Rindu Dari Bian

Rindu Dari Bian
Karena Sok Pintar


__ADS_3

Aku dan Nando mendampingi Ibu owner keluar hotel melalui lobby. Jangan di tanya bagaimana setiap mata melihat pemandangan itu. Masuk mobil dan Nando menyetir sendiri tanpa sopir. Ibu pilih duduk di belakang, aku di minta duduk di samping Nando. Aku bisa melihat mata si Ibu melihat ku dari belakang terus menerus.


Di perjalanan kami hanya mengobrol ringan, bahkan aku nyaris silent, hanya meng “iya”  kan, meng “ gak” kan, dan berpartisipasi apabila ada yang perlu di tertawakan. Ini sangat canggung buat aku, setelah briefing kemarin, hari ini si Ibu ngajak aku ngobrol, langsung ngajakin makan. Entah apa yang dia pengen tau dari aku. Apa Nando sudah jujur ke Ibu nya? Aku sedang mencari kesempatan untuk bertanya langsung kepadanya. Ah si Bapak Bos bikin penasaran saja.


Yap, aku benar,  ternyata Nando benar-benar mengajak mama nya makan di bakso pinggir jalan tempat aku dan Risna sering makan. Aneh nya Ibu-Ibu anggun ini tanpa komentar apa pun langsung turun dan mengikuti Nando. Aku yang jadi was- was, kalau kalau nanti si Ibu bertanya siapa yang ngasih tau kalau bakso disini enak, kalau Nando jawab aku?


Bakso pun datang, sama seperti aku dan Nando, si Ibu juga memesan Bakso dan Es Campur. Sedikit menggelitik di kepala ku, apa si Ibu ini gak ada pantangan makan? Karena usia nya yang sudah bisa di bilang lanjut, biasanya tidak makan makanan dingin dan panas sekaligus. Belum lagi saat aku dapati beliau menambahkan cabe jauh lebih banyak dari pada yang aku gunakan. Ruuuarrr biasa.


“ Enak ya, segar… tau dari siapa kamu disini ada bakso enak Ndo?” Tanya si Ibu owner


Hadeuh,,, Jangan sampai Nando menyebut nama ku.


“ Ini anak-anak kantor sering makan disini ma, sering kumpul disini, aku penasaran pengen ikut. Ternyata emang enak. Kalau mama datang nya sore atau malam, banyak karyawan hotel kita ini makan disini..” jelas Nando…


Selamaaattt.. pikirku


“ Bapak, bakso nya enak sekali, kuah nya bening begini tapi berkaldu rasanya, sudah berapa lama jualan nya Pak? “ Tanya si Ibu ke Bapak tukang bakso.


“ Terimakasih bu, syukur kalau suka, sudah 11 tahun bu saya jualan disini. Alhamdulillah sudah bisa sarjanakan anak saya dua bu “ jelas si Bapak


“ Wah hebat bapak ini, mau buka cabang pak? Buka seperti ini di mal, laku pasti pak, harga jual juga bisa lebih tinggi, kalau mau saya bantu Pak, nanti system nya tidak sewa, tapi bagi hasil”  tawar Ibu Nando yang buat aku kaget, memang perempuan cuan sejati, pikirku sambil menggeleng-geleng.


“ Sementara ini dulu bu, gak ada yang membantu bu, Istri saya mengerjakan untuk warung ini saja di rumah sendiri sudah kelelahan, kalau di kasih ke orang takut rasa nya gak sama. Lain kali saya coba pikirkan ya bu” tolak si Bapak Tukang Bakso.


“ Oh begitu. Tapi nanti kalau berubah pikiran boleh di kabari pak. Anak saya ini manager di Hotel Bintang Enam pak, Nando namanya. Kasih tau ke dia aja kalau bapak berubah pikiran ya Pak”


Hampir saja aku tersedak mendengar kata-kata Ibu owner tadi. Belum lagi melihat reaksi Nando yang langsung datar menarik ujung bibirnya seperti mau membantah tapi tertahan. Bisa-bisa nya Ibu nya memperkenalkan diri nya ke tukang bakso secara detail.


