Rindu Dari Bian

Rindu Dari Bian
Berkhianat


__ADS_3

Sampai di rumah ku, Ryo tidak singgah, ia langsung pulang karena mau lngsung ke RS.


Tidak ada pertanyaan dari Ibu sepulang nya aku. Sudah pukul 3 siang. Aku lalu menelpon Nando. Nando kembali menanyakan apakah aku mau di jemput. Aku hanya berfikir Nando begitu gampang membuang uang. Aku pastikan tidak perlu menjemputku. Karena aku bisa pulang sendiri. Nando tinggal menunggu ku di bandara.


*


*


Sampai malam tiba, tidak ada yang menanyakan bagaimana pertemuan ku dengan Ryo. Aku dan Ryo pun nyaris lupa untuk bertukar nomor HP.


Aku pun lanjut untuk tidur. Besok pagi aku akan berangkat. Aku bercerita panjang lebar malam ini dengan Lusi sebelum tidur. Di akhir pembicaraan, Lusi menyampaikan bahwa sebaiknya aku mengikuti kata hati ku. Kalau aku yakin untuk Nando, maka bertahan lah. Aku hanya tertawa, karena adik yang Abegeh ini bisa-bisa nya menasehati kakak nya untuk masalah pelik dan riweh ini. Dia lupa jam terbang kakak nya cukup tinggi. Apalagi beberapa buln terakhir ini, masalah nya gak kaleng-kaleng.


*


*


Pagi datang. Aku dan adik-adik ku berkumpul di meja makan untuk sarapan. Aku seperti dejavu karena suasana ini dulu tiap hari aku rasakan. Ibu memang mewajibkan kami sarapan sebelum berkegiatan tiap hari. Lalu Lusi dan Rori berangkat menggunakan mobil. Aku bersyukur Lusi tumbuh seperti ku. Jadi Figther, gak manja. Aku sedikit tenang meninggalkan kedua orang tua ku.


Gak lama kemudian, terdengar lagi suara pagar di buka, dan mobil masuk. Aku langsung ke depan, ternyata Ryo. Ya Tuhan, dokter ini. Benar-benar pemaksa.


Aku tidak terlalu terganggu dengan Ryo saat ini. Karena walaupun terkesan memaksa, dia tidak membuat aku tidak nyaman. Ryo sangat sopan.


" Hey Ryo... " Sapa ku. Dan tiba-tiba terdengar langkah Ibu juga mendekat.


" Eh ada dokter, masuk dok, sarapan dulu" Ajak Ibu ku


" Ya bu, saya mau ngantarin Bian ke bandara"


Jawab nya sambil tersenyum melihat reaksi terkejutku. Tapi baiklah. Terserah dia saja. Gak mungkin juga aku tolak sekarang.


Lalu kami bertiga masuk ke rumah, ke meja makan. Ibu dengan sigap menyiapkan minum dan piring untuk Ryo. Aku hanya menggeleng-geleng kepala. Kapan Ibu bisa berlaku yang sama ke Nando.


" Bu, Sena mau siap-siap, ambil tas dulu ya Bu, langsung mau berangkat" Ucapku setelah nasi goreng ku habis.

__ADS_1


" Ya, biar dokter Ryo Ibu yang temani dulu"


Aku pun masuk ke kamar, mengecek kembali barang bawaan ku. Tidak seperti kemarin, tas ku kali ini agak berisi, karena aku membawa beberapa baju yang ingin aku pakai disana, yang sebelum nya gak sempat aku bawa.


Setelah selesai bersiap, Ryo pun sudah di ruang tamu bersama Ibu. Aku tidak ikut duduk, aku meletakan tas ku di teras, dan masuk kembali untuk bertemu ayah. Aku ingin berpamitan.


" Yah, Sena balik dulu. Ayah cepat sembuh ya, yang semangat terapi nya. Ikuti semua kata dokter ya yah..." Aku sangat sedih melihat kondisi ayah. Ayah pun terlihat sedih melepaskan kepergian ku.


" Ayah jangan sedih, kalau ayah rindu Sena, pengen sena datang lagi, Sena bakal datang kok" Lalu aku pun mencium tangan ayah.


