Rindu Dari Bian

Rindu Dari Bian
Akhir nya Pinjam Bahu


__ADS_3

Akhir nya mobil keluar dari jalur aspal, memasuki jalan berbatu dan sudah mulai terlihat beberapa kendaraan terparkir, juga lampu-lampu kecil yang di atur cantik. Aku bisa dengar suara ombak, dan angin yang kencang. Pantai…. Aku langsung terperanjak dari kursi. Gak tau bahagia nya seperti apa, karena aku memang jarang sekali melihat pantai. Di kota ku tidak ada pantai atau gunung, jadi melihat pantai sesuatu yang Woww


Nando tersenyum melihat reaksi ku. 


“ Senang? “Tanya nya


“ Banget….” Jawabku  sambil bersiap turun. 


Ini bukan malam minggu, tapi Jumat malam Sabtu, jadi tidak terlalu ramai, selama di kota ini, aku ingin sekali ke pantai, tapi karena jarak nya sangat jauh dari kota, aku segan meminta Risna mengajak ku kesini. 


Aku turun dan berjalan bersama Nando, dan jujur, banyak sekali sekumpulan anak muda yang berpenampilan seram, seperti preman gitu berkumpul. Nando langsung menggandeng tangan ku saat salah satu kelompok melihat ku seperti ingin mengganggu.  


Kami mencari pondokan penjual makanan dan Nando menanyakan penyewaan tikar, juga memesan jagung bakar dan minuman. 


“ Lupa, harusnya tadi beli cemilan ya di jalan..”  Kata Nando


“ Kana da jagung bakar, makan aja sampai gigi goyang..” Jawab ku sambil tertawa. 


Ya ampun, kenapa ngajak kepantai nya malam sih, kalau siangan atau sorean tadi, aku gak ngajakin makan bakso gpp deh, yang penting liat pantai. Kalau malam sih indah, tapi lebih indah ada matahari kali ya.


Tikar pun datang, Nando menunjukan dimana kami akan duduk, si penjual tetap memberikan kursi kayu panjang yang memang tersedia, tapi aku dan Nando tetap duduk di bawah, di atas tikar, kursi kami jadikan tempat bersandar. 


Aku mulai memainkan pasir dengan tangan ku. Aku sadar Nando terus menatap ku dan tersenyum. Ah, untung tadi aku menangis di depan Nando, jadinya di bawa kepantai. Besok kalau mau minta ke gunung, aku nangis lagi aja kali ya? Hahahahaaa…

__ADS_1


Walau tidak terlalu ramai, tapi bisa dilihat di sekitaran pantai banyak muda mudi yang berpasangan makan jagung, mengobrol, juga ku lihat beberapa keluarga, yang aku yakin mereka datang dari luar kota. 


Gak lama, jagung dan teh dalam botol yang di pesan Nando datang. 


“ Makan dulu wooyy,” ajak Nando


Aku langsung tersenyum, dan menyambar satu jagung bakar. 


“ Kalau aku tau kamu mau ngajakin aku ke pantai, gak usah makan bakso tadi, langsung ke sini, biar bisa liat pantai waktu masih terang..” bisik ku sambil tersenyum ke Nando


“ Aduh Neng, gak ada rencana ya, ini jalan kesini karena aku bingung mau di bawa kemana perempuan yang nangis ini, mau di bawa ke kos, nanti turun nangis-nangis aku di kira abis menganiaya kamu, mau aku bawa ke rumah, nanti kita di tonton bibi dan teguh, bingung aku” 


Aku tertawa liat muka Bapak Bos menjelaskan itu semua. 


“ Hampir mau telpn Risna lagi, kok tadi sama Risna gak nangis, sama aku nangis sih,, haduuuuhhh” tambah nya sambil menggeleng-gelengkan kepala.


“ Tau gini aku bawa catur Bi, atau monopoli? Mau? Aku cari toserba dekat sini?” canda Nando lagi. 


“ Hahahahhaaaa… gak gak, cukup duduk manis dan ngobrol , sambil makan ini” aku menyodorkan jagung bakar ke Nando. 


“ Kapan terakhir ke pantai Bi?” Tanya nya..


“ Tahun lalu mungkin, di tempat ku gak ada gunung, gak ada pantai, kalau mau liat keduanya, aku harus keluar kota, tahun lalu pergi sama Dion dan teman-teman, camping, barbeque.. ….” Aku tidak melanjutkan lagi cerita ku, tanpa sadar tiap aku menyebut nama Dion dada ku langsung sesak. Dan air mata terdorong keluar. 

__ADS_1


Nando seperti menyesal menanyakan hal itu. Karena kembali aku menangis, dan dia bingung mau ngapain. Akhirnya jagung yang td sedang di makan di letakin lagi ke piring. Gak sanggup lagi meneruskan makan. 