“ Ma,,,, apa sih ngenalin aku sama si Bapak” Kata Nando sedikit kesal


“ Ya gpp lah, nanti kalau masuk ke mal, mal kita juga yang rame. Enak lho ini, beneran. Besok kalau ada acara-acara di rumah kita, mama pesan ini, pasti teman-teman mama suka”


“ Pikiran mama ini kalau gak cuan apa ya? “

__ADS_1


“ Eh, makan aja, jangan berisik “ hardik Ibu owner ke anak nya.


Aku hanya bisa tersenyum dan sedikit menggelengkan kepala. Tambahan lagi, aku jadi tau kalau keluarga Nando juga punya Mal di kota ini. Tapi Risna gak update untuk yang ini.


Selesai makan Bakso, kami pulang menuju hotel untuk mengantarkan ku. Ibu owner dan Nando mau langsung pulang ke rumah, karena Ibu owner kata nya mau beristirahat Karena Nanti malam mereka dia harus berangkat ke kota D bersama Bapak. Tidak lupa Nando meminta tolong untuk menguncikan kantor dan mematikan  computer dan lampu.


Aku kembali ke kantor, dan masih seperti tadi. Aku mendapati pandangan dari karyawan sama seperti saat berangkat tadi. Aku pilih pura-pura tidak mengerti saja. Sampai kantor aku telpon Risna, untuk mengabari kalau aku mau pulang nebeng lagi dengan nya. Ternyata Risna mau lembur mala mini. Karena besok hari Sabtu, dia diburu mengantarkan report nya Senin pagi ke Pak reza.


Baiklah,, hari ini aku pulang mau naik bis saja. Aku pun teringat ingin membeli make up. Sebenernya lebih gampang naik ojek online. Tapi kali ini aku kepikiran mau mencoba jalur bis yang lain, gak melulu hanya kos-hotel saja.


Teng jam empat, aku langsung bersiap pulang, setelah berganti pakaian aku langsung berjalan menuju halte bus. Aku mencari nomor bis sesuai dengan di arahkan Risna tadi.


“ Jangan salah lho kamu, hati-hati” pesan Risna


“ Iya, udah tua gini, masa sembarangan di jalan. Ada-ada aja, kalau nyasar pun aku bisa pulang pakai ojek online kan” jawab ku


“ Kenapa gak besok aja? Jam 10 deh aku jemput kamu ke kos, aku temani belanjanya. Aku kok ragu ya, kamu pergi sendiri dengan bus” Risna terdengar sangat ragu membiarkan aku pergi sendiri.


“ Gpp, nunggu Nando juga gak tau bisa kapan, sudahlah, gpp, aku bisa…”


Dan sekarang aku sudah di bis dengan nomor jalur yang telah di tunjukin Risna. Bis nya lebih besar dari yang biasa aku naiki dari Kos. Aku tadi sudah memesan ke kenek nya untuk turun di Mal Yang Ramai. Kata Risna Mal ini yang bisa di naiki satu kali jalur bis dari hotel. Karena aku belum pernah kesana, aku takut kelewatan, maka nya aku pesan ke kenek nya.


Setelah berjalan kurang lebih kurang 10 menit, aku sampai ke Mal Yang Ramai. Dikota ku, aku nyaris gak pernah pergi sendiri, karena selalu ada Dion dimana pun aku berada. Kali ini aku merasa leluasa dan punya banyak waktu memilih-milih make up, sekedar cuci mata di stand pakaian, dan setelah semua yang aku cari aku dapatkan, aku pun pulang. Karena aku lihat sudah gelap, aku mau memesan ojek online saja. Tiba-tiba sesorang menyenggol tubuh ku sangat keras, dan langsung menarik tas ku. Saking terkejutnya lutut ku lemas, jangan kan mau mengejar, mengeluarkan suara saja aku sudah gak sanggup.


Beberapa orang yang melihat kejadian itu langsung berteriak ingin membantu. Aku merasa dadaku  sesak, hanya bisa menangis, dan seorang Ibu-ibu berusaha menenangkan ku. Aku di beri minum dan di bawa ke pos security. Tapi karena kejadiannya sudah di kanopi mal, jambret nya sudah lari menggunakan sepeda motor.


