
Gak sabar nungguin Jumat, sekarang udah hari kamis. Risna ngajakin makan bakso, entah kenapa bakso itu gak spesial hari ini. Karena pikiran ku udah traveling ke acara Camping dan Barbeque.
"Jajan yuk Ris, buat cemilan besok waktu Camping" ajak ku
"Boleh, hayuk beli yang banyak, biar menggibah nya besok makin seru bareng mba Iren dan Donat "
Donat maksud Risna adalah Dona, AR si hotel ku, member makan siang nya Risna juga.
Kami lalu menuju swalayan yang ada dimana-dimana, seperti mau berangkat perang, kami memborong hampir semua jenis cemilan dengan judul ..
"Ini ni, si Rey suka.."
"Iya ni, Pak Bos ku seneng ngemil ini"
"Ini juga ni Bapak Bos ku suka ngabisin kalau aku beli"
"Ini si Herman suka"
Entah siapa-siapa yang suka, yang menjadi tersangka buat banyak nya cemilan yang kami beli sore itu.
Malam ya Nando ngajakin VC, yang aku bahas masih seputar Camping, kata Nando dia bosan denger nya. Dia gak tau aku seumur umur belum pernah ke gunung. Maka nya kepala ku penuh mikirin apa disana dingin, apa aku harus sediakan jaket yang lebih tebal, dll.
*
*
Yeaaaayy..Sepulang kerja langsung di antar ke kos oleh Nando. Nanti akan di jemput pukul 7 malam. Perjalanan kurang lebih 1 jam kata nya. Aku segera mengeluarkan ransel untuk ku bawa, isian pakaian, tumbler air hangat, tumbler air minum, dan snack yang sudah aku beli.
Aku lihat sudah jam 6 sore. Aku siap-siap mandi dan memakai pakaian hangat yang sudah aku persiapkan.
Kurang dari jam 7 Nando sudah sampai. Nando langsung menghampiri kamar kos ku yang memang pintu nya terbuka, dan duduk di dekat tempat tidur ku.
"Mana barang bawaan nya?" tanya nya
"Ini jawab ku" menunjuk ransel yang sudah sebesar perut ibu-ibu hamil 9 bulan.
"gila,, kamu bawa apa aja Neng?"
" ah paling cemilan yang banyak"
"pergi cuma semalam bawaan nya kaya 5 hari lho" ejek Nando, tapi aku pura-pura gak dengar.
"Yuk cepat, makan dulu, aku lapar…" ajak Nando.
Ia berdiri sambil membawa tas ransel ku yang di hina nya tadi.
__ADS_1
aku pun menyusul Nando yang sudah keluar kamar, dan mengunci pintu.
aku juga tidak lupa menghubungi Ibu, untuk izin pergi camping.
" Hallo bu…"
" Sena.. sudah makan?"
" Sudah bu, bu malam ini sena mau camping ke gunung dengan teman-teman bu, jadi gak pulang ke kos. Cuma satu malam ini saja bu" jelas ku kepada Ibu
" Ya gpp, teman nya baik-baik kan nak?"
"Iyalah bu…emang pernah Sena temenan sama orang jahat" aku terkekeh mendengar pertanyaan ibu.
"Eh nak, ini ada Dion, ibu kasih hape nya ya, pas kebetulan dia lagi disini main sama Rori"
Nando langsung menghentikan mobil nya. Dia mendengar ucapan Ibu, yang memang telpon itu di speaker, tapi aku gak nyangka Dion masih sering ke rumah Ibu, padahal menghubungi ku saja gak pernah sama sekali.
Nando menatap ku, tapi gak bicara apa pun, ekspresi nya nunjukin dia mau tau apa yang di bicarakan Dion.
"Hallo Bi" suara berat Dion yang khas membuat aku terkejut.
"Ya.." Jawab ku
"Mau kemana malam ini? seperti nya kamu makin sering keluar malam disana" Dion belum berubah, ngapain dia ngomong gitu? aku berusaha untuk gak terpancing, tapi d sebelah ku ada Nando, ekapresi nya sudah tidak mengenakan. Mungkin kalau dion d depan nya saat ini, sudah mendarat bogem Nando di mukanya.
"Mau VC? kamu berani? berani gak?" tantang Nando.
"Buat apa? apa yang kamu mau tau?"
Nando memberi kode kepada ku, untuk mengiyakan, tapi aku menggeleng, sampai Nando memasang wajah memaksa. Akhir nya aku iyakan.
"Kalau kamu masih nantangin, aku iyakan, tapi kamu harus ingat ya, kita saat ini bukan siapa-siapa, kamu sendiri yang bilang kamu bisa cari 10 wanita lebih cantik dari aku" jawab ku marah.
"Oke, aku cuma mau tau, siapa di samping kamu"
aku mengalihkan panggilan menjadi VC, dan kaki ku mendingin begitu aku melihat wajah Dion. Dia sendiri, seperti nya duduk di teras rumah Ibu. Senyuman sinis nya tersungging di sudut bibir. Dalam frame, aku hanya sendiri. Nando tidak terlihat, ia sengaja menjaga jarak.
