Rindu Dari Bian

Rindu Dari Bian
Kemarahan Ku


__ADS_3

Setelah selesai di counter dan menutup telpon Renya, aku menuju meja ku. Nando terlihat bersiap mau pulang, ku dapati berkali-kali dia melirik ku was was. Mungkin ingin tahu, apakah aku marah atau gak. 


Aku marah? iyes lah…


Aku tidak memberi senyum sedikit pun ke Nando. Aku mengernyitkan terus kening ku, biar Nando lihat, bahwa aku tidak sedang baik-baik saja. 


Nando akhirnya menghampiri ku. 


" Pulang yuk neng…"


" Iya, duluan aja ke bawah, aku nyusul" jawab ku dingin.


" Aku tunggu di body checking ya.." 


Aku hanya menjawab dengan anggukan. Sebenarnya pengen menghukum Nando. Gak mau pulang bareng dia, cuma aku fikir itu bukan solusi, rasa kepo ku jauh lebih besar daripada rasa ingin sendiri dulu.


Selesai dari locker aku menuju parkiran dan ku lihat Nando sedang ngobrol dengan security body checking. Saat melihat ku, Nando langsung berdiri dari duduknya dan berpamitan ke security tadi. 


Di motor, aku sengaja memberi jarak saat duduk, Nando sadar, dan bolak balik melirik ke spion motor melihat ku. Sesampainya di Apartemen, aku turun dan berjalan pelan, tanpa menunggu Nando selesai memarkirkan motornya. Aku menunggu Nando di depan lift. 


Nando hanya memandangi ku was was. Bohong kalau dia gak bisa melihat bahwa aku sedang marah. Aku nyaris gak bicara, mulai dari perjalanan sampai ke lift. 


Sampai di apartemen, setelah pintu tertutup Nando langsung memeluk ku, walau aku langsung memberontak ingin melepaskan, Nando malah semakin erat memeluk ku.


" Yank… kenapa? jangan marah.." ucap nya, Nando lantas menletakan dahi nya d dahi ku, dan memegang kepala ku. 


" Ampun Yank… aku gak tau apa maksud Renya tiba-tiba muncul. Aku gak mau kok berhubungan lagi sama dia. Buktinya dia telpon ke kantor, karena dia gak tau nomor Hp ku yang sudah aku ganti sejak dia teror aku dulu" Jelas Nando.


" Dia mau datang besok ke hotel " kata ku singkat dan jutek.


" Tinggal bilang aku gak ada. Apa susah nya"


" Awas ya kalau kamu macam-macam. Kalau di bandingkan dia, siapalah aku kan ya? secara dia lebih cantik, service nya lebih oke,,,," 

__ADS_1


" Ngomong apa sih kamu? aku gak pernah banding-bandingkan kamu sama dia. Karena buat aku, kamu jauh lebih baik dari dia. Sejak berakhir dari dia, aku gak pernah pacaran karena aku cari yang pebih baik dari dia, dan cuma kamu yang berhasil buat aku memutuskan buat mulai lagi Bi.." Nando agak menahan suaranya. Dia terlihat putus asa.


" Terserahlah… aku capek, aku mau ke kamar dulu" 


" Gak Bi,,, selesaikan dulu ini, kamu senyum dulu baru aku lepasin"


Lalu aku tersenyum memaksa, agar Nando melepaskan pelukannya. Aku gak pernah merasa cemburu dengan pacar-pacar ku sebelum nya, tapi dengan kejadian Renya tadi, aku seperti nya takut kehilangan Nando, dan marah pada Renya kenapa dia muncul mencari Nando. 


Nando memang gak ada salah saat ini, tapi dia ku jadikan pelampiasan kemarahan ku. Sebenernya kasihan, tapi aku gak tau mau lampiaskan ke siapa lagi. 


Nando melepaskan pelukan nya, aku berjalan menuju kamar ku, aku ingin mandi, ingin mengguyur kepala ku dengan air dingin, biar kemarahan ku juga terbawa air. 


Benar saja, setelah mandi perasaan ku lebih enakan, dan hal lain yang aku rasakan yaitu rasa lapar. Aku bergegas keluar kamar, ku lihat Nando masih d sofa tv. Tatapan nya ke arah aku. Mungkin dari tadi dia menunggu aku keluar kamar ini. 


