Rindu Dari Bian

Rindu Dari Bian
dr Ryo Prasetya, Sp.S


__ADS_3

Akhirnya aku bisa istirahat di kamar ku, sudah pukul 01.30 pagi. Malam ini sangat melelahkan bagi ku. Aku teringat Nando yang meminta ku menghubungi nya.


" Yank... Sudah mau istirahat?" mendengar suara Nando seketika hati ku nyaman. Aku butuh Nando saat ini, andai dia ada disini, aku akan meringkuk di dadanya sambil menangis. Menceritakan semua nya.


" Udah,,, aku rindu...." bisik ku..


" hahahahhaa.. Pasti kamu abis di omelin kan?"


" Gak juga, kamu gak tidur?"


" Belum... Nge game aku nungguin kamu. Gimana kondisi ayah ? "


" Ayah masih bisa duduk, cuma mulut nya udah miring, tangan kanan gak gerak"


" Cerita apa aja?"


" Banyaklah,,, kaya mendongen nanti aku ceritain nya ke kamu, saking panjang nya... Aku jadi pulang kamis ya.. Aku cari tiket sendiri atau kamu yang carikan?"


" Aku jemput...."


" Gak usah deh, aku pulang sendiri aja. Kamis aku masuk kerja, tapi siangan ya, langsung dari bandara"


" Gak ah.... Aku rinduuu"


" Oke, aku ke apartemen aja, kamu susulin ke apartemen aja"


" Aku jemput ya,, besok malam aku nyampe sana, aku di hotel, kamis malam aja kita balik ke sini"


" Gila, apa kata Pak agus kalau kita berduaan di kamar"


" Gak perduli aku, hahahahaa"


" Buang-buang uang yank, udahlah, ambil pesawat pagi aja"


" Oke, aku aja yang pesankan ya"


" Sip pak bos,,, bobok kih,,, besok kamu kerja"


" Baik.... Kamu juga istirahat ya.."


" Ya.. Bye yank..."


" bye"

__ADS_1


*


*


Pagi pun tiba. Aku terbangun kesiangan, pukul 09.00. Ibu sudah mengetok kamar ku bolak balik katanya. Adik-adik ku pun sudah berangkat sekolah. Padahal aku ingin bertemu mereka.


" Nanti jam 11 dr Ryo datang, bersiaplah "


Ucap Ibu sambil membersihkan meja makan dari sisa sarapan tadi. Aku diam saja. Aku malas kembali berdebat dengan Ibu.


Aku mengambil nasi goreng untuk mengganjal perut ku. Lalu memakan nya sambil memeriksa Hp ku.


" Bersiaplah yang cantik Sena, jangan kamu sia-sia kan waktu orang yang sudah ingin berjumpa dengan kamu. Ibu dan ayah kali ini benar-benar yakin, dr Ryo sangat baik buat kamu"


" Ya bu, Sena tau Ryo memang baik, dari sekolah juga baik. Tapi apakah Sena tepat menjadi pasangan dokter yang sangat terpuji itu?"


" Dia langsung mengenali kami Sena, kata nya dia sudah lama ingin kesini ketemu kamu, dia terus memantau perkembangan kamu. Tapi dia pikir kamu sudah mau menikah dengan Dion. Makanya dia kaget saat kami ceritakan semua nya"


" Kenapa Ibu ceritakan? buat malu Sena aja" protes ku


" Dia seorang dokter Sena, pasti bisa d percaya. Dan dia menyampaikan apakah ayah dan Ibu berkenan jika dia menjadi menantu kami? Dan mempercayakan kamu kepada nya?"


" Ryo memang tampan Ibu, pintar, tapi masa dia gak punya pacar sekarang?"


Nafsu makan ku hilang. Aku langsung kebelakang mengantarkan piring ku, dan mencucinya.


Aku masuk kembali ke kamar ku, menuju toilet untuk mandi. Aku memakai baju terbaik ku, agar Ibu tidak protes. Berdandan sedikit. Ada sedikit perasaan mengelitik di hati ku. Ryo yang terkenal kutu buku, rajin belajar, ramah, agamis, pinter, ternyata dulu juga melirik-lirik aku? Kenapa gak ngomong dari dulu? Hahahahahaaa...


