
Pertanyaan Nando tentang Ibu lumayan membuat aku terganggu. Aku berfikir untuk menelpon Ibu, sekedar menanyakan kabar Ayah dan Ibu. Uang juga sudah aku kirim beberapa hari lalu. Lebih banyak daripada sebelumnya. Karena kebutuhan Ibu dan Ayah juga besar karena harus bolak balik terapi.
Aku lihat jam dinding, pasti Ibu belum tidur. Aku mencoba menghubungi nya.
"Hallo Sena" Sapa Ibu di panggilan ku.
" Ya Bu, Ibu sehat? " Jawab ku
" Sehat Sena. Tapi kemaren baru dari RS Ibu kontrol. Ayah baru pulang terapi jam 7 tadi. Antri panjang nak
" Oh, mungkin karena pakai jaminan sosial bu, jadi ngantri?"
" Gak juga nak, yg bayar pribadi pun sama, antri"
" Owh, yang sabar aja bu"
" Iya Sena... Seperti itu Ibu tiap minggu. Udah jadi rutinitas, dan malah Ibu dapat teman-teman baru"
" Uang yg sena kirim udah masuk bu?"
" Sudah, sudah ibu pakai.."
" Kalau kurang, Sena di kabari ya bu, semoga Sena bisa tambahin"
" Gak usah Sena, itu cukup buat Ibu. Kalau ada lebihan uang, kamu simpan ya. Kalau kamu menikah, Ibu ini gak punya simpanan Nak, uang habis buat kebutuhan saja. Gak mungkin kita hanya berharap dari hantaran laki laki nak
"
Aku terdiam, aku takut kl Ibu alih alih malah membahas Ryo
" Baik bu...semoga Sena cepat mendapatkan jodoh yang sesuai sama Sena dan Ibu"
" Sena... Dokter Ryo ya,, apalagi yang kamu cari? Sudah sangat sempurna dia Sena"
__ADS_1
Ah, aku sudah menduga, akhirnya nama ini muncul juga.
" Sena masih mikir bu, Ryo bukan tipe Sena"
" Apa yang kamu cari Sena, di umur sekarang kamu masih bahas tipa tipe tipa tipe"
Suara Ibu mulai besar, mulai emosi. Ini membuat aku jadi serba salah. Aku sanggupi bertentangan dengan hati ku, aku tolak pasti ibu marah lagi.
" Bu,,, Kemungkinan dalam waktu dekat Sena dan Nando akan menikah, sekarang Nando lagi keluar kota, bertemu orang tua nya untuk meminta izin, kami benar-benar akan menikah bu, jadi Sena gak bisa terima Ryo bu"
" Kamu mau menikahi orang yang beda keyakinan sama kita Sena? Kan ayah saat masih sehat pun sudah menolak nya. Kenapa kamu mau menikah sama dia? Kami bukan tidak memikirkan kebahagiaan kamu Sena, tapi kalau tidak karena sesuatu yang prinsip itu, kami pasti dengan senang hati menerima dia"
Ibu berapi api memarahi ku. Seperti nya apa pun yang aku sampaikan sia-sia dan mental. Tapi aku juga ingin mempertahan kan alasan ku.
" Nando mau bu, Nando mau mengikuti keyakinan Sena... Itu sudah di sampaikan Nando bu..."
" Sena Sena... Anak orang kaya yang tampan, mapan, dan mampu mencari yang lebih baik daripada kamu itu dengan rela menukar keyakinan nya karena cinta dengan kamu? Hati-hati aja kamu... lalu orang tua nya gimana? Dengan senang hati juga akan melepaskan anak nya begitu saja..."
" Cinta sekali dia pada mu? Sampai mau melepaskan keyakinan, kehilangan hak nya sebagai anak, meninggalkan orang tua nya? Demi cinta sama kamu?? Hati-hati kamu, karena orang jatuh cinta gak cuma bisa satu kali, saat itu semua terjadi, dan dia tiba-tiba jatuh cinta dengan orang lain lagi, bukan tidak mungkin kamu selanjutnya yang di tinggalkan nya? Atau di tengah jalan dia gak sanggup hidup berjuang, bukan gak mungkin dia akan menarik kamu untuk kembali pada orang tua nya juga keyakinan nya... Dan kamu? Demi alasan tetap mempertahan kan keluarga, demi nasib dan masa depan anak, akhirnya mengikut saja..."
Ya Tuhan ku. Apalagi yang bisa aku jelaskan. Inti nya apa pun alasan ku, mental, Ibu punya jawaban dan alasan menolak Nando, sebanyak alasan ku juga.
