
Bulan ini bulan ke Sebelas aku di kota ini. Berarti kontrak kerja ku akan habis bulan depan, dan berarti bulan depan, tidak akan genap satu bulan aku bekerja.
Apakah kontrak ku di perpanjang? Ya, karena GM ku adalah Nando. Walau sebelum nya Nando pernah menawarkan ku untuk pulang ke kota ku, dan bekerja di hotel milik keluarga nya di kota ku.
" Ris... Kontrak aku di perpanjang apa gak?" Tanya ku saat pagi dan risna bersiap untuk.berangkat ke kantor.
" Emang nya ada panggilan HRD kalau kontrak kamu gak di perpanjang Sist?"
" Gak sih, tapi kali aja.."
" Di perpanjang lah. Cuti lu masih banyak Sist?"
" Gak, paling cuma beberapa hari sih Ris.."
" Nanti aku siapin ya kontrak nya"
Risna pun selesai bersiap, dan pamit berangkat kerja.
Aku pun menelpon Nando.
" Sayang... Udah bangun?" Jawab Nando
" Udah Ndo.. Kamu baru bangun? "
" Iya, kesiangan, Risna dah berangkat?"
" Udah, tadi juga ngomongin kontrak kerja ku sama dia"
" Oh ya, habis ya... "
" Iya..."
"Kamu mau lanjut? Atau mau langsung pindah ke bintang delapan?"
" Lanjut dulu aja Ndo, di sini aja dulu. Aku belum siap menghadapi Ibu dan Ayah sekarang "
" Okelah, kamu udah sarapan?"
" Belum, ini sarapan nya baru aja sampai.."
" Kondisi gimana? Udah enakan?"
" Udah, sakit di kepala juga gak ada lagi, cuma lemas aja"
" Rumah sakit gimana biaya nya? kamu ambil kelas asuransi atau upgrade?"
" Upgrade Ndo, tapi uang nya ada kok, Aku ada siapin, cukup..."
" Nanti kalau ada apa2, butuh bantuan, kabari aja ya"
" Ya Ndo..."
" Sana, sarapan dulu Bi, aku juga mau mandi dan siap-siap dulu. Hari ini aku mau bicara serius sama papa"
" Baik, semoga sukses ya Ndo"
" Kamu juga, lekas sembuh ya..."
" Bye..."
" Bye..."
__ADS_1
Panggilan pun di akhiri. Aku pun mulai memakan sarapan ku. Walau sakit kepala ku sudah tidak ada lagi, tapi memang aku saat berdiri masih sedikit goyang.
Sedikit aku tersentil, jika orang tua Nando tidak merestui kami, apakah aku masih bisa tetap bekerja di hotel mereka? Baik dihotel sekarang ataupun di kota ku? Benar juga, walau Nando GM, tidak jaminan kontrak ku di perpanjang. Ah, aku tidak berfikir sejauh ini kemarin-kemarin.
Kalau lah aku break kerja, bagaimana keluarga ku, karena saat ini yang menjadi tulang punggung nya aku.
Ya, apa pun itu, nantilah di pikirkan. Sekarang aku berusaha untuk cepat sembuh saja. Tapi syukurlah Nando tidak terlalu panik melihat ku, dan syukurnya masih ada teman yang bisa menjaga ku disini.
Sarapan ku habis, mungkin karena sendiri, dan tidak ada kegiatan, aku kepikiran keluarga ku. Aku coba untuk menghubungi Lusi. Pikirku, kalau cuma chating dengan Lusi tidak akan memancing emosi ku seperti menghubungi ibu.
"Dek..." Ketik ku. Tidak langsung mendapat jawaban. Mungkin Lusi sedang kuliah. Aku pun memutuskan menonton drama korea, untuk mengisi waktu ku.
Setelah lebih dari 30 menit, balasan dari Lusi pun datang.
" Kak, apa kabar?" balas nya
" Baik dek, kamu lagi kuliah?"
" Gak kak, tadi aku lagi nyetir. Ngantarin Ayah ke Rumah sakit kak"
" Kenapa? Terapi?"
" Gak kak, Kondisi ayah tadi tiba-tiba memburuk. Ayah demam, Ibu telpon dokter, di suruh segera bawa ke rumah sakit aja. Karena ayah lemas sekali"
" Kamu sendiri atau sama Ibu?"
" Sekarang sendiri. Ibu dan Ayah di ruang periksa "
" Ke dr. Ryo Dek? "
" Iya kak, kemana lagi? "
" Gimana? Ibu masih sering berhubungan dengan dia selain masalah ayah?"
" Hussssh !! Kakak gak bisa. Kakak punya pacar. Tapi dia juga gak sebaik yang kalian bayangkan "
" Dia masih hubungi kakak?"
" Gak, mana berani lagian"
" Ayah bolak balik nanya kakak. Kapan kakak pulang, kapan kakak menikah.. Sedih aku tu. Kalau dia mau sama aku kak, ikhlas aku gantiin kakak. Tapi orang nya mau sama kakak"
Aku terdiam. Sebegitu Lusi memikirkan semua nya. Sebenarnya, dari lubuk hati yang paling dalam, aku kasihan melihat Lusi. Dia harus siap untuk mengarkan ayah ke Rumah Sakit, jadi samsak untuk mendengar omelan Ibu tentang ku. Belum lagi jadi pelampiasan marah ibu jika sedang lelah dan bad mood. Tapi dia telan tanpa keluhan.
