Rindu Dari Bian

Rindu Dari Bian
Hari Penentuan


__ADS_3

Tak lama kemudian Nando datang. Membuka pintu, dan tersenyum merekah, khas Nando. Kembali aku mensyukuri, aku sebagai wanita beruntung memiliki kesempatan di cintai pria sempurna ini.


" Udah siap? Atau masih ada yang di tunggu?" tanya nya.


" Udah selesai, tinggal nungguin Pak Bos jemput aja" jawab ku sumbringah, dan langsung membentangkan tangan ku minta di peluk Nando.


Nando lalu mendekat, tersenyum, dan memeluk ku erat. Mengusap-usap punggung ku, lalu mengecup puncak kepala ku. Lalu aku melepaskan pelukan nya.


" Yuk, jalan..." ajak ku, sembari mengangkat tas, tapi malah di sambar oleh Nando.


Aku melapor ke perawat, sembari berpamitan. Sambil ku genggam tangan Nando. Lumayan buat manas-mabasin para perawat yang patah hati.


Di mobil aku langsung menatap lama Nando. Lalu aq mendekat dan mencium pipi nya dalam.


" Rinduuuuuu" ucap ku.


" Baru juga beberapa hari " Jawab Nando sambil tersenyum. Nando lalu mengenggam tangan ku erat, sambil menyetir. Ya, kalau soal romantis romantisan gak ada lawan Bapak Bos satu ini.


" Balik kantor lagi yank?" tanya ku


" Gak,,, besok aja aku sambung lagi "


Lalu aku membenamkan wajah ku ke lengan Nando. Wangi parfum nya sangat khas, dan membuat rindu yang menyiksa.


Tak lama kemudian, kami telah sampai ke apartement, dan langsung menuju unit. Aku berlari dan langsung menjatuhkan tubuh ke atas sofa tv yang benar-benar nyaman itu. Dibanding tempat tidur rumah sakit.


" Mandi dulu kih, ganti baju " Ucap Nando sambil mendekat, duduk di samping ku dan menciumi lengan ku.

__ADS_1


" Aduhhh baru juga Pewe pak... nyaman sekali, punggung ku sakit tidur terus di tempat tidur rumah sakit itu"


" Hayukk mandi dulu, terus kita pesan makan, dan makan ya, nanti baru kita malas-malasan"


Walaupun berengut, aku tetap menuruti perintah Nando. Dan ku lihat Nando juga berjalan menuju kamar nya, berarti dia pun mau mandi.


Aku menikmati air panas yang keluar dari shower ku, sebenernya pengen berendam, tapi aku mikir butuh waktu mengisi bath up itu, akhir nya aku hanya berdiri di bawah shower. Itu pun sudah sangat nikmat.


Selesai mandi, aku langsung berpakaian, aku memilih pakaian paling nyaman yang aku pakai, membiarkan rambut ku basah, dan membawa botol body lotion untuk ku pakai di ruang tv.


Di ruang tv, Nando sedang duduk sambil mengarahkan remote ke tv, dia pasti sedang memilih milih siaran. Begitu melihat aku datang, Nando langsung tersenyum ke arah ku, aku pun langsung duduk di sebelah nya, dan memeluk lengan nya.


" Mau makan apa? " tanya nya


" Aku pengen yang seger-seger berkuah gitu. Soto atau sup yank"


" Oke, aku pesen dulu" Lalu aku mengambil ponsel ku dan memesan makanan nya.


Malam ini, setelah makan, aku bersiap untuk menanyakan kelanjutan hubungan ini, juga bagaimana tanggapan kedua orang tua Nando. Dan setelah nya aku akan pulang ke kota ku. Keputusan akan aku ambil setelah mendengarkan Nando.


Bel berbunyi, makanan datang. Setelah mengambil makanan, aku lalu menyiapkan peralatan makan juga buat Nando. Kami makan dengan tenang, melanjutkan pembicaraan di sofa tv tadi. Hanya seputar hotel. Tertawa membayangkan kejadian konyol yang d ceritakan Nando, saat hari pertama nya di hotel setelah cuti.


