
Spill sudut pandang Pak Bos Nando…
Aku putuskan menemani Bian cuti dan pulang ke kota nya. Dan aku tidak tahu berapa lama akan ada disana. Bukan proses yang mudah, aku benci harus memanfaatkan kartu Jocker ku. Tapi tidak mungkin rasanya bisa mendapat izin baik-baik untuk cuti saat ini. Tidak di benarkan Asisten dan Manager berbarengan cuti.
Bukan cuma karena aku cemburu pada Dion. Tapi aku rasa dengan sikap keras Bian, pertunangan itu memang tidak akan terjadi, yang terjadi malah sebaliknya. Bian butuh orang yang menyelamatkan nya, yang membelanya. Aku tau kondisi Bian yang bila sedih berlarut-larut.
Aku membicarakan cuti mendadak dan alasannya ke Pak Agus. Aku jujur ke Pak Agus, bahwa Bian sedang tidak baik-baik saja, dan aku ingin menemaninya disana. Jika situasi aman, aku akan segera kembali. Izin aku dapatkan, ya memang gak mungkin juga gak dapat. Sedangkan pada Bian, aku katakan alasan ku bukan cuti, tapi tugas keluar kota untuk melihat proyek hotel yang baru saja di takeover mama di kota nya.
Bukan tidak tegang, aku terus membayangkan keributan yang mungkin akan terjadi disana nanti. Apalagi saat aku melihat calon mertua gak jadi nya Bian kemaren sangat percaya diri, dan sangat bahagia untuk menyambut Bian mejadi menantunya.
Aku marah bukan karena cemburu, tapi aku iri, karena begitu akrabnya Bian dengan orang tua Dion.. Tapi keluarga ku? bukan salah Bian, tapi memang waktu nya saja belum tiba, untuk aku memperkenalkan Bian sebagai kekasih ku saat ini.
Aku mulai cemas saat pesawat mendarat, tapi orang yang aku genggam tangannya lebih grogi lagi. Aku merasakan dingin tangan Bian, dan dari berangkat, walaupun aku melucu berkali-kali Bian tetap tertawa terpaksa. Pasti hati nya sedang galau.
__ADS_1
Ah entah lah, entah galau karena akan bertemu Dion, orang yang pernah dia cintai? atau memang masih dicintai sampai sekarang? Bian Menggenggam tangan ku semakin kuat, saat kami menuju rumah nya. Itu semakin meyakinkan aku, bahwa Bian memang tidak baik-baik saja.
Sampai di rumah nya, orang tua Bian menatap ku dalam. Aku agak grogi. Setelah 4 tahun lalu aku terakhir dekat dengan wanita, selalu di sambut hangat dengan keluarga nya, hari ini aku di uji. Hahahahhaaa
Bian seperti di adili, aku hanya penonton. Bukan tidak berani, tapi menurut ku, tidak elok rasa nya aku ikut menimpali pembicaraan mereka. Saat ayah nya menjelaskan bahwa minggu depan Bian akan tunangan, darah ku agak mendidih. Aku ingin bilang, kalau mereka ingin anak nya cepat di lamar, besok pagi pun aku bisa.
Ya, mereka beruntung sekali, sebagai orang tua punya anak secantik Bian, dengan wajah dan karakter seperti Bian, laki-laki mana yang bisa menolak, atau melepaskan nya jadi milik orang lain. Tidak matre menurutku, bahkan pekerja keras. Dan Bian tidak pernah mengeluhkan kewajibannya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Ia selalu enjoy saat bekerja, dan bahkan menikmati proses hidup nya menjadi tulang punggung keluarga. Menerima tawaran ku pindah ke apartemen juga agar dia bs mengirim uang lebih banyak pada orang tua nya.
*
Akhirnya aku membawa Bian pergi, setelah aku menyaksikan keributan Bian dan keluarga. Diperjalanan Bian hanya terdiam, bersembunyi di balik lengan ku, entah karena malu atau memang butuh bersandar.
__ADS_1
Untuk pertama kali aku ketemu si anak walikota itu. Maaf, walaupun punya ayah dengan posisi mentereng, termasyur, yang kata nya sangat di cintai masyarakat nya, buat aku kelakuan anak nya minus.
Satu hantaman nya mendarat di wajah ku, karena aku terkejut dia menghajarku tiba-tiba. Awal nya aku tidak ingin melayani, tapi aku rasa Dion tidak akan berhenti kalau tidak aku hetikan. Aku takut saat hidung nya berdarah, takut karena barang kali anak inj tidak tau malu, dan melapor ke polisi.
Dan semua ini terjadi karena ada aku dan Bian.
Dan Bian…
Aku mendengar ayah nya mengatakan masalah keyakinan yang menjadi harga mati buat mereka. Dan alasan itu juga yang membuat langkah ku berat memperkenalkan Bian dengan keluarga ku, walau mama terkesan memberi lampu hijau.
Aku sedang merasakan masa-masa indah mengenal dan dekat dengan Bian. Aku sedang tidak ingin memikirkan hal yang mungkin akan buat kami sakit. Apakah salah satu dari kami akan berkhianat dengan Tuhan kami? atau memilih meninggalkan cintaan-Nya, dan menetapkan hati pada Pencipta.
Biarlah itu di jawab nanti. Saat ini kami coba jalani seberapa panjang jalan ini. Setidaknya, walaupun besok pahit, aku berjanji Bian akan tetap bahagia.
__ADS_1
Bukan menunda perih, tapi boleh kan kami bahagia berdua, sebelum waktu itu tiba..
Dan membahagiakan Bian akan dimulai dari sekarang…