"Masih cantik juga kamu ya" bisik Dion
"sudah? aku tutup telpon nya" jawab ku
"sama siapa kamu pergi, kan gak mungkin kamu naik ojek online duduk di depan"
"dengan siapa pun bukan urusan kamu lagi"
__ADS_1
"Jualah kecantikan mu disana, bakal banyak lelaki yang mau, kamu bisa dapat banyak uang, bahkan dalam semalam" Ya Tuhan kata-kata Dion luar biasa menyakiti hati aku. Dia yang pacaran dengan ku 2 tahun lebih tidak pernah aku berikan tubuh ku, apalagi orang lain, Tapi dia sanggup menyuruhku menjual diri.
Tangan Nando bergetar, tiba-tiba ciuman nya mendarat di pipi ku. Dion langsung berdiri dari duduk nya melihat Nando mencium ku dari kamera.
"Anj**g" mata nya mebesar, giginya merapat. aku tau seberapa marah nya dia saat ini. mungkin ia masih sadar bahwa HP itu milik ibu, kalau tidak, sudah di banting dengan segenap tenaga nya.
"Bro, gak usah lu suruh suruh dia jual diri, dia cari uang halal aja gak habis-habis, ngapain sampai harus jual diri" Nando langsung berbicara pada Dion. Dia bertahan dari awal tapi mungkin kata-kata Dion meprofokasi nya.
"Anj**g kalian berdua, kalau sampai ketemu, aku habisin kalian berdua"
lalu telpon di tutup Dion.
"Ndo, aku kurang setuju dengan apa yang kamu lakukan tadi. Aku tau Dion, udah sering dia maki-maki aku seperti itu, sudahah, apa yang kamu lakukan memperburuk keadaan"
"terus, aku harus diam aja liat kamu memagis di hina orang seperti dia? sekaya apa dia sampai kamu cuma diam aja di maki dia? di pertahan kan bertahun-tahun, aku beli mulut nya, mau di bayar berapa?"
Nando berapi api, baru sekali ini dia.marah di depan ku. Ternyata pria periang ini mengerikan jika marah.
"Aku gpp, aku udah biasa, tapi aku justru takut dengan kata-kata terakhirnya, aku takut…"
Air mata ku menetes, aku memang takut Dion malah mengamuk dan gak kontrol, atau malah ngadu yang gak gak ke Ibu.
"Ndo,,," panggil ku
"Kamu kenapa? apa yang kamu takutkan? kamu takut kehilangan dia?" Nando sampau memukul setir nya.
"Minggir dulu, ayuk bicara dulu" aku berusaha bicara tenang, agar Nando juga tenang. Tapi semarah nya Nando, dia tidak sedikit pun membuat aku ketakutan, seperti bersama Dion.
"Kamu belum bilang ke orang tua kamu, kalau kamu udah putus sm dia?" tanya nya lagi. Aku menggelengkan kepala, menidakkan.
"kenapa? " sambungnya
"aku takut ibu khawatir, jadi rencana nya aku mau bilang besok kalau aku cuti, aku pulang"
"Masih lama Febian, jadi kamu anggap apa aku? kamu anggap apa hubungan ini?" suara Nando penuh tekanan, Nando marah, benar-benar marah.
"Aku sendiri gak tau Ndo. Kamu gak pernah ngungkapin perasaan kamu ke aku, kamu gak pernah izin sama aku tiap nyentuh aku, kamu lakukan gitu aja. Kadang aku mikir jahat, bingung, apa aku yang manfaatin kamu buat lupain Dion, atau kamu lagi manfaatin kondisi aku yang sedang galau? tapi jujur, aku selalu nyaman dekat kamu, sangat nyaman"
"Apa aku masih harus bilang komitmen nya gimana setelah semua yg kita jalani sebulan ini Febian? aku harus ngomong ke kamu kalau aku suka kami, mari kita pacaran? gitu? kamu mau gak pacaran sama aku? begitu aku harus ngomong supaya kamu tau kita ngapain sekarang ?"
"Gak tauuuuuu" teriak ku sambil menangis.
"aku bingung, aku nyaman dengan Nando, sangat nyaman, aku suka kalau Nando sentuh, aku gak pernah merasakan perasaan itu, kalau kamu pulang, aku rasa nya pengen nahan, biar kamu di dekat aku aja terus, tapi aku takut, kamu cuma mnfaatkan kondisi aku. Kamu juga sendiri yang bilang, kalau kamu sedang pendekatan dengan seseorang, terus kalau cewek itu nerima kamu? aku gimana? apa terus-terusan kita HTS-an?"
"Ya ampun Bian, apa yang kamu pikirkan?"
__ADS_1
"aku takut kecewa Ndo, kalau Dion memang suka menyakiti aku. Tapi kamu, kamu perhatian sama aku, kamu perlakukan aku lembut, aku takut kecewa, aku takut saat aku udah berharap, kamu pergi dengan cewek itu"
"Cewek itu kamu…." Nando menggenggam tangan ku kuat, rasa nya sakit, tapi itu buat aku sadar, dan kata-kata tadi berhasil mengehntikan tangis ku.