Rasa Tak Berujung

Rasa Tak Berujung
63


__ADS_3

. Suasana semakin mencekam. Kemarahan Alvi membuat mereka tak lagi berani bersuara. Feri sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya.


"Tak ada manusia yang tak melakukan kesalahan. Dia sudah meminta maaf, berarti dia sadar akan kesalahannya. Tidakkah kau memberi maaf untuknya?" Tanya Avril membuat Alvi terdiam dan berdecih kesal.


"Kau selalu saja bersikap baik. Pikirkan dirimu. Mereka harus sadar diri dan tahu siapa dirimu. Jika sampai kau benar-benar terluka, aku tak segan membunuhnya didepan Andara sekalipun." Ucap Alvi dengan nada tinggi.


"Itu terlalu berlebihan tuan..." gumam Ray menahan diri untuk tidak tersenyum didepan Alvi.


"Tapi kau terlalu berlebihan. Aku tidak seistimewa itu Al. Aku manusia biasa, dan aku juga selalu melakukan kesalahan. Dan aku juga tahu bagaimana rasanya tidak dimaafkan." Ucap Avril yang lagi-lagi membuat Alvi terdiam. Sempat Alvi berpikir bagaimana ia berusaha ingin dimaafkan oleh Avril saat membuat kesalahan. Alvi menghela nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskan dengan kesal.


"Baiklah. Kau tidak dipecat. Tapi kau juga tetap harus dihukum." Ucap Alvi memalingkan wajahnya.


"Dimengerti tuan." Lirih Feri masih menunduk. Feri berpikir bahwa Avril bak seorang malaikat yang nyata.


Avril tersenyum menatap Alvi yang kini terlihat sedang merajuk.


"Kalau begitu, kami pamit tuan." Ucap Roby menunduk sopan.


"Baiklah." Jawab Alvi terdengar terpaksa bicara.


Roby mendahului keluar dan diikuti Deri dan Feri. Ray masih terdiam didekat Alvi yang masih enggan melirik ke arah Avril.


"Al...." panggil Avril.


"Hemmm"


"Viii....." lanjut Avril.


"Apa?" Kini Alvi menoleh dengan tatapan kesal pada Avril.


"Yaannnnnnn" goda Avril melemparkan senyuman menggemaskan pada Alvi.


"Kau mau aku cium didepan Ray?"


"Silahkan saja jika kau bisa."


"Ohhh kau menantangku?" Alvi sedikit beranjak hendak menakuti Avril. Avril langsung menutup tubuhnya dengan selimut. Dan disaat itu pula, Alvi memperlihatkan rasa sakitnya didepan Ray.


"Tuan..." lirih Ray. Alvi hanya memberi isyarat agar Ray diam dan tak berbicara lagi.


"Sial.... arghhh kenapa luka-luka ini sangat sakit" . Gumam Alvi meraih bahunya yang terlihat kembali darah merembes keluar. Ray menatap nanar kondisi tuannya yang sangat parah.


"Apa tuan akan sembuh dalam waktu dekat?" Gumam Ray tak sedikitpun memalingkan pandangannya.


Avril kembali membuka selimutnya dan melirik kearah Alvi yang kini memasang wajah menantang. Meskipun kini Alvi ingin berteriak keras karena lukanya seakan masuk ke tulang-tulang.


"Tuan terlalu pandai menyembunyikan rasa sakitnya."


"Kau baik-baik saja Al?" Tanya Avril yang kini suaranya sudah terdengar normal tanpa ada gemetar, dan terlihat juga kondisinya yang semakin membaik. Alvi melemparkan senyum lega melihat Avril yang perlahan pulih meskipun perban di dahinya masih menempel.


"Memang kapan aku tidak baik-baik saja?" Tanya Alvi seakan dirinya benar baik-baik saja.


"Tamunya sudah pergi?" Tanya Noah yang kini memasuki ruangan sendirian.


"Noah? Mengapa aku dan Avril di gabungkan satu kamar seperti ini?" Tanya Alvi membuat Avril menoleh heran padanya. Mengapa Alvi seolah tak ingin bersama dengan Avril.


