
Nando masih terisak. Aku tidak tega melihat nya seperti ini. Tapi berkata-kata menghibur pun aku sudah gak sanggup lagi. Hanya diam. Ikut menangis, walau berusaha tenang.
" Bi,,, sekali ini saja Bi, aku mohon"
" Ndo, dari dulu kamu berharap aku hamil untuk memotong jalan yang sejak awal sulit ini, tapi memang Tuhan gak izinkan Ndo "
" Aku ingin Bi, aku ingin punya anak dari kamu, aku ingin kamu membesarkan anak2 kita, aku ingin kita sama-sama terus, ayo kita hadapi Bi, jangan menyerah"
" Gak menyerah Ndo, benar, aku gak nyerah. kita tetap jalani dan berusaha bertahan, sampai mana kita mampu. Kita coba ya Ndo, kamu gak perlu menangis. Kamu udah miliki sepenuh nya hati aku"
Nando berdiri. Wajah nya merah, lalu mematikan kompor steamboat ku. Nando menarik kasar tangan ku, menuju tenda dan menutup nya. Aku pasrah. Aku tidak melawan. Apa pun yang Nando lakukan, aku ikhlas, walau apa yg terjadi setelah ini adalah kerugian bagi ku, tapi jika setelah ini memang aku hamil, baiklah, mungkin jalan yang lebih curam yang akan kami lalui, aku ikhlas.
Nando membuka baju nya paksa, aku hanya menatap nya, tapi sedikit pun Nando tidak berkedip. Ekspresi marah dan sedih bercampur di wajahnya, tidak, itu adalah ekspresi frustasi. Nando yang patah hati.
Setelah menyelasaikan semua nya, Nando pun terhempas di sampingku. Aku lalu meringkuk ke arah nya, memeluk dada bidang nya.
" Sayang " Panggil ku
" Hmmmm" Jawab nya sambil mengelus tamgan ku yang berada di atas dadanya.
" Lega? "
__ADS_1
Nando hanya menggeleng.
" Makan yuk, aku lapar " ajak ku. Aku ingin Nando mengalihkan pikiran nya. Aku ingat, bahwa kami telah sepakat berkemah sampai hari minggu. Kalau cerita nya Nando frustasi seperti ini, aku gak tau apakah berkemah kali ini akan seseru biasanya?
" Yuk, pakai lah dulu pakaian kamu" Jawab Nando.
Nando pun membatu ku bangkit dari kasur, dan mengenakan pakaian. Setelah itu kami makan, tanpa ada percakapan.
Tenda sebelah baru saja di isi, dan kembali kami bertetangga dengan keluarga kecil. Bahkan anak mereka masih berusia kurang lebih 3 sampai 5 tahun.
Nando sesekali melirik keluarga kecil itu, mereka tertawa melihat tingkah lucu anak mereka yang memancing ikan tanpa kesabaran. Bolak balik di periksa, dan kecewa karena ikan nya gak ada yang nyangkut.
Melihat aku dan Nando yang melirik-lirik dan ikut tersenyum melihat tingkah anak mereka, si orang tua pun ikut melempar senyum pada kami, yang membuat aku dan Nando agak grogi, karena ketahuan memperhatikan orang.
" Boy..mau ikan nya?" Panggil Nando asal
" Mau ooomm" Jawab si anak panjang dan memohon.
Nando pun memberi aba-aba pada si anak untuk datang pada nya, dan memberikan ikan yang telah di masukan dalam ember. Orang tua si anak tertawa terkekeh.
" Piere, bilang makasih sama Om nya" teriak si Ibu
__ADS_1
" Makasih Om..." ucap si anak sambil senyum merekah. Ya, senyum yang indah, seperti bayangan ku jika aku mempunyai anak kelak.
Lalu si Ibu masuk kedalam tenda sebentar dan keluar membawa bungkusan. Di luar dugaan si Ibu malah berjalan menuju ke arah kami.
" Om, tante, ini ada buatan saya, mana tau suka..." si Ibu menyodorkan makanan dalam alumunium foil ke arah ku. Setelah kami mengucapkan terimakasih, si Ibu pun kembali ke tendanya. Mereka ramah, tapi semoga mereka gak sadar bahwa kami sepasang kekasih, bukan suami istri.
Kami pun masuk ke tenda kembali. Hujan akan turun, langit mulai memerah, dan angin kencang. Di dalam tenda Nando menyantap spagetti yang di berikan ibu sebelah tadi. Seperti nya olahraga angkat beban tadi menghabiskan tenaga nya, atau ini persiapan buat ronde berikutnya. Oh Tuhan...
Aku membaringkan tubuh di kasur, sambil memainkan ponsel, tetapi sepertinya cuaca yang buruk membuat sinyal mulai jelek.
Aku meletakan ponsel dan menatap Nando yang masih makan dengan lahapnya.
" Kamu lapar? Atau spagetti nya enak?" tanya ku.
" Gak, hahahahaa, aku cuma mau ngupulin tenanga buat malam ini" Nando lalu melirik nakal pada ku, dan tersenyum menggoda.
*
*
Paginya aku terbangun, Nando terbaring di samping ku. Kami tidak saling bercerita tadi malam, yang aku ingat terakhir adalah Nando yang makan spagetti, lalu aku tertidur.
__ADS_1
Aku sangat suka melihat wajah Nando yang tertidur ini, dan selalu merasa bangga bahwa aku sempat menjadi wanita yang di cintai nya.
Sambil berbaring, aku melihat-lihat promo tiket di aplikasi burung biru. Dalam waktu dekat aku harus pulang, meninggalkan semua nya disini, semua, kecuali hati ku mungkin.