
Malam ini aku merasa dada ku sesak. Walau sudah mencoba memejamkan mata, tapi tetap aku gak bisa. Air mata ku menetes, aku merasa kesepian dan butuh teman bercerita.
Dalam waktu kurang setahun ini, banyak sekali yang terjadi di perjalanan hidup ku. Banyak sekali cobaan yang memancing emosi ku. Hanya setahun... Setahun yang aku rasa sangat panjang.
Aku mencintai Dion, aku tidak bisa bohong itu. Aku menjalani hubungan dengan Dion tanpa paksaan, sekeras dan sekasar apa pun Dion, aku jalani hubungan itu. Walau begitu, Dion tetap menempatkan ku sebagai perioritas utama, dan terbukti saat jalan dengan ku, orang tua nya melihat perubahan sikap Dion dari sebelum nya.
Ada keributan bagaimana pun, Dion selalu memenangkan aku. Dia sanggup mengesampingkan ego nya karena takut kehilangan aku. Hal yang tidak aku sukai hanya Dion suka meledak-ledak memarahi ku tanpa liat situasi, tanpa berfikir orang lain di sekitar ku, padahal jika aku melawan, dia akan kalah.
Aku lalu memutuskan untuk melepaskan Dion dengan berbagai pertimbangan dan kejadian. Hasil nya? Ayah ku sekarang terbaring tidak berdaya. Bukan aku tidak menyesal, dan rasa nya sangat sakit saat ibu mengatakan kondisi ayah saat ini tidak di pungkiri karena ulah ku.
Andai Dion bisa sabar sedikit, andai Dion tidak memaki-maki ku. Andai Dion bisa bicara lebih baik, aku mungkin saat ini sedang mempersiapkan pernikahan ku dengan nya.
Nando...
Aku terbeli oleh kelembutan Nando. Nando yang punya cara sendiri memperlakukan aku. Cowok maskulin yang memang berwibawa, berkharisma, yang sebenarnya keras, tapi bisa membalutnya dengan kebijaksanaan.
Aku di perlakukan bak putri oleh nya. Dan itu membuat aku jatuh cinta lebih dalam.. Lebih dalam setiap hari. Jika dulu tiap pacaran aku merasa naik roller coaster.. Berbeda dengan Nando. Kami nyaris tidak pernah berantem untuk masalah sikap, perlakuan, atau kata-kata. Dia bisa membuat aku rindu pada tatapan nya, kata-kata nya, dan sentuhan nya.
Nando....
Bukan aku cinta buta, apalagi dengan apa yang telah kami lakukan, itu benar-benar bukan aku. Tapi begitu percayanya aku pada cinta Nando yang terus terusan dia tunjukan pada ku, aku juga merasa takut kehilangan Nando.
Aku meyerahkan semua nya pada Nando. Walau aku tau resiko nya di depan mata. Tapi tidak ada sedikitpun aku menyesal atau meyalahkan nya. Karena aku lakukan tanpa paksaan. Aku mencintai nya murni, bukan karena harta nya, siapa Nando.. Gak..aku rela kehilangan itu semua.
Tapi yang benar-benar sesuatu bagi ku, adalah paket Nando. Paket wajah, sikap, dan kesabaran nya.
Setiap hari, aku yang hampir setiap saat bisa bertemu dengan nya, bisa merasakan rindu yang luar biasa. Rindu ingin bertemu, berbicara, bercanda, dan menciuminya. Pelukan Nando terasa bagai candu bagi ku. Nando yang menatap ku dengan mata nya yang teduh, bagi ku menggambarkan isi hati nya yang sama dengan ku.
Perhatian Nando, entahlah, apa karena faktor usia, Nando lebih matang dalam mengahadapi masalah, Nando lebih tau caranya memperlakukan aku, dan ada rasa menghargai nya buat aku dan Nando lebih berdamai saat saling debat.
Saat cinta ku seperti ini, saat aku dan Nando tidak menemukan alasan untuk berpisah, aku harus meninggalkan nya? Apalagi dia sedang berjuang disana, dan aku tau dia stress. Semoga dia bisa menyelesaikan nya. Dan aku disini malah menangisi masa depan.
__ADS_1
Masa depan yang aku lihat mendung. Saat aku diminta memilih orang-orang yang aku cintai. Yang dalam mimpi ku semua dapat berkumpul bersama... Di suatu hari. Aku ingin tunjukan pada orang tua ku, inilah pilihan ku. Lelaki luar biasa, pejuang, orang yang sangat menghargai ku. Tapi sepertinya itu memang mimpi. Karena aku tidak di beri kesempatan untuk menunjukan itu.
Aku hanya di beri pilihan, memilih salah satu nya. Orang tua ku atau Nando. Egoiskah aku memilih semua nya. Yang mungkin disana, Nando sedang memikirkan yang sama. Jika dia memilihku, dia mungkin harus meninggalkan yang ia miliki saat ini.
Atau kami pergi saja? Agar aku gak egois terhadap hidup Nando. Aku tinggalkan orang tua ku, seperti Nando harus meninggalkan semua nya. Hidup di kota yang kami tidak punya siapa-siapa, merintis kembali dari nol. Mungkin ini pilihan yang harus kami pikirkan.
Tapi dimana tempat yang gak terkendali oleh keluarga Nando? Ah, hal mustahil yang aku pikirkan.