Sekarang? Malah untuk membuat ayah bahagia, dia mau menggantikan posisi ku untuk Ryo.
" Kamu bilang kih sama Ibu, kamu aja yang nikah sama Ryo"
" Udah aku sampaikan ke dia. Aku bilang dari pada Ibu ngomel-ngomel gak jelas, udah biar aku yg nikah sama Ryo "
" Terus??"
" Kata nya aku belum cukup umur...hahahahahaha"
" Ada-ada aja..."
" Kak, aku cuma saran, pulang lah kak, dari pada suatu hari kakak menyesal gak bisa memenuhi harapan ayah yang ingin melihat kakak menikah"
" Kakak usahakan secepatnya kakak nikah Lusiiii.. Tapi gak sama Ryo"
" Terserah kakak, tapi kakak kan udah tau, kalau ayah gak suka sama pacar kakak sekarang. Jangan sampai kondisi ayah memburuk karena kakak melawan ayah lagi ya. Yang sekarang saja sudah cukup kak"
__ADS_1
" Kamu mendukung kakak dan Ryo??"
" Sejujurnya iya kak. Karena di balik bagaimana pun dr. Ryo, kakak mau atau tidak menerima nya, yang paling penting adalah, dia pilihan ayah dan ibu. Dan aku bisa rasakan dia tulus kak"
" Sok dewasa kamu lusiii"
" Aku marah lho kalau kakak ngomong gitu"
" Oh maaf... Maaf.. Adek kakak memang sudah dewasa ya kaaann"
" Kak, bentar ibu udah keluar"
" Eh Dek, telp, tp gak usah bicara, kakak mau dengar, kamu tanyain kondisi ayah ya,,, mute aja speaker nya"
" Baik"
Lalu telpon di jawab. Aku bisa mendengar suara langkah kaki lusi. Dan berhenti. Terdengar suara nafas nya yang aku fikir di tarik nya panjang.
" Gimana ayah bu?" Suara Lusi terdengar.
" Ayah harus opname Lusi. Kamu siapkan ya administrasi nya" Kali ini suara Ibu. Suara yang lembut, yang sangat aku rindukan.
" Harus opname bu? Gak bisa di rawat di rumah saja? "
" Yuk, kamu deh yang ngomong sama dokter. Ibu gak begitu jelas Nak"
Lalu terdengar suara kaki lusi lagi melangkah, dan suara pintu yang di buka.
" Siang dok. Gimana kondisi ayah dok" Kembali suara Lusi aku dengar. Luar biasa kamu dek. Walau aku mencari uang disini, tapi jasa kamu untuk kedua orang tua luar biasa. Kakak gak nyangka kamu akan secepat ini tumbuh dewasa.
" Eh Lusi. Kondisi ayah agak memburuk. Jadi hari ini kita opname dulu ya. Biar bisa di awasi perawat secara maksimal " Aku mengenali suara pria kurang ajar ini. Mendengar suara nya sudah membuat aku sangat kesal.
" Apa mesti di opname dok, apa gak bisa kami rawat di rumah saja?" kata Lusi lagi.
" Gak lusi, bahaya. Saya rasa kondisi nya kalau gak kita kasih obat ijeksi, bisa lebih buruk beberapa jam lagi. Ini serius. Kalau bisa di bawa pulang, pasti dengan senang hati saya bolehkan. Toh kalau memburuk, saya bisa datang ke rumah. Tapi kali ini gak bisa. Kita gak mau kondisi Ayah makin buruk, dan kita menyesal "
Deg...
Kata-kata Ryo membuat ku hampir histeris. Seburuk itukah kondisi ayah? Apa yang terjadi? Sedangkan aku masih terbaring disini.
" Ayah udah bolak balik nanyain Sena... Anak itu entah apa yang dipikirkan nya" Suara Ibu seperti menahan tangis, terdengar sangat sedih.
Tiba- tiba terdengar suara seperti seseorang menangis, laki-laki. Tapi suara nya seperti anak kecil yang menggeram.
" Ayaaahhh" Lusi berteriak dan seperti terisak. Aku mendengar suara kaki berlari.
" Rayulah kakak mu untuk pulang Lusi. Ayah ingin sekali melihat nya menikah" Suara ibu semakin jelas terdengar sedang menangis.
" Ibu tau kan kak Sena keras kepala"
" Tapi kondisi ayah saat ini? Apakah ini kurang kuat untuk di jadikan alasan?"
" Ibu. Sudahlah..." Lusi memotong kata-kata Ibu.
" Lusi, Ibu, sebaik nya kita urus dulu administrasi ayah. Nanti untuk masalah Sena, selain Lusi, Ibu, saya juga akan coba berbicara dengan nya"
Aku langsung mengakhiri panggilan. Aku tak ingin suara tangis ku terdengar oleh mereka.
Kepala ku kembali sakit.
Apa aku terima saja Ryo? Dan meninggalkan Nando. Ini jalan terbaik sebenarnya. Aku tidak perlu memikirkan bagaimana hubungan Nando dan keluarganya, karena aku sudah berakhir dengan nya...
__ADS_1
Apa aku harus menyerah di depan garis finish ini?