Rindu Dari Bian

Rindu Dari Bian
Mulai menghitung Mundur


__ADS_3

Seperti biasa, kalau udah namanya rencana mau berkemah, pasti aku selalu gak sabaran nunggu berangkat. Di kantor aku sih masih semangat kerja, tapi catatan nya, semangat itu karena buat membunuh waktu, agar gak terlalu terasa bahwa waktu lambat sekali.


Dan yang aneh, sudah berapa kali hari ini Nando chat " I LOVE YOU " entah terbentur dimana kepala nya, sampai eror seperti itu. Bahkan sejak kami pacaran, Nando gak pernah melakukan hal lebay seperti ini.


Ini chat ke 6, dan gak satu pun aku balas. Tapi yang terakhir ini aku membalas nya. " I Love you bertubi tubi sayaaanngggg" sambil tersenyum geli.


Gak nunggu lama, chat balasan dari Nando pun masuk, " Cari kamar OO yank", jelas saja chat balasan itu membuat mata ku membulat. Memang bener-bener kebentur ini pak bos.


"Wooooiii" balas ku. Dan kemudian masuk lagi balasan chat dari Nando yang tidak lagi ku gubris. Menunggu jam pulang kantor saja aku sudah gak sabaran, di tambah gangguan Nando membuat aku semakin terbirit-birit kerja.


*


*


Akhir nya jam pulang kantor tiba. Aku ke locker untuk berganti pakaian, disana seperti biasa, aku sempatkan untuk bercanda bersama trio kwek kwek.


" Hei, nonaaa.. Sini dulu duduk, kamu harus menjelaskan sesuatu sama kita semua" panggil Risna, dengan wajah sangat serius sedikit menggeram menakuti ku.


" Aposek, kek nya serius banget" jawab ku seolah gak tau apa yang akan mereka tanyakan. Padahal aku tau, pasti Risna akan membahas kontrak kerja ku.


" Sist, ada apa? Perasaan kemarin di rumah sakit, kamu masih nanyain aku masalah kontrak kerja kamu. Terus kenapa tiba-tiba hari ini, aku dapat kabar dari Bos ku, kamu gak mau di perpanjang? Ada apa? sebel aku Bi.... " Omel Risna panjang. Wajah nya antara mau marah dan sedih. Sangat keliatan, kalau aku bisa di jangkau dengan tangan nya, mungkin beberapa pukulan dan cubitan akan mendarat di lengan ku.


" Ohhhh.. GM gak mau perpanjang kontrak aku sist, sedih aku tuuuu sebenernya" bohong ku, aku pasang wajah seolah olah bersedih.


" Apasih Bi? Kamu mau nikah?" tanya mba Iren.


" Gak lah mba, mau nikah sama siapa?, belum ada yang lamar "


" Ahhh, jangan nutup nutupi dari kita sih Bi.. Kamu ini, kita udah kaya keluarga gini, lagi riang riang nya berteman dan menggibah, tau nya kamu pergi... " Tambah Iren lagi.


" Iya mba.. Beneran. Pacar ku itu bapak GM, kalau aku mau nikah, pasti berita nya udah kemana-mana.. Toh sekarang belum ada"


Wajah Risna semakin kesal.


" mba, Ris, donat.. Aku mau pulang. Aku mau bantu Lusi adik ku ngurusin ayah ku. Mumpung masih ada waktu.. " kali ini aku menjawab serius. Ya itulah alasan diplomatis yang kami persiapkan bersama Nando tadi malam, jika ada yang bertanya.

__ADS_1


Jawaban yang sudah di sah kan secara official oleh aku dan Nando, yang aku gunakan juga sebagai alasan tidak memperpanjang kontrak ku di HRD.


" Terus? Kamu sama Nando gimana?" tanya Donat


" Ya gak gimana-gimana. Aku bakal pindah, jadi satu team dengan Pak Agus di kota ku. Ya hubungan dengan Nando, kita jalani saja " Jelas ku lagi.


" Kenapa sih Bi,,, kenapa mesti pindah,, disini ajalah.." Risna memelas.


" Aku juga pengen Ris.. Pengen dekat Nando terus. Kalau di dekat orang tua ku nanti pacaran nya gak sebebas di sini ya kan.." canda ku, dan di sambut tertawa rusuh trio kwek kwek.


" Ada farewell party gak ni ?" Teriak Donat dengan wajah penuh harap.


