Rindu Dari Bian

Rindu Dari Bian
Pertengkaran dengan Dion


__ADS_3

Motor berhenti di rumah berpagar tinggi. Rumah ini tidak terletak di perumahan elite, tepatnya malah di pinggir jalan protocol, dan walaupun di kiri kanan sudah di dominasi oleh gedung dan ruko, rumah ini gak bergeming, tetap on point…


Gak lama kemudian pintu pagar terbuka sendiri, Nando masuk, dan berhenti di teras rumah. Dalam hati aku mikir, harga pagar rumah ini, sama dengan harga rumah orang tua ku barangkali, yang hanya di dalam gang, yang merupakan warisan keluarga. 


“ Masuk sini..” Ajak Nando, yang membuyarkan segala macam dugaan dalam kepala ku, dan aku sedikit menyesal, jangan-jangan dia liat ekspresi ku yang katrok tadi. Dion juga sebenernya anak dari orang kaya, ayah nya pejabat yang cukup terpandang di daerah ku. Tapi rumah nya gak sebesar ini juga sih. 


Aku masuk kedalam rumah, beriringan denngan langkah kaki Nando, seperti anak kecil yang takut di tinggal oleh Ibu nya di pasar. 


“ Bi,,,,” Nando berteriak memanggil seseorang, tak lama kemudian muncul perempuan setengah baya, dengan one set kulot batik. 


“ Mas, udah pulang? Tumben masih terang udah sampai rumah? “ Jawab wanita itu sambil tersenyum ke Nando


“ Mau ganti baju aja, Bi tolong minta Teguh buat mindahin motor bi, dan ini Bian, teman kantor aku, bibi temanin bentar ya bi…” 


“ Baik Mas.. mau di buatin minum? “ 


“ Gak usah bi, gak lama kok..” jawab ku sopan sambil merapatkan kedua telapak tangan ku di dada, naluri banget anak hotel minta maaf


Akhir nya aku duduk bersama bibi sambil menunggu Nando berganti pakaian. Bibi bertanya aku tinggal dimana, asal ku dari mana, aku anak keberapa dari berapa bersaudara, dan selanjutnya beliau menceritakan bahwa beliau tinggal di rumah ini sejak Nando bayi, orang tua Nando ada dimana, Kakak kakaknya dimana. Sampai akhirnya Nando datang dan mengajak ku berangkat. 


Kami pergi menggunakan mobil Nando, dan berbeda dari yang biasa di gunakan ke kantor. Kali ini aku sudah tidak bertanya-tanya lagi dalam hati seperti sebelumnya, seberapa kaya Nando. Karena aku sudah lihat sendiri, seberapa kayanya dia. Tapi, aku salut, dengan kondisi seperti itu, Nando masih mau bekerja, di hotel pula, yang melayani orang, di complaint, haduuuhh di FO pula, sudahlah capek berdiri, jadi samsak tamu pula, karena complaint tentang apa pun, pasti FO jadi tempat pelampiasan tamu. 

__ADS_1


“ Yang ulang tahun bukan teman dekat ku, ini teman SMA ku dulu, mungkin acara nya juga gak rame, nanti kamu mau di kenalkan sebagai siapa ? “ Tanya Nando


“ Ya sebagai teman kamu lah, masa Jockey 3 in 1 “ jawab ku, dan Nado tertawa


Kami sampai di sebuah restaurant mewah, aku fikir di club tempat minum, ternyata tempat makan mewah. Aku dan Nando hanya menggunakan stelan casual, walau kelihatan rapi, tapi pakaian kami aku rasa kurang cocok dengan tema Restaurant nya. 


“ Eh, gpp ini? Pakaian kita? “ Tanya ku


“ Emang kenapa? “ Jawab Nando


“ Ya, Restaurant nya kayak gitu, pakaian kita kayak gini..” 


Benar saja, saat masuk restaurant aku sudah bisa melihat sekumpulan pria dan wanita dengan pakaian casual, agak mencolok dari meja-meja lain di sekitarnya yang menggunakan pakaian anggun. Mereka tertawa terbahak bahak, seperti anak SMA tengil yang sedang kumpul di kantin. 


“ Weeeeeeyy Nando datang..” jawab yang punya pesta sepertinya, karena lebih mencolok dari yang lain cara pakaiannya. Ia menghampiri Nando dan langsung beradu kepalan tangan, juga merangkul Nando. 


Semua mata langsung tertuju pada Nando, sesaat saja maksud ku… selanjutnya seluruh mata beralih ke arah ku, dan dengan seluruh daya, aku lemparkan senyum termanis yang aku punya. Salah siapa aku datang dengan seorang Sulthan, jadi pasti mereka penasaran aku siapa? 


“ Oh ya, kenalin ini Febian..” Nando merangkul bahu ku dan mengenalkan aku ke teman-temannya. 


Lalu kami memilih kursi berdekatan seperti pasangan lainnya. Lalu acara pun dimulai. Mereka mengobrol saja, mengenang kenakalan dan kisah SMA mereka. Lebih tepatnya acara ini seperti reuni kecil. Nando sangat luar biasa, dia bisa tetap mengajak aku ngobrol di sela obrolannya dengan teman-temannya, dan aku gak ngerasa di cuekin. Dan teman-teman Nando aku rasa sangat supel. Mereka tetap menawarkan aku kesempatan mengobrol walau hanya basa basi teman Nando dimana? Kenalan sejak kapan, dll. 

__ADS_1


Tiba-tiba HP ku berbunyi. Dion memanggil, aku lihat jam tertera di layar HP ku sudah pukul 22.00, yes, ini memang jadwal ngobrol sama Dion. Aku putuskan menjawab teleponnya. Karena kalau tidak, dia bakal meneror gak henti-henti. 


“ Ya Yank,,,” Nando reflek langsung memalingkan wajah nya kearah ku mendengar aku berbicara demikian. Alis nya terlihat berkerut sedikit. Aku beri kode bahwa aku mau terima telpon dulu. 


“ Ya,,,,,” kata ku ulang menjawab panggilan Dion sambil berjalan sedikit menjarak dari meja Nando, aku mengarah ke toilet. 


“ Kok berisik tadi? Kamu lagi dimana?”


“ Aku lagi ada pesta ulang tahun teman, ini aku udah menjauh..”  


“ Siapa yang ulang tahun? “ Tanya Dion lagi. Jujur aku sebenernya gak berniat bohong, tapi kalau aku sebut nama Nando, nanti dia bakal marah-marah, dan aku gak mau mood ku rusak di acara seperti ini. 


“ Teman kantor, anak accounting. Nantilah sampai kos aku telpon kamu lagi ya, gak enak sama teman-teman..” 


“ Kamu pergi sama siapa?” Tambah Dion. Padahal aku sudah berpamitan ingin menutup telpon. dari nada suaranya Dion memang ingin mengitrogasi, dan tidak percaya dengan yang aku sampaikan. 


“ Sama Risna, naik ojek online tadi berangkatnya, karena takut pulangnya kemalaman, udah lah ya, nanti selesai acara aku telpon kamu…” 


“ Ok” jawab nya singkat, dan telpon langsung di tutup. 


Aku kembali bergabung dengan Nando dan teman-temannya. Tidak ada pertanyaan dari Nando siapa yang menelpon, dia langsung tersenyum melihat aku datang menggeserkan kursi ku, agar aku lebih mudah masuk dan duduk di kursiku. 

__ADS_1


__ADS_2