Tapi waktu SMA Ryo memang tidak pernah pacaran. Wajah tampan nya hanya bisa di pandang cewek-cewek, tapi tak mampu di gapai. Aku? Lirik lirik juga, tapi gak ada harapan untuk di dekati Ryo dulu. Saat kami sibuk nongkrong di mal dan nonton bolos sekolah, anak itu sibuk dengan berbagai kegiatan OSIS juga perpustakaan.


Selesai.


Ku pandangi lagi diriku di cermin. Cukup cantik. Tapi gak buat Ryo juga, aku milik Nando. Hhhmmmm...


Aku mulai menyiapkan tas ku. Terdengar di luar ibu seperti menyambut seseorang. Pasti Ryo sudah datang, batin ku. Aku lantas keluar kamar.


" Hei... Apa kabar Ryo" sapa ku seolah terkejut.


" Hei Bian, apa kabar" sapa nya lagi. Ucapan Ibu benar, si dokter ini makin tampan, dan sangat matang. Sedikit menggoyahkan hati ku. Tapi Nando tetap terbaik.


Ibu mempersilahkan Ryo masuk, dan duduk. Aku pun menyusul. Lalu ibu pamit kebelakang membuatkan minuman, dan kami hanya berdua saja di ruang tamu.


" Apa kabar Ryo?" aku mengulangi pertanyaan yang belum di jawab Ryo tadi. Entah karena grogi dia tadi malah mengulangi pertanyaan ku.

__ADS_1


" Aku baik, ya beginilah.. Kamu apa kabar?"


" Aku baik. Makin menggemuk seperti yang kamu lihat " Canda ku.


Tiba-tiba ibu sudah datang. Dan mempersilahkan Ryo untuk minum dan meninggalkan kami lagi berdua.


" Ryo, makasih ya, sudah banyak membantu ayah ku. Semoga kamu juga sukses kedepan nya, jadi dokter yang terkenal"


" Sama-sama Bian, Kamu juga udah sukses sekarang kata Ibu? Kamu kerja diluar kota? Sampai kapan?"


" Kalau kontrak sih kurang lebih 2 bulan lagi habis. Gak tau di perpanjang atau gak, kalau di perpanjang berarti aku nambah lagi, Kalau gak ya pulang lah"


" Rencana nya kamu mau habisin atau mau nambah di sana?"


" Belum kepikiran Yo... "


" Pulang aja yuk, biar lebih dekat dengan keluarga"


" Kalau udah ada pekerjaan disini aku akan pertimbangkan"


" Kalau gak kerja pun gpp, aku yang akan mulai tanggung jawab"


Deg


Kenapa si dokter ini to the point secepat ini? ABC dulu kek. Tapi jujur, pembawaan nya yang tenang, membuat aku agak tergoyahkan, aku menemukan Nando versi yang lebih tenang. Kalau Nando lebih ke celamitan.


" Ngomong apa dokter...." Ucapku sambil berlagak gak ngerti apa-apa.


" Aku serius Febian. Mungkin terlalu cepat buat kamu, tapi proses nya sudah aku lewatin cukup lama. Aku sudah memperhatikan kamu sejak sekolah. Mencari kabar kamu selama kuliah. Ya, aku hanya bisa berharap suatu hari kalau memang jodoh ku, kamu ada untuk ku. Aku sempat berhenti berharap, saat aku tau kamu dekat dengan Dion. Yang aku tau dia siapa. Dan saat ayah Ibu mu datang berobat, aku kaget. Aku tanyakan kepada mereka kabar mu, saat mereka menceritakan semua nya, aku seperti dapat harapan baru. Mungkin ini jawaban dari Tuhan atas doa-doa ku"


Aku mendengarkan semua cerita Ryo. Gak nyangka juga kalau si dokter ini dia mencari tau tentang ku. Kenapa baru muncul sekarang?


" Mau jalan gak keluar ? " tanya ku.


" Boleh, ayuk ,,, "


" Ada hal-hal yang ingin aku sampaikan, tapi mungkin aku gak enak kalau di rumah, ada ayah Ibu, mungkin kita bisa lebih leluasa kalau gak ada Ayah Ibu "


" Baik, pamitan Ibu dulu?"


" Ya, bentar aku panggilin"


Setelah berpamitan dengan Ibu, aku dan Ryo langsung keluar. Aku sudah memikirkan hal ini dari tadi malam. Dan aku akan tetap pada keputusan ku, aku ingin menikah, ya tapi dengan Nando.

__ADS_1


__ADS_2