mimpi."


"Jangan berbicara seperti itu... kakakmu sudah bahagia dan tidak merasakan sakit lagi disana."


"Maafkan aku yang tak bisa menjaga kakak ma..."


"Sudah... ini bukan salahmu. Ini sudah jalannya..." Dewi sekuat hati menguatkan putranya, dan pada kenyataannya dirinya lebih hancur sekarang.


---


. "Ada yang tidak sibuk?" Tanya Roby sedikit berteriak kepada seluruh bawahannya.


"Saya pak.!" Avril mengangkat tangan lalu berdiri.


"Kebetulan saya sudah menyelesaikan laporan yang bapak minta." Lanjut Avril dengan memberikan berkas yang baru saja di print.


"Apa tidak masalah jika saya menyuruhmu?" Tanya Roby ragu. Takut jika Alvi memarahinya karena berani menyuruh Avril.


"Tak apa pak. Saya disini bekerja." Ucap Avril meyakinkan.


"Baiklah. Tolong bawakan berkas ini ke divisi keuangan, lalu ambil beberapa proposal saya dari pak Irfan, manager disana." Ucap Roby dengan memberikan beberapa map pada Avril.


"Baiklah pak." Avril menerima berkas dan memeluknya, kemudian berlalu keluar dari ruangan.


. Di lift, Avril bertemu dengan Dea yang terkejut melihatnya.


"Avril... dimana kau? Mengapa kau di pindahkan? Apa benar ada yang menyakitimu?" Tanya Dea khawatir.


"Tidak... hanya saja pak Roby membutuhkanku di divisinya." Jawab Avril tersenyum untuk meyakinkan.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Dea lagi. Dan Avril hanya mengangguk.


"Sekarang kau mau kemana?" Tanya Dea antusias.


"Aku mau ke divisi keuangan."


"Benarkah? Aku juga. Kebetulan sekali."


. Setelah sampai dilantai yang dituju, Avril dan Dea bergegas menuju ruangan Irfan. Terlihat Irfan begitu terkejut saat melihat Avril memasuki ruangannya.


"Avril?" Lirihnya.


"Maaf pak. Saya disuruh pak Roby untuk menyerahkan ini, dan sekalian mengambil beberapa proposal yang diminta pak Roby." Ucap Avril meletakkan map yang dibawanya.


"Ohh baiklah tunggu sebentar." Irfan beranjak dan mencari map yang dimaksud Avril. Kemudian menaruhnya dimeja.


Avril mengambilnya dengan melemparkan senyum ramah pada Irfan.


"Saya juga pak." Ucap Dea memberikan apa yang dibawanya pada Irfan.


"Deri?" Dea mengangguk menanggapi.


Tanpa sepatah kata, Avril dan Dea berlalu dari ruangan Irfan. Terlihat kekesalan Irfan saat ini yang sudah jelas alasannya karena Avril yang kini menjadi milik Alvi, bos besarnya.


"Kau bahagia Avril." Lirih Irfan menyandarkan tubuh di kursi kerjanya.


"Sepertinya kau dan pak Irfan saling mengenal?" Tanya Dea mencoba menghilangkan rasa penasarannya.


"Dia kakak kelasku saat SMA." Jawab Avril seolah acuh tak acuh.


"Hemmm mungkinkah dia tunanganmu?" Avril terbelalak mengapa bisa Dea menyimpulkan bahwa Irfan adalah tunangannya.


"Melihat ekspresimu pasti iya kan?"


"Ahaha Dea... kak Irfan bukan tunanganku. Tunanganku jabatannya lebih tinggi darinya disini." Jawab Avril menyernyit kesal.


"Maaf... aku hanya menebak" ucap Dea mengedipkan matanya manja.


"Yaa... tak apa." Avril melempar senyum jengkel pada Dea yang tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

__ADS_1


"Oh iya Avril... Iqbal merindukanmu. Dia menitip salam untukmu. Dan juga meminta nomor ponselmu."


"Jangan diberikan. Please.....!!! Aku tak ingin Iqbal mendapat masalah." Dea terkejut dengan sikap Avril yang memohon padanya. Apa seberbahaya itu jika hanya nomor ponsel Avril diberikan pada Iqbal. Dan semengerikan apa tunangannya? Dea semakin penasaran siapa tunangan Avril. Dea sempat mendengar rumor bahwa tunangan Avril adalah seorang pimpinan disana. Tapi banyak pimpinan laki-laki di perusahaan itu. Dan lagi pula pimpinan apa yang di bicarakan orang-orang?


. Saat keduanya asik berjalan, Avril tak sengaja berpapasan dengan Alvi yang melirik tajam kearahnya. Avril tersenyum tanda menyapa sang pimpinan besar.


Dea ternganga melihat kesempurnaan ciptaan tuhan didepannya. Sungguh tak lebih indah dari senja dan pelangi. Melihatnya dari dekat sangat terlihat begitu indah. Alvi tersenyum menyapa keduanya, dan Dea masih tersenyum kagum dan masih menatap Alvi yang sudah berlalu menuju lift.


