
Sekitar 20 menit kemudian terdengar klakson motor. Aku melihat dari jendela, benar itu Nando. Nando memberikan kode yang aku mengartikan nya untuk langsung berangkat.
Ku sambar helm, dan cusss naik ke motor Nando. Sebenernya naik mobil sama naik motor lebih seru naik motor. Seperti anak ABG pacaran, hahahhahaaa..
Kami makan di angkringan modern, tetap menu nya angkringan, tapi tempat dan suasananya sudah di upgrade lebih nyaman. Nando cuma menggunakan celana pendek, dan kaos yang bahkan bahu nya bahkan sudah sobek.
"Kamu kencang banget tadi naik motornya? sampai kaos nya sobek-sobek gitu" ejek ku
"whhaaaaa,, aku kabur, pamit sama mama bilang mau ke toko serba ada beli kopi, kalau aku rapian dikit, nanti dia curiga, yang ada gak boleh keluar, dia takut banget aku keluar malam, takut dugem hahahhaa"
"emang gak ?? " aku penasaran seperti apa hidup dan pergaulan Nando selama ini
"aku udah pernah nyoba nongkrong-nongkrong di tempat seperti itu, tapi kok gak nyaman ya? aku ngerasa terganggu aja, gak suka yang hiruk pikuk gitu, kalau kamu?"
"hotel lama ku ada club nya emang, jadi kalau ada event, tau lah, semua karyawan incharge.. itu aja, tp kl di luar itu, gak, aku gak suka, temen-temen ku juga gak ada yang belok kesana"
"berarti kita cocok,,, " ucap nando sambil nyengir.
kami pun lanjut makan dan ngobrol ringan. Aku belum menanyakan alasan Nando gak jujur siapa dia, setelah makan saja pikir ku.
Setelah makan, diiringi suara pengamen yang mantap jiwa, nyanyiin lagu ST12 Aku Terjatuh, akhirnya aku menanyakan ke Nando, tentang semua yang aku gak tau dari dia, terutama tentang orang tuanya.
Nando menjelaskan bahwa dia sebenernya gak niat nutupin, tapi memang aku yang gak pernah nanya orang tua nya pekerjaan nya apa. Alasan klise. Nando pun menjelaskan hanya sambil tertawa tawa.
__ADS_1
Papa mama Nando menurut Nando Nomaden, dimana ada keperluan, disana mereka berada. Kalau aku kemarin bilang bahwa mereka punya bisnis dari Sabang sampai Merauke, gak salah, karena menurut Nando, usaha Papa Mama nya memang tersebar di beberapa pulau.
"Kebayang kan kamu? aku sekaya apa? hahahahaaa" canda Nando
"Jadi jangan takut malu mutusin anak pejabat itu, nanti aku beli mulut nya" tambah Nando agak mengejek.
Dia gak tau aja, Aku malah lebih ngeri dengan kondisi nya. Apa aman aku jalani komitmen sama dia? Nando nya aku percaya, tapi orang tua nya belum tentu mau menerima aku yang apalah apalah ini.
"Kakak kakak kamu, nikah dengan pilihan mereka sendiri atau di jodohin?" tanya ku hati-hati, aku takut jawaban nya malah membuat aku jadi down.
" Yang pertama nikah sama pacar nya, mereka pacaran sejak aku SD, sampai aku lulus SMA, bayangkan lama banget,,, kalau yang kedua, cowok, sama seperti aku, kami gila kerja, punya hasrat pengen pacaran, tapi gak nemu-nemu yang cocok, akhir nya di jodohin mama" jelas Nando
"terus kamu? arah arah nya di jodohin juga gak?"
Nando seperti nya tau arah pertanyaan ku, walau tertawa, aku tau, dia pun ragu menjawab "Gak" tadi.
