
Setelah puas menertawakan aku, Nando akhirnya pamit pulang. Karena besok pagi Nando langsung masuk bekerja, pindahan direncanakan lusa.
Kepulangan Nando malah membuat aku sepi. Seperti yang pernah terjadi, baru saja Ojek online Nando gas mobilnya, tiba-tiba aku merasa kehilangan, rindu…
Rasa nya aku ingin ke kantor besok pagi, biar bisa liat Nando tampil maksimal dengan rambut klimis, jas hitam, yang menambah kewibawaannya. Sampai bersiap tidur pun aku tetap membayangkan Nando. Parfum Nando yang tertinggal di bantal lumayan untuk menggantikan kehadirannya. Nando benar, mungkin terbiasa pakai guling yang bisa kentut.
Baru saja aku bisa tertidur, Hp ku berdering. Nando menelpon.
“ Yank… Rinduuuu…” Sapa ku langsung.
“ Hahahahahaaaa, tadi disana aku di pukulin, sekarang rindu”
“ Jangan bahas lagi,,,, udah sampai rumah? “
“ Sudah, udah mandi juga, tapi belum pakai baju Neng “
“ Aku udah mau tidur.. sana pakaian dulu, nanti masuk angin”
“ Gak enak, gak seru, gak ada yang dikerjain abis mandi gini.. biasa nya ada yang ngeliat terkesima.. “
“ Apa sih,,, tidur yuk…”
“ Yuk,,, tidur sama-sama ya…”
“ Ih….”
“ Cepetan pindahan…”
“ Dah ada rencana buruk ini pasti kalau aku pindah, awas lho…”
“ Ya dah, tidurlah,,,, aku besok kerja”
__ADS_1
“ Bye….”
“ Bye….”
Telpon di tutup, dan aku pun melanjut kan tidur, sambil tersenyum membayangkan Nando yang keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggang, lalu menggoda ku. Dasar Pak Bos mesum.
*
*
Pagi datang, sebenernya pengen bangun siang, tapi pintu kamar udah di ketuk kencang-kencang. Aku langsung bangkit membukakan pintu, dan sesuai dugaan, siapa lagi yang berani ngetuk pintu kencang-kencang kalau gak anak owner Hotel Bintang Delapan.
Dengan cengiran usilnya langsung nyelonong masuk ke kamar.
“ Aku bawa sarapan, cepat sarapan dulu, bareng… mau kerja aku “ Ucap Nando ssambil duduk melantai meletakkan 2 bungkusan makanan.
“ Kamu aja yang makan, aku baru bangun, belum sikat gigi yank “ Aku menjawab sambil menyiapkan piring dan sendok serta air minum buat Nando.
“ Baiklah,, “ aku pun bangkit kembali dan menuju toilet untuk menyikat gigi juga mencuci muka.
Kami pun sarapan sarapan bersama, sambil sesekali Nando menyuapi ku. Sambil ngobrol konyol, dan saling mengejek. Apa terlalu cepat kalau aku mengatakan kalau aku merasa sangat nyaman dan sangat butuh Nando setiap hari? Kalau itu yang aku rasakan, aku ingin benar-benar menikah dengan nya saja, tapi hubungan ini masih seumur jagung, ya terlalu cepat, karena mungkin hanya yang baik-baik saja yang aku lihat dan rasakan.
Selesai makan Nando langsung bersiap berangkat kerja, gak lupa ada kecupan di bibir ku mendarat dari nya. Dan Nando pun berlalu.
Sepeninggalan Nando, aku mulai lagi memberes-bereskan barang-barang ku di kos, untuk pindahan. Tiba-tiba aku teringat Ibu. Berat rasanya mau menelpon ibu, tapi bagaimana mmemulai bicara denngan Ibu. Apa pertama yang akan aku sampaikan, tapi aku ingin tahu kabar Ibu dan Ayah. Menanyakan lewat Rori juga tidak mengobati penasaran dan rindu ku.
Aku pun mengambil kembali Hp ku. Aku lalu mencari nomor Ibu, dan kuk pandangi lama. Aku meyakinkan diri, bahwa keputusan ini tepat. Tidak ada masalah antara aku dan Ibu, Dion yang menyebabkan ini semua terjadi. Dan akhir nya aku aku pastikan aku akan menelpon Ibu.
