Rindu Dari Bian

Rindu Dari Bian
Pertemuan


__ADS_3

Jam 6 pagi, Nando sudah menjemputku. Jadwal keberangkatan kami pada pukul 8 nanti. Masih ada waktu buat sarapan sebenernya. Tapi Nando minta sarapan di bandara saja. Tidak seperti biasa, kali ini Nando duduk di belakang bersama ku, karena mobil di supirin teguh.


Jujurly, aku sedikit tegang membayangkan apa yang terjadi nanti. Dan sepertinya Nando juga tau. Tangan ku dingin, sejak dari mobil Nando sudah menggenggam nya terus.


" Kamu aman kan Yank?" tanya nya saat kami sudah di waiting room. 


" Aman… cuma deg degan aja" jawb ku


" Kalau kamu gak yakin, nanti kamu pupang aja dulu, kalau kamu udah siap, kabarin aku, biar aku susul ke rumah"


" Gak lah, langsung aja, nanti malah ada kesempatan mereka menyusun rencana"


Nando hanya mengangguk. Aku mulai mematikan HP ku, karena sebentar lagi kami naik ke pesawat. Sepanjang di pesawat, Nando masih mengajakku ngobrol hal-hal lucu dan aneh. Niatnya mungkin baik, untuk membuat ku rileks. Karena kami seperti orang yang baru saja kawin lari, aku terlihat sangat tegang. Penerbangan yang hanya 60 menit ini pun terasa lama oleh ku. 


Dan akhirnya pesawat mendarat. setelah semua barang selesai di ambil, Nando kembali lagi menanyakan kesiapan ku. 


"Gini aja yuk, ke hotel dulu, antar barang-barang ku, baru ke rumah kamu. Gimana?" tawar Nando. 


Menurut ku ide bagus. Aku bisa menarik nafas sebentar, di hotel.


Kami menuju hotel keluarga Nando. Sampai di hotel, Nando rupanya sudah memesan kamar. Kami menuju ke kamar, dan Nando langsung menuju toilet. Aku duduk di pinggir tempat tidur, sambil melihat lihat kondisi kamar yang aku rasa sebagian furniture nya baru di ganti. 


Tak lama kemudian Nando keluar dari toilet, lalu memeluk ku. Dia mencium kening ku lalu bertanya …


" Siap? "


" Pasti,,, " jawab ku pelan.


" Yuk berangkat" ajak nya sambil menarik kedua tangan ku. 


Kami kembali menuju mobil yang merupakan mobil hotel, selama Nando disini, supir ini yang akan mengantarkan Nando. 

__ADS_1


Gak nyampe 30 menit, kami sampai di rumah ku. Rumah ku yang jauh berbeda dengan kondisi rumah Nando, tapi di datangi pria-pria kaya, karena anak yang punya rumah ini pinter sekali nyari pacar, hahahaha…


Di teras ada Rori, dia sibuk dengan HP nya, saat mobil parkir, dia langsung berdiri. Pasti dia pikir ini Dion dengan mobil baru nya. Hmmm…


Aku turun, di ikuti dengan Nando di belakang ku. 


" Eh Roriiii,,, main aja kerjaannya ya, sini bantu kakak.." Teriak ku memanggil adik tengil yang selalu jadi lawan berantem ku di rumah. 


" Kakak…." Rori langsung berlari ke arah ku. Nando tersenyum melihat nya, Rori lantas menatap bingung ke arah Nando. 


" Kenalin ini, pacar Kakak, nama nya Bang Nando" Aku menarik tangan Nando dan memeluk lengan nya. Rori menyalami Nando, lalu masih dengan wajah bingung masuk ke dalam rumah. 


Aku bisa dengar teriakan nya dari dalam rumah dengan jelas..


" Ayaaaahhh Ibuuuuuu kak Sena pulang, bawa pacar baru"


hadeuh, anak ini terlalu polos.


Aku sadar akan hal itu, langsung melepaskan tangan ku dari lengan Nando dan memeluk ayah. Nando juga menghampiri ayah lalu menyalaminya.


Lalu Ibu datang, juga dengan ekspresi yang hampir sama dengan ayah, Aku mengahmpiri Ibu, dan memeluknya, lalu Nando menyusul untuk menyalami nya. 