Gak terasa sudah jam 12 malam lebih. Aku dan Nando bergerak pulang. Diatas motor aku memeluk Nando erat dari belakang, wangi parfum nya yang segar, aku suka sekali. Dalam hati aku berbisik "hei sayang, walau mungkin kita cuma sebentar, jadilah yang terindah…"
Seperti mendengar bisik.hati ku, Nando tiba-tiba mengambil tangan ku dan menggenggam nya. Sangat kuat. Sampai kami tiba di kos. Nando membuka kaca helm nya.
" Nanti kalau udah sampai aku kabari ya" kata nya
" Hati- hati Ndo…" jawab ku sambil melambai.
__ADS_1
Di depan kos, anak-anak kos yang lain masih berkumpul di depan TV, sambil menggibah.
Malam ini aku bahagia. Pacaran sederhana walau tang di pacari Sultan, tapi tidak pernah bergaya Sultan, kecuali masalah kendaraan. Dan nyaman nya bersama Nando tidak bisa dibandingkan dengan Dion dulu. Sekali lagi aku hanya berharap, semoga Nando selama nya seperti itu humoris, hangat, dan sangat lembut kepada ku.
*
*
Aku terbangun karena alarm sudah berbunyi. Tanda nya sudah pagi, seperti manusia kebanyakan, yang aku cari terlebih dahulu adalah Hp. Ku lihat ada panggilan Nando tidak terjawab, dan chat masuk yang mengabarkan Nando sudah sampai kerumah. Saking mengantuk nya, aku sampai gak sadar ketiduran tadi malam.
Bersiap ke kantor, naik ojek online. Jalan ke kantor aku anggap seperti olah raga pagi, menghabiskan lemak-lemak yang ku bawa tidur tadi malam. Hari ini aku bermaksud membuat daftar pertanyaan lainnya ke Nando. Karena tadi malam tidak semua bisa ku tanyakan, saking bahagia nya jumpa Nando, sampai gak bisa berkata-kata.
Tapi apa mama nya masih ke hotel? Iya juga, kalau mama nya masih ke hotel, aku gak bisa ngobrol panjang dengan Nando.
Sesampainya di hotel, aku lihat suasana masih kaku. Ini pertanda owner masih mau kunjungan ke Hotel. Di locker aku ketemu Risna, Risna menyampaikan bahwa owner masih ke hotel untuk meeting dengan HOD. Mungkin juga masih beberapa hari mereka datang kesini. Si Ibu sih, kalau Bapak mungkin gak full day di hotel, karena banyak urusan di perusahaan lainnya.
Dari Risna juga aku tau, kalau hotel itu lebih banyak di urusin Ibu, karena namanya juga perempuan, salah bunga aja yang di pajang, beliau bisa ngomel-ngomel. Dan sedikit aku bisa ketahui dari Risna, kalau Nando anak kesayangan Ibu. Hubungan Nando dengan Ibu lebih dekat di banding kakak kakak nya yang lain. Tapi walaupun anak bungsu, Nando tidak manja, pokoknya selain kalau orang tua nya datang kunjungan, gak akan ada yang sadar kalau Nando itu anak Owner. Karena low profile, dan Nando juga gak pernah minta dirinya di istimewakan.
Selesai curcol dengan Risna, kami bubar ke kantor masing-masing. Nando belum masuk. Mungkin menunggu Ibu nya, dan berangkat bersama. Aku memulai pekerjaan ku, mulai dari memeriksa daily report, closingan system, dan report harian ku ke Nando. Selesai itu semua, aku langsung menemani receptionist di conter.
Gak lama kemudian, Nando dan Ibu negara masuk. Ibu Nando sangat anggun, terkesan sangat tegas. Mata nya menyisir semua bagian lobby, melihat sangat detail, sesekali berkenyit, untuk memastikan sesuatu yang dilihatnya.
Lalu tujuannya malah ke office Nando. Matilah aku, seharian ini aku memilih untuk berdiri saja, aku akan siap-siap betis naik sampai paha, karena sejak jadi asisten, aku menambah tinggi sepatu ku, karena aku pikir aku tidak akan lama-lama berdiri si counter lagi.
__ADS_1