“ Maap..” Bisik Nando


“ Gpp, aku aja yang sensitive,,” jawabku 


“ Kamu, kalau tau, gak ada celah tentang aku itu tanpa Dion, hampir tiap hari aku dan Dion itu jalan. 2 tahun, tiap hari Dion datang ke rumah, kecuali dia memang   sedang di luar kota dengan keluarganya, atau lagi ada kegiatan kantor nya, atau acara keluarga, bahkan acara keluarga pun kadang aku ikutan… segitu dekatnya ya kan? maka nya kejadian ini bikin aku sesak” aku kembali menangis, dan Nando kembali menarik nafas panjang, bingung. 


“ Kalau kamu mau cerita, ceritalah, aku dengarkan..” ucapnya


“ Aku introvert Ndo, aku rindu Ibu saat seperti ini, aku ingin cerita, tapi disini aku gak ada Ibu, kalau aku ceritakan lewat telepon, Ibu pasti khawatir. Mungkin karena aku gak keluarkan, jadi nya sesak banget di dada ya Ndo. “ 


“ Sama aku aja, aku dengarkan.. gpp, besok juga libur, gpp kan kita pulang lebih malam? “ 


“ Gpp.. aku juga takut kalau aku sendiri di kos, aku cuma nangis aja… Dion dan aku tu udah pacaran lebih dari 2 tahun Ndo, selama pacaran juga gak selalu manis manis aja, serinng berantem juga, karena Dion itu posesive, waktu kami lulusan kuliah, aku mau kerja di Hotel, dia super duper bawel, sampai ngomong supaya aku gak kerja di Hotel tu, dia mau nikahin aku aja. Kamu tau, walau pun ada cowok yang cuma nanya kabar ku gimana keliatan sama dia gitu, atau ada chat cowok, aku bakal di marahin. Sampai dia ngomong ke orang tua nya, buat lamar aku langsung pernah lho “ 


“ Terus udah di lamar? “ 


“ Ya gak lah, gila aja, baru lulus kuliah terus aku nikah gitu? Dion itu kekanakan, manja, tapi dia cinta banget sama aku. Aku sakit aja khawatirnya minta ampun, kalau aku marah sampai nangis, dia mohon-mohon minta maaf biasanya, gak akan pulang-pulang dari rumah ku kalau belum aku senyumin. Dia anak pejabat, mungkin aku egois dan matre juga, beberapa kali Dion pernah nyinggung perasaan ku, malah pernah merendahkan keluarga ku, aku ingin putuskan dia, Tapi balik lagi, orang tua udah tau kami pacaran, keluarga besar kuk juga, mereka sering menyebut-nyebut Sepupunya, ponakan nya, cucu nya yang cantik ini akan jadi menantu dari Si Bapak A, pejabat yang termasyur di kota ku, aku malu aja, kalau aku tiba-tiba putus, gimana aku harus berhadapan sama mereka.. dan lebih lagi, aku udah malas mulai hubungan dengan orang lain, memulai PDKT lagi dengan cowok lain, yang belum tentu lebih baik dari Dion” 


“ Terus walau dia nyakitin kamu, kamu pertahankan ?” 


“ Dengan alasan-alasan tadi iya… dan terus berharap dia akan berubah. Menurut orang tua nya jauh sih perubahan Dion sebelum dan sesudah dengan ku, orang tua nya sangat sayang aku Ndo….” Aku kembali terisak isak mengingat perlakuan orang tua Dion yang sangat baik kepada ku. Dan kali ini aku sulit berhenti menangis, dada kuk sesak, aku ingin teriak. 

__ADS_1


Nando langsung menggosok-gosok rambut ku, saat aku tertunduk menangis dan tidak bisa berhenti. Tanpa ku sangka, Nando merangkulku, dan meletakan kepala ku di bahunya. Refleks aku mengambil lengan nya dan ku peluk. Kami bersandar di kursi kayu dengan posisi kepala ku di bahunya, dan lengannya yang ku peluk. Nando mengusap ngusap punggung tangan ku. Pinjam dulu bahu nya Bapak Bos, terserah dia mau mikir apa, tapi ini sangat nyaman. 


Tapi, entah apa yang barusan berbisik ke Nando, sampai ia tiba-tiba mencium pucuk kepala ku, begitu lembut, dan aneh nya perasaan ku agak aneh, dada ku berdebar, tapi ini bukan debaran yang membuat aku sesak seperti mengingat Dion. Aku diam, aku baru sadar, betapa baik nya Nado selama ini dengan ku, dan bagitu perhatian, apa Nando menyukai ku? ah, gak mungkin, dia kan punya orang lain yang dia suka, udah mau jadian, lagi penjajakan, takut di tolak. Terserahlah, apa aja yang penting malam ini dia milik aku sesaat. 


__ADS_2