
Kalau aku ingat-ingat entah berapa kali Nando memberikan kejutan-kejutan yang aku gak tau berapa nilai nya bagi Nando. Tapi bagi aku, semua selalu istimewa.
Mulai saat Nando memberi ku kejutan tengah malam ke pantai karena mengangis. Mengantarkan ku makan malam padahal sedang menunggu kedatangan orang tua nya, Nonton film romansa padahal awal nya ribut karena dia mau nonton film laga, tiba-tiba temani aku cuti, dan sekarang, saat aku memilih ingin kembali ke kota itu, Nando malah ngajakin liburan.
Bahkan hanya sambil tiduran, dengan aplikasi burung biru, Nando menyelesaikan semua itenerary nya selama liburan. Satu hari lagi kami di kota ku, aku akan mengajak nya mengunjungi sekolah ku, dan mengajak makan makanan yang sudah membuat aku terkenang-kenang karena jauh.
Pagi, setelah selesai sarapan kami mulai berkeliling. Dan sekali lagi aku meyakinkan Nando, bahwa di kota ku tidak ada objek wisata alam, tapi kalau urusan nya kulineran dan jajanan, disini surganya.
" Sama sekali gak ada sawah ya Bi, hahaha, pantasan kamu bahagia sekali kalau liat sawah…" ejek nya.
" Tapi kamu bakalan nambah berat badan kalau tinggal disini 1 minggu aja.."
" Bakal tinggal disini kok, kamu lupa, kalau kita bakal megang hotel Bintang Delapan? aku serius lho minta itu ke mama, biar kamu bisa dekat sama keluarga kamu.."
" Kalau kemaren aku semangat Yank, kalau sekarang udah lemes, aku skip dulu lah.."
" Ya hubungan jelek sekarang bukan berarti jelek selama nya kan? besok aku contekin taktik Dion buat ngunjungin keluarga kamu terus tiap hari..mana tau manjur,, hahahahhaaa"
Aku langsung memukul lengan berotot Nando. Kami melanjutkan berkeliling kota ku, dan baru kembali ke hotel saat perut kami sudah mulai mau pecah karena kekenyangan.
Aku berbaring di kamar Nando, saat Nando sedang mandi. Aku melihat-lihat Hp ku, memeriksa chat dan memastikan operasional FO baik-baik saja disana. aku selalu update kondisi hotel di group chat. Ruza, supervisor FO syukurnya mampu menjalan kan FO saat ini dengan auto pilot.
Tidak lama kemudian Nando keluar dari kamar mandi nya. Bagi ku, ini salah satu pemandangan yang menyegarkan mata. Saat Nando keluar hanya dengan handuk terlilit di pinggang, rambut basah, dan 6 potong roti sobek keliatan di perut nya. Dan yakinlah, sepersekian detik lagi tiba-tiba dia sudah sampai di dekat ku. Mari bersiap dengan cobaan yang satu ini.
*
*
__ADS_1
Benar saja, Nando dengan handuk nya menghampiri ku, lalu berbaring di belakang punggung ku, dan memeluk ku dari belakang.
" Besok kita gak ada wisata alam ya Yank.."
" Ya… jadi kita main-main aja? harus nya bawa anak kecil, jadi waktu poto-poto lucu,, mana tau ada minion nya bisa kita ajak poto"
" Hahahahhaaa… mesti buat dulu yank… Gak bisa di download itu… tapi emang dari dulu aku pengen kesana sama keluarga, ngebayangkan hiruk pikuk nya bawa anak kesana, karena pasti mereka ngeliat semua di sana jadi aktif sekali"
" Terus mau bawa anak siapa besok? pinjam anak orang ?"
" Yuk buat yuk? " goda Nando,dan aku langsung memutar badan berhadapan dengan Nando lalu mendaratkan satu tinjuan ke perutnya.
Dan hari ini berakhir di tempat tidur dengan segala gurauan dan lain lain, godaan yangbsulit di tolak.
