
. Dengan kecepatan tinggi, Alvi melajukan mobil menembus jalanan yang lumayan padat.
Sampai akhirnya berhenti disebuah tempat dimana beberapa jam yang lalu dia masih berada disana. Ya, rumah sakit. Sudah bisa ditebak siapa yang akan ia temui.
Alvi berjalan cepat dengan wajah yang tanpa ekspresi.
Dibukanya pintu ruangan Avril, saking terkejutnya, Avril menjatuhkan gelas yang sedang ia bawa.
Alvi menghampiri Avril yang begitu tenang duduk di ranjangnya, meraih bahu Avril dengan kasar, menatap matanya dengan tajam, dan seakan seperti harimau yang kelaparan. Tak peduli disana ada Noah yang sedang memeriksa Avril.
"Apa yang kau lakukan Alvi.?" Noah mencoba mencegah tindakan Alvi.
"Diam! Dan jangan ikut campur." Seketika Noah terdiam. Dirinya mengerti bagaimana Alvi ketika sedang kacau. Apalagi dirinya mengerti dengan situasinya.
"Katakan sekali lagi jika kau tidak mencintaiku Avril." Deg... jantung Avril mendadak perih.
"Ada apa lagi denganmu? Bukankah aku sudah mengatakannya?"
"Aku ingin mendengarnya sekali lagi. Dari mulutmu, dan yakinkan aku untuk tidak mengharapkanmu lagi."
Kini Avril menatap yakin pada Alvi, wajahnya sangat datar. Sama seperti Alvi, kini ekspresinya tak bisa di jelaskan.
"Untuk apa? Mencintaimu atau tidak itu tidak penting kan? Dan pertunanganmu dengan kak Amel besok bukan? Ahh aku harap aku bisa datang meyaksikanmu."
"Jadi kau sudah tahu?" Avril hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Alvi.
"Lalu? Apa seperti ini tanggapanmu?"
"Memangnya aku harus bagaimana? Apa aku harus lari ke atap, lalu mengancammu jika kau tidak membatalkan pertunanganmu, aku akan bunuh diri. Begitu? Atau aku harus berlutut dihadapan om dan tante mu agar pertunangan ini dibatalkan? Tidak Alvi. Terimakasih. Harga diriku cukup tinggi jika harus ku rendahkan didepan keluargamu." Perlahan Alvi melepaskan bahu Avril.
"Baiklah. Akan aku tunggu kau besok. Jika kau terlambat semenit saja, aku anggap kau mencintaiku." Namun lagi-lagi Avril menanggapi dengan senyuman.
Sakit rasanya ketika saat ingin menangis, namun dipaksa harus terlihat baik-baik saja.
"Jangan lupa Avril! Dengan siapapun, bahkan sejauh apapun aku pergi, aku akan tetap mencintaimu. Dan aku akan membuktikan sendiri bahwa kau akan menyesal melepaskanku untuk orang lain." Tegas Alvi
"Terima kasih Alvi." Ucap Avril tersenyum lebar.
Alvi berlalu dengan sedikit membanting pintu tetapi tak terlalu keras, namun cukup membuat Avril merasa sesak.
Avril meraba dadanya, berharap rasa sakit itu berkurang. Namun semakin mengingat Alvi, maka rasa sakit itu terasa semakin menyebar.
Noah yang menyaksikannya menatap nanar pada Avril. Dirinya semakin mengagumi Avril yang berusaha kuat, dan bisa menutupi kepura-puraan dihadapan Alvi.
"Mengapa kau tak jujur saja?" Lirih Noah seraya memunguti pecahan gelas.
"Maafkan aku. Aku tak sengaja menjatuhkannya."
"Aku tanya. Mengapa kau tak jujur saja."
Dalam seketika Avril kembali menangis.
"Kenapa aku begitu lemah? Melihatnya pergi, aku hanya terus menangis."
"Itu tak menjawab pertanyaanku."
"Menurutmu? Bagaimana bisa aku jujur. Sedangkan pernikahan mereka akan tetap terjadi meskipun aku sangat berharap ini tidak nyata."
"Aku harap kau tidak bertindak bodoh lagi. Kasihan kakak dan ayahmu. Kau seperti sudah berlangganan ke rumah sakit ini dengan alasan patah hati."
"Tapi untung saja kau yang menanganiku dokter." Avril menyeka air matanya.
"Iya. Dan untung saja aku tak terkena vertigo karena menangani kau dan Alvian bersamaan." Delik Noah sambil membawa pecahan gelas ke luar ruangan.
