
. "Dem.. ada apa denganmu?" Noah mengusap pipinya kasar dan menatap heran pada sang kekasih.
"Mengapa kau membawa kata mati pada Alvi?." Noah tersentak mendengar ucapan Demira. Pantas jika Demira sangat marah padanya. Mungkin ini mengingatkannya pada kejadian saat di London.
"Dem... aku tak bermaksud. Maaf Dem. Aku dan Alvi hanya becanda." Noah berusaha menenangkan kekhawatiran Demira. Namun berkali-kali Demira menepis tangan Noah.
"Dem... aku baik-baik saja. Jangan menangis seperti itu. Lagi pula tidak mungkin Noah akan membunuhku." Ucap Alvi mencoba ikut menenangkan Demira yang kini terisak.
"Tetap saja aku takut. Bagaimanapun juga kau saudaraku. Dan aku takut jika kehilanganmu."
"Iya sudah... aku tahu kau menyayangiku. Sini sini aku peluk." Ucap Alvi seraya sedikit menjulurkan tangannya dan melirik pada Noah yang menatapnya tajam. Noah dengan cepat meraih Demira lalu memeluknya dengan erat.
"Pasien yang terluka berat dilarang peluk-pelukan. Itu bisa menyebabkan lukanya kembali terbuka. Bahkan bisa mengakibatkan kematian." Cetus Noah yang tak ingin melepaskan Demira.
"Aku mati bukan karena lukaku, tapi memang karena kau yang membunuhku sialan." Alvi memangku tangan dan menatap Noah penuh ejekan.
"Ayo Demi... sebaiknya kita keluar. Alvi harus beristirahat." Noah membawa Demira yang masih dalam pelukannya.
"Lepaskan aku dulu Noah... aku sulit berjalan." Mendengar itu, Alvi tertawa terbahak-bahak.
"Nah kan... ada setan masuk tuh. Kau lihat Dem. Sepupumu menjadi seperti itu." Ucap Noah yang menarik tangan Demira dan bergegas keluar dari ruangan.
"Bukankah dia seperti itu karena ketularan olehmu?" Tanya Demira polos dan masih mengikuti langkah Noah.
"Apa maksudmu?" Noah terhenti lalu berbalik menatap Demira yang mengatupkan bibirnya.
"Kau berkata bahwa aku gila?" Tanya Noah lagi dengan memangku tangan. Demira menggeleng sambil menahan tawa.
"Wahh kau sudah berani ya..." Noah semakin tajam menatap Demira yang kini tak bisa menahan tawanya.
"Bukan aku yang bicara." Ucap Demira mengangkat kedua tangannya. Noah mencubit pipi Demira dengan keras hingga Demira meringis kesakitan.
"Sakit sialan." Cetus Demira melirik sinis pada Noah sambil mengusap pipinya yang terasa berdenyut.
"Aku dokter disini. Apa yang sakit? Aku akan menyembuhkanmu sayang." Bisik Noah lalu tersenyum lebar. Namun Demira hanya memalingkan wajahnya menghindari pandangan Noah.
"Hatiku yang sakit. Apalagi jika harus menghadapi kenyataan bahwa kau masih mencintai Avil." Kini Demira menoleh dan membalas tatapan Noah. Noah menarik senyumnya dan terdiam mematung. Benaknya terus bertanya mengapa Demira tahu bahwa dirinya menyukai Avril.
"Jangan terkejut. Aku sudah tahu dari dulu. Jika bukan karena Alvi yang hadir lebih dulu dalam hidup Avil, aku tahu kau pasti akan..."
"Meskipun Alvi tak datang dalam hidup Avril, aku tak akan bisa meraihnya Dem. Beberapa kali situasi memberiku celah dan kesempatan, namun aku memang tak sejalan dengan Avril."
"Tetap saja Noah. Kau mencintai Avil kan? Kau mendekatiku hanya untuk--"
"Tidak Dem. Aku memperhatikanmu dari dulu. Aku memang tertarik dan menyukai Avril, tapi rasa itu tak lebih dari sekedar mengagumi. Jadi jangan berpikir aku tak mencintaimu." Noah mendekap Demira lalu mengusap lembut rambutnya dengan lembut.
"Aku juga tahu Dem. Kau dan Bagas masih saling menyimpan rasa kan?" Demira terbelalak mendengar pertanyaan Noah.
