Rindu Dari Bian

Rindu Dari Bian
V I P


__ADS_3

Akhir nya hari H tiba. Ada yang mengganjal di hati, ketika aku menerima list nama peserta acara ini. Seluruh peserta adalah pejabat tinggi di daerahnya. Sejak awal yang aku takutkan adalah ayah Dion. Belum lagi si Ibu yang terbiasa ikut mendapingi jika ayahnya dinas keluar kota. Karena acara ini besar, dan untuk kamar juga di gunakan beberapa hotel lain, karena gak semua tertampung di hotel ini.


Saat aku membuat blockingan kamar, ternyata nama orang tua Dion. Aku berharap mereka tidak mengetahui aku bekerja disini. Dan jangan sampai aku bertemu mereka disini. Tappi aku rasa itu pun mustahil, mengingat aku berdiri di depan membantu GRO, sudah di pastikan wajah ku akan terpampang nyata. Agar tidak ada kesalah pahaman, akhirnya aku ceritakan semua ke Nando. Nando tidak bereaksi sepanik aku, Nando malah meminta ku melayani maksimal, dan meminta ku untuk memperkenalkan Nando dengan mereka. Nando yakin, dia bisa berkomunikasi secara professional dengan orang tua Dion.


Tamu yang datang tidak berbarengan, karena ini perlakuan untuk VIP, tamu tidak melaporkan ke receptionist untuk check in. Justru karyawan yang langsung mengantar dari lobby sampai ke kamar, dan membantu membukakan pintu.


Tibalah dua tamu yang sebelumnya sudah masuk daftar kekhawatiran ku. Ayah dan Ibu Dion.  Seluruh tubuh ku mendingin. Aku jadi grogi, dan aku pun memberi kode kepada Nando yang kebetulan melihat ke arah ku.


“ Om .. Tante selamat datang, kita bertemu disini, jauh ya….” Sapa ku. Seketika semua mata tertuju kepada ku saat aku menyapa kedua orang yang aku anggap sebagai orang tua ku ini.


“ Febiannnn, apa kabar nak? “ Jawab Ibu Dion dan langsung memeluk ku, juga mencium pipi kiri dan kanan ku.


“ Bian Baik Tante, tante tambah cantik saja, apa kabar? “


“ Tante baik sayang” jawab nya. Setelah pelukan di lepaskan, aku langsung menghampiri ayah Dion, yang sedari tadi melihat ku sambil tersenyum. Aku menyodorkan tangan untuk berjabatan dengan ayah nya.


“ Om, sehat om? “ Tanya ku sambil mencium tangan ayah Dion. Dan beliau membelai rambut ku lembut.


“ Sehat bian. Jauh nya cari uang ya Bian “ ucapnya, dan ku sambut dengan tawa.


Melihat reaksi mereka, aku yakin mereka belum mengetahui status baru hubungan ku dengan Dion. Pasti, kepada orang tua ku saja Dion tidak membicarakannya, apalagi kepada orang tua nya.


“ Nak, dimana kita bisa ngobrol-ngobrol, Tante mau bicara panjang ini, papa juga ikut? Atau papa mau ke kamar duluan? “ Tanya Ibu Nando.


“ Papa ikutlah ma, memang mama aja yang rindu Bian” seloroh ayah nya. Ya, memang seperti ini lah baiknya mereka memperlakukan ku.


Aku mengajak mereka duduk di coffee shop. Aku melirik Nando yang sedari tadi masih memperhatikan ku.


“ Bian, kenapa cari kerja sampai segini jauh. Kasian donk Dion rindu” canda mama Dion


“ Dapat nya disini Tante, dengan posisi lebih baik Tante”

__ADS_1


“ Kemarin waktu Nando tante kasih tau mau menginap di hotel ini, dia tante ajak, tapi dia gak mau. Katanya Bian juga udah dekat mau pulang ya? “


“ Iya tante, mungkin 3 minggu lagi, Bian pulang, dapat cuti, mungkin Cuma 15 hari disana, nanti Bian pulang lagi ke sini. Kontrak nya masih 6 bulanan lagi tante” akuk mencium aroma tidak sedap di bagian ini.


Tiba-tiba ayah Nando terkejut dengan pernyataan ku yang akan kembali ke kota ini setelah pulang cuti.


“ Bukannya besok kepulangan kamu, kita langsung atur jadwal lamaran Bian? Dan setelah itu langsung persiapan pernikahan ? “ Tanya ayah nya.


