Rindu Dari Bian

Rindu Dari Bian
Malam Kedua


__ADS_3

Menjelang malam, perasaan ku campur aduk. Aku menahan diriku untuk berbicara dengan orang tua ku. Sakit di kepala ku meluruhkan sedikit rasa egois yang selama ini ada pada ku. Ada secuil bagian di hati yang mulai tergoyahkan, mengatakan saat nya aku harus menyerah dan kembali pada orang tua ku. Apalagi aku belum juga mendapat kabar dari Nando.


Membayangkan ayah akan di rawat intensif, aku takut tidak akan bertemu beliau lagi. Walau sejak awal sekawatir nya aku, aku tetap bertahan dengan keputusan ku untuk memilih Nando. Mungkin juga bukan hanya sikap egois ku pada orang tua ku, tapi juga aku kasihan pada Nando. Yakinlah, kalau orang tua nya sudah tidak setuju, lalu di mau hidup dari nol bersama ku, dia tidak akan kuat. Kami hanya membuang waktu nanti nya. Karena sejak lahir Nando hidup berkecupan.


Sakit kepala ini benar-benar mengacaukan isi kepala ku. Sakit ini membuat aku sendiri, saat Nando tidak ada, dan teman-teman ku bekerja, saat aku tidak bisa terlalu lama melihat layar ponsel, yang terjadi adalah intropeksi diri.


Lalu bolehkah bukan Ryo? Maksud ku, oke kalau mereka tetap mau menjodohkan ku, tapi aku harap bukan Ryo, karena dia telah merusak hati ku. Lalu Nando? Aku mulai memikirkan hidup tanpa kasih sayang Nando. Dadaku sesak. Aku pun menangis. Ini selalu terjadi kalau aku memikirkan kehilangan Nando. Sebegitu perasaan takut ku, jika aku tanpa Nando. Tapi kami sudah di ujung jalan, yang pilihan nya kami jalan masing-masing dan tetap tersenyum bersama orang tua, atau kami tetap berdua, tapi kedua orang tua kami menangisi keputusan kami.


Apakah cinta ini membutakan kami terhadap Tuhan, orang tua, dan masa depan? Lalu bagaimana selanjutnya? Apakah ada jaminan nya kami akan selalu bersama selama nya? Apakah ada jaminannya kami akan bahagia berdua? Lalu, jika hal terburuk terjadi diantara kami, pada siapa kami kembali? Saat orang tua sudah kami kecewakan, dan Tuhan kami khianati. Benar, itu harus aku fikirkan, dan aku, aku benar-benar ingin pernikahan hanya sekali seumur hidup.


Lamunan ku panjang. Gak terasa sudah pukul 4 sore, dan memang rencana nya sore ini aku ingin coba bangkit dari tempat tidur ku untuk coba mandi sendiri.


Awal aku turun dari tempat tidur dan berdiri, aku masih marasa pusing. Serasa keseimbangan tubuhku rusak. Aku fikir, jika aku tidak hati- hati aku akan jatuh.


Setelah selesai mandi, aku mengecek ponsel ku, ada panggilan tak terjawab dari Nando. Aku pun menghubungi Nando kembali..


" Ya Ndo..." Sapa ku. Aku mendengar Nando seperti menarik - narik cairan hidung nya. Aku curiga dia menangis, tapi aku abaikan.


" Ndooo" Ulang ku lagi


" Gimana kondisi kamu Bi?" tanya nya


" Ini barusan coba berdiri, terus jalan dan aku mandi Ndo, masih agak pusing, kamu gmn?"


" Aku besok balik. Disini udah selesai, besok aku langsung ke Rumah sakit ya"


" Kalau capek, besok jangan langsung kesini, gpp, istirahat dulu aja yank" Suara ku melemah, ada perasaan gak siap untuk mendengar hasil perjuangan Nando disana. Apalagi dia gak langsung ceritakan hasilnya. Logika nya kalau itu kabar baik, pasti dia udah teriak-teriak saat ini bahagia. Perasaan ku mengatakan, kabar yang akan di bawa Nando buruk.