Tidak ada makan malam hari ini, karena perut gak ada celah lagi buat masuk makanan. Aku pindah ke kamar ku, dan merencanakan tidur setelah mandi. Nando juga sudah lima Watt saat aku tinggalkan tadi. Kelelahan Pak Bos.
Aku coba memejamkan mata, tapi bukan nya bisa tidur, malah aku berair mata, lebih enam bulan aku gak ketemu keluarga ku, tapi baru ketemu beberapa jam, sudah harus aku tinggalkan, bahkan sampai sekarang tidak ada pesan atau telpon yang menanyakan aku dimana, baik dari orang tua ku, atau adik-adik ku. Dan Dion kembali menjadi sasaran kebencian ku.
Tangis ku semakin kencang, sampai sulit bernafas, dan aku mencoba bangkit, duduk sambil bersandar. Rasa nya ingin pindah lagi ke kamar Nando, tapi aku urungkan. Aku coba menikmati kesedihan ini sendiri. Biarlah Nando istirahat.
Aku ambil Hp, aku coba hubungi Ibu, aku buang semua keegoisan ku. Aku hanya ingin pamit. Dan gak tau kapan aku balik lagi ke sini. Semoga kondisi cepat membaik, dan aku bisa bertemu mereka.
Alih-alih menelpon ibu, aku malah menelpon Rori. Aku berharap bisa dapat info dari Rori kondisi disana.
" Dek…sudah tidur??" sapa ku
" Ya kak,,,belum, kakak dimana? udah berangkat lagi?"
__ADS_1
" Kakak berangkat besok.. gimana kondisi di rumah?"
" Kakak menginap di hotel Bintang Delapan?"
Deg, aku terkejut dengan pertanyaan Rori. Apa orang tua Dion sudah menceritakan semua ke Dion, sampai mereka tau hotel ini milik Nando.
" Tau dari mana dek?" tanya ku
" Kemaren Mas Dion bilang ke ayah Ibu, kalau kakak pasti nginap disana dan dia beritahu kalau mas Nando kemaren yang punya hotel itu "
" Terus, gimana tanggapan ayah ibu?"
" Mereka diam saja, tapi sampai sekarang ayah masih diam kak, ayah kelihatan marah besar. Mas Dion juga gitu kemarin. Kakak, gimana acara minggu depan kak?
" Kakak gak mau,,, kakak gak mau nikah sama mas Dion Dek"
" Kasian ayah ibu kak,, tadi ibu cerita ke kak Alin,,, Ibu bisa malu, apalagi ke keluarga Mas Dion"
" Maaf kan kakak dek,, bilang sama ayah ibu, kakak minta maaf.. udah dulu ya dek, besok pagi kakak udah berangkat lagi, padahal kakak masih rindu…"
" Ya kak,,, kakak hati-hati ya.."
Lalu telpon aku putuskan, dan merenung, apakah yang aku lakukan benar atau salah. Tapi sekali ini aku gak mau mengalah lagi dari Dion. Sudah, aku gak sanggup, dan aku tidak ingin teruskan.
Aku kenbali berbaring. Berharap besok pagi lebih baik daripada hari ini. Kasihan Nando, sudah dengan berbagai cara menghiburku, tapi aku masih sedih. Padahal aku gak pernah nanya perasaan dia setelah kejadian kemarin.
Apakah Nando marah? Karena kemarin sempat Dion memukulnya, lalu bagaimana dia memandang kondisi keluarga ku saat ini? Dan apakah dia dengar kata-kata ayah mengenai keyakinan kami.
__ADS_1
Setiap teringat itu, aku langsung down. Aku malas membahas nya sekarang. Aku butuh Nando, apa pun kondisi nya saat ini, aku butuh dia, butuh apa cinta? Tapi cinta memang saling membutuhkan, dan saat ini cuma dia yang ada dalam kepala dan hati ku. Semoga Nando benar-bebar tulus, dan doa ku untuk terakhir kali malam ini, semoga semua ini cepat berlalu.