Rindu Dari Bian

Rindu Dari Bian
Deep Talk


__ADS_3

Hari ini pun berakhir, aku dan Nando pulang bersama, tapi karena malam ini Nando harus ke bandara, Nando hanya mengantarkan ku pulang tanpa singgah.


Sampai di rumah, karena sangat lelah, aku langsung mandi, untuk makan malam ini aku memutuskan untuk memesan online saja. Selesai mandi, aku menunggu makanan ku datang, sambil memainkan Hape di sofa TV.


Gak lama kemudian makanan pun datang. Saat makan sendiri aku merasa kesepian, dan tiba-tiba teringat masakan Ibu. Sudah berapa lama aku tidak merasakan masakan Ibu. Dulu, pulang kerja, saat letih seperti ini, apa pun yang dimasak Ibu, pasti aku habiskan. Rindu masakan Ibu, rindu Ibu,,,


Air mata ku menetes, entah bagaimana kabar keluarga ku disana aku tidak tahu. Rasa nya rindu sekali, rindu suasana rumah. Berantem dengan adik-adik ku.


Serba salah, rindu nangis, nelpon juga pasti nangis. Lusi juga tidak ada kabar. Kalau lewat Lusi aku bertanya, mungkin tidak akan menangis. Tapi saat mau chat Lusi, aku urungkan, karena ini masih maghrib, biasanya ini jam makan malam, Lusi pasti sedang bersama Ibu dan ayah.


Selesai makan, aku kembali tiduran di kursi sofa. Aku mencoba chating dengan teman dekat ku dulu. Vero. Sudah lama sekali aku tidak saling berkabar dengan Vero. Vero merespon, kami saling bercerita. Vero ternyata akan menikah bulan ini. Dia ingin mengabari ku, tapi kehilangan nomor Hape ku. Undangan sudah di antar ke rumah Ibu, dan diterima langsung oleh Ibu kata nya.


Aku langsung menceritakan kepada Vero status hubungan ku dengan Ibu saat ini. Vero prihatin. Ia menyemangati ku. Di tambah aku bercerita tentang Nando, dan bagaimana hubungan ku dengan Nando. Vero akhirnya bercerita, bahwa Dion juga sempat mengajak nya bertemu, menceritakan aku. Dion ingin Vero mempengaruhi ku agar kembali kepada Dion. Membujuk aku untuk pulang ke kota ku. Tapi di abaikan Vero, karena dari dulu vero gak suka juga dengan Dion yang terlalu posesive kepada ku. Setelah lama kami mengobrol, aku dan Vero berpamitan untuk tidur.


Saat aku hendak beranjak ke kamar, tiba-toba terdengar pintu di buka, sempat kaget, tapi karena posisi ku berhadapan dengan pintu tersebut, aku bisa langsung melihat Nando masuk dengan cengiran khas nya. Aku lantas tersenyum.


" Mama dan kak Uki udah berangkat?" tanya ku


" Udah, aku baru pulang dari bandara" Jawab Nando.


" Jangan gak pulang lho, nanti di laporin lagi ke mama.." Aku menyindir Nando sambil tersenyum, lucu membayangkan wajah Nando saat di sindir Mama tadi. Benar saja, Nando langsung mencibir mendengar ucapan ku.


Aku duduk kembali ke sofa dan menghidupkan TV.


" Mau nonton film?" tanya Nando


" Boleh,,, yuk"


Lantas aku bersiap mencari film dari aplikasi dan mematikan lampu, agar benar-benar seperti di bioskop. Sudah berapa bulan pacaran, sejak tragedi nonton dulu, aku dan nando tidak pernah lagi nonton di bioskop.


Kami nonton sambil ngobrol ringan. Merangkum dari beberapa hari tidak ngobrol karena kesibukan di kantor.


" Gimana mama tadi?


" Gak ada sih, cuma nanya-nanya kamu aja"


" hhmmm, mama tau gimana hubungan aku dan orang tua ku?"


" Tau, udah aku ceritain"


" Terussss"


" Gak ada sih, mama cuma bilang, bagaimana pun hubungan harus di perbaiki. Maka nya dia mau kamu pulang ke kota mu, handle bintang Delapan"


" Hmmm.. Kira-kira sampai di kota ku, Ayah dan Ibu terima aku gak ya? Atau jangan-jangan poto ku udah di sebar walikota biar gak bis masuk kesana lagi"


" Ada-ada aja... Aku malah bilang mama minta nikah, hahhahahaha" aku refleks langsung menoyor kepala Nando. Sebenernya ku senang kalau Nando melamarku. Tapi....