"Maaf dokter..." ejek Avril seakan tak punya beban dan masalah dihatinya.
Avril menunduk seketika saat Noah sudah berlalu dibalik pintu.
"Aku tak mencintainya. Aku tak mencintainya. Aku tak mencintainya." Lirih Avril memejamkan mata sambil mencengkram selimut. Terasa sebuah tangan mengusap kepalanya. Avril mendongak, kemudian menatap wajah dingin sang kakak. Avril memeluk erat pinggang Galih yang masih mengusap rambutnya.
"Kau menangis lagi?"
"Kepalaku pusing, dan mataku panas. Jadi selalu berair."
"Ohhh... kupikir kau menangis karena Alvi."
"Aku bukan anak kecil yang setiap saat menangis. Apalagi karena laki-laki."
"Benarkah? Lalu mengapa kau sesenggukan?"
"Dadaku sedikit sesak."
"Ahh... akan aku panggil Noah."
"Tidak perlu. Aku hanya ingin memeluk kakak saja."
"Kau sangat manja jika sedang patah hati."
***
. Seharian Avril merengek ingin pulang, membujuk kakak dan ayahnya. Namun tidak berhasil.
"Aku sudah sembuh ayah..."
"Jangan keras kepala Avril..."
"Tapi aku sudah bosan disini."
"Mengapa kau begitu ingin pulang?" Tanya ayah tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
__ADS_1
"Apa kau ingin datang besok?" Timpal Galih dengan santai.
"Aku ingin pergi kak. Pergi jauh. Agar aku tak bisa bertemu lagi dengannya." Jawab Avril yang mendadak terdengar datar.
"Itu berarti kau juga menunjukan bahwa kau mencintainya."
"Bukan begitu." Avril sedikit kesal dengan apa yang dikatakan Galih.
"Lalu apa? Justru jika kau sengaja menghilang, maka kau akan dianggap olehnya bahwa kau mencintainya. Dan apa memang itu rencanamu?"
"Kubilang tidak. Aku hanya ingin liburan saja."
"Liburan?" Ayah menyernyit heran.
"Iya... aku sudah bosan disini. Jadi aku ingin liburan sebentar."
"Kau tahu Avril? Alasan mengapa aku tak mengijinkanmu pulang walaupun kau sudah sembuh?" Avril menatap heran pada Galih. Seolah bertanya apa maksud dari ucapannya.
"Mungkin kau tak mengerti. Tapi ini untuk menjagamu juga. Dengan alasan kau masih sakit, Alvi akan berpikir bahwa kau tidak mencintainya."
"Tapi aku mencintainya." Ucap Avril setengah berteriak dan seketika langsung menutup mulutnya.
Galih hanya menatap konyol pada Avril, kemudian tertawa dengan lepas.
"Syukurlah kau sudah bisa becanda. Berarti kau sudah sembuh."
"Ahaha kau benar kak. Aku hanya becanda." Meski tertawa, terlihat raut wajahnya yang menahan kesedihan.
Galih merasa tak tahan melihat adiknya terus menerus seperti ini.
"Kau mau ikut?" Tanya Galih tiba-tiba.
"Kemana?" Tanya Avril heran.
"Bulan madu." Jawab Galih santai.
"Ihhh menyebalkan." Avril melempar bantal ke wajah Galih.
"Dasar kau ya...." geram Galih menghampiri lalu mengacak rambut Avril.
"Kakak ampun... ayahhh...."
"Galihhh...."
"Becanda ayah..."
***
. Keesokan harinya, Baren sudah stay menjenguk Avril. Disusul oleh Syifa dan Aldi yang membuat Reno berdecih kesal.
"Kupikir kau tak punya nyali untuk menemui Avril setelah apa yang kau lakukan padanya." Ucap Reno penuh dengan nada sindiran.
"Reno..." bisik Avril dengan tujuan melerai.
"Avil..." panggil Aldi ragu.
"Ah Syifa... apa banyak tugas?" Avril mencoba menghindari percakapan dengan Aldi.
"Avil..." kini suara Aldi meninggi.
"Bagas... bolehkah aku meminta tolong?" Lagi-lagi Avril mengalihkan pembicaraan.
"Avil. Apa kau tidak menganggap ku ada?" Bentak Aldi dengan mencengkram kedua bahu Avril. Avril semula menatap dengan raut wajah yang ketakutan, tapi kemudian Avril tersenyum hangat menatap Aldi.