Dengan wajah bingung, ayah dan Ibu mempersilahkan ku masuk, bersama Nando. 


Nando masih diam saja. Suasana menjadi seperti di Kutub Utara. Dingin…


" Ayah, Ibu, Maaf Sena pulang gak ngabari, lebih cepat dari yang Sena sampaikan sebelum nya.." Entah kenapa aku malah berbicara sangat formal pada ayah dan Ibu..


" Dan ini kenalin, Nando, Nando ini pacar Sena" sambung ku lagi, di tambah anggukan serta senyuman Nando. Aku juga langsung menggenggam tangan Nando. 


Aku seperti di sidang oleh Ayah Ibu saat ini. 

__ADS_1


" Eh gimana Nak? terus Dion gimana? Maaf ya Nak Nando, tapi Sena ini minggu depan mau lamaran, dan acara nya sudah d atur" Ayah terlihat agak menahan emosinya. 


" Sena dan Dion udah lama sekali putus yah, sejak Sena 2 bulan di sana" 


" Putusnya gimana? karena kamu selingkuh? orang Dion gak pernah absen kok ke sini, dia pasti kesini hampir 2-3 kali seminggu, besuk ayah, ngajak main adik-adik mu. Kamu mungkin yang anggap sendiri dan ambil keputusan sendiri" emosi ayah sudah tidak dapat di tahannya. Dia hampir saja berdiri dari sofa, tapi di tahan Ibu. 


" Dion akhir-akhir itu suka menghina Sena Yah, dia menghina kondisi keluarga kita, dia menghina Sena, sampai pernah dia bilang Sena jual diri. Sena sakit yah, sena gak mau di hina seperti itu. "


" Nak, disini Dion sangat baik. mungkin waktu itu kamu sensitif saja. Nantilah ini semua kita bicarakan lagi. Ayah sama Ibu masuk dulu ke dalam. Mari Nak Nando" pamit ibu sambil membawa ayah ke kamar. 


Aku lihat Nando sangat khawatir. Untung ini di rumah Ibu, kalau gak udah aku peluk kuat-kuat ini cowok ganteng. 


" Terus mau gimana? " tanya Nando sambil mengelus rambut ku. 


" Ya gak gimana-gimana. Show must go on. Maaf ya kalau kamu jadi dengar semua itu tadi.." kata ku pelan. 


" Aku pulang dulu ke hotel gimana? biar kamu bisa bicara lebih leluasa dengan Ayah dan Ibu? "


" Gpp yank… seperti nya itu lebih baik"


" Baik, kamu yang kuat ya, gak sesepele  yang kita bayangkan seperti nya. semoga Ayah Ibu mau dengerin kamu ya" Lalu Nando bangkit dan mencium keningku.


" Pengen nya lebih, tapi takut ada cctv" kata nya bercanda..


Nando… dalam kondisi apa pun selalu bisa bercanda. Nando pun masuk ke mobil, lalu pergi. Aku langsung menarik nafas panjang. Siap-siap mau di dendeng Ayah dan Ibu.


Aku masuk kembali ke rumah, lalu memaksakan senyum, dan memanggil adik-adik ku. Aku memberikan oleh-oleh yang sudah aku bawa. Aku keluarkan juga oleh-oleh yang aku siapkan untuk Ayah dan Ibu. Setelah mendengar suara candaan ku dengan adik-adik ku, ayah Ibu keluar dari kamar. Aku beri mereka senyuman. Lalu aku berikan oleh-oleh tadi. Tapu ayah hanya membuang muka. 


" Yuk Sena, kita bicara dulu" Ucap Ibu sambil berjalan ke arah ruang tamu lagi. 


Aku mengikuti dari belakang, dan seketika tawa di wajah adik-adik ku hilang. Walau aku sudah tau apa yang akan terjadi, dan sudah mempersiapkan diri, tapi tetap saja aku merasa tegang. 

__ADS_1


Ayah duduk bersebelahan dengan Ibu. Wajah nya agak merah, dan tarikan nafasnya kencang. Untung aku belum mengeluarkan pakaian ku dari koper. Kalau beliau mengusirku, aku bisa langsung menyeret koper saja. 


__ADS_2