Rindu Dari Bian

Rindu Dari Bian
Masih ada Renya


__ADS_3

Deg..


Jantung ku berdebar kencang, entah kenapa aku yakin yang datang mencari Nando adalah Renya.


" Siapa namanya?" tanya ku.


" Renya mba" Jawab receptionist ku. Aku hampir saja aku memukul meja. Untung masih tersisa sedikit kewarasan ku.


" Kamu sudah bilang Pak Nando ada? "


" Belum mba, aku bilang mau cek dulu"


" Oke, aku saja yang temui"


Aku pun beranjak dari menja ku, dan menuju counter FO. Ya, aku lihat sesosok hantu wanita, yang luar biasa cantik menompang dagu nya dengan tangan nya di counter FO.


" Selamat siang Ibu..." Aku sengaja memanggilnya Ibu, untuk memancing masalah.


Tak terima di panggil Ibu, wanita itu lantas membulatkan matanya dan menatap ku tajam.


" Siapa yang kamu panggil Ibu? Aku?" Protesnya denga nada kesal.


" Pak Nando lagi di luar bu, apakah Ibu ada Janji dengan beliau sebelumnya?"


" Gak, tapi bilang aja sama Nando yang bersembunyi itu, sampaikan, bahwa Renya datang, ah, sembunyi kan dia di dalam sana"


Walau penampilan nya anggun, tapi bahasa dan attitude nya minus.


" Tidak Ibu, pak Nando memang sedang tidak di tempat. Kalau Ibu mau bertemu beliau setelah ini, sebaik nya Ibu membuat janji sebelumnya" Aku masih berusaha bersikap profesional, walau pun darah ku mendidih melihat gaya sengak Renya.

__ADS_1


" Kalian yang disini baru semua ya? gak ada yang kenal saya? Saya ini dulu pacar nya Nando, saya biasa mondar mandir di hotel ini. Panggil aja deh Nando. Atau saya paksa masuk? haduhhh, kalau anak-anak FO yang lama, gak ada deh yang berani sama saya" Renya memukulkan tangan nya sangat keras ke meja counter, Aku mikir, ini dia lebih bossy lho dari pada Ibu owner.


" Ibu yang terhormat, saya sudah sampaikan bahwa Pak Nando tidak ada, dan anda tidak punya janji dengan beliau. Kalau Ibu membuat keributan dan mengganggu kenyamanan kami, mohon maaf, Ibu kami persilahkan keluar" Aku menjawab dengan tegas, agar tidak ada lagi adu argu...


" Kurang ajar kamu berani-berani nya melawan saya, kalau kamu bisa, ayo coba keluarkan saya dari sini " emosi Renya mulai naik. Semua tamu di lobby mendadak menyaksikan drama buatan Renya.


" Baik Ibu, kalau Ibu tidak mau keluar baik-baik, maka dengan terpaksa saya meminta bantuan security" Lalu aku mengambil HT untuk menghubungi security.


Wajah Renya panik saat 1 orang security wanita dan seorang security pria datang mendekatinya. Benar saja, Renya langsung bertambah marah dengan menggeram dan memukul lagi counter FO yang terbuat dari batu itu. Dan sebelum security menghampiri nya iya langsung berjalan keluar pintu lobby.


Aku memberi kode anggukan kepada kedua security tadi untuk mengkuti Renya sampai benar-benar keluar dari area hotel.


Sepeninggalan Renya, aku dan dua orang receptionist tidak berkomentar, kami hanya saling tatap, menggeleng-gelengkan kepala, lalu tersenyum hambar. Dan aku langsung menuju back area FO, untuk mencari Nando.


Aku gak tau, apa Nando tadi tau apa gak kejadian di depan. Yang ada dalam kepala ku adalah minta klarifikasi Nando. Aku menghampiri nya.


" Ya... Sudah, sudah selesaikan? Makasih ya.." jawab Nando sambil tersenyum genit kepada ku.


