
Nando menatapku, mendekati ku, dan mendorong tubuh ku sampai tumbang ke tempat tidur. Dia membuang blezernya, dan menciumiku kasar, aku hanya bisa diam. Kali ini tangan Nando gak kemana-mana. Lalu melepaskannya lagi. Sepertinya hanya melampiaskan emosinya.
Lalu Nando menjatuhkan diri di sampingku, membentangkan tangannya. Aku langsung meletakkan kepala ku di atas lengan Nando. Memluknya dari samping, dan Nando ikut memeluk ku.
“ Gak akan terjadi sayang, kamu tenang dulu. Besok, sampai disana, aku akan bawa kamu langsung dari bandara ke rumah, aku kenalkan kamu sebagai pacar baru ku. Biar semua kacau. Kalau kekacauan terjadi saat aku masih disana, aku gpp. Tapi kalau terjadi saat aku disini, aku takut Ibu sakit” Aku menjelaskannya dengan tenang, selembut mungkin, agar Nando tenang.
“ Kamu yakin aman? Lamarannya gak terjadi ? “ Tanya nya lagi
“ Gini aja. Aku akan bilang ke Ibu, kepulangan ku diundur. Atau gimana ya? Atau aku percepat? Setelah ini kita langsung berangkat? Biar gak ada persiapan? “ Entah bagaimana pikiran itu tiba-tiba datang di kepala ku.
Nando bereaksi, menyetujui pikiran ku.
“ Baiklah, besok aku langsung mengajukan cuti ku, gak enak kalau hari ini Yank, orang-orang pada sibuk, jadi Sabtu kita gak jadi pindahan ya, Sabtu kita berangkat” Kata ku
“ Jangan Sabtu pagi Yank, Jumat sore kalau bisa” Kata Nando dengan ekspresi lucu.
“ Terserah Pak Bos aja, akuk manut” Jawabku sambil ingin bangkit dari tempat tidur. Nando langsung menarik tangan ku.
“ Nanti aja Yank, meluruskan punggung dulu, lumayan, 30 menit aja, sekalian melunakan otot lidah” Kata nya dengan genit. Hadeuuuhhh.
Setelah selesai, kami mulai merapikan diri untuk turun kembali bekerja. Malam ini akan jadi malam panjang, karena acara baru selesai pukul 10 malam. Sudah di pastikan aku bisa pulang jam 11 nanti, dan masih harus bangkit lagi untuk bekerja besok pagi.
Aku kembali bergabung dengan teman-teman lainnya di lobby. Kondisi lobby sudah sangat sepi. Hanya satu satu masih ada tamu yang menyusul. Aku berusaha bersikap seperti tidak terjadi apa-apa hari ini.
__ADS_1
Setelah berdiri lebih dari 2 jam aku berdiri, jam pulang datang juga. Aku bersiap pulang, Nando juga dan sudah pasti aku akan pulang dengannya. Di locker aku bertemu Risna dan Iren. Dengan posisi seperti biasa, posisi wanita mau melahirkan.
Kesempatan aku berbicara masalah cuti ku ke Risna
“ Ris, besok aku masukan surat cuti ya, kaya nya gak jadi bulan depan, Sabtu kaya nya aku udah cuti Sist” Aku menyampaikannya dengan wajah memelas.
“ Ya udah, capcus masukin suratnya, jangan lupa Pak Nando signed dulu Sist, kalau dia udah setuju, paling pak Reza setuju aja tu” Jawab Risna.
“ Oke Sist tersayaaaannnngggg, cinta deh aku dengan kammyyuuu, aku pulang dulu ya “ Aku langsung beranjak sambil mengambil task u.
Aku menuju parkiran mobil, karena Nando pasti sudah menunggu ku di mobil.