Makan pun selesai. Nando kembali ke ruang tv, aku segera membereskan dan mencuci piring. Lalu setelah semua selesai, aku menuju ke ruang tv menyusul Nando.


" Ndo...." panggil ku, sambil memeluk pinggang nya, dan menatap mata nya. Nando pun melihat ke arah ku.


" Ya.."

__ADS_1


" Boleh aku tahu gimana hasil pembicaraan dengan orang tua kamu?" Aku bertanya sangat hati-hati. Sebisa mungkin membuat Nando nyaman. Walau sebenarnya dengan cara Nando mengulur waktu membicarakan hal ini, aku 80% sudah bisa menduga jawaban nya.


Seketika ada perubahan di tatapan Nando. Ini semakin membuat ku yakin, yakin dengan dugaan ku sebelum nya.


" Bi.... " Bisik Nando agak lemah


" Yes..." aku tetap berusaha tenang, walau di hati perasaan sudah tsunami.


" Bi, aku akan kasih tau ke kamu, dan dengarkan aku sampai selesai ya, jangan di potong kalau aku lagi bicara"


" Siap Pak Bos " Jawabku sambil memberikan jempol tangan ku pertanda setuju.


Nando menarik nafas nya. Hati ku makin bergemuruh, tapi aku sudah berjanji akan menghadapi ini bagaimana pun.


" Maaf, karena aku, mama, dan papa susah sekali bertemu untuk berdiskusi masalah ini. Awal nya aku bicara pada mama. Menurut mama, secara personal, dia gak ada masalah dengan kamu. Dia cukup menyukai kamu, kinerja kamu, latar belakang keluarga, dan bagaimana kerja keras kamu untuk membantu keluarga juga membuat mama sangat yakin kamu perempuan terbaik yang bisa dampingi dan mengimbangi kepribadian aku. Tapi kalau terkait masalah keyakinan, mama menyerah, karena dia bukan hanya tidak ingin menyakiti papa ku, tapi juga keluarga kamu, yang pasti kecewa jika kamu harus ikut dengan ku. Lalu aku dan mama bertemu papa, dan aku jelaskan ke beliau, bahwa aku mantap memilih kamu, dan aku akan segera ingin menikah. Papa merestui, tapi secara tegas papa tidak mengizinkan pernikahan dengan keyakinan yang berbeda. Apakah kamu mau menikah dengan aku, dan dengan keyakinan ku Bi?"


Mata Nando berkaca-kaca, aku tahu, ia menahan air mata, untuk tetap bisa menceritakan ini semua dengan jelas, dan Nando pasti menahan nya agar aku tidak ikut-kutan nangis.


Aku menggeleng menjawab pertanyaan Nando.


" Aku...... Aku mungkin memilih menikah beda keyakinan, walau aku gak berani untuk bilang bahwa keyakinan ku harga mati, kalau itu kita jalani, entah mungkin di perjalanan aku melemah dan memilih mengikuti kamu atau sebaliknya. Tapi sejauh ini, sampai hari ini, aku belum punya keberanian untuk menukarnya dengan pernikahan kita Ndo..." Akhir nya tangis ku pecah, aku terbata-bata merangkai kata ini. Hati ku hancur. Walau aku sudah bersiap dengan kejadian ini.


Nando pun tidak mampu lagi menahan tangis nya. Air mata nya jatuh. Ia langsung memeluk ku kuat. Nando dan aku menangis. Pelukan ini, aku tidak ingin lepaskan. Biarlah kami seperti ini. Tidak pernah aku punya pacar yang rasa cinta, sayang, dan perhatian nya mengimbangi Nando. Tapi saat aku menemui pria ini, aku merasa diperlakukan secara manis. Aku ingin dia... Ingin dia menjadi ayah dari anak-anak ku. Aku tak ingin melepaskan nya.


" Lalu bagaimana Bi? " tanya Nando.


Aku tak menjawab, aku membenamkan wajah ku, dan menangis ku di punggung Nando.

__ADS_1


" Apakah kita pergi saja meninggalkan ini semua ? Aku yakin Bi, kita bisa memulai semua dari nol.." lanjutnya.


__ADS_2