"Tak apa... aku tak marah. Karena aku percaya bahwa kau tak akan meninggalkanku."
"Bagaimana jika aku meninggalkanmu?" Tanya Demira melepas pelukan Noah.
"Jika itu keputusanmu, maka pergilah."
"Kau tak takut kehilanganku?"
"Bukannya tak takut, hanya saja rasanya percuma jika kita mempertahankan apa yang seharusnya kita lepaskan."
"Maksudmu?"
"Nanti juga kau mengerti." Noah menepuk dahi Demira pelan dan kemudian berlalu menuju ruang dokter lain. Demira kembali berjalan ke ruangan Alvi. Terlihat kini Alvi tengah memaksakan tidurnya. Meskipun jelas bahwa Alvi tak ingin tertidur, namun tingkahnya membuat Demira menahan tawanya.
"Jika tak ingin, mengapa dipaksakan." Ucap Demira yang duduk di sofa.
"Diam Dem. Aku harus istirahat dan sembuh."
"Ehh... ternyata menjawab."
"Dem....." Alvi menghela nafas kesal.
"Iya iya Alvi.... aku diam." Demira tertawa kecil melihat kekesalan Alvi.
. Di jalan, Galih terus menceramahi Avril. Avril yang masih lemas hanya mendengarkan tanpa menanggapi dengan bersandar pada kaca mobil.
"Avril... kau mendengarkan kakak atau tidak?" Galih melirik sinis pada Avril setelah menyadari bahwa adiknya hanya melamun tidak mendengarkan ocehannya.
"Iya iya aku dengar..." delik Avril menghela nafas berat.
"Ayah kemungkinan tak pulang ke rumah malam ini. Jadi kau tidur di apartemen Nadia saja."
"Sendiri?" Tanya Avril menoleh pada Galih.
"Kau pikir setelah kejadian itu aku akan membiarkanmu sendiri?"
__ADS_1
"Tapi saat aku di rumah sakit, aku selalu di tinggal sendiri."
"Eh... emmm... haha... emmm itu...."
"Sudahlah kak. Aku tahu kakak sangat sibuk. Dan itu semua salahku." Lirih Avril kembali fokus bersandar dan menerawang jauh kedepan.
"Avril.... jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini sudah terjadi. Tak ada yang harus dipersalahkan. Jikapun memang harus ada yang salah. Mungkin dari awal cerita harusnya dulu ayah tidak mengalami penurunan saham dan hampir bangkrut. Mungkin ayah bisa membantu om Adam dan Aldi tak perlu menerima perjodohannya dengan temanmu. Andai saja..."
"Tak perlu berandai-andai kak. Semua sudah terjadi dan tak perlu ada yang di sesali. Aku menerima jalannya. Karena itu juga, aku bertemu dengan Alvi."
"Kapan kalian menikah?" Tanya Galih sedikit mengejutkan Avril.
"Aku ingin lulus dulu kak. Dan ingin merasakan bagaimana mencari uang."
"Kau ini sudah punya semua yang kau mau. Dan juga kau tak suka berbelanja. Mengapa ingin bekerja?"
"Kak... aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya membeli barang dengan hasil kerja kerasku sendiri. Bukan hanya meminta pada kakak dan ayah."
"Siapa bilang kau akan terus meminta pada kakak dan ayah."
"Maksud kakak?"
"Setelah kau menikah dengan Alvi. Kau akan menjadi nyonya besar dan Alvi sendiri tak akan mengizinkanmu bekerja."
"Tahu dari mana? Aku akan membujuk Alvi agar aku bisa bekerja meskipun sudah menikah nanti."
"Hemmmmm jadi benar kau bersedia menikah dengan si monster penguin itu?" Ejek Galih membuat Avril salah tingkah.
"Yaa... kan.. i-ini hanya.... ihhh sudahlah. Kakak selalu mengejekku." Avril memalingkan wajah dan menggembungkan pipinya.
"Ahahaha kau marah?" Galih mencubit pipi Avril dengan gemas. Avril semakin kesal dan membalikan tubuhnya hingga membelakangi Galih.
"Hei... kau seperti kucing Nadia jika sedang marah. Hahhaa"
"Ihhhh kenapa mama melahirkan anak nakal sepertimu. Mama... kak Galih jahat. Dia mengejekku terus." Teriak Avril didalam mobil.