Malam ini Nando sudah biasa saja, sudah ku bereskan di kamar OO tadi. Jadi mood nya udah oke. Gak ada singgah kemana-mana, langsung menuju kos saja. Aku dan Nando sudah capek sekali. Paling tadi aku update saja bahwa sudah ku sampaikan ke Risna bahwa aku memajukan cuti ku menjadi Sabtu ini.
Sebelum tidur aku masih membayangkan rencanaku besok saat pulang ke kota ku. Aku akan langsung menuju ke rumah saja, dan membawa Nando. Aku akan memperkenalkan Nando dulu. Lalu aku akan antar Nando ke hotel, baru kembali untuk membicarakan hal ini dengan Ibu dan ayah.
Ribet nya hidup ku saat ini. Dan ini Bapak Walikota pula, apakah mungkin karena pembatalan pertunangan ini, aku sekeluarga akan diusir dari kota nya? Terus apakah hotel Nando udah selesai perizinannya, takut nya belum, nanti kena sabotase pula. Aduhh,, kok kemana-mana sih masalahnya.
Aku lihat kembali Hp ku. Aku cek nomor Dion. Ada perasaan ingin menghubunginya, biar aku maki-maki, aku keluarkan uneg-uneg ku, kesal. Apa maunya, malas sekali aku melihat kelakuannya. Tapi aku urungkan lagi. Mana besok aku harus bertemu orang tua nya lagi. Apa lagi reaksi Nando saat aku bertemu orang tua Dion besok.
Akhirnya aku tertidur, dan terbangun saat Nando sudah menelpon ku pagi.
__ADS_1
“ Yank, udah bangun?” tanyanya
“ Baru bangun yank, kamu jemput? Aku siap-siap dulu”
“ Iya, pagian berangkat yuk, sarapan dulu kita”
“ Iyes, aku siap-siap” Jawab ku dan langsung bergegas mandi.
Selesai mandi, Nando sudah sampai di pagar kos. Aku langsung masuk ke mobil, Nando langsung minta di cium pipinya.
“ Cium dulu, udah mandi ini, gak bau jigging kok” Canda nya
Aku turuti saja, aku lagi menjaga mood nya sampai berangkat ke kota ku besok. Apalagi selama Ayah dan Ibu Dion ada disini. Dia bis uring-uringan lagi.
Kami sarapan. Makan sambil bercanda, semoga mood nya gak berubah sampai selesai kegiatan hari ini. Walau aku akui, Nando gak marah seperti Dion yang selalu mengamuk. Nando marah hanya saat itu saja, kalau sudah ketemu jawaban, dia bisa kembali ceria. Dan sejak kami komitmen jalan seperti ini, baru kemarin yang aku lihat Nando agak emosi. Itu pun sekedar aku tau aku harus apa? selesai.
Selesai sarapan kami berangkat ke kantor. Karena masih sangat pagi, belum terlalu hiruk pikuk. Aku dan Nando bertemu di kantor setelah aku ke locker mengganti seragam. Saat akan keluar kantornya briefing, Nando menyempatkan singgah ke meja ku hanya untuk mengecup ujung kepala ku. Aku hanya menggeleng heran, tumben-tumbenan.
Lalu aku pun bersiap ke lobby, membantu GRO untuk membantu mengarahkan dan menertipkan tamu. Semoga hari ini lancar, seperti kemarin. Karena masih ada besok yang juga harus di hadapi lebih sibuk, saat tamu-tamu pulang.
Sekitar satu jam kemudian, saat acara sudah di mulai, lobby mulai sepi kembali. Niat ku mau beristirahat di kantor sebentar, tapi kemudian aku melihat sekonyong-konyong Ibu Dion tersenyum kepad ku, dan berjalan ke arah ku. Baeeklah, aku layani dulu calon mertua gak jadi ini.
Agar tidak terlalu mencolok, aku membawa Ibu Dion ke arah restaurant. Duduk di sana sambil minum teh, tapi aku bingung harus menjawab apa jika si Ibu menanyakan pendapat ku tentang rencana lamaran nanti.
__ADS_1