
Aku berangkat ke bandara di antar Nando. Nando kembali mengulangi pesan nya kepada ku, ya, pesan yang sama saat di perkemhan, dan di apartemen tadi. Seperti nya Nando memang agak ragu membiarkan ku pulang sendiri ke kota ku.
Selama penerbangan yang membuat aku dag dig dug, memikirkan apa yang akan terjadi di rumah nanti. Apakah ini jebakan, setelah ini aku gak bisa kembali lagi ke kota Nando. Hahahhaaa... Siapa tau, ini salah satu rencana Dion.
Setelah mendarat, aku langsung mencari taxi. Aku memang gak bawa banyak barang, sehingga gak perlu nunggu bagasi. Hanya satu koper kabin saja.
Jantung ku semakin berdebar saat di perjalanan menuju rumah. Aku putuskan menelpon Nando saja. Pukul 10 malam. Pasti Nando belum tidur juga, karena menunggu kabar ku.
Panggilan langsung di jawab pada deringan pertama..
" Udah sampai yank?" sambut Nando
" Udah yank, ini perjalanan menuju rumah. Aku naik taxi"
" Semoga aman ya, lancar...."
" Amin,, kamu istirahatlah, besok juga kamu kan kerja"
" Belum ngantuk aku. Nanti kalau dah sampai di rumah, udah ketemu Ayah Ibu, kalau kamu udah mau istirahat, hubungi aku lagi ya..."
Agak nya Nando benar-benar mengkhawatirkan kepulangan ini. Sampai-sampai aku di harus melakukan wajib lapor. Padahal sebelumnya gak pernah terjadi.
" Iya Pak Bos. Nanti sebelum tidur, aku hubungi kamu lagi ya... Udah dulu ya, ini udah masuk gang rumah"
" Ya, jangan lupa berdoa dulu ya"
" Ya...bye..."
" bye..."
*
*
Aku membuka pintu pagar. Ada ragu di hati, aku mengumpulkan seluruh nyali ku. Aku ingin menunjukan aku baik-baik saja. Aku masih anak yang berbakti, masih mencintai keluarga ku, itu ku buktikan dengan kepulangan ku hari ini.
Aku mengetuk pintu, si ketukan ke dua, terdengar suara kunci pintu di buka dari dalam. Aku begetar, menerka-nerka siapakah yang ada di balik pintu ini.
Dan pintu pun terbuka, Ibu. Wajah nya langsung ku dapati di depan ku saat ini. Wajah yang sangat aku rindukan, sosok yang hilang dari hidup ku beberapa bulan belakangan ini.
Wajah yang biasa nya selalu tersenyum saat menyambutku. Tapi kali ini tidak. Tidak ada senyuman. Wajah Ibu sangat lelah. Entah senyuman itu hilang, setidak nya untuk ku, sejak drama yang di ciptakan Dion.
" Sama siapa kamu datang?" Tanya Ibu. Agak kecewa dengan pertanyaan ini, tapi sudahlah, bukan saat nya berdebat sekarang.
" Sena sendiri bu, berangkat jam setengah delpan tadi. Jadi kemalaman.. Ibu sehat? " Aku bergerak menundukan badan, menggapai tangan Ibu, menyalami dan mencium tangan nya.
" Sehat Sena... Kamu sehat?"
__ADS_1
" Sena sehat Bu, dimana Bapak bu? Gimana kondisinya?"
Aku bertanya sembari masuk ke rumah dan berjalan mengikuti Ibu dari belakang.
" Yah... Ini sena pulang" Ibu membangunkan Ayah yang sebenarnya ku lihat sudah tertidur.
Ayah sepertinya memang sudah menunggu ku. Beliau langsung celingukan mencari keberadaan ku.
" Sena di sini Yah" Aku langsung memdekat, dan mengambil tangan nya untuk aku cium punggung tangan nya.
Kondisi Ayah sangat memprihatin kan. Mulut ayah miring. Tangan kiri nya kaku. Tapi Ayah masih bisa duduk. Aku belum tau gimana kaki ayah, karena beliau tidak bangkit dari tempat tidur. Hanya duduk menatap ku.
Air mata ku menetes seketika. Aku langsung bersimpuh di kaki ayah.. Aku pegangi kaki nya
" Ayah, maafkan Sena jika karena sena ayah jadi seperti ini"
Ayah hanya berekspresi, menahan tangisnya, ia pun sedikit menggeleng, seolah berkata tidak apa-apa.
Aku masih menangis. Meletakan kepala ku di pangkuan ayah. Aku rindu suasana kerluarga kami seperti dulu lagi.
Ayah menepuk bahunku, aku pun bangkit, Ia menatap ku, aku mengartikan nya sebagai pertanyaan bagaimana kabar ku.
" Sena baik-baik saja yah, gak kurang satu apa pun. Sena sehat" Jawab ku, dan ayah seperti ingin tersenyum, tapi tidak senyuman yang aku dapati, hanya ekspresi wajah yang bergerak.
" Ayah yang semangat ya, pasti ayah sembuh"
dan aku pun menangis...
Ibu pun ikut menangis. menggeleng-gelengkan kepala.
" Tapi syukurlah kamu tidak menikah dengan Dion Sena, kita jadi tahu, Dion seperti apa kasarnya" Ucap Ibu sambil.menghela nafas.