"Ehem." Avril mencoba menyadarkan lamunan Dea.


"Avril... apa aku sedang bermimpi? Mengapa sebuah kebetulan menjadi kehormatan untukku bisa bertemu dengan pak presdir yang tampan tak tertandingi itu."


"Mau aku tampar? Agar kau tahu ini mimpi atau bukan?"


"Avrillll itu terlalu jahat."


"Ya ya ya.... tapi sebaiknya kita harus cepat-cepat kembali." Dea mengusap wajahnya agar tak terlarut dalam bayangan wajah Alvi.


"Kenapa?"


"Wajah pak presdir menghalangi pandanganku Avril.." rengek Dea.


"Hufffttt Deaaa.... pak presdir sudah memiliki calon istri."


"Benarkah? Siapa? Bukankah sudah meninggal? Aku dengar beritanya akhir-akhir ini."


"Tidak... bukan yang itu. Awalnya aku juga berpikir pak presdir dan kak Amel bertunangan. Tapi tidak jadi, karena pak presdir tak bisa berpaling dari tunangannya yang dulu."


"Pak presdir memiliki 2 tunangan sekaligus?" Tanya Dea terbelalak dengan ekspresi terkejut.


"Tidak... bukan begitu. Pak presdir hanya punya satu calon istri dan itu ak.... mak-maksudku... yaa intinya pak presdir hanya punya satu wanita dihidupnya." Avril dengan gugup memalingkan wajahnya. Hampir saja dirinya membuka rahasia yang sudah lelah ia tutupi dari siapapun di perusahaan ini. Avril memaki dirinya sendiri karena terbawa emosi dengan obrolan itu. Gadis mana yang bisa menahan emosi ketika pasangannya dibicarakan berpasangan dengan orang lain didepannya.


"Ohhh begitu?" Dea mengangguk pelan dengan hati semakin heran pada sikap Avril.


"Ya kurang lebih seperti itu." Avril menghirup udara dengan dalam, lalu menghembuskan dengan kesal.


"Dea.. aku duluan. Pak Roby pasti menunggu berkas ini."


"Oke baiklah... sampai bertemu lagi..." Dea melambaikan tangannya ketika Avril berlalu semakin jauh darinya.


"Avril.. Avril... aku harap dugaanku benar." Dea tersenyum penuh harap pada ekspetasinya yang kian bermunculan dipikirannya.


Dea terperanjat saat melihat mobil mewah membawa Avril didalamnya.


"Ternyata benar. Calon istri yang kau maksud adalah dirimu sendiri." Ucap Dea kemudian tersenyum menatap mobil yang semakin jauh melaju di ramainya jalanan kota.


"Dea? Kau belum pulang?" Kembali Dea tersentak ketika Iqbal tiba-tiba sudah berada di sampingnya.


"Iq-Iqbal? Sejak kapan kau disana?" Tanya Dea gugup.


"Sejak kau asyik menatap mobil itu keluar gerbang. Lalu tersenyum tak jelas. Siapa yang kau lihat itu?" Tanya Iqbal dengan tatapan sinis.


"Avril. Eh bukan. Maksudku pak presdir."


"Kau benar-benar mengidolakannya?" Iqbal menghela nafas berat dengan tingkah Dea.


"Wanita mana yang tidak mengidolakan pria setampan dan sehebat pak presdir." Namun kini Iqbal tak menanggapi.


"Mungkinkah Avril merahasiakan ini dari kami? Mengingat bagaimana dia bicara, sepertinya memang seperti itu. Aku juga harus bisa menutup mulut tentang ini." Gumam Dea seketika memikirkan Avril.


"Hei... kau mau pulang atau tidak? Mengapa terus melamun?" Tegur Iqbal menepuk bahu Dea.


"Ah maaf."


"Ada sebuah rahasia yang hanya menjadi rahasia." Gumam Dea mengikuti langkah Iqbal. Memang keduanya sama-sama pulang dengan kendaraan umum. Sebenarnya Iqbal memiliki sebuah motor, namun dirinya lebih menyukai menikmati suasana kota di sore hari dengan kendaraan umum.


Sikap sederhananya itulah yang membuat Dea menaruh hati pada Iqbal. Dan Dea hanya menganggap perasaan ini sebagai perasaan yang singgah saja. Dea tidak menganggap serius dengan rasa kagum yang muncul dihatinya untuk Iqbal.


"Apa setelah magang ini berakhir, kita masih bisa berteman?" Tanya Iqbal tiba-tiba.


"Hemm?" Dea menyernyit mencoba mencerna pertanyaan Iqbal.


"Aku selalu berfikir, apakah setelah ini, aku masih bisa bertemu denganmu dan Avril lagi atau tidak. Bahkan aku terlalu malu untuk bertemu dengan Avril. Aku yang dengan berani menyukainya. Padahal jelas dia tak mungkin menyukaiku. Aku tak setampan, sehebat, dan sesukses tuan Alvi." Dea hanya terdiam menatap dalam wajah Iqbal. Manis, mungkin kata itu yang tersirat dibenak Dea. Dea tersenyum memalingkan wajahnya.


