Rindu Dari Bian

Rindu Dari Bian
Opname


__ADS_3

Risna izin pulang sebentar. Ia ingin membawa peralatan dan pakaian ganti untuk bekerja besok. Malam ini ia ingin menjaga ku, dan menginap di rumah sakit.


Nando masih belum ada menghubungi ku. Aku pun tidak ingin menghubungi nya lebih dulu. Mungkin masih sibuk menemani orang tua nya, atau masih berusaha meyakinkan orang tua nya.


Keluarga ku? Aku tidak berniat untuk menginformasikan kondisi ku pada mereka. Selain tidak ingin membuat mereka khawatir, aku juga lebih khawatir kalau tiba-tiba Ibu ingin menjenguk ku, dan datang tidak sendiri.


Disini aku di rawat oleh dokter syaraf. Aku khawatir dokter syaraf yang satu lagi di sana ikut di bawa oleh Ibu ku. Hadeeh yang ada aku jadi syaraf beneran.


Aku tidak lagi menggunakan oksigen. Sakit di kepala ku pun sudah mulai berkurang. Menurut dokter, vertigo ini bisa jadi karena ku yang kelelahan, berfikir terlalu keras, atau pola makan ku. Dan menurutku, bukan salah satu dari tiga hal itu.. Tapi semua nya...hahahhaaa


Ku lihat infus di tangan ku. Di usia 24 tahun, untuk pertama kali jarum infus menancap di tangan ku. Ya, akhirnya kejadian juga. Aku yang punya fisik termasuk kuat, bahkan dalam satu tahun sakit flu pun aku bisa nihil. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali kena flu. Sakit yang sering banget nyerang itu magh. Yang kambuh kalau aku bandel makan mie instan, atau kemakan cabe kebanyakan.


Ya, sekarang nikmati aja jadi pasien. Ini juga berarti uang keluar. Karena aku meng upgrade kamar rawat, biar teman-teman yang menjaga ku bisa nyaman.


Waktu terus berjalan. Telpon dari Nando tidak juga datang. Entah apa yang terjadi disana. Sampai Nando tidak memberi kabar pada ku.


Sebenarnya tidak ada yang salah jika aku menghubungi nya lebih dulu. Tapi aku takut menelpon dan ternyata situasi nya tidak tepat. Biarlah dulu, aku bersabar.


Setelah meninggalkan ku sekitar 3 jam, Risna kembali, sendirian. Dan ternyata hasil diskusi bersama Dona, mereka bergantian tiap malam untuk menjaga ku. Tidak sekaligus berdua. Aku bersyukur mempunyai teman-teman seperti ini. Luar biasa menurut ku. Mereka tidak hanya teman saat senang-senang saja, tapi juga saat sedih.


" udah telponan kamu sama Nando?" tanya Risna


" Belum ada Ris. Gak tau ni tumben seharian belum absen si Pak Bos"


" Sepertinya di group hotel juga dia belum ada komentar seharian deh, gak kaya biasanya, nanya kondisi hotel, ya kan?"


" Lagi sibuk bener atau apa ya?"


" Terus dia tu ngurusin apa sebenarnya sih? ketemu orang tua nya? Tumben sepertinya serius gitu"


Aku terdiam. Apakah aku harus menceritakan nya ke Risna? Walau mungkin tidak banyak membantu, tapi lumayan buat aku sedikit lega karena berbagi. Toh aku kenal Risna, dia cukup bisa memegang rahasia selama ini.

__ADS_1


" Ris, aku mau cerita... Tapi janji, bukan konsumsi umum ya... "


" Ceritalah, gpp,,,, aku juga udah lama mau nanyain ke kamu, kaya nya kalian akhir-akhir ini agak sibuk gitu, tapi sibuk nya stress"


" Ya gitu... yang stress keliatan banget Nando kan?"


Risna mengangguk.


" Ya Ris, Aku juga udah bilang ke Nando jangan stress banget. Di bawa santai aja. Kalau dia belum siap, gpp, kita jalani dulu aja. Yang besok, ya sudah, hadapi saja besok. Karena aku gak tega liat dia akhir-akhir ini "


" Emang ada apa?" Tanya Risna penasaran.