" Hhhmm, aku coba bicarakan dengan Nando dulu ya. Semoga bisa"


" Siiippp" jawab mereka serentak.


*


*


" Maaf Ndo, tadi abis di introgasi trio kwek kwek" Nando hanya tersenyum menjawab penjelasan ku.


Lalu mobil mulai melaju. Tangan Nando terus menggenggam tangan ku, dan menyetir dengan satu tangan saja.


Ingatan ku kembali pada kejadian pertama kali Nando menyatakan dia suka pada ku, dan menganggap hubungan ini serius. Ya, di hari aku di hina Dion. Di hari Nando mengambil ponsel ku yang sedang video call dengan Dion.


Sepanjang jalan, aku hanya mengamati wajah Nando. Aku akan merindukan nya, pasti. Aku ingin puas puas melihat wajah ini. Nando yang tau aku terus mengamati wajah nya, membalas dengan sesekali memandang ku, dan mencium tangan ku. Dari genggaman nya aku tau, dia tidak ingin melepaskan ku, dia ingin aku tetap di samping nya... Ndo, andai itu bisa, aku pun ingin demikian.


" Mobil nya ada kamera yank?" tanya ku sambil memperhatikan kaca depan mobil.


" Ada..." Jawab Nando.


" mobil yang lain?"


" Ada semua, kenapa?"

__ADS_1


" Data nya kesimpan berapa lama?"


" 2 weeks"


" Hmmmmm" jawab ku lemas.


" Tapi semua ter_backup sih, ada di security di rumah. Kenapa?"


" Aku mau semua video kita di mobil, sejak awal, bisa? " Mohon ku lemah. Ya, aku ingin sesekali nanti mengenang Nando dengan ini semua. Semoga bisa ..


" Boleh, nanti aq carikan, aku simpan kan buat kamu"


" Makasih ya Ndo"


Aku langsung menempel di lengan Nando, memeluk lengan nya, dan menatap kedepan. Duluuu waktu pertama kali pergi berkemah, aku sangat gumun melihat suasana di jalan, kiri kanan, dan bukit bukit batu ini. Tapi sekarang, aku merasa rugi jika aku melepaskan sebentar saja pandangan ku dari Nando.


Ndo.... bagaimana kita setelah ini?


*


*


Kami sampai. Nando tinggal mengambil nomor tenda, dan perlengkapan yang telah di pesan nya saat reservasi tadi siang.


Lalu kami memarkirkan mobil, dan berjalan menuju tenda. Tiap menginap disini, selalu dapat tenda yang berbeda, pasti pemandangan nya juga akan berbeda.


" Bi... Ingat kita berkemah, dan yang di tenda sebelah adalah keluarga dengan anak-anak mereka" Ucap Nando saat aku sedang menyiapkan peralatan barbeque dan steamboat untuk makan malam ini.


" Ya, hujan deras, anak-anak mereka.malah bersorak girang, karena kena percikan air hujan, aku langsung membayangkan, anak kita juga suatu hari akan segirang itu menginap disini.." Jujur, aku ingin menangis. Kata-kata 'anak kita' yang keluar begitu saja dari bibir ku, membuat aku seperti tersambar petir, tangan dan kaki ku melemah..


" Bi,,," Nando mendekat.


" Malam ini, jika setelah ini kamu hamil, berarti jalan nya kita bersama Bi" Tambah nya. Mata nya berkaca-kaca, tanggannya menggenggam pergelangan tangan ku. Nafas nya di tarik panjang.


Aku memaksa senyum tersemat di bibir ku. Dan menjawab dengan gelengan kepala, dan juga melepaskan nafas panjang. Buat aku, sudah berkali kali aku sampaikan pada Nando, bahwa aku tidak menyetujui ide itu.

__ADS_1


Nando lalu bersimpuh dan memeluk kaki ku. Di benamkan nya wajah nya di atas paha ku. Bahu nya bergetar, Nando terisak menangis. Air mata ku pun akhirnya menetes. Aku melihat ke arah danau, hanya gelap. Cahaya lampu tidak mampu menerangi sampai ke tengah danau. Tangan ku, terus mengelus rambut Nando. Apa yang harus aku lakukan Ndo. Rasa nya ingin jadi gila, dan terjun ke dalam danau itu, kita mati saja malam ini berdua, biar rasa sakit dan sesak di hati ini hilang. Ingin rasa nya hati ini aku keluar kan sementara, biar sembuh dulu. Kalau udah gak sakit lagi, aku masukan kembali.


__ADS_2