"Avril yang nakal ma... pukul saja dia..." Galih tak kalah berteriak dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ihhh kakak cengeng. Mau menangis ya..." ejek Avril sedikit tertawa dan menyenggol lengan Galih yang tengah mengemudi. Galih mengusap kelopak matanya yang berembun dan melemparkan senyum pada Avril.
"Kau yang kalah Avril... air matamu sudah sampai dagu." Galih tak kalah mengejek Avril.
"Kakak yang mulai." Rengek Avril mengusap wajahnya yang sudah berlinang air mata.
. Sampai di makam, Avril membeli bunga terlebih dahulu. Keduanya terkejut melihat makam sang ibu sudah ada yang menziarahi. Terlihat dari bunga yang masih sedikit segar dan tanah yang masih basah tersiram air. Avril dan Galih saling berpandangan seolah saling bertanya siapa yang sudah menziarahi makam ibunya.
Avril sangat fokus mendoakan sang ibu. Hingga selesai, Avril beranjak dan diikuti Galih dibelakangnya.
"Aku ingin ke rumah dulu." Ucap Avril sambil terus berjalan.
"Iya" jawab Galih singkat.
. Hari-hari berganti, semakin lama, luka Alvi mulai membaik. Begitupun dengan Avril. Satu bulan masa magangnya ia gantikan dengan sebuah makalah laporan. Karena jika melanjutkan turun ke lapangan, selain sudah tinggal menghitung hari, kondisi Avril pun masih tak memungkinkan untuk melanjutkan magangnya.
Avril perlahan membuka pintu kamar Alvi. Kamar yang luas dengan fasilitas VIP. Terlihat disana Demira tengah duduk di sofa sambil membuka satu persatu lembaran majalah. Dan Alvi tengah tertidur pulas.
"Av--"
"Sut...." Avril menyela menyuruh Demira diam agar Alvi tak terbangun. Avril menghampiri Alvi dan duduk di kursi samping ranjang. Avril menatap nanar wajah Alvi yang pucat. Teringat kembali penyesalan Galih tempo hari. Namun Avril berpikir ulang bahwa jika seandainya Aldi masih dengannya, apakah hubungannya akan baik-baik saja? Dan apakah dirinya akan bertemu dengan Alvi? Pada dasarnya semua sudah ditakdirkan dan berjalan sesuai alur yang seharusnya. Dan seharusnya tak ada penyesalan apapun.
"Dem..." panggil Avril tanpa menoleh ke belakang.
"Ya.." Demira mendongak menatap rambut Avril yang terurai.
"Apa yang kau sesali sekarang?" Tanya Avril yang terdengar serius.
"Bicara apa kau Avil..." Demira tersenyum kemudian kembali fokus pada majalah.
"Aku menyesal bertemu dengan Alvi Dem." Lirih Avril namun masih terdengar oleh Demira. Demira menghentikan aktifitasnya dengan masih menatap pada majalah.
"Jika saja Alvi tak bertemu denganku, mungkin dia tak akan terus-menerus terkena masalah dan kejadian ini juga mungkin tak akan menimpanya." Lanjut Avril menerawang jauh pada cincin yang melingkar di jari manis Alvi.
"Andai... andai saja Dem. Saat ini jujur saja aku tak sanggup melihat kondisi Alvi yang seperti ini. Andai saja kita tak bertemu. Mungkin kak Amel juga masih ada sekarang."
"Avil hentikan."
"Dem... mengapa aku tak mati saja saat itu?"
"Avil cukup." Demira meletakkan majalah dengan kasar. "Apa yang kau pikirkan? Al... hentikan dia agar tak bicara terus." Avril menoleh pada wajah Alvi yang menatapnya datar.
"Kau jelek Al." Ucap Avril dengan ekspresi tak kalah datar. Alvi tak menanggapi apapun. Tangannya meraih kepala Avril dan menepuknya pelan.
"Pergilah. Aku tak ingin menjadi penghalang antara kau dan Aldi." Avril meraih tangan Alvi lalu menggenggamnya erat.
__ADS_1
"Al..." lirih Demira yang beranjak dari duduknya.
"Apa kau benar-benar rela jika aku pergi?" Tanya Avril meletakan tangan Alvi dipipinya.
"Menurutmu?"
"Jika tak rela, jangan bicara seolah kau sangat siap menghadapi kehilangan."
"Jika itu membuatmu bahagia, aku harus rela kan?"
"Tapi aku yang tak rela meninggalkanmu."