Aku menghampirinya, duduk di pangkuannya, dan menciumi nya, Nando seperti Hape ketemu charger nya, karena lemas menghadapi aku yang diam saja dari tadi, langsung menyambut ciuman ku, dan membalas nya lebih panas. 


Saat Nando sedang bersemangat menghajar ku, aku langsung melepaskan ciuman dan pelukan nya, Nando kembali menatap ku lama, dengan wajah lucu, yang susah aku ungkapkan.


" Hadduuhhhh,,, udah keujung banget ini, di kerjain aku. Okelah, aku mandi dulu"


Lalu Nando meninggalkan ku, dan masuk ke kamar nya. Gak lama kemudian keluar dengan celana pendek dan kaos tanpa lengan, alasannya cuma itu yang ada di lemari nua lagi. 


" Yuk berangkat" ajak nya


" aku gak ganti baju ya,, mengimbangi…" jawab ku, aku pun tidak menukar pakaian ku tadi, hanya hot pants, juga kaos oversize.


Kami kembali menaiki motor, Nando terlihat kurang nyaman dengan pakaian ku, dan perjalanan di alihkan ke rumah nya dulu. Untuk mengganti kendaraan. Nando juga masuk ke rumah dan keluar membawa ransel. Dugaan ku, si Pak Bos pasti menginap nanti ini. 


Entah apa yang aku rasakan sebenarnya, saat masuk ke mobil, lalu pindah duduk di belakang kursi Nando. Belum sempat Nando bertanya karena heran, aku sudah langsung menciumi nya dari belakang. Aku menciumi leher, pipi, dan bahunya. 


" Bi…." ucap Nando sambil memegang kepala ku. 


" Diem aja… lagi pengen gila.. " Nando tersenyum mendengar jawaban ku.

__ADS_1


Kami memilih makan bakso di pinggir jalan di tempat biasa. Saking laparnya, aku sampai nambah satu porsi lagi. Nando pun juga ikutan.


" Banyak makan nya yank? mau siap2 ngabisin tenaga buat apa?" tanya nya bercanda


" Laparrrrr" jawab ku. 


Selesai makan, kami langsung pulang. Sesuai dugaan ku, Nando bilang memang mau menginap di apartemen. Dan selama perjalanan, aku seperti sakau dengan aroma Nando, Dan tidak melepaskan cumbuan ku pada nya, rasa nya ingin ku telan Pak Bos ini. 


Setelah sepanjang jalan aku menciumi nya, Nando memarkirkan mobilnya di apartemen. Di lift pun karena memang kami mendapati lift kosong, kami terus berciuman tanpa putus. Bersetan dengan cctv.


Seperti tidak sabar menuju kamar, kami setengah berlari di koridor, sambil tertawa-tawa. Dan apa yang terjadi di apartemen? kali ini aku tidak di eksekusi di sofa tv, tapi di kamar Nando. 


Dalam kondisi terengah-engah, Nando kembali memegang cel**a da**m ku. Dan kali ini seperti minta izin, Nando melihat mata ku. Aku mengangguk. Nando lantas mencium ku sambil tangan nya menurunkan pertahanan terakhir ku itu. 


" Kamu udah pernah melakukan nya?" tanya nya dengan ******* di telinga ku.


Aku hanya menggeleng.


" Kamu yakin mau melakukan ini?"


Dan ku jawab dengan anggukan. 


Ya, hari ini pertahanan ku runtuh. Nando berhasil menjadi orang pertama yang menikmati nya. Aku antara sedih, dan menikmati kesakitan itu, sangat sakit, seperti jatuh saat naik motor dan terseret di aspal, sangat pedih. 


Setelah selesai, Nando memeluk ku erat dari belakang. Aku meneteskan air mata, air mata karena kesakitan dan mungkin sedikit penyesalan. Sekian lama aku mempertahankannya, tapi Nando berhasil mencuri nya dari ku. 


Aku membalik kan tubuh ku, hingga berhadapan dengan Nando, Nando lalu mengecup kening ku.


" Maaf,,, " ucap nya.


" Jangan sakitin, jangan tinggalkan aku Ndo…" Aku menangis kencang di dada Nando. Nando pun mengelus-elus kepala rambutku, dan mencium puncuk kepala ku.


" Aku mencintai mu Bi… tetap di samping ku ya…"

__ADS_1


__ADS_2