Kebencian ku pada Dion semakin dalam. Rasa nya kalau aku bisa memutar waktu, aku akan menghapus masa bersama Dion. Semua benar-benar hancur oleh nya.
" Bu, bawalah ayah berobat di tempat terbaik, biar Sena yang cari biaya nya"
Ibu seperti teringat sesuatu, langsung bergegas. Ia menarik bafas nya cepat.
" Yah, tiduran lagi ya, istirahat, Ibu mau bicara dengan Sena dulu" Ibu berbicara dengan ayah, sambil.membaring kan ayah. Ayah terlihat pasrah. Lalu Ibu menarik tangan ku keluar kamar menuju ruang tamu.
" Sena, darimana kamu dapat uang sebanyak itu?"
" Itu tabungan Sena bu, Sena sisihkan tiap bulan"
" Jujurlah nak, kamu mengirim uang sangat banyak, bahkan uang bulanan sebelum nya juga lebih dari yang biasa kamu kirim"
" Benar bu, pengeluaran Sena disana lebih sedikit. Sena gak bayar kos lagi. Terus service charge hotel itu besar ibu. Sena punya kesempatan buat menabung. Sena gak bisa belanja-belanja, karena Sena pernah kena jambret dulu. Jadi kalau mau ke mal, Sena harus nungguin teman-teman ngajakin Sena"
__ADS_1
" Kenapa kamu gak bayar kos lagi?"
" Sena dipinjamin tempat tinggal bu, kebetulan ada yang kosong, dan dekat dari hotel"
" Siapa yang minjamin tempat tinggal gratis sena? Pacar kamu itu?"
Aku tertunduk. Ah, kebohongan apa lagi yang harus aku rancang.
" Iya bu, dia pinjamin" Aku memilih jujur. Aku bingung harus berbohong apa lagi.
" Sena, Ibu dan ayah sudah tidak marah dengan mu, bukan berarti Ibu dan ayah setuju kamu berpacaran dengan orang itu. Dan Ibu ayah tidak akan pernah memboleh kan mu menikah beda keyakinan, kalau pun dia pindah mengikuti mu, Ibu tidak akan percaya. Dia orang kaya Sena, semua bisa berbolak balik. Bisa nanti setelah menikah dia memaksa mu mengikuti nya. Dengar itu"
Suara ibu agak bergetar menahan tangis. Aku hanya diam saja. Sudah tak tahu apa yang mesti aku jawab.
" Cukup sekali kamu buat masalah seperti ini Sena. Jangan diulang-ulang lagi. Ibu malu...." Akhirnya tangis Ibu meledak.
" Uang yang kamu kirim juga dari dia kan?
Kamu gak usah bohong"
" Gak bu, itu uang Sena..." Aku takut, kalau aku jujur untuk masalah uang ini, Ibu tidak akan menerima nya.
" Baik, berapa lama kamu disini?"
" Kamis sena sudah harus balik bu"
" Berarti waktu kita cuma ada besok ya"
" Waktu untuk apa bu?"
" Ibu akan memeprtemukan kamu, dengan orang yang di ingin kan ayah menikahi mu. Orang ini sangat baik Sena, dia benar-benar baik. Dia dokter yang merawat ayah"
Deg..
Ada-ada saja. Bisa-bisa nya Ibu mengatur perjodohn ku hanya sehari. Lalu itu orang yang tidak pernah ku temui pula? Jebakan apa lagi ini. Aku merasa tidak aman tiap kembali ke kota ini. Ada saja yang mengahadang, ada saja drama perjodohan.
" Bu... Sena gak mau di jodoh dengan orang yang Sena gak kenal bu" Aku hampir menangis, bukan sedih, tapi marah. Bayangan Nando tersenyum melintas-lintas di kepala ku.
" Siapa bilang kamu gak kenal? Kamu kenal dia, dan dia kenal kamu dengan baik. Dia teman SMA mu, Ryo"
" Ryo yang mana?" aku sedikit heran. Karena ada beberapa Rio dalam ingatan ku sebagai teman SMA ku.
" Ryo Prasetya..." tegas Ibu
Oh Tuhan, ketua kelas ku. Ryo memang terlihat menaruh hati pada ku dulu, tapi dia tidak pernah menyatakan nya. Walau pada saat SMA aku tidak selalu punya pacar, tapi Ryo tidak pernah mengajak ku berpacaran. Aku memang mendengar Ryo saat ini seorang dokter. Ryo sangat baik, tapi bagaimana dengan Nando. Aku sudah terlanjur mencintai Nando, sangat-sangat mencintai nya.
" Besok pagi Ryo kesini. Cobalah saling mengenal lebih. Ibu dan ayah ingin kamu dan Ryo melanjutkan hubungan ke pernikahan. Ibu dan ayah yakin, Ryo seorang laki-laki bertanggung jawab."
__ADS_1
Aku hanya terisak menangis. Nando mendukung aku pulang sepenuh hati, bahkan dia menanggung biaya nya, tapi malah disini aku harus melakukan pendekatan dengan pria lain.
Hati ku miris. Aku mencintai Nando. Titik. Besok saat bertemu Ryo, aku akan menyampaikan semua nya. Lebih baik penolakan itu datang dari Ryo, agar ayah Ibu tidak kecewa dengan ku. Aku yakin, Ryo selama ini yang aku kenal sangat bijaksana. Semoga aku masih temukan Ryo yang sama.