" Ndoooo, kamu aman?" Tanya ku lagi


" Ya..aman... "

__ADS_1


" Udah makan? Udah di hotel ?"


" Udah, tadi sama mama papa makan bersama, Kamu ada yang mau di bawain besok? Oleh-oleh..."


" Gak lah, aku udah rindu. Kamu datang aja, aku udah senang"


" Sekarang kondisi nya gimana? Yang dirasakan seperti apa yank?"


" Kalau tiduran atau duduk di bed udah gak ada rasa apa-apa Ndo. Seperti orang sehat aja. Tapi tadi aku coba untuk berdiri dan jalan, lemas lagi, rasanya pusing bergoyang gitu"


" Seperti lagi ada gempa? "


" Iya..."


" Besok aku sampai sekitar pukul 10an yank, pesawat pagi. Nanti malam siapa yang jaga kamu?"


" Belum tau. Aku siapa aja gpp, mereka mau rame-rame atau gantian sama aja. Segan juga aku nanyain siapa yang dapat piket malam ini. Aku juga berharap besok bisa pulang"


" Gak ngapa-ngapain. Coba buat nonton TV aja. Karena liat ponsel juga gak bisa lama-lama. Pusing"


" Ya dah, aku mau mandi dulu ya, nanti telponan lagi..."


" ya... Bye..."


" bye..."


Pembicaraan kami di akhiri. Aku merasa ada sesuatu pada Nando. Karena bahasa dan intonasi suara nya benar-benar berbeda dari biasanya. Lemas, dan seperti kehilangan semangat. Tapi aku harus siapkan diri untuk kondisi terburuk, dan harus kuat. Jangan membeban kan semua nya pada Nando.


*


*

__ADS_1


" Heiiii sistaaaa... Apa kabar?" Tetiba trio kwek-kwek masuk, dengan ciri khas suara besar semi berteriak, lalu berhambur memeluk ku.


" Halloooooo.... sepertinya mau jaga bertiga ni??" tanya ku.


" Gak, malam ini aku sama Dona, si ibuk ini mana bisa ya kan..." jawab Risna.


" Iyalahhh ekor nya mau di titip dimana kalau ikutan" Ya, mana mungkin mba Iren ikut jaga. Secara dia punya anak yang masih harus di urusin.


" Aku padahal pengen lho. Kapan lagi kita bisa menggibah semalaman kan? Walau di rumah sakit, hahahhhaa"


" Wah.... Tujuan nya bukan buat jaga aku donk ya? Tapi menggibah, hahahahaha"


" Ya di sambillll "


Kami pun lalu asik bercanda dan bercerita tentang kondisi hotel akhir - akhir ini. Sejenak aku melupakan masalah yang menekan ku sekarang, mereka memang selalu berhasil membolak balikan perasaan ku selama ini. Dari awal kedekatan ku dengan Nando, mereka selalu support, dan tidak pernah sesikitpun menuduh ku yang bukan-bukan. Dan gak pernah berubah perilaku terhadap ku, dari sebelum dengan Nando dan setelah dengan Nando.


Hari pun mulai gelap. Kami memesan makanan. Disini aku tidak punya keluarga, tapi tidak merasa sendiri. Selalu ada Nando dan mereka.


" Eh ngemeng ngemeng, Nando besok pagi udah balik lho, cuma seperti nya gak ngantor dulu, tapi gak tau juga kalau sore nya ke kantor"


" Oh ya? Nyampe jam berapa Bi? Jangan nyampe aku dan Donna sedang tidur dengan posisi syanteeek dia datang" Ucap Risna khawatir.


" Gak lah, paling nyampe jam 10an kata nya"


" Jadi malam besok aku gak bobok sini yes" Tambah Risna lagi.


" kalau mau gpp, biar Nando yang istirahat di rumah"


" Tanyain orang nya dulu deh. Biar jelas ya..."


" Wokggeeehh Ris..."

__ADS_1


Kami pun melanjutkan makan, sampai dengan mba Iren pamit pulang...


__ADS_2