" Eh, beneran lho "


" Terus emang mama bolehin gitu?"


Nando terdiam, Dia langsung kembali fokus ke film yang kami tonton tadi.


" Eh kok gak d jawab?" tanya ku memdesak


Nando langsung menatap ku.


" Kamu udah haid?" Nando malah balik tanya


" Udah lah, baru juga selesi kemaren" seketika Nando lemas.


" Kok? Kenapa?" tanya ku heran

__ADS_1


" Mungkin kamu harus hamil dulu, biar jalan nya gak berbelit-belit"


Sekarang giliran ku yang lemas. Aku tidak pernah setuju dengan jalan itu. Tapi dari sini aku tau, apa tanggapan Mama Nando terhadap hubungan aku dan Nando.


" Mama bilang, gimana mau nikah kalau keyakinan kita beda. Mama setuju hubungan aku dan kamu. Tapi mama minta itu aja, masalah keyakinan. Karena Papa gak bakal setuju kalau beda seperti sekarang "


" Makin sulit ya... "


" Sulit apa nya yank?"


" Sulit nya hubungan ini. Dari awal udah riweh, sekarang pun makin riweh"


" Mama mau kamu balik ke kota kamu. Setelah kontrak berakhir, kamu kesana aja duluan"


" Kamu??"


" Aku nyusul. Karena mesti nyari GM baru dulu. Kalau nanti ketemu cepat, aku akan celat menyusul kesana."


Aku sudah lemas memikirkan masalah keyakinan ini. Tapi kalau pulang ke kota ku, aku juga bingung, bahkan lebih bingung di banding bertahan di kota ini.


" Kak Uki gimana?"


" Dia gak ada comment apa pun, cuma ngangguk ngangguk aja waktu mama ngomong"


" Kamu?"


" Aku gak mau mikirin itu Bi, aku bilang kalau aku bisa motong jalan biar lebih pendek, ya aku pendekin proses nya "


" Kira-kira kontrak ku di perpanjang gak ya?"


" Kok nanya gitu? Bukan nya kamu mau pulang?"


" Gak juga, aku mikir apa kota itu masih menerima aku Ndo, aku takut,, aku sebenernya rindu ibuuuu" aku langsung terisak menangis. Aku sudah gak sanggup menahan nya lagi. Hari ini walau di satu sisi aku bahagia karena di balik masalah keyakinan, mama Nando menerima ku. Tapi saat aku sendiri tadi, aku benar-benar merindukan keluarga ku.


Saat tangis ku sudah mulai reda, dan Cengkraman tangan ku di baju Nando mulai melemas, Nando baru mulai berbicara.


" Coba telpon adik-adik mu.. Tanyakan kondisi ayah dan Ibu "


" Tadi aku berniat begitu, tapi aku takut, kalau kalau mereka sedang bersama Ibu.."


" Kalau jam segini mungkin udah gak lagi Bi, cobalah..."


Akhir nya sambil menghapus air mata ku, aku mengambil hape dan mencari nomor Lusi. aku menghubungi dengan melakukan Chat.


" Lusi, kamu udah tidur?" syukurnya Lusi masih online.


" Kakak,,, apa kabar? " jawab lusi segera


" Lagi sama siapa? Kakak telpon bisa? Tapi jangan tau Ibu"


" Aku sendirian kak, di kamar. Ibu udah tidur kak"


Aku tatap Nando. Dan Nando pun mengangguk menyemangati ku. Ini pertama kali aku telpon Lusi lagi setelah berbulan bulan lalu, saat ibu memarahi ku.


" Dek...." Panggil ku saat Lusi menjawab telpon nya..


" Ya kak... Kakak sehat, apa kabar?" aku langsung menangis mendengar suara Lusi. Rasanya sangat rindu.


" Kakak sehat,,, kalian gimana?"