"Kau kenapa Avril?" Alvi menyernyit heran dengan sikap Avril hari ini.
"Aku takut kehilanganmu sialan." Avril menunduk dengan masih menggenggam tangan Alvi.
"Kau jujur sekali sayang." Alvi terkekeh kemudian beranjak dan duduk bersandar.
"Aku ingin pulang." Rengek Alvi menatap infusan yang menancap di tangannya.
"Jangan keras kepala. Kau belum pulih."
"Kau tak menangis lagi?" Avril menggeleng kemudian tertawa kecil.
"Apa aku hanya jadi pajangan disini?" Gumam Demira yang menatap konyol pada pasangan dihadapannya. Demira duduk dan memijit pelipisnya kemudian menghela nafas berat.
"Jika kau iri, panggil saja Noah kesini." Cetus Alvi yang menyadari ketidak nyamanan Demira.
"Diam kau sialan." Demira menatap sinis pada Alvi yang tertawa mengejeknya.
Beberapa saat kemudian, datang segerombolan para pengacau hidup Alvi. Yang tak lain adalah Reno cs.
"Dea..." panggil Avril setengah berteriak.
"Avril..." Dea tak kalah girang kemudian memeluk Avril.
"Kau sudah sembuh?" Tanya Dea setelah melepaskan pelukannya. Avril mengangguk menanggapi.
"Emm Avril... maaf ya. Aku sempat berpikir bahwa kau adalah selingkuhan Reno." Seketika ruangan menjadi hening saat kata itu terlontar. Kemudian secara bersamaan, tawa mereka pecah. Alvi hanya tersenyum melihat Avril yang tengah tertawa.
"Aku semakin mencintaimu." Gumam Alvi yang enggan memalingkan pandangannya dari Avril.
Begitupun Demira yang tak ikut tertawa. Demira hanya tersenyum menatap kebahagiaan Avril. Meskipun teman, namun tetap saja ada rasa cemburu jika melihatnya dekat dengan yang lain.
"Tanpa aku pun kau baik-baik saja Avil..." gumam Demira yang beranjak dan diam-diam hendak berlalu meninggalkan tempat. Avril yang menyadari, lalu meraih tangan Demira dan membawanya memasuki obrolan mereka.
"Kau tahu? Demi dan Bagas itu..."
"Avil....." Demira dan Bagas terbelalak kemudian menutup mulut Avril bersamaan.
"Ehemm hemmm heeeeemmmmmm..." sindir Aldi dan Reno. Sontak Demira menarik tangannya, namun Bagas masih menutup mulut Avril.
"Hei Bagas. Jika kau masih ingin hidup, jauhkan tanganmu dari Avril." Tegas Alvi membuat Bagas merinding mendengarnya.
"Suaramu lebih menakutkan daripada hantu Al..." cetus Bagas mengusap lehernya.
"Dia kan memang hantu." Cetus Reno.
"Hantu apa?" Tanya Bagas yang menyadari candaan Reno.
"Hantu hati Avril... ahahaha" Reno tertawa puas.
"Ishhh kalian mau apa kesini? Jika mau menggangguku, nanti saja tunggu aku sembuh." Ucap Alvi mendelik kesal.
"Aku merindukanmu Alvi..." Bagas beranjak menghampiri Alvi dan merentangkan tangannya.
"Menjauh dariku. Avril.... tolong aku...." teriak Alvi mengambil bantal sebagai perisai agar Bagas tak menyentuhnya.
"Avril....." suara Alvi kian memekik karena ketakutan.
"Mengapa kau takut padaku? Apa kau tak ingat bahwa kau pernah mengajakku kencan?"
"Sudah kubilang aku mengajak Avril bukan kau sialan. Aku juga masih normal. Kau mau aku bunuh?" Mendadak suara Alvi kembali menyeramkan.
Pintu terbuka dan memperlihatkan Noah dengan seorang perawat cantik. Demira menatap tajam pada Noah. Noah menjadi gugup mendapati tatapan intimidasi Demira.
"Anak-anak... papa Alvi nya harus menjalani pemeriksaan, jadi kalian keluar dulu." Ucap Noah tersenyum ramah.
"Baik pak dokter." Jawab Avril cs serempak dan kemudian keluar dari ruangan.
"Ku bunuh kau jika terlalu dekat dengannya." Bisik Demira terhenti disamping Noah. Lirikan penekanan.
-bersambung
__ADS_1