" Kami pengen nikah Ris. Dan aku belum cerita ke kamu kan, kalau Nando udah di tolak ayah Ibu ku, dan juga aku di jodohin lagi sama mereka, dengan seorang dokter. Tapi ya itu, buat aku saat ini Nando segalanya Ris. Aku benar-benar jatuh cinta sama Nando, aku gak mau kehilangan dia.."


" Keluarga kamu gak setuju karena keyakinan yang beda Bi? " Tanya Risna.


Aku hanya mengangguk. Dan rasa nya air mata mu udah mau jatuh saat ini.


" Hari ini giliran Nando meminta izin orang tua nya. Semoga ada jalan keluar, dan ada harapan untuk kami bersama Ris..."


" Amin.... Tapi kamu harus kuat lho. Jujur Bi, tadi waktu kamu pingsan, aku sempat sesak juga di dada. Maaf ya Bi, aku fikir kamu hamil. Aku jadi mikir yang bukan-bukan, tapi hasil lab kamu, tadi aku tanyain dokter, kamu gak hamil"


Aku lantas tertawa mendengar kekhawatiran Risna. Ekspresi muka nya benar-benar terlihat merasa bersalah.


" Tapi kamu gak salah Ris,,, sebenarnya Nando juga mau ambil jalan pintas seperti itu. Dia mau aku hamil, biar proses nya lebih singkat, dan resiko di tolak lebih kecil...hahahahahah"


" Waduh... Tapi bener itu seperti nya Bi,,, gak di coba aja?"


Aku langsung melemparkan bantal ke arah risna.


" Aku mau nikahan cantik Ris, Mau semua orang bahagia. Persiapan matang, dan semua seperti impian aku..."

__ADS_1


" Aku mikir ni ya, ternyata jadi orang cantik gak sebahagia yang aku bayangkan Bi. Aku lihat kamu cantik, banyak yang suka, tapi ternyata ada kebahagiaan lain yang hilang dari kamu"


" Bener banget Ris..." Aku meneteskan air mata ku.


" Kamu tau Ris, dari dulu waktu sekolah, aku tu udah di julitin sama kakak kelas dan gank cewek cewek yang nganggap aku genit. Padahal, haduuhhh jauh banget lah. Aku berusaha bersikap benar-benar biasa aja. Bahkan kadang di lingkungan yang aku gak nyaman, karena takut aku di anggap sombong, atau sok kecakepan" Lanjut ku lagi.


" Jadi, kalau Nando gak dapat restu gimana? Mau ngapain kalian?" Tanya Risna lagi.


" Nando mau Ris, mengikuti ku. Tapi resiko nya dia mungkin harus melepaskan semua fasilitas dan akan di tendang dari keluarganya. Menurut Nando, Papa nya sangat wanti wanti pada anak nya untuk masalah ini "


" Kamu siap?"


" Aku memang bukan anak orang kaya Ris, aku siap kalau harus mulai dari nol lagi sama Nando. Kerja, jadi orang biasa. Yang aku khawatirkan justru Nando. Karena Nando udah jadi orang kaya sejak kecil. Apa mampu dia berjuang dari Nol lagi?"


" Bener. Kalau kamu sih aku gak ragu. Justru Nando. Bisa stress juga dia nyari kerja, nabung buat beli mobil, nabung buat besarin anak-anak"


" Itu dia Ris, menurut kamu gimana kalau memang jawaban orang tua nya gak? Aku egois kan kalau memaksakan Nando harus memilih ku? Mulai dari menghianati orang tua nya, putus hubungan dan menghianati Tuhan yang selama ini dia percaya..."


" Sulit ya Bi,, terlalu banyak yang mesti di korbankan. Memang orang tua kamu bakal oke terima Nando kalau Nando udah pindah keyakinan?"


" Gak Ris. Mereka tetap gak mau..."


" Dan bukan cuma Nando, kamu pun ikut berkorban kan"


" Iya, tapi gak sebesar pengorbanan Nando"


" Susah juga, kalian berdua memang bener-bener bucin. Ah...mumet aku Bi, sudahlah, istirahat dulu aja. Telpon Nando kih, udah malam ini. Tanyain kabar nya"


Aku mengangguk dan mencari hape ku untuk menghubungi Nando.


Semoga ini saat yang tepat aku menghubungi nya...

__ADS_1


__ADS_2