"Yaa karena kalian type orang yang nekat. Belum sembuhpun kalian sudah memaksa bergerak, bahkan ada yang sampai berlari ke kamar lain. Jadi, untuk mengantisipasi kejadian itu terulang lagi, ya lebih baik aku satukan saja kalian." Jawab Noah santai dengan masih fokus membenahkan alat infusan Alvi dan Avril bergantian.


"Sial lenganku nyeri" gumam Alvi. Noah menoleh pada Alvi seakan mengerti apa yang sedang di rasakan Alvi.

__ADS_1


"Jangan banyak bergerak. Lenganmu hampir patah. Saat kecelakaan di London, lenganmu sudah retak, ditambah kemarin kau ikut terjun dari jembatan. Untung saja tidak sampai patah. Tapi jika kau terus memaksakan bergerak, aku tak yakin retakan itu akan cepat membaik." Ucap Noah yang kemudian dengan fokus memeriksa kondisi Alvi.


"Jantungmu berdegup sedikit lebih cepat dari yang seharusnya. Bahkan terdengar begitu keras."


"Diam kau dokter." Alvi melirik sinis pada Noah yang tersenyum puas karena menyindirnya.


"Avril.... dari tadi kau diam saja?" Noah menoleh pada Avril yang masih terlihat lemas. Noah mengesampingkan kekhawatirannya pada kondisi Avril selepas tenggelam lagi. Dan memang kasus yang tengah dialami Avril, rata-rata jarang ada yang selamat. Masih juga terlihat pernafasan Avril yang masih sesak. Sebenarnya Noah pun tak ingin menyatukan mereka dalam satu ruangan. Tapi mengingat bagaimana reaksi keduanya setelah siuman, Noah merasa ini keputusan yang lebih baik. Tapi melihat Alvi yang menahan sakit didepan Avril, kini Noah berpikir ulang untuk menyatukan atau memisahkan mereka.


"Haruskah ku pisahkan saja kalian?" Tanya Noah menunduk lesu.


"Agar aku bisa terfokus merawat dan mengobati kalian satu-satu tanpa rasa khawatir yang berlebih." Lanjut Noah yang enggan mendongak ataupun menoleh pada Alvi maupun Avril.


"Memangnya kenapa?" Tanya Alvi.


"Jangan berpura-pura lagi Alvi. Kau menahan dirimu untuk tidak memperlihatkan rasa sakitmu didepan Avril. Padahal luka mu mustahil untuk sembuh dalam waktu dekat, dan kau juga tahu bahwa kau akan berada di sini untuk waktu yang lama."


"Asalkan Avril baik-baik saja. Aku tak apa-apa Noah." Ucap Alvi tersenyum meyakinkan.


"Tapi Avril tidak baik-baik saja." Tegas Noah.


"Aku baik-baik saja Noah..." lirih Avril menoleh pada sang dokter tampan itu.


"Kalian memang pasangan yang susah di atur." Noah menghela nafas kasar dengan menggelengkan kepala.


"Jika akhirnya kau akan memisahkan aku dan Avril, mengapa kau menyatukan kita?" Tanya Alvi mendelik kesal pada Noah.


"Kau pikir aku tak tahu akan seperti apa jika kalian dipisahkan? Di satukan saja, kalian sudah hampir kabur dari tempat tidur, apalagi jika di pisahkan. Bisa saja kalian sudah mati sekarang." Ucap Noah meninggikan suaranya dengan kesal.


"Dokter, mohon jaga bicara anda. Ini rumah sakit." Tegur Ray tersenyum manis.


"Aku tahu Ray. Aku kesal pada tuanmu dan nonamu ini." Lagi-lagi Noah mendelik kesal melihat ekspresi Avril dan Alvi yang menatapnya dengan polos.


Noah menghela nafas panjang dan mengusap dadanya pelan.


Avril menatap Noah dan seakan enggan menoleh pada Alvi. Kemudian Avril mengangguk pelan tanda mengiyakan permintaan Noah.


"Baiklah..." Noah menghela nafas lega.


"Hei No--ugh....." Alvi mencoba beranjak namun kalah dengan rasa sakit yang menusuk di sekujur tubuhnya.


Noah memanggil beberapa petugas dan perawat untuk memindahkan Avril. Avril yang terkejut menatap heran pada Noah. Dia kira tidak secepat ini Noah memindahkannya. Apa lagi melihat Alvi yang kesakitan, membuat Avril semakin tak ingin pergi dari ruangan itu.