"Apa kau juga menganggap ku ada? Kau merenggut kebahagiaanku yang kesekian kalinya."
Air mata yang mengalir mengiringi senyumnya, membuat Reno menyingkirkan tangan Aldi dari Avril.
"Kehadiranmu tidak dibutuhkan." Ucap Reno menatap dingin pada Aldi.
"Tatapan apa itu Reno? Kau seperti membenciku."
"Aku memang membencimu. Harusnya kau tak kembali ke kota ini. Biarkan kita tidak tahu kabarmu saja. Kau ada disini pun, semuanya menjadi berantakan. Sejak awal kau datang, semua penuh masalah." Geram Reno menahan amarah.
"Reno.. apa-apaan kau?" Bagas mencoba melerai. Bagas satu-satunya yang tidak mengerti dengan situasinya.
"Jika aku mengatakan bahwa dia menyakiti Avril lagi, apa kau akan bertanya aku kenapa?" Bagas bergidik ngeri melihat tatapan Reno yang tajam seakan menembus matanya.
"Kau menakutkan sialan." Bagas mengusap kasar wajah Reno yang mendelik.
"Apa kau pikir aku hanya memikirkan kakakku saja?" Aldi tak kalah emosi dari Reno.
"Apa kalian kesini hanya untuk menumpang ribut saja?" Tanya Avril tiba-tiba menyela.
"Diam kau." Ucap Reno dan Aldi bersamaan menoleh lalu menatap Avril.
Avril mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
Semua menjadi canggung dan saling diam.
"Sudahlah. Aku tak ingin terlambat di mata kuliah pak Kumis." Ucap Reno membuyarkan keheningan.
Seketika kelima anak itu saling pandang lalu tertawa lepas, kecuali Aldian yang masih memasang wajah datar dan alis yang berkerut.
Demira terdiam diambang pintu. Menatap betapa bahagianya mereka, seakan sudah terbiasa tanpa dirinya.
Bagas menyadari Demira yang berdiri dan hendak berbalik.
"Demi? Mau kemana?" Tanya Bagas sedikit antusias.
__ADS_1
"Aku ada urusan." Jawab Demira dingin.
"Ayolah...." Bagas melangkah menghampiri Demira yang masih mematung. Namun langkah Bagas terhenti saat melihat Noah yang kini berada di samping Demira.
"Mengapa tak masuk?" Tanya Noah melirik pada Demira yang menatap dingin pada Avril.
"Tidak jadi.." ucap Demira lirih dan hanya Noah yang bisa mendengarnya.
"Kau sedang marah?" Tanya Noah lagi.
Demira tak menjawab pertanyaan Noah. Hanya terdiam, dan perlahan air matanya terjatuh begitu saja.
"Kenapa dia terlihat bahagia? Padahal didepannya ada Aldi orang yang jelas menyakitinya, ditambah nanti malam acara pertunangan Alvi. Mengapa dia terlihat seakan tidak peduli? Sejak kapan dia pura-pura kuat seperti itu?" Kesalnya Demira yang membenamkan wajahnya di dekapan Noah. Bagas memalingkan wajahnya menyaksikan Demira berada dipelukan orang lain.
Reno yang menyadari perubahan sikap Bagas, dengan cepat merangkul pundaknya lalu membawanya keluar ruangan.
"Kita pergi dulu. bahaya jika pak kumis datang lebih dulu daripada kita." Ucap Reno sedikit berteriak.
"Ayo Syifa. Apa kau ingin pak kumis murka jika kau terlambat?" Lanjut Reno sebelum menghilang dibalik tembok.
"Baiklah. Avril... maaf aku tak bisa menemanimu, tapi kau tahu situasinya." Avril mengangguk tersenyum menanggapi Syifa.
Syifa berlalu menyusul Baren, sedangkan Aldi masih mematung ditempatnya. Seakan tak ingin beranjak dari posisinya.
"Mengapa kau menangis?" Tanya Avril menatap Demira setelah semuanya diam beberapa saat. Situasi canggung yang ditinggalkan oleh Reno.
Demira berjalan cepat kemudian menepuk pipi Avril sedikit kasar.
"Aku ingin menamparmu sangat keras Avil..."
"Apa salahku?" Avril menyentuh pipinya.
"Jika kau bersedih, tunjukan perasaan sedihmu. Begitupun sebaliknya. Jangan bersedih, tapi ditutupi sebuah tawa dan senyuman. Aku benci melihat senyum palsu mu itu. Kau bersikap seolah kau baik-baik saja, padahal kau rapuh dan tidak tahu harus apa. Aku tahu Avil.. kau sangat terpuruk, kau merasa dunia tak adil padamu. Aku tahu itu." Demira terisak mengepalkan tangannya erat.