Dada ku sakit. Aku ingin menelpon Nando. Aku benar-benar membutuhkan nya.
Aku mengambil Hp dan menghubungi Nando. Pukul 02.25.... Nando pasti tengah tidur. Tapi aku harus menelpon nya. Gpp Nando gak ngomong, yang penting dia tetap mengangkat telp ku.
" Yank...." sapa ku saat telpon di terima tapi tidak ada suara sambutan...
" Hmmm kenapa yank?" jawab Nando yang mungkin baru setengah sadar...
Aku mulai terisak tanpa bicara.
" Video call yank?" tambah nya lagi.. Lalu telpon beralih ke video call
" Kamu kenapa?" tanya Nando penasaran. Aku tidak menjawab, hanya menggeleng dan menangis.
" Gak ada kok nangis..." Inilah Nando.. Sangat lembut, dia terlihat panik saat ini. Bingung harus bagaimana.
" Febian..... Ada apa?"
" Aku rinduuuu... Aku mau kamu disini sekarang... Aku butuh kamu...." Dadaku sesak, sakit,,, rasa nya ada tusukan di dadaku yang membuat aku sulit bernafas...
" Ada apa? Kok tiba-tiba gini? tadi baik-baik aja.... Kamu kenapa? Teringat Ibu?" Nando berusaha mencari tau dengan menduga-duga semua nya..
Lalu aku mengangguk.. Dan terus menangis..
__ADS_1
" Kamu rindu Ibu? Kepikiran Ibu? Udah telpon? Ayah kenapa-napa gak?"
" Udah telpon Ibu tadi...." jawab ku
Nando terlihat menghela nafas panjang. Tanda nya ia sudah tau bahwa aku menangis karena pasti ada masalah saat menelpon Ibu..
" Aku serba salah... Rasa nya ingin bilang ke kamu jangan telpon Ibu, kalau lah tiap telpon Ibu jadi buat kamu selalu menangis. Tapi kan gak mungkin. Sabar ya Bi..."
Aku juga hanya mengangguk..
" Aku harus gimana sekarang" tanya Nando lagi. Dan aku jawab juga hanya dengan gelengan.
" Nangislah,,, nagis sampai lega... Aku temani... " Nando menatap ku sendu. Ia memilih tidak bertanya apa sebab kata-kata ibu yang membuat ku memangis. Seperti sudah mengetahui ujung pangkal nya.
" Setelah ini, apa pun yang terjadi, aku janji kita bakal sama-sama Bi, aku udah mikir panjang, mungkin ini berat buat kita. Tapi keputusan nya di kita Bi, aku cuma ingin bahagia sama kamu. Mungkin kali ini, kalau keputusan ini yang harus terjadi, kita harus mulai dari nol, dan menahan kata buruk dari orang lain, kita siapkan ya Bi?"
Aku makin sedih dengar kata-kata Nando. Walau samar, aku melihat mulai ada genangan di bawah mata nya. Aku salah sepertinya menelpon nya. Pria tagar di depan ku ternyata mehan tangis di belakang ku selama ini. Dan dia masih harus berjuang besok. Dan apa yang dia pertaruhkan, lebih besar dan berat di banding aku. Aku egois?
" Yank... kalau kita berdua aja, kita selalu bahagia. Aku bahkan sulit melepaskan pegangan tangan ku ke kamu. Sebentar aja aku gak ketemu kamu, rindu Bi... Waktu kamu nge kos, kalau malam aku sering antar makanan itu, kadang aku udah mau tidur, tapi entah kenapa ada dorongan yang buat aku bangkit, cuma mau liat kamu senyum, gombal banget ya Bi,, tapi kenyataan nya gitu. Sesibuk nya aku di kantor, lagi serius kerja, kadang ada seperti debaran tiba-tiba, yang buat aku ngingat kamu. Aku kadang mikir ini berlebihan. Tapi memang seperti itu. Aku gak sanggup bayangkan kamu kalau gak jadi milik aku Bi... Maaf kan aku udah buat kamu terus nangis seperti ini... Dan yang paling jadi pikiran aku, aku gak mungkin lagi lepasin kamu. Aku gak mau jadi laki-laki yang gak bertanggung jawab, karena kamu udah nyerahin semua nya ke aku. Aku janji, aku yang akan menikahi mu Bi... Aku gak mau laki-laki lain beranggapan kamu wanita murahan karena itu"
Aku hanya menangis mendengar kata-kata Nando. Dan aku lihat d ujung mata Nando sudah ada tetesan air mata. Ya Tuhan,,, aku ingin dia. Jangan tukar dengan yang lain Tuhan.
" Makin kencang nangis nya Bi" canda Nando
" Nangislah,,, kalau memang masih sesak. Aku temani... Karena walau aku ingin jemput kamu dan meluk kamu, sekarang lagi gak mungkin"
Kata-kata itu sedikit membuat aku lega. Karena aku teringat betapa panik nya Nando melihat aku menangis di jalan dan membawa aku kepantai. Ya hari pertama aku merasakan hangat nya pria ini. Walau saat itu kami belum pacaran.
" Nando... apa gak bisa kita bahagia? Gak nangis-nangis, gak ngemis restu?"
" Siapa yang ngemis restu? Gak... Apa pun keputusan nya"
__ADS_1
Aku mulai lega. Tangis ku mulai reda. Dan aku mulai mengantuk. Nando masih menatap ku saat aku ingat terakhir kali....