
"Hallo Ibu…."
" Sena… Sehat kamu nak? lagi dimana?"
"Sehat bu, Ibu sehat? Sena lagi di kos bu"
" Ibu sehat, adik2 sehat, ayah juga sehat"
" Rinduuu bu, Sena udah pengen sekali pulang, tapi harus sabar…"
"Ibu juga nak, semoga cepat pulang ya, 2 bulan lagi kan, gak sabar ibu jumpa sama kamu"
" Iya bu, pengen ngobrol sama Ibu, rindu ngusilin Rori bu,, dia rindu Sena gak ya bu?"
" Rindulah Sena…. makanya Dion selalu datang menghiburnya. Mereka sering keluar jalan,,,"
Entah kenapa tiap di telpon Ibu selalu cerita tentang Dion. Dan Dion juga kenapa masih datang ke rumah? Padahal dia sama sekali tidak menghubungi ku lagi. Jujur aq jadi takut pulang. Kalau oulang, takut di nikahin.
Setelah bicara panjang dengan Ibu, akhirny telpon di tutup. Tapi pikiran ku lagi-lagi ke Dion. Aku gak habis pikir, apa rencana Dion di balik semua ini. Apa yang akan terjadi kalau aku pulang?
Menikah dengan Dion mungkin impian banyak gadis di kota ku. Impian menjadi menantu seorang pengusaha wanita yang disebut Srikandi kota ku, juga si ayah yang merupakan politikus hebat, pejabat tersohor.
Aku gak perlu kerja pagi, hidup ku sudah terjamin, begitu juga keluarga ku. Ini sudah terbukti selama ini. Dion gak pernah pelit dengan keluarga ku, ini contohnya, walau aku gak ada di sama, dia tetap mengajak keluarga ku jalan-jalan atau makan keluar.
__ADS_1
Tapi Dia bukan pilihan ku. Aku mau Nando. Dengan Nando apapun itu, aku nyaman. Nando bukan cuma pacar, Nando bos ku, dia membimbing ku dalam pekerjaan. Banyak ilmu yang sudah aku dapat, dan dalam beberapa bulan ini, aku berfikir untuk mencari posisi FOM, karema ilmu dari Nando.
Nando adalah teman. Dia benar-benar bisa mengimbangi aku dalam bersosialisasi dengan teman-teman ku, dia tetap membiarkan aku main dan pergi dengan teman-teman ku, tanpa curiga atau cemburu.
Beberapa bulan dengan Nando, aku sangat bahagia, dia lucu, gak selalu serius. Semoga dia gak berubah. Selalu seperti itu, selalu menatap dengan cinta. Aku selalu rindu tatapan mata Nando yang menatap ku dengan senyum manis.
Gak lama kemudian pintu kos di ketuk. Aku bari sadar, aku janjian sama Nando, tapi aku belum mandi. Haduuuhh…
Aku bergegas membuka pintu, dan ku dapati Nando sudah rapi, wangi, dan senyum hambar.
" Kok belum siap-siap??" tanya nya.
" Lupa Bos,,, sebentar ya, masuk dulu" jawab ku merasa bersalah.
Nando masuk ke kamar. Aku pun mencari baju yang akan aku pakai setelah mandi. Celana jeans, kaos lengan pendek.
Selesai mandi,.masih dengan rambut basah terurai, dan masih menggunakan handuk, aku keluar dari toilet, Mata Nando langsung membulat melihat ku.
" Apaan wooy" ucap nya.
Tanpa memperdulikan ucapan Nando aku langsung duduk di atas paha nya, merangkul leher nya, dan hanya menatap nya.
" Haduuhh Febian,, jangan bercanda deh" suara Nando langsung menjadi berat menerima serangan ku. Aku langsung mengecup bibir nya, walau Nando berusaha menangkap nya, tapi aku langsung menghindari nya. Terlihat wajah nya mulai tersiksa. Aku lantas tertawa dan bangkit dari pangkuan nya.
__ADS_1
Aku tertawa puas melihat reaksi Nando menahan keinginan nya.
"Siapa suruh seharian buat aku susah, kesal aku, di curigain Risna dn yang lain" teriak ku dari toilet sambil menggunakan pakaian ku.
"Awas kalau kamu ulang lagi seperti tadi, Aku selesaikan sekalian misi nya" balas Nando.
Aku keluar dar toilet. Nando mengembangkan tangan nya, berarti ingin aku ke dekat nya dan memeluknya. Aku datangi, dan membalas pelukan nya.
" Bawa baju hangat, aku pengen mancing. Kita berkemah yuk dekat pinggir danau" bisik Nando.
" Wwwwaaahhhh…. " sambut ku bahagia. Mancing sambil berkemah seru pasti. Aku hadiahi kecupan di bibir Nando, dn aku langsung memasukan perlengkapan ku ke dalam ransel. Nando tertawa melihat reaksi ku, mungkin di pikirnya kebahgiaan aku tu cuma recehan.
Setelah gunung, pantai, dan hari ini kami mau mancing sambil berkemah. Menurut Nando lokasi nya tidak terlalu jauh dengan gunung. Daerah nya agak dingin, dan kalau pagi menjelang matahari terbit besok, pasti cantik sekali.
Seteah makan malam, kami langsung menuju danau. Diperjalanan aku menceritakan ke Nando, betapa curiga nya teman-teman ku di hotel aku datang dengan pakaian yang sama saat aku pulang sehari sebelum nya.
Aku kesal, di introgasi, sampai Risna kesal karena aku gak mau menjawab penasarannya. Untung nya masih mau di tebengin waktu pulang.
Nando hanya merespon den tawa, Kata nya kalau aku menerima tawarannya untuk menggunakan pakaian Nando semetara, gak tau gimana reaksi mereka. Bisa-bisa aku di ekorin sampai ke office sampai menjawab.
"Tapi sebenernya bi, kalau kamu jawab nya kamu tidur sama aku, pasti mereka.gak berani tanya-tanya lagi. Langsung diam" kata Nando sambil tertawa puas.
Aku jawab dengan cubitan kuat di lengan nya. Dan Nando menjerit kesakitan.
__ADS_1
Gila aja,, kalau aku jawab gitu, emang mereka bakal gak nanya-nanya lagi. Gak nanyain aku tepat nya. Tapi setelah itu mereka rapat umum luar biasa. Membahas apa yang aku lakukan bersama Nando. Hadduuhh, gak kebayang.
Sekarang di kantor, gak ada yang memang aku jelek sih. Yang aku pikir mereka hanya berfikir "cukup tau aja" untuk ledekatan ku dengan Nando. Agak gak nyaman buat aku, karena Nando adalah Manager ku, dan aku asisten nya. Kamu punya pekerjaan yang saling berhubungan, bisa jadi nanti malah gak profesional. Tapi sejauh ini, aku dan Nando belum ada melakukan sesuatu yang melibatkan perasaan.