
Setelah selesai sarapan, kami masih menyempatkan untuk beristirahat lagi di kemah. Masih bercerita tentang hal-hal yang kami satu sama lain ingin tahu.
Hasil pancingan Nando, anak-anak ikan di kembalikan nya lagi ke danau, diiringi tawa ku. Karena Nando hanya mendapatkan 7 ekor ikan, yang semua nya cuma sebesar setengah telapak tangan ku. Mau di paksain bawa pulang juga untuk apa?
Selesai sarapan kami kembali ke kemah. Nando menawarkan, jika memang aku mau Ia menambah satu malam lagi disnama
Tapi aku pikir-pikir cukuplah saat ini, satu malam saja. Lain waktu di ulang kembali.
Di perjalanan aku coba memberanikan diri untuk menceritakan ke Nando masalah Dion dengan orang tua ku, dan rencana kepulangan ku ke kota ku di saat cuti nanti.
" Jadi dari Ibu aku tau, kalau Dion masih rutin main ke rumah, dan sering jalan keluar dengan adik bungsu ku Ndo. Yang lebih bikin aku aneh itu, dia malah mau atur jadwal lamaran saat aq pulang nanti " Jelas ku.
" Kok aneh gitu? kamu sendiri ada di hubungi nya?" tanya Nando.
" Sejak malam yang kita VC, gak ada lagi. Sama sekali gak ada"
" Atau kamu mau lamaran duluan sama aku? hahahhaa" canda Nando
" Haduh gila aja.."
" atau gini aja, aku ikut kamu cuti besok. Bisa sekalian liat hotel di sana, gimana??"
Mata ku langsung membulat membayangkan Nando ikut dengan ku, ke kota ku, dan aku bisa mengenalkan Ibu dan Ayah dengan Nando. Biar mereka tau, kalau memang targetnya menantu kaya, yang ini lebih kaya, kalah kamu Dion. Dan aku akan menyampaikan ke orang tua ku bahwa aku sudah lama tidak lagi berhubungan dion. Aku akan ceritakan bagaimana Dion memperlakukan aku selama aku LDR dengan nya. Biar mereka tau seperti apa Dion.
Gak terasa kami sudah sampai di parkiran apartemen Nando. Eh, apa-apaan ini, aku baru nyadar, ini apartemen bukan kos ku. Belum sempat aku bertanya, Nando sudah berjalan di depan ku. Aku terpaksa turun dan mengikutinya. Apalagi rencana si Pak Bos hari ini.
Sampai di dalam lift, aku bertanya pada nya.
__ADS_1
"Kok gak ngantar ke kos Pak Bos?" tanya ku.
" Sini ajalah, bisa istirahat tenang. Nonton yuk, di unit aja"
" Baeklah… Pak Bos yang atur…" jawab ku sambil menghela nafas.
Masuk ke unit, Nando menawarkan aku mandi, dan ia pun mandi di kamar yang berbeda. Unit ini walau meah tidak begitu luas, ada 2 kamar, 1 dapur, ruang makan dn ruang tamu yang merangkap ruang TV.
Kata Nando, unit ini di beli nya dengan uang nya sendiri, tanpa sepengetahuan orang tuanya. Jadi bisa dibilang unit ini sebagai tempat nya bersembunyi kalau sedang ingin sendiri.
Setelah mandi, aku duduk si sofa, sambil aku memperhatikan Nando mempersiapkan laptop yang di sambungkan ke TV nya. Nando hanya menggunakan celana pendek, dan kaos oblong, seperti biasa, ada sobekan di bahunya. Dan aku, menggunakan hot pants, dan kaos oversize, hingga hot pants ku tenggelam di dalam kaos ku.
Setelah selesai, Nando lantas mematikan lampu di ruangan tersebut, dan duduk sambil merangkul ku. Aku pun menyandarkan kepala ku ke dada nya.
Film yang kami tonton film laga Indonesia, tentang Indonesia tahun 2031. Para pemeran pria nya merupakan deretan aktor papan atas. Luar biasa film ini serunya.