Aku agak kaget, apasih rencana si Dion ini, masa dia udah liat Nando menciumku kemarin, masih juga ingin melanjutkan hubungan dengan ku, malah mau menagkapku disana. Ada-ada aja.


Tiba-tiba Nando datang dengan senyuman termanis nya.


“ Selamat siang Bapak..Ibu.. selamat datang di hotel kami “ Nando menjulurkan tangannya untuk bersalaman. Lalu di sambut dengan senyuman kedua orang tua Dion.


Nando lantas menarik kursi di sampingku, dan langsung duduk di sebelahku.


“ Bapak..Ibu, perkenalkan saya pemilik hotel ini” ucapnya lagi. Hampir saja aku tersedak mendengarnya. Untuk pertama kali aku dengar Pak Bos menyombongkan diri.


“ Oh Bapak Ibu kenal Febian.. Dari kota mana Pak? “ Tanya Nando lagi


“ Kami dari kota B mas, saya menjabat Walikota disana” jawab ayah Dion, dan kembali lirikan itu aku dapat dari Nando. Habislah aku setelah ini.


“ Oh kota B, Bapak kami baru membeli satu hotel disana. Hotel bintang Delapan. Kita take over saja, dan sedang tahap renovasi sedikit-sedikit disana. Saya sendiri belum pernah kesana, rencananya 3 minggu lagi,dan mungkin saya juga akan menetap disana tahun depan. Pasti kita akan banyak berurusan ya Pak” Jelas Nando sangat professional. Kalau urusannya Public speaking, jangan di ragukan Bapak Bos satu ini.


“ Oh ya..ya… ada ketemu saya engan Ibu Safira, katanya beliau pemiliknya, anda anaknya? “ Tanya ayah Nando lagi.


“ Benar Bapak, beliau Ibu saya”


“ Wah hebat, Ibu nya cantik , anak nya juga tampan begini. Beliau bilang ini entah hotel keberapa ya? Ada banyak propertinya. Bisnis lainnya juga ya” tambah ayah Nando lagi.


“ Iya Bapak, ayah Ibu saya nomaden, mereka berkeliling mengurus usahanya” 

__ADS_1


Lalu pecakapanini pun sampai ngalur ngidul, di tutup oleh Ibu Dion.


“ Nak, kami istirahat dulu lah ya, nanti mengganggu Bian bekerja, besok ketemu lagi ya Bian”


“ Baik tante, Bian antar ya, “


“ Gak usah, sudah kerja saja, tante sama om bisa kok naik sendiri, terimakasih ya Nak, Bapak juga terimakasih sekali”


“ Hati-hati tante, om sampai ketemu lagi” ucap ku.


Nando hanya meyodorkan tangannya kembali untuk berjabatan.


Setelah selesai, Nando langsung menunjukan ekspresi gemes nya. Dan aku hanya bisa tertunduk. Sesuai dugaan ku, setelah ini habislah aku.


“ Tau gak, kalau gak sedang sibuk aku seret kamu pulang” ucapnya tegas. Aku balas diam saja, dan masih menundukan kepala ku. Aku bingung harus bagaimana. Aduh, calon menantu walikota ini.


“ Ikut aku sekarang” Ucapnya lagi.


Nando berbicara melalui HT. menanyakan kamar OO, mungkin dia berfikir kantor aquariumnya yang tidak comvidential akan sulit untuk nya berbicara dengan ku. Setelah mendapatkan nomor kamar, Nando dan aku langsung menuju ke kamar tersebut. Dengan menggunakan kunci master, Nando bisa masuk ke kamar tersebut dan menyalakan signed jangan diganggu.


Aku lantas duduk di pinggir tempat tidur, masih tertunduk. Bingung mau ngapain.


“ Kamu tau mau lamaran beneran?” Tanya nya


“ Gak tau yank, kemaren kan aku ada cerita sama kamu, yang ngabarin aku tu Ibu, dan aku memang tidak memberi tahukan Ibu aku dan Dion udah putus”


“ Terus sekarang bagaimana? Kalau besok beneran lamaran? Ini serius beneran kaya nya”


“ Aku gak tau, aku akan usahakan cegah, tapi aku butuh ke Ibu dulu bicara, Cuma waktunya gimana ya yank…”


Nando mondar-mandir sendiri. Dia keliatan panik dan marah. Sebenernya aku sudah pernah ceritakan, makanya dia ingin ikut aku cuti. Tapi mungkin karena sekarang dia sudah melihat sendiri ayah dan Ibu Dion yang memeperlakukan aku dengan baik, dia jadi uring-uringan aku rasa.

__ADS_1


__ADS_2