
Briefing pun dimulai, di awali dengan GM menceritakan hal-hal yang menjadi fokus beberapa bulan terakhir ini, lalu hal-hal urgent yang menjadi catatan untuk di perbaiki. di lanjutkan HOD lain yang sharing tentang departement dan pekerjaannya masing-masing. Aku mulai bergetar, begitu giliran Pak Nando yang sharing, setelah ini giliran ku.
Nando dengan santai nya menerangkan kondisi FO, bicara tanpa beban, tapi public speaking Nando memang top makotop. Luar biasa rapi, terarah, dan sangat jelas.
“ Disini juga saya perkenalkan tandem baru saya, Bapak, Ibu, ini Febian. Dia asistant saya, dan saat ini membantu saya untuk memberikan training, handling report untuk Front Desk, dan operator. Silahkan Bian, perkenalkan diri dan sharing dengan kita semua disini tentang kondisi Front Desk” Nando tersenyum kepada ku, dan karena aku harus memperkenalkan diri, aku putuskan untuk berbicara sambil berdiri dulu.
“ Selamat pagi Bapk, Ibu, perkenalkan saya Febian Senandila, biasa dipanggil Bian. Saat ini saya menjadi salah satu team Pak Nando di Front Office Departemen, dengan posisi Assintant Front Office Manager. Saya sudah bergabung kurang lebih empat bulan, dan senang bertemu Bapak Ibu “ Aku mangatupkan tangan ke dada, dan agak menunduk. Lalu duduk kembali dan menceritakan tentang hasil briefing juga training ku ke anak-anak front desk, tentang komplain-komplaint tamu yang masuk melalui kami. Aku ahli kalau di minta seperti ini, karena walaupun grogi, penampilan ku untuk presentasi seslalu di puji, sebagai lulusan Ilmu Komunikasi, aku juga memiliki Public Speaking yang baik, dan handal sekali kalau diminta handling Complaint.
“ Kamu siapa? Asistant nya Pak Nando?” tanya si Ibu setelah aku menyelesaikan penjelasan ku.
“ Benar Ibu, “ jawab ku
“ Sejak kapan Pak Nando harus makai asistant? Pak Nando mau resign? sehingga mempersiapkan penggantinya? atau mau naik jadi GM? “ lanjut si Ibu lagi.
Si Bapak tersenyum, Pak Nando tersenyum nakal, dia gak takut di gituin si Ibu? malahan yang tampak agak gelisah si GM. Apa benar Pak Nando mau jadi GM gantiin Pak Agus? Ih kok tega? kan mereka dekat banget, Pak Agus sering lho main ke office nya Nando, walau sekedar ngobrol.
“ Sebenarnya Ibu, seperti yang saya jelaskan tadi, bahwa grafik room sale melalui e-commerce saat ini sangat tinggi. Dari beberapa online travel agent bahkan bisa memberikan kontribusi sampai 40 - 50% . Jadi menurut saya, ini harus di manage dengan baik dan saya yang langsung handle. Untuk ini saya menghabiskan banyak waktu di depan komputer seharian. Maka nya saya mulai butuh asistant untuk operasional FO” Nando menjelaskan.
“ Good! teruskan!” komentar si Bapak
Briefing masih berlanjut. Dan berakhir pukul satu siang. Tidak ada lunch, bubar dulu, juga meeting HOD yang awal nya di schedule sore ini di undur menjadi besok pagi. Karena si Bapak ada urusan lain dan harus meninggalkan hotel. Si Ibu tetap tinggal. Saat bubar, aku melihat Nando mengikuti si Ibu, bersama Pak Agus. Mereka menuju ke Coffee Shop, makan bertiga. Aku dan Risna yang sejak jam 11.30 tadi sudah krunyuk-krunyuk, langsung ,menuju kantin.
Di kantin, member makan siang kami juga belum bubar. Mereka masih ngobrol disana, ada bang Rey dan Bang Herman juga. Aku dan Risna langsung memberi kode yang berarti tunggu kami, lalu setelah selesai mengambil makanan kami langsung bergabung.
Seperti biasa, mereka langsung mengintrogasi kami, apa yang terjadi selama briefing bersama owner tadi. Risna menceritakan. Dan yang paling seru menurutnya adalah bagian si Ibu bertanya sejak kapan Pak Nando butuh Asisten? Apa Pak Nando mau resign? Atau mau jadi GM? Bahkan Risna sampai mirip banget menirukan intonasi suara si Ibu, juga ekspresi si Ibu tadi.
“ Haaa? Ibu nanya gitu?” Sambut mba Iren,
“ Gemetar donk pak Agus? “ sambung nya lagi dan di sambut tawa riuh semua nya, termasuk aku.
“ Eh tapi bener lho, tadi aku liat Pak Nando cuma senyum aja, sedang Pak Agus langsung gelisah banget, nyampe aku mikir, jahat bener si Pak Nando, masa mau nikung posisi temannya,,” jelas ku. Tapi bukannya tertawa, yang lain malah melihat ku aneh.
“ Aku salah ngomong? Bagian mana? “ tanya ku lagi bingung dengan ekspresi mereka.
“ Pak Nando mana Bi? “ Tanya Risna seperti mau menjelaskan sesuatu.
“ Makan di coffee shop tadi sepertinya. Kan tadi kamu liat sendiri tadi, dia dan Pak Agus ngekorin si Ibu” jawab ku.
“ Nemenin emak nya makan, itu lebih tepatnya” jelas Risna agak jutek.
__ADS_1
Aku langsung meletakan sendok dan garpu ku di piring. Mata yang lain langsung tertuju pada ku lemas.
“ Bi, kamu beneran gak tau? bukannya waktu di kemah kita udah bilang sama dia Ren?” lanjut Donat.