"Noah... biarkan aku--"


"Tidak Avril. Kau juga harus sembuh. Dan kau jangan khawatir pada Alvi. Aku akan mengurusnya." Noah menyela seakan mengetahui isi kepala Avril.


"Noah...." lirih Avril menarik tangan Noah. Noah perlahan melepaskan pegangan Avril dan membiarkan Avril dibawa oleh para petugas keluar dari ruangan.


Setelah memastikan Avril tak lagi terlihat, Noah mulai menangani Alvi dengan beberapa dokter lain. Sementara itu, Ray menunggu diluar dan terus berdoa agar Alvi baik-baik saja.


. Tak lama, Noah keluar dengan terburu-buru membawa Alvi yang terlelap. Ray terbelalak bertanya-tanya apa yang terjadi pada tuannya.


"Ray... nanti aku beritahu, yang jelas sekarang Alvi harus di operasi." Ucap Noah yang menyadari pikiran Ray. Ray mengangguk tanda mengerti. Ray terduduk lesu di kursi tunggu dan bersandar dengan airmata yang berderai.


"Tuan... bertahanlah. Bukankah tuan sudah berjanji pada saya bahwa tuan akan terus hidup." Gumam Ray dalam keterpurukan dan ketakutan akan kehilangan Alvi.


Beberapa kali ponsel Ray berbunyi, Tania yang lebih khawatir memutuskan untuk menyusul Ray ke rumah sakit dengan beberapa pesan yang tertera.


Tania berlari menghampiri Ray yang tengah duduk di ruang tunggu.

__ADS_1


"Bagaimana?" Tanya Tania setelah duduk di samping Ray.


"Masih menjalani operasi." Jawab Ray yang sudah dipastikan sekarang Alvi berada diruang operasi.


"Apa tuan akan baik-baik saja?" Tanya Tania tak kalah khawatir menerawang jauh menatap orang-orang yang berlalu lalang.


"Semoga saja." Ketenangan Ray menyimpan begitu banyak kekhawatiran untuk Alvi. Ketakutan kehilangan Alvi mulai menyelimuti benaknya. Meskipun Alvi terlihat kuat menghadapi apapun, tapi jika kondisinya seperti ini, rasanya begitu menyesakkan bagi Ray.


Rasa takut kehilangan kini kembali menghantuinya, setelah sekian lama mimpi buruk itu sudah terlupakan karena kehilangan keluarga dalam sebuah tragedi lautan. Ray yang kini hidup sendirian menemukan tempat untuk berpulang. Tempat dimana yang sama-sama merasakan kesepian karena kehilangan orang tua. Bedanya Alvi hanya kehilangan ayah dan ibunya, namun Ray, seluruh anggota keluarganya menghilang ditelan ombak badai saat hendak menyusul Ray ke kota ini. Ray yang merasa bersalah dan bertanggung jawab atas kematian seluruh keluarganya, memilih berdiam sendiri tanpa berkomunikasi dengan orang lain. Menjadi karyawan yang dingin sudah menjadi ciri khas tersendiri untuk Ray. Membenci diri sendiri, menyalahkan takdir, dan tidak menerima kenyataan membuat Ray terpuruk dalam diam. Itulah kenapa dalam diamnya, Ray pun sangat membenci air yang dalam dan luas.


Semula Ray yang menjadi teman bagi Alvi yang kesepian, kini keduanya merasakan hal yang sama. Layaknya saudara, Alvi sungguh tak melewatkan perhatiannya pada Ray. Dirasanya Ray adalah sosok seorang kakak yang bisa ia ajak bekerja sama dalam hal apapun.


"Bagaimana dengan nona?" Tanya Tania beranjak dari duduknya.


"Temuilah. Nona pasti sedang bersedih." Ucap Ray tanpa menjawab pertanyaan Tania. Tania mengangguk dan berlalu menuju ruangan yang disebutkan oleh Ray.


. Sampai di kamar Avril, Tania terdiam dan tak tahu harus bersikap seperti apa disaat Galih dan Nadia sudah berada disana.


Nadia menyadari kecanggungan Tania dan menyuruh Tania untuk berbicara dengan Avril. Sementara Nadia dan Galih menunggu diluar.


"Nona..." lirih Tania meraih tangan Avril.