"Tidak. Ku pikir bukan itu alasan Avril. Avril bukan gadis seperti itu. Takdir saja yang mempersatukan mereka. Mungkin." Ucap Dea menerka-nerka dan seakan tak yakin dengan pemikirannya.


"Jadi benar? Tuan Alvi lah calon suaminya.?" Dea terbelalak karena baru menyadari bahwa Iqbal pun memiliki dugaan yang sama dengannya tentang hubungan Avril dan Alvi.


"Avril.... bukan aku yang memberitahunya...." gumam Dea dengan hati menjerit.

__ADS_1


"Ak-aku tidak tahu..." jawab Dea lirih.


---


. "Avril... ayahmu keluar kota bukan?" Tanya Alvi menoleh pada Avril disampingnya.


"Iya. Kenapa?" Avril ikut menoleh.


"Baiklah."


"Apanya yang baiklah?"


"Tidak..."


"Alvi...." Avril menggembungkan pipinya.


"Apa sayang?"


"Tak ada yang memanggilmu."


"Lalu tadi apa?"


"Ihhhhh menyebalkan!" Avril memukul lengan Alvi.


"Hei hati-hati! Jika aku salah belok, bisa bahaya." Ucap Alvi kembali menyeimbangkan kemudinya.


"Anak siapa kau? Aku jadi ragu Mama Maya adalah mama mu." Lirih Avril menoleh kearah kaca.


"Kau bicara sesuatu nona? Sebaiknya kau bicara dengan keras agar aku mendengarmu." Namun Avril hanya mendelik membuat Alvi tertawa.


Avril menyadari bahwa ini bukan jalan menuju rumahnya.


"Alvi... kita mau kemana?"


"Tidak kemana-mana, hanya menculikmu saja." Seringai licik dan menakutkan tersungging di wajah Alvi.


"Jangan becanda Alvi...." teriak Avril dengan panik.


"Apa wajahku terlihat sedang becanda? Aku tak pernah becanda nona Revano." Avril benar-benar mulai panik dan ingin memukul kepala Alvi saat ini.


"Alvi.... jangan menakutiku." lirih Avril mulai berkaca-kaca dengan bersandar semakin menghimpit ke pintu mobil.


Dengan serius, Alvi melirik tajam dan sesekali menyunggingkan seringai untuk menakuti Avril. Kemudian Alvi kembali tertawa karena Avril terlihat benar-benar ketakutan.


"Ahahaha kau percaya? Apa tampangku sudah cocok jadi penculik putri bungsu dari pak Andre pemilik perusahaan A yang terkenal?" Avril hanya terdiam tak yakin bahwa Alvi serius atau tidak.


"Sudah... kemarilah! Jangan terlalu menghimpit ke pintu. Bahaya." Alvi meraih tangan Avril dan terkejut saat merasakan bahwa Avril gemetaran.


"Kau ketakutan? Ma-maaf sayang. Aku tak bermaksud. Aku hanya ingin menjahilimu."


"Tidak lucu..." rengek Avril layaknya anak kecil.


"Iya maaf... aku salah." Alvi membelai rambut Avril dengan satu tangan masih memegang kemudi.


"Kenapa kau tak tahu ini jalan ke rumahku?" Alvi menepuk-nepuk pelan kepala Avril yang menggembungkan pipinya.


"Aku tak berpikir akan kerumahmu." Ucap Avril pelan.


. Sampai di rumah Alvi, Avril tak langsung ikut masuk.


"Kenapa?" Tanya Alvi menoleh pada Avril.


"Apa dirumahmu ada orang?" Mendengar pertanyaan itu, lagi-lagi Alvi tertawa.


"Aku serius Alvi." Ucap Avril dengan sedikit berteriak.


"Apa kau takut? Bukankah aku tanya, apa tampangku seperti seorang penjahat?" Alvi semakin dekat pada Avril yang lagi-lagi mencoba menjauh dari Alvi.


"Alvi.. berhenti becanda. Atau aku akan berteriak."


"Teriak saja! Tak akan ada yang menolongmu." Lagi-lagi seringai menakutkan itu tersungging di wajah Alvi.


"Alvi.... jangan macam-macam. Aku ingin pulang.." lirih Avril.


"Terus kau akan berdiam saja disini?" Tanya Alvi menatap heran pada Avril yang terlihat waspada. Alvi lalu menggendong Avril dan membawanya masuk kedalam rumah.


"Turunkan aku Alvi.... tolong... ada penculik!" Teriak Avril meronta-ronta.


Karena mendengar keributan di pintu utama, beberapa pelayan seumuran Dina berlarian menghampiri Alvi. Dan semuanya kompak terhenti lalu membalikan badannya bersamaan ketika mendapati Avril yang berada dipangkuan Alvi. Alvi dan Avril menyernyit heran.

__ADS_1


-bersambung


__ADS_2