" Sena pergi ya yah...." Ku cium juga kepala ayah. Semoga masih ada kesempatan ayah untuk melihat pernikahan ku.


Aku lalu berpamitan pada Ibu, begitu juga Ryo. Bahkan Ryo menyempatkan diri untuk melihat kondisi ayah sebelum berangkat.


*


*


Aku pun berangkat ke bandara bersama Ryo.


" Bisa sih, malah mungkin yang wajah bisa duluan sembuh. Asal ayah kamu semangat dan rutin mau terapi"


" Sejauh ini? Rutin beliau mengikuti terapi ?"


" Setau aku iya. Lusi rajin mengantarkan nya. Lusi itu persis kamu lho Bi"


" Oh ya? kalau begitu, gimana kalau kamu nikah nya sama lusi aja?"


" Apa sih Bi? Aku suka nya sama kamu, kenapa di suruh nikahin Lusi?"


" Ya kan wajah kami mirip, perilaku juga mirip. Aku juga merasa Lusi makin besar, makin persis aku. Aku lega meninggalkan orang tua ku bersama lusi"


" Ya, tapi aku mau kakak nya, gimana donk? Kalau jawab Iya aja ni sekarang ya,,, langsung booking WO ni"

__ADS_1


" Hahahahaaaa... Ada ada aja"


Kembali Ryo menyodorkn telapak tangan nya kepada ku. Aku juga sudah tau mksudnya. Baiklah, aku tidak bermaksud menghianati Nando. Tapi sudahlah, orang ini sudah dengan segenap hati merawat ayah ku. Aku akan meminta nya semaksimal mungkin untuk mengobati ayah ku sebagai balasannya nanti.


Dan sampai juga kami di bandara. Ryo tidak turun. Tapi aku turun di parkiran yang tidak begitu jauh dari pintu masuk bandara.


" Aku pamit dulu ya. Titip ayah ku. Aku percaya kamu bisa bantu Ayah sampai sembuh"


" Boleh aku minta nomor HP Bi?"


" Oh ya, aku mau nanya, kenapa kamu gak minta nomor Hp ku pada orang tua ku, kalau kamu memang benar mencari aku"


" Aku gak mau. Aku mau dapat dari kamu langsung "


" Oke aku kasih. Tapi Ryo, aku punya pacar disana, dan kami benar-benar saling mencintai. Aku mohon, jangan chat aku dengan bahasa-bahasa yang bisa memancing kecurigaan nya. Aku gak mau dia berfikir aneh-aneh, atau aku menghianati nya "


" Oke, deal"


Lalu aku memberikan nomor Hp ku pada Ryo. Begitu juga Ryo.


" Aku pamit. Makasih ya Yo"


" Boleh aku cium kening kamu Bi?"


" Aduh yo,,, udah genggam tangan sekarang kecup kening pula.... Kamuuu"


Tiba-tiba Ryo sudah mengecup kening ku saja.


" Maaf, terserah kalau mau marah. Aku tunggu kamu Bi,,, Sukses ya" Ucapnya.


Dan aku pun hanya bisa menghela nafas panjang. Rasa nya setelah ini aku ingin mencuci muka ku. Bukan karena jijik, tetapi aku merasa menghianati Nando. Hati ku jadi sedih. Aku ingin marah dengan Ryo, tapi tidak aku lakukan. Sampai di ruang tunggu, aku mengambil tisu basah dari tas ku, dan mengelap bekas kecupan Ryo tadi. Tapi tetap aku merasa gak bersih-bersih. Tetap aku merasa aku butuh mencuci muka ku. Kesal, marah, sedih, tetasa jadi satu di hati ku saat ini.


Aku pun pergi ke toilet. Biarlah make up ku hilang, aku gak perduli. Aku merasa risih dengan perbuatan Ryo tadi.

__ADS_1


Seketika perasaan ku yang awal nya tadi tidak terganggu dengan Ryo, segan, berubah jadi benci. Aku merasa Ryo keterlaluan. Dia tidak menghormati ku. Dan ini buat mood ku berubah seketika. Aku ingin cepat bertemu Nando. Aku ingin cepat masuk pesawat dan terbang, lalu bertemu Nando.


__ADS_2