Beberapa kali deringan sudah, tapi Ibu tidak menjawab. Mungkin Ibu belum mau berbicara dengan ku. Ku ulangi lagi, setelah tiga deringan panggilan ku di jawab.
“ Bu,,,” Panggil ku.
__ADS_1
“ Kak, Ini Lusi…” Ternyata Lusi adik ku yang menjawab telpon.
“ Ibu gak ada Dek? “
“ Ada kak.. tapi sepertinya… ya kakak tau sendirilah “ jawab Lusi ragu. Berarti di depan Lusi ada Ibu, duga ku.
“ Dek, boleh Loudspeker aja, kakak mau bicara sama Ibu”
“ Ini sudah Lusi Loudspeker kak, kakak bicara aja, gpp. Ibu denger kok kak…”
Aku lantas mempersiapkan diri, untuk bicara satu arah dengan Ibu, karena aku yakin Ibu tidak akan menjawab ku.
“ Bu,,,, Sena sekali lagi minta maaf. Sena minta maaf sekali bu… mungkin apa yang Sena lakukan buat Ibu dan ayah malu, kecewa, dan marah ke Sena. Maafin Sena bu “ lantas air mata ku pun menetes, aku gak bisa lagi menahannya.
“ Bu, Sena sudah di kota C, Sena kembali lebih cepat, padahal rencana Sena mau menghabiskan waktu dengan Ibu lebih lama kemaren. Sena masih rindu Ibu dan adik-adik bu. Tapi semua jadi berantakan. Maafkan Sena bu,,, kalau kita semua sudah siap, Sena akan kembali kesana. Ibu baik-baik saja ya Bu, Sampaikan maaf Sena untuk Bapak. Semoga secepatnya kita bisa bertemu kembali..” Sambungku sambil terisak-isaak.
“ Kenapa kamu menangis? “ terdengar suara Ibu menggelegar di seberang sana. Suara penuh amarah. Oh Tuhan, tidak ada artinya aku menjelaskan itu semua tadi, ternyata Ibu masih juga tetap marah.
“ Kenapa menangis ? Jawab Sena…” pertanyaan itu di ulangi kembali oleh Ibu, dengan suara lebih kencang yang berarti semakin marah.
“ Sena rindu Ibu,, Sena sedih semua ini terjadi…” Jawab ku semakin terisak
“ Karena siapa semua ini terjadi? Karena kamu Sena, jadi jangan pura-pura ikut sedih. Kamu pikir sekarang bagaimana Ayah dan Ibu menjalani besok, besok lagi, dan seterusnya? tangisan kamu gak ada artinya, karena itu hanya drama kamu”
Deg…
Kata-kata Ibu sangat dalam bagi ku, menurut nya aku hanya drama. Aku hanya pura-pura? lalu baut apa sesak di dada ini?
“ Kenapa diam? jawab Sena… baru juga enam bulan Ibu biarkan kamu pergi kesana, tapi kepulangan kamu membuat Ibu merasa gak kenal kamu lagi. Dari kecil kamu Ibu besarkan jadi anak yang membanggakan Ibu dan Ayah, anak yang manis, dan selalu Ibu jadikan bahan cerita ke teman-teman, juga Saudara, anak cantik yang penurut dan pintar. Tapi apa? Ini balasannya? Apa yang kamu pelajari disana? dengan siapa kamu selama disana bergaul? sampai berubah seperti ini?”
“ Gak ada yang berubah bu, ini Sena yang dulu bu, cuma karena Sena tidak mau menikah dengan Dion Ibu menyalah kan semua nya, Ibu berfikir Sena salah gaul? “
__ADS_1
“ Kamu gak merasa bersalah? Baik, kalau begitu gak usah kabari Ibu apa-apa, dan jangan pernah cari tau tentang kondisi Ibu dan Ayah lewat adik-adik mu lagi. Kamu udah kami anggap hilang…” Telepon langsung di tutup Ibu. Seumur hidup, Ibu sering memarahi ku, tapi kemarahannya tidak seperti ini. Ini pertama kami kali aku diperlakukan Ibu seperti ini, kemarahannya bak letusan gunung api.