"Lalu? Apa orang akan peduli jika aku memperlihatkan yang sebenarnya?" lirih Avril menunduk.
"Tapi setidaknya kau tidak membohongi siapapun. Jika terus seperti ini, bukan hanya orang lain, tapi dirimu sendiri juga kau bohongi."
"Maaf." Avril semakin menunduk.
"Aku tahu kau ingin menghentikan acara Alvi. Kau mencintainya kan?. Jadi, biar aku yang bicara pada ayah dan mama untuk membatalkan perjodohan mereka. Masih ada waktu sebelum acara dimul--"
"Hentikan Demi... aku baik-baik saja. Biarkan Alvi dengan kak Amel. Aku tidak apa-apa... sungguh. Aku tak ingin egois karena aku mencintai Alvi." Ucap Avril dengan sorot mata yang sangat tenang.
"Tapi jangan menyiksa hatimu Avil... mengapa kau terus mengorbankan perasaanmu? Aku tahu sesedih apa dirimu." Demira tak berhenti terisak.
"Mengapa kau terus menangis?"
"Aku kesal padamu. Mengapa kau begitu baik? Padahal kau bisa saja memberontak untuk membatalkan pertunangan Alvi dan kak Amel. Tapi kau bicara kau seolah tak mencintai Alvi."
"Sudah kubilang Demi. Aku tak ingin bersikap egois hanya karena aku mencintainya." Avril meyakinkan Demira dengan senyum yang dilemparkan padanya.
"Itulah kenapa aku masih berada dalam bayangannya Demi." Timpal Aldian.
"Apakah ada topik pembahasan lain selain menceritakan tentangku?" Avril menghela nafas malas.
Dibalik dinding, tepat diluar ruangan. Terlihat bersandar seorang gadis dengan air mata bercucuran dan tangan yang mengepal. Niat ingin menyelesaikan masalah langsung dengan Avril, namun niatnya urung begitu saja setelah mendengar percakapan dari dalam. Amel menyeka air mata, dan sedikit berdecih.
"Aku muak dengan kebaikanmu Avril." Lirihnya kemudian memasuki ruangan dengan langkah cepat dan membuka pintu dengan keras, menghampiri Avril dengan ekspresi marah.
Aldi dan Demira terlihat lebih panik dari Avril, yang dipikirannya mungkin Amel akan berbuat yang tidak-tidak pada Avril.
"Kak? Avril tak melakukan apapun." Ucap Aldi seraya menarik tangan Amel, namun dihempaskan kasar. Avril menutup matanya dengan sedikit berekspresi takut, dan berfikir bahwa Amel akan menamparnya.
Namun Avril terkejut dan membuka mata ketika Amel tiba-tiba memeluknya, dan terisak begitu saja.
"Kak..." lirih Avril mengusap punggung Amel.
"Maaf... maafkan aku Avril..." ucap Amel disela tangisnya.
Avril tersenyum kemudian membenamkan wajahnya pada bahu Amel.
"Tidak kak... tak apa.. aku menerima jalannya."
Amel melepas pelukannya, dan mengusap air mata yang membasahi pipinya.
"Datanglah! Ya?"
"Tidak kak. Maaf. Tapi kondisiku tidak memungkinkan."
"Aku mohon..."
"Sudahlah kak. Jangan memaksanya. Dia sedang sakit." Ucap Aldi menghampiri keduanya.
"Ini semua karena dirimu Al." Amel melirik sinis pada Aldian di sampingnya.
"Aku?" Aldi menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi heran.
Amel menarik tangan Aldi keluar dari ruangan.
"Kak? Mengapa kau begitu marah dan menyalahkanku?"
"Tentu saja aku menyalahkanmu. Jika kau tidak menerima perjodohan dengan Syifa, mungkin kau bersama Avril sekarang. Dan Alvi masih bersamaku." Dan 'plak' tamparan keras berhasil membuat wajah Amel sedikit membanting, dan terasa panas.
"Kau bicara seakan kau tahu hidupku akan seperti apa. Kupikir kebaikanmu itu nyata. Tapi ternyata hanya palsu. Kau sangat jelas menginginkan perpisahan Avril dan Alvi."
"Bukankah kau sama? Kau masih berharap pada Avril kan?"
-bersambung
__ADS_1