" Kos nya gak usah dinteruskan lagi bulan depan, kamu tinggal disini aja ya…" tawar Nando
" Hah? gimana ceritanya?"
" Unit ini toh kosong aja. Kamu tungguin lah. Gak jauh dari hotel juga. Dan disini lebih leluasa sayang"
" Leluasa apa? mesum? " kata ku sambil mendorong pipi Nando
" Ya gak lah, hal apa pun, unit ini lebih nyaman"
" Iya nyaman, tapi gak buat aku tinggalin juga"
__ADS_1
" Sini aja Bi, uang kos bisa kamu hemat untuk kirim ke orang tua kamu kan. Pikir-pikirlah dulu"
" Rugi donk kemaren aku beli lemari pakaian, kalau tau bakal pindah kesini, aku gak beli lemari pakaian Ndo.. kamu telat nawarin nya ah" Canda ku, dan Nando langsung menoyor kepala ku.
Aku akan mempertimbangkan tawaran Nando, apalagi bagian yang bilang uangnya bisa aku kirimin buat orang tua ku saja, itu benar. Buat mereka lebih bermanfaat uang tersebut.
Malam ini aku putuskan menginap di unit. Nando juga demikian. Walaupun seharian kami hanya bermalas-malasan, main HP, sesekali bercanda, nonton TV, tapi gak terasa sudah pukul 8 malam juga.
" Mau keluar atau pesan aja makan malam ini? " tanya Nando
" Beli ajalah, aku malas keluar. Udah Pewe" jawab ku. Entah sejak kapan posisi tidur kami sudah berubah, aku sudah meletakan kepala ku di pangkuan Nando, sambil menonton lanjutan drama korea ku. Sedangkan Nando asik bermain game online sendiri.
Lalu aku memesan makan malam ,lewat aplikasi online. Sambil menunggu kami melanjutkan ke-marger-an kami.
Begitu makanan datang, aku mengambilnya dan menyiapkan peratan makan, juga buat Nando. Sebenarnya aku sangat mengantuk, untuk bangkit pergi makan saja, rasa nya aku harus mengumpukan banyak nyawa ku.
Akhirnya makan malam berakhir, dan aku pamit untuk tidur. Nando hanya tegelak melihat kondisi ku yang sudah mengantuk berat.
Sebelum tidur, aq memikirkan, apakah aku mengambil kesempatan yang diberikan Nando atau tidak. Nando mau aq tinggal di unit nya. Relatif aman sih. Karena jarak aparetemen dengan hotel tempat ku bekerja tidak terlalu jauh.
Entah sampai mana aq berfikir, tiba-tiba aku teringat Dion. Ah ngapain anak ini. Berkali-kali aku berspekulasi, tentang usaha nya medekatkan diri ke orang tua ku. Tapi kembali atau tidak nya aku pada Dion, bukan urusan orang tua ku seharusnya.
Sekarang sudah ada Nando kan, Sejauh ini Nando membiarkan aku berteman. Dia tidak mengekang aku berteman seperti Dion dulu, hingga aku nyaman dan punya banyak teman. Sekali lagi aku berdoa semoga Nando tidak akan berubah. Untuk satu masalah hubungan kami, sudah ada solusi, yaitu Nando akan mengelola hotel yang di kota ku.Jadi aku akan lebih dekat dengan keluarga ku.
Tapi bom waktu nya belum mati. Karena masih ada masalah keyakinan, yang berbeda..
Apa yang akan terjadi sebagai solusi dari masalah ini? Apakah salah satu dari kami akan mengkhianati Tuhan? Memilih ciptaan nya dan meninggalkan Nya. Aku langsung sedih kalau membayangkan masa depan, terkait masalah keyakinan ini.
__ADS_1
Walau saat ini salah satu dari kami tidak juga pernah menanyakan, dan kami beribadah tanpa ada yg menanyakan atau melarang nya, tapi baik aku maupun Nando, pasti memikirkan bagaimana menghadapi masa depan kami.