Karena masih shock, aku belum bisa berbicara. Saat security meminta nomor telepon orang terdekat, aku langsung kesal karena tidak menghapal nomor telepon Nando. Yang ada dalam ingatan ku malah nomor Dion, Ayah, dan Ibu ku. Tapi aku mengingat nomor telepon hotel. Dan aku meminjam telepon hotel dan meminta nomor telpon Nando.


Sambil menangis aku menelpon Nando. Berkali-kali aku telpon gak di angkat. Mungkin Nando memang tidak mau mengangkat telpon yang tidak dikenalnya. Lalu aku kembali menelpon hotel dan mencoba menjelaskan yang terjadi, meminta mereka bantu telpon Nando untuk menjemput ku. Awalnya mereka menawari untuk driver yang menjemputku, aku tolak. Sepertinya aku butuh Nando.


Tak lama kemudian Nando menelpon ke nomor security yang aku pinjam tadi. Aku gak bisa bicara lagi pada Nando, aku hanya menangis..


" Bi,,, sayang…. tenang ya, aku kesana.. tunggu ya"

__ADS_1


Aku tidak menjawab, malah mengangguk seolah-olah Nando ada di hadapan ku. Selama aku di security, ibu-ibu yang tadi menolong ku tidak meninggalkan ku. Ia menemaniku, dan berkali-kali menenangkan ku, memaksa aku untuk minum. Pikir ku walau aku jauh, masih ada orang baik yang mau menemaniku seperti ini. 


Kurang lebih 30 menit Nando sudah sampai. Tanpa pikir aku langsung mengejar dan memeluk nya. Nando membelai-belai punggung ku..


"Sudah-sudah Bi, jangan nangis lagi, tenang,,, udah ada aku.." ucap nya


Sebenarnya dari kejadian ini aku merasa takut, juga merasa bersalah. Karena aku pergi tanpa mengatakan pada Nando, dan Risna sudah melarangku untuk pergi sendiri. Tapi aku terlewat berani. 


Setelah melepaskan pelukan ku, mengucapkan terimakasih pada si Ibu dan Bapak security, Nando membawa ku pulang.


Dimobil aku hanya diam. Jika ini Dion, pasti dia udah mengomel sepanjang perjalanan. Tapi aku belum tau gimana Nando. Aku menunggu reaksi dan petuah dari nya..


"Pelajaran ya Bi, gak lagi lagi sok berani pergi sendiri. Se gak nya kamu ngomong lho, biar aku bisa tau kamu sedang dimana. Untung kamu ingat nomor telpon hotel. Kalau gak gimana"


"Iya, janji gak ngulang lagi.. jangan marah ya" jawab ku


"Tadi di perjalanan aq rencana nya gitu, pengen marah-marahin kamu. Tapi tadi udah dipeluk cewek cantik, amarah ku jadi redaaaaa" Bukan Nando nama nya kalau gak bisa buat aku tertawa seketika.


"jadi, gimana? dapat apa hasil nge-mal sendirian hari ini" sindir nya lagi


" Barang yang di beli tadi d dalam tas semua, HP, dompet, semua ada di tas yang di jambret " seketika aku jadi sedih lagi. 


" Surat-surat penting? KTP? ATM?" tanya nya lagi. 


" Kalau KTP aku memang gak pernah bawa, ATM sih,,, nanti aku blockir aja, tapi HP, itu yg buat sedih…"


" Mau beli sekarang?" tawar Nando


" Beli yg bekas dulu aja gpp, uang ku cukup, nanti abs gajian di ganti lagi, cari toko HP di pinggir jalan aja Ndo, aku gak mau masuk mal dulu"


" Kaya nya aku punya hape yang bis kamu pakai deh, masih baru, belum aku pakai. Jemput dulu ke rumah yuk" ajak Nando. Tapi aku kepikiran emak nya masih di rumah. Gak enak kalau aku malah bertamu sekarang. 


"Tenang aja, mama gak ada, udah berangkat dari tadi " ih, Nando selalu seperti mendengar suara hati aku. 

__ADS_1


Ya Tuhan.. 


kenapa ketemu nya baru sekarang sih yang seperti ini? kalau dari si SMA kan aku langsung mau aja di ajak nikah selesai sekolah. Hahahahagaaa…


__ADS_2