" Ide dari mana ya kamu pacaran sama dia dulu. Cantik sih,, tapi sakit jiwa"


" Hush... Udah lah, jangan bahas lagi," Nando masih santai saja menanggapi aku yang sudah berapi-api ini.


" Kamu bisa ya santai gitu,,, aku tadi di marah-marahin sama cewek yang gak jelas, tamu bukan, owner bukan, tapi datang marah-marah,, kesal aku. Kamu enak-enakan sembunyi disini"


" Lah, kan kamu yg larang aku temuin dia? Lupa? Terus aku harus bersikap gimana? Masa aku sedih? Nanti kamu makin curiga"


Nando mulai bingung, kening nya makin berkerut.


" Gimana caranya cewek itu gak kembali lagi? aku gak mau liat dia lagi, kalau besok dia masih berlagak seperti itu, aku ludahi muka nya, seperti tempat sampah, dasar kain lap"

__ADS_1


" Kalau dia datang lagi, dan kamu izin kan aku ketemu dia sebentar aja, aku akan bereskan semua nya"


" Nah itu yang kamu mau kan? Mau ketemu dia, mau liat dia gimana setelah bertahun-tahun gak ketemu? Makin cantik gak? Makin bohai gak?"


" Gak yank,,, kan kamu tadi yang suruh aku nyelesaikan masalah nya? Aduuuhhh kasih tau aku deh, aku mesti gimana, aku turutin wes. Terserah kamu aja, aku manut" Mungkin karena bingung Nando mulai putus asa.


" Lakukan aja terserah kamu" lalu aku berbalik badan untuk meninggalkan Nando. Tapi Nando malah menangkap tangan ku.


" Yank... Jangan pergi sebelum selesai dan gak marah lagi"


" apa yang mau di selesaikan, kamu yang punya masalah" Nada suara ku mulai tinggi. Nando tampak menghela nafas.


" Kalau gak ada CCTV udah aku cium kamu Bi, biar diam" jawab nya dengan suara pelan.


" Ayuk ikut aku " Tambah nya sambil menyeret ku. Entah kemana aku mau di bawa nya. Aku coba melepaskan tangan nya tapi gak bisa. Akhirnya kami tiba di EDR, yang memang sedang sangat sepi jam segitu.


" Kamu mau aku gimana? Begini salah, begitu salah. Bi, aku ni cowok, gak bisa aku nebak-nebak perasaan kamu. Aku berfikir secara pasti, gak bisa pakai-pakai kiasan gitu. Dan jujur, aku mau tanya, salah aku dimana sama kejadian ini?"


" Aku gak tau, pikiran ku lagi penuh, aku ke locker dulu" Aku meninggalkan Nando yang terlihat kesal sekali.


Aku pergi menuju locker, memutuskan untuk istirahat, aku melepaskan sepatu, stocking, dan blezer ku. Aku lantas berbaring di ruang istirahat, yang aku rasakan adalah sedih, lelah, pengen marah. Semua nya.


Aku gak bisa meng-interpretasikan perasaan ini apa? Karen jujur sangat penuh di dadaku. Aku masih membayangkan gaya elegan Renya di awal. Ya, kalau di banding sama Renya, aku memang kalah, tapi itu hanya masalah fisik, tapi kalau sudah menyangkut attitude, kelaut aja dia.


Untung di locker tidak ada orang. Aku mulai meneteskan air mata, takut kalau Nando malah pengen CLBK dengan wanita itu, atau berselingkuh tanpa mengakhiri hubungan dengan ku.


Aku kesal. Karena tadi malam dan tadi pagi, Nando masih dalam pelukan ku, kami baik-baik saja. Ah, wanita ini, kenapa dia muncul tiba-tiba.


Tak lama kemudian tiba-tiba aku mendengar ada sesorang masuk ke locker. Aku langsung cepat-cepat menghapus air mata ku. Dan aku memperbaiki posisi tidur ku. Semoga yang datang tidak mengajak ku ngobrol. Karena aku yakin, aku akan menangis kalau bicara.

__ADS_1


__ADS_2