
Pagi terlalu cepat datang sepertinya. Aku nyaris belum tidur, menangis semalaman. Dion… Sebenernya aku rindu. Dan aku membayangkan Dion sedang apa? Aaaahhh, entah apa yang hancur di rumah nya, mungkin orang tua nya harus membeli perlengkapan kamar baru hari ini. Dan aku menunggu orang tua nya pasti salah satu akan menghubungi ku. Tapi ntah lah, kalau Dion yang akan melarang mereka.
Aku ingin minta izin, tidak bekerja hari ini, tapi aku gak enak hati dengan Nando. Akhirnya aku tetap berangkat kerja.
Briefing pagi di FO aman, tapi Nando bolak balik melirik ku. Dari aku datang, Nando seperti ingin mengajak ngobrol tapi situasi belum memungkinkan, teman-teman juga seperti nya bertanya-tanya tentang mood ku hari ini.
Dan akhir satu pesan masuk
“ Hei.. kamu oke? “ Aku lirik si pengirim pesan dari di kantor akuarium nya, Nando tersenyum lebar maksa.
“ Oke…” balas ku
“ Mau di beliin Ice Cream? Biar senyum, jelek manyun, teman-teman juga agak takut dari tadi mau ngajak kamu ngomong” mungkin sebenernya Bapak Bos ini mau negur ya, tapi cara nya halus banget. Tapi gak mungkin memang aku berdiri di counter FO dengan mata sembab dan muka manyun ini.
“ Gak lah, aku izin di sini dulu aja ya, gak kedepan, gak enak sama tamu” jawab ku
“ Ok, di enakin dulu aja” Jawab Nando.
Aku coba mengerjakan pekerjaan ku di meja kerja ku saja, ku buat sesibuk mungkin dengan beberapa laporan, tapi kalau sesekali teringat Dion, aku narik nafas panjang, biar gak nangis.
Ada pesan masuk lagi di HP ku
“ Wooyy gak lunch??” Kali ini Risna
“ Skip dulu Sist, lagi kenyang” Jawab ku bohong. Padahal dari makan malam kemaren, aku belum makan apa pun, cuma air putih aja yang bolak balik aku minum, buat kembung.
“ Wokgeeeh, nanti pulang sama aku ya, kita makan bakso..”
“ Boleh Sist, udah punya helm lho sekarang akuuuuuw” balas ku, sambil tersenyum. Ya, mungkin makan bakso dengan Risna bisa buat aku ketawa. Apalagi aku memang suka sekali Bakso di kota ini. Berbeda dengan Bakso yang ada di kota ku.
__ADS_1
“ Oh ya? Kok bisa? Hahahahaaaa baeklah, akika makan dulu ya Sist”
“ Ok “
Aku melanjutkan pekerjaan ku. Gak ada pesan dari Dion, telpon dari orang tuanya, dan waktu pun berlalu.
Nando menghampiri ku saat aku siap-siap mau pulang.
“ Pulang nebeng aku? “ tawarnya.
“ Gak, aku udah terlanjur janji sama Risna, mau makan bakso dulu,,hahahhaaa,, mau makan yang panas dan pedas, enak kayak nya, bisa ngelepasin sesak di dada” jawab ku mendramatisir.
“ Aku gak boleh ikut? Pengen tau Bakso yang bolak balik di kisahkan kepada ku enak sampai mampus itu…” Nando menjawab mendramatisir, dengan ekspresi seorang pembaca puisi, mungkin biar aku tertawa.
“ Adaa aja, boleh, silahkan Pak Bos, buntutin dari belakang ya, aku sama Risna naik motor pakai helm baru” Jawabku sambil mengedipkan mata .
Aku tidak ragu membawa Nando ikut bersama ku dan Risna, karena Nando dan Risna juga sangat dekat, kami sering makan siang bareng bersama anak-anak accounting.
Nando membuntuti aku dan Risna dari belakang. Aku dan Risna mengobrol tentang artis lah, tentang orang-orang di jalan, dan tertawa besar bersama. Ya, untung ada Risna, bisa sejenak aku melupakan Dion. Walau aku gak bisa bercerita tentang masalah ku dengan Dion, tapi bersama Risna aku cukup lega.
Sesampai nya di warung bakso sederhana, tapi memang sangat enak, aku memesan bakso dan es campur. Dion dan Risna juga memesan yang sama. Tidak lupa aku minta tambahan Bakso goreng yang baru aku temui di kota ini 1 porsi.
Selama makan, aku, Nando, dan Risna hanya menceritakan hal-hal konyol yang bisa buat tertawa.
Sangat lama kami mengobrol, untung nya gak di usir aja sama yang punya Warung Bakso.
*
*
__ADS_1
*
Butuh Ibu…
Waktu ngobrol berakhir, Karena mulai senja, dengan beberapa alasan, akhirnya Risna langsung pulang, dan aku di antar Nando ke kos.
“ Gimana? Butuh teman cerita? “ Tanya Nando
“ Gak dulu, aq lagi malas bahasnya, lagi malas nangis lagi, dada ku sesak, “ jawab ku. Padahal tadi udah seneng banget, sejenak lupa Dion, sekarang saat menuju kos, dada mulai sesak lagi, membayangkan aku bakal sendirian nanti, pasti keingat lagi.
“ Mau langsung pulang atau ada yang mau di cari dulu Bi?” Tanya Nando lagi
Tiba-tiba saat Nando mengatakan “ Langsung Pulang “ air mata langsung aja ngucur keluar, dan nangis lagi.
“ Eh, kenapa Bi?” Tanya Nando panic, langsung meminggirkan mobilnya.
“ Aku takut di rumah nangis lagi sendirian, sesak banget Ndo, aku sama Dion sementara ini break dulu, aku lega, tapi entah kenapa kok rasa nya dada ini sesak ngingat Dion..” Aku semakin terisak.
“ Jadi gimana? Mau pulang atau gimana? “
“ Aku gak tau,,, aq pengen nangis…”
“ Mau gimana ya Bi ? “ Nando terlihat panic dan bingung, sementara aku masih terisak isak menangis.
Mobil kembali berjalan, Nando tidak bertanya apapun, tidak mengatakan apapun, ia hanya mengusap-usap rambut ku. Mobil terus bejalan, sudah jauh sekali kalau memang Nando ingin mengantarku pulang. Tapi aku tidak mau bertanya, karena aku gak sanggup berfikir, terserahlah Bapak Bos mau bawa kemana saja, karena jujur aku gak mau sendiri menangis di kamar. Ada rasa ingin pulang ke kota ku, ketemu Ibu ku, akan aku ceritakan semua, karena aku termasuk yang introvert, jadi gak pernah membicarakan masalah pribadi ku ke teman-teman ku. Hanya kepada Dion dan Ibu selama ini.
Tapi, aku takut aku akan datang kembali ke Dion, aku akan kalah. Dan aku tidak akan pernah kembali ke kota ini, dan karir ku tidak akan berjalan seperti rencana ku sebelumnya, seperti impian ku.
Ah, entah jalanan dimana ini, bersama Risna atau dengan Nando sendiri, aku belum pernah sekali pun berjalan daerah ini, kiri dan kanan jalan sangat minim penerangan, tapi aku lihat tidak terlalu banyak pohon, hanya ilalang, tidak banyak rumah penduduk apalagi bangunan, jalan berbelok-belok, tidak ada trotoar tapi tanah berbukit bukit. Ingin bertanya, tapi entah kenapa aku tidak lakukan.
__ADS_1