“ Bilang apa? aku gak ingat..” sumpah aku penasaran
“ Nando itu anak nya si Bapak dan Ibu tadi Febiaaaaannn aaahhhhh” Risna tampak kesal
“ Kamu beneran gak tau?” sambungnya lagi. Dan aku hanya terdiam dan menggeleng.
“ Ya ampun upik abuuuuu, lu pacaran sama orang yang lu gak tau asal usulnya, lu gak pernah nanya? untung itu Nando ya, jelas Sultan, kalau rampok? udah habis lu Bi, mau-an aja sih” Risna mejelaskan dengan kesal. Sedangkan aku hanya diam seribu bahasa.
“ Lu tau Nando sebatas apasih?” tanya Herman
“ Aku malah pernah di ajak kerumahnya, tapi cuma ketemu bibik yang jagain dia dari kecil katanya, dia bilang mama-papa, dan 2 orang kakaknya tinggal di kota yang berbeda-beda”
“ Rumah yang dimana? Jl. Thamrin?”
“ Iya kaya nya. Yang dipinggir jalan, rumah besar, yang dia tinggalin”
Semua menyambut dengan gelengan kepala.
Aku gak perduli dengan apa yang mereka bahas, aku cuma mikir, kenapa Nando gak pernah kasih tau. Jadi itu mama yang dia bilang tadi malam datang? yang bakal repot dia urus. Kok aku gak nyambung ya.
“ Emang sekaya itu orang tua Pak Nando? “ tanya ku pelan
“ Ya iyalah, ini ni, hotel cuma salah satunya, ada 3 lagi ni yang segede gini, dan lebih baru. Belum lagi tambang batu bara ya katanya, dan perkebunan gitu lah di Sumatera. Nah masing-masing anak megang satu hotel, untuk tambang dan perkebunan katanya ada manajemen sendiri yang masih di urus langsung sama Bapak.” Jelas Herman lagi.
“ Terus Nando kenapa kerja jadi FOM? kalau dia bisa duduk manis nunggu laporan jadi owner?” lanjut ku
“ Beda nya Nando dan kakak kakaknya itu. Nando bahkan kerja disini awalnya jadi Receptionist. Pulang dari Ausie, langsung kerja. Waktu GM kosong, dia di tawarkan untuk jadi GM, tapi di tolak, karena lebih senang handle FO kata nya” Mba Iren menjelaskan.
“ Sana tanya sama pacar kamu, kenapa gak pernah ngomong ke kamu” ucap Risna
“Pantesan tiap yang dilirik Nando, langsung ciut seperti Mas Dean tadi. Terus pantesan gila dia bilang mau beli mulut nya si Dion, malah nanya harga nya berapa? “ Sebenarnya aku shock, Siapa yang sangka, lepas dari anak pejabat, aku dapat sultan yang hartanya tersebar dari Sabang sampai Merauke.
Aku kembali ke kantor, ku lihat si Ibu masih di kantor Nando melihat-lihat HP nya, sambil sesekali mengobrol dengan Nando. Dan aku merasa si Ibu sedang memperhatikan aku. Aku putuskan akhir nya berdiri di counter saja. Meninggalkan office.
*Di dalam Office Nando
__ADS_1
" Dari mana kamu dapat asisten baru tadi Ndo?" tanya si Ibu
" Kenapa emang nya? Mama dari tadi kaya nya kepo sama dia? sampai mikir aku mau resign segala" jawab Nando
"Cantikan dia menurut kamu?" tanya si Ibu lagi
" Cantiklah, aku yang milih, pasti cantik" Nando agak hati-hati kali ini, ia membaca gelagat kekepoan luar biasa dari Ibu nya
" Kamu anak mama Ndo, jadi gak bakalan bisa kamu nyembunyikan sesuatu dari mama"
Nando terdiam mendengar ucapan mama nya. Dia senang mama nya tau tentang selera nya, tapi yang terbaca saat ini nada penolakan, entah apa maksud mama sekarang.
Lalu Nando berusaha mengalihkan pembicaraan dengan mama nya ke topik lain. Agar tidak membahas Bian lagi. Nando belum siap, asal jangan ada aja yg keceplosan di hotel ini ke mama, bahwa Nando dan Bian pacaran.
Akhirnya mama minta di antar pulang. Walaupun ada supir, kali ini dia minta Nando ikut pulang bersama nya. Nando langsung mengirim chat ke Bian.
"Pulang sama Risna ya, mama minta antar pulang" tulis nya.
" Baru ngomong kamu kalau itu mama kamu"
"Nanti kalau ada waktu kita ngobrol ya. Aku sayang kamu, mmmmmuuuaaahhhcc"
Ya ampun Nando, jaman kapan aku chatting pakai kata-kata ini. Dia malah ngulang jaman abegeh lagi.
*
Aku pulang kantor di antar Risna. Mumpung masih sore, aku bisa membersihkan kamar, mengganti sprei dan sarung bantal. Benar aja, parfum Nando menempel kuat di bantal itu. Ah, rindu Nando. Padahal tadi ketemu, tapi mungkin karena gak banyak ngobrol, jadi nya terasa rindu.
Setelah selesai, matahari pun mulai tenggelam. Aku berencana membeli makanan yang gak jauh dari kos. Tiba-tiba Nando VC
"Kok rindu ya.." sambut nya langsung
"Lagi dimana?" jawab ku
"Di rumah, mama masih belum tidur di bawah, sebenernya dari tadi aku mau kesana, "
"Iya, kamu hutang banyak penjelasan ke aku"
"wait ya, aku kesana" Nando langsung menutup telpon nya, dan aku gak jadi membeli makan, nunggu Nando aja buat makan sama-sama.
__ADS_1