"Apa Alvi baik-baik saja?" Tanya Avril tanpa menoleh pada Tania.


"Be-beliau... sa-saya belum bertemu dengan tuan." Jawab Tania terbata.


"Benarkah?"


"Be-benar nona... saya hanya bertemu dengan Ray saja."


"Aku harap kakak tidak menyembunyikan apapun dariku."


"Saya mana berani melakukan itu nona..." ucap Tania memaksakan senyumnya.


"Maaf nona.. saya tak bermaksud membohongi nona.." gumam Tania menahan diri agar tak menunjukan rasa khawatirnya.


"Apa aku boleh egois kak?" Tanya Avril tiba-tiba setelah hening beberapa saat.


"Hem? Maksud nona?" Tania menyernyit masih mencerna ucapan Avril.


"Kata kakak, cinta tak perlu egois. Tapi aku ingin egois, aku ingin Alvi terus berada disisiku, aku tak ingin dia jauh dariku kak. Aku tak ingin dia pergi meninggalkanku. Aku ingin Alvi seutuhnya." Ucap Avril dengan tatapan dingin, namun air mata terus berderai. Tania semula terdiam, namun tak lama, Tania melempar senyum hangat pada Avril.


"Tak apa nona.. nona berhak egois atas apa yang nona miliki. Jadi, cepatlah sembuh. Tuan juga pasti mengharapkan kesembuhan nona."


"Alvi seperti itu gara-gara aku kak... andai aku mendengarkan ucapannya untuk tidak pergi tanpa izinnya, mungkin ini tak akan terjadi." Pecah sudah tangis Avril yang sedari tadi masih terkendali, namun kali ini sudah tak bisa Avril tahan.


"Sudah... nona jangan menyalahkan diri. Ini semua sudah jalannya." Tania mendekap Avril dan menenangkannya.


Penyesalan serupa itu kembali didengar oleh telinga Tania, setelah sekian lama Tania sudah menghela nafas lega karena Ray yang sudah berlapang dada menerima kenyataan dan tak lagi menyalahkan diri. Namun siapa sangka, kali ini Tania dihadapkan pada situasi 4 tahun silam.


Dimana Ray yang saat itu naik jabatan menjadi manager, meminta keluarganya untuk tinggal bersamanya. Entah karena dorongan apa, keluarganya memilih jalur laut dari pada udara. Padahal Ray saat itu mampu membelikan 4 tiket pesawat sekaligus. Namun permintaan ayahnya yang menyuruh Ray untuk menyimpan uangnya, Ray tak bisa menolak. Karena terdengar suara bahagia sang adik yang memilih menggunakan kapal laut, Ray hanya bisa mengiyakan saja.


Sampai akhirnya sebuah kabar membuat Ray seakan mati di tempat. Sebuah badai menenggelamkan kapal besar dan menghilangkan sebagian penumpang, termasuk keluarga Ray. Belum pasti apakah mereka ditemukan atau tidak, yang jelas Ray tak bisa mencari keberadaan mereka. Sakit memang. Memimpikan kebahagiaan, namun malah kemalangan yang di dapat. Setiap hari Ray selalu menyalahkan dirinya sendiri atas tragedi ini. Sampai suatu hari dimana Ray mendapat kabar bahwa bos besar dan istrinya pun mengalami kecelakaan pesawat dan keduanya tidak di temukan. Posisi presdir akan dipercayakan pada putra tunggalnya yang baru lulus SMA. Namun sang direktur perusahaan menghandle urusan perusahaan D dibantu oleh Andre selama Alvi menjalani kuliahnya di London.


. Sampai pada akhirnya, Ray ikut menyambut sang presdir muda dengan tempramen yang di rumorkan sangat buruk itu. Pemabuk dan tak terdidik. Namun siapa sangka, Ray yang memang orang jujur menarik perhatian Alvi. Dan Alvi memutuskan menjadikan Ray sebagai sekertarisnya, dan sekaligus asisten pribadinya. Sampai akhirnya Ray mengetahui sifat asli Alvi seperti apa.


"Jadilah kakak untukku, dan partner untuk pekerjaanku." Ucap Alvi membuat Ray tertegun.


"Aku tak suka dikhianati. Sekecil apapun itu." Tegas Alvi dengan dingin

__ADS_1


"Dimengerti tuan."


-bersambung


__ADS_2