" Ayah sakit kak, udah beberapa bulan ini. Ayah kemaren sempat kena strok kak, tapi syukurnya mulai pulih. Sekarang hanya bicara nya agak gak jelas. Ibu sehat. Ya di sehat-sehatin. Karena sebenernya tiap dua minggu Ibu harus kontrol dokter "


" Ya ampun dek... Kok Bapak bisa sakit gitu? "

__ADS_1


" Ya kak, sejak kakak pergi, dan keluarga Ibu Kak Dion datang, marah-marah. Belum lagi keluarga kita sendiri yang mulai menceritakan kita kak"


Aku kembali terisak. Aku merasa menjadi manusia yang sangat egois. Aku tidak berfikir masalah nya akan sampai segini parah nya. Sampai orang tua ku sakit.


" Maaf kan kakak Lusi... Tapi begitulah Dion, kakak gak sanggup menghadapi Dion"


" Gak apa apa kak, kami melihat sifat asli kak Dion. Dia berani memaki ayah dan ibu. Sampai ayah benar-benar geram, dan langsung tumbang saat kak Dion pulang"


" Ya ampun, siapa dia berani memaki ayah si? Dan kalian diam saja? Kenapa gak di teriakin maling"


" Siapa kita kak? Dia penguasa di kota ini. Kita cuma orang biasa"


" Anj**g memang Dion,, "


" Sudahah kak, kita gak usah lagi berhubungan dengan orang-orang kaya seperti itu. Susah menyelesaikan nya kak"


" Lusi, apakah Ibu menggunakan uang kiriman kakak? "


" Pakai kak, cuma itu yang kami harapkan kak. Semua bergantung dengan itu"


" Kamu, kalau ada kebutuhan lebih, kabari kakak segera ya, mulai bulan depan kakak akan coba kirim lebih banyak. Kamu juga, kalau lihat ibu lagi butuh banyak, kabari kakak ya, kakak akan usahakan"


" Iya kak..."


" Kapan pun, ada kejadian apa, kabari kakak segera ya lusi. Atau kakak minta nomor rekening kamu aja"


" Jangan kak,, nanti malah ibu mikir aneh-aneh kalau aku punya uang kak, dia kira aku jual diri seperti tuduhan kak Dion ke kakak. Sekarang aku udah pandai nyetir kak, karena terpaksa buru-buru belajar, gak ada yang ngatarin ayah kalau gak kak"


Aku tertawa mendengar ucapan Lusi. Bener juga, pasti malah jadi pertanyaan kalau tiba-tiba Lusi punya uang.


" Ya sudah, kakak kirim ke rekening Ibu saja ya. Lusi tidur lah, terimakasih banyak ya dek..."


Telepon di tutup.


Nando menatap ku dalam.


" Ada uang berapa mau dikirim ke ibu?" Tanya nya.


Aku lngsung menghela nafas dan memeriksa saldo melalui e-banking. Ku tunjukan saldo ku kepada nya. Ada angka 7juta lebih kurang. Uang yang berhasil aku kumpulkan sedikit-sedikit karena pengeluaran ku minim sekali. Hampir semua di talangin Nando.


" Minta nomor rekening, aku tambahin" ucapnya.


" Ah gak usah, ini aja aku kirim 5juta lagi. Kemaren awal bulan aku udah kirim 4juta, 5juta untuk tambahan Ibu pegang-pegang cukuplah, aku sampai gajian ini pegang 2juta ngirit-ngirit, bisaaaa...."


Nando lantas merampas hape ku dan melihat nomor rekening. Dan mendarat 25juta. Sempat shock. Gampang baget orang kayah ngasih uang segitu.


" Ini pinjaman atau pemberian Pak?" tanya ku


" Pemberian, kasih ke Ibu, uang kamu simpan aja"


Dengan segera aku langsung mengirim uang tersebut ke rekening Ibu.


Untuk sesaat aku melupakan perasaan gak enak hati ke Nando. Karena saat ibu sedang butuh.


" Apa rencana kamu sekarang?" Nando mengelus rambutku. Memastikan aku baik-baik saja.


Aku menghela nafas.


" Aku ingin memaki Dion. Ingin ku sobek mulutnya " Kesal ku.


" Sabarlah dulu. Ada waktunya, membungkam mulut orang seperti itu mesti dengan sesuatu yang besar "


Aku meng iyakan, benar juga, membungkam orang seperti itu harus dengan sesuatu yang bisa membuat dia malu. Jangan dengan kekerasan.

__ADS_1


__ADS_2