" Bu, biarlah Nando menyelesaikan semua dulu bersama orang tua nya. Sena mau tunggu dulu. Nanti, kalau hasil diskusinya tidak baik bagi kami berdua, Sena akan mempertimbangkan hubungan ini..."
" Tega kamu ya Sena, tega kamu kepada kami. Kenapa kamu jadi seperti ini. Kalau ada mesin waktu, satu yang ingin ibu ulang adalah membiarkan mu pergi bekerja keluar kota. Karena sejak itu ibu merasa kehilangan Sena Ibu. Dan walau Ibu tidak ingin mengungkitnya atau menyesali nya, kamu harus tau, apa yang terjadi sama Ayah kamu sekarang, adalah hasil perbuatan kamu. Sekarang kalau kamu lakukan lagi, entah apa yang akan terjadi. Mungkin Ibu yang akan terkapar di samping ayah mu dengan kondisi yang sama"
Nafas ibu sudah terengah engah marah. Aku takut, beliau begitu marah. Ingin aku akhiri panggilan telpon ini, tapi beliau pasti akan lebih marah. Keputusan ku menelpon nya malam ini bisa jadi masalah besar. Ya Tuhan... Semoga setelah ini tidak terjadi apa-apa pada Ibu ku.
" Bu... Sudah ya, biar Sena pikirkan dulu baiknya bagaimana, Ibu istirahat dulu..."
" Pinter kamu ngomong gitu.. Pinter suruh Ibu istirahat, Ibu ingin Sena, pengen istirahat, tapi kalau ibu udah keingat kamu, Ibu mendongkol lagi. Pokoknya, kamu hanya boleh menikah dengan Ryo. Titik. Kami akan atur semua nya, dan ingat, kamu harus pulang di tanggal itu, jika tidak, kamu tumggu aja kabar ibu, atau ibu akan kesana menjemput kamu pulang. Dengar ya Sena. Jangan kamu uji uji lagi kesabaran Ibu. Sudah cukup kamu membuat masalah besar dulu, jangan sampai dua kali. Jangan sombong dengan wajah cantik mu, ingat itu"
" Bu, jangan bicara seperti itu. Sekali lagi Sena mohon bu, mohon.... Mohon untuk beri waktu pada Nando. Dia juga sedang berjuang bu.. Sena percaya bu dengan Nando. Pasti ada jalan keluarnya..."
__ADS_1
" Tidak!!"
" Bu.... Sudahlah ya, Ibu istirahat dulu. Semoga besok pagi semua nya berjalan lebih baik"
" Ingat ya, kamu pulang sesegera mungkin. Tidak pulang sementara, tapi pulang total. Kalau kamu tidak lakukan, Ibu yang akan menjemput mu"
" Ya bu,,, Istirahat ya bu,,, Sena mau tidur dulu..."
Telpon langsung di tutup Ibu, sebelum.aku selesai berbicara.
Aku langsung berinisiatif menelpon Lusi. Aku ingin memastikan kondisi Ibu. Karena nafas Ibu sangat sesak tadi saat berapi api memarahi ku.
" Lusi..."
" Ya kak...."
" Belum tidurkan?"
" Belum kak,,, Ibu marah-marah tadi, lusi tegang, gak bisa tidur. Rori sampai datang ke kamar lusi ketakutan"
" Bantu kakak pastikan kondisi Ibu ya dek... Pastikan dia tenang sebelum istirahat"
" Kak,, maafkan Lusi kali ini ya kak, tapi Lusi mohon, jangan buat Ibu marah lagi kak, jangan kecewakan Ibu dan ayah lagi kak.. Kami disini sudah sangat lelah dengan kondisi yang ada. Lusi mengerti kalau kakak mencintai bang Nando.. Tapi pikirkan juga keluarga kak..."
" Ya Lusi.. Terimakasih sudah kuat sampai hari ini untuk menjaga ayah dan ibu. Maafkan kakak ya... bilang ke Rori juga ya..."
" Ya kak.. Istirahatlah..."
Lalu telpon di tutup.
Aku sedih dengan kata-kata terakhir Lusi. Ada benarnya. Mereka disana pasti lelah memikirkan kejadian demi kejadian sebelum nya. Belum lagi gunjingan keluarga.
Aku akan menunggu kabar dari perjuangan Nando saja. Walau kata-kata Ibu masih terngiang-ngiang di telinga ku.
__ADS_1