
"Kamu tau? sejak kapan?" tanya Nando
aku menggeleng, saat ini aku sudh bersandar di pintu dan melihat ke arah Nando dalam gelap nya mobil.
"Sejak pertama liat CV kamu, liat foto kamu, aku langsung tertarik dengan kamu. saat VC interview, buat aku kamu sesuai dengan yang aku bayangkan, cantik, ceria, supel, dan smart. Kamu paket komplit Bi, jadi jangan pernah mau dihina lelaki itu lagi ya" Nando menarik tubuh ku, lalu memeluk erat.
"Sekarang, kamu milik aku, jangan pernah mikirin cowok lain, selain aku, aku akan jaga kamu, kalau aku nyakitin kamu, kamu boleh langsung ninggalin aku, tapi kalau gak? tetap jadi Febian aku selama nya ya"
Aku menangis di dada Nando, ada rasa lega, Ya, kemarin saat aku memutuskan break dengan Dion, aku yakin, aka nada orang yang mencintai aku lebih dari Dion. Dan hari ini, aku mendapatkan nya.
Aku mengangkat kepala ku, ingin melihat wajah Nando dari dekat, Nando jauh lebih tampan dari Dion, perilakunya lebih dewasa, dan semoga Nando gak berubah sampai nanti-nanti bersikap selalu manis kepada ku.
Aku tersenyum kecil, dan gak tau dapat keberanian dari mana, saat mata Nando juga melihat ku, aku memajukan wajah ku medekat ke wajah Nando, dan meletakan bibir ku di atas bibir nya, awalnya hanya ingin mengecup, tapi Nando malah menahan tengkuk ku, dan ******* lembut bibir ku. Sangat lama, sampai akhirnya kami kehabisan nafas, Nando baru melepaskannya. Dia lalu melekatkan dahi nya ke dahi ku, dan berkata..
“ Jangan nangis lagi Bi… “
Kami merenggangkan pelukan, Mobil pun mulai berjalan kembali. Hampir satu jam kami berhenti di jalan tadi, sudah pukul 9 malam, aku melihat HP, dan chat Risna sudah banyak sekali masuk.
“ Ris,, bentar ya, telat tadi kita berangkatnya..”
Gak lama kami sampai di daerah camping. Lumayan ramai, tapi tidak susah mencari sekelompok orang bar-bar yang tertawanya bisa terdengar radius 3 KM, Nando malah menggandeng tangan ku,
“ Ndo, gpp? Lepasin ajalah” pinta ku
“ Kenapa? Gak ada yang salah..”
“ Gak enak sama Pak Reza dan Pak agung, teman-teman juga”
“ Gpp, biar mereka sekalian tau, kalau gak Reza bakal lirikib kamu teruus”
Aku pasrah, terserah Nando saja, kalau nanti ada apa-apa, haduuuhhh, gimana aturannya ya? Kalau manager dan asisten nya pacaran? Kalau karyawan sama karyawan, karyawan dan manager udah biasa dengernya. Ah, terserah Nando ajalah. Kalau ada yang di suruh resign, Nando aja, aku gak mau pokoknya.
Sesuai dugaan ku, seluruh karyawan mulai terdiam dan melihat ke arah aku dan Nando, ke arah tangan kami lebih tepatnya, gak terkecuali dua bapack-bapack yang sedang ngopi berdua.
Aku melihat mereka semua kikuk, langsung saja melepaskan tangan Nando dan berlari kecil ke arah mereka.
“ Wooyyyy “ teriak ku sambil melambai
“ Heeeiii sist” teriak Risna
Nando mengikuti ku dari belakang, dan bergabung dengan bapak-bapak tadi. Aku? Langsung memegang spantula untuk membolak balikan daging barbeque.
“ Sist…” Bisik Risna, ia merapatkan diri ke aku, begitu juga Mba Iren dan Donat
“ Sejak kapan??” sambungnya.
“ Apaan? “ Tanya ku pura-pura bingung, padahal aku tahu sekali apa tujuan dari pertanyaan tersebut.
“ Aih, jangan sok Pilon ya, sejak kapan ? “ Desak nya sambil ujung dagu nya terangkat dan mengarahkannya ke Nando.
“ Owwhh, gak tau sejak kapan udah gitu aja, jalan gitu aja…” jawab ku tanpa melirik wajah mereka, tapi aku yakin mereka sangat penasaran.
“ Owwwwhhh ini ni yang bikin mas Dean mundur teratur sepertinya” tambah mba Iren
“ Iya lho, di lirikin maut sama Nando waktu itu, di jutekin pula, aku kaget “ jawab ku antusias
“ Eh tapi kok Mba Iren tau kalau Mas Dean deketin aku? “ Sambungku penasaran. Karena aku gak pernah membicarakan Dean waktu bersama Mba Iren
“ Orang nyalamin nya waktu makan siang, sampai-sampai urusan rencana double date juga kami yang ngatur” tambah Donat
“ Oalah,,, Mas Dean ganteng,,,” tawa ku
“ Tau nya di gituin Nando mana beranilah dia, bisa di pecat hari itu juga kalau melawan…hahahahahaha” ketiga nya tertawa serentak, aku hanya tersenyum, bingung, apa maksudnya Nando bisa pecat Dean hari itu juga.
__ADS_1
“ bentar ..bentar…Emang Nando bisa mecat Dean? Gimana ceritanya? “ Tanya ku bingung
“ Eh kamu? Kamu gak tau atau pura-pura gak tau Febiaaaannn” seketika Iren dan Donat menghentikan suara nya saat Risna berbisik.
“ Emang kenapa? “ tanyaku makin bingung “ Kok bisa Nando yang mecat? Bukan Bapak Bos nya dia?”
“ Nando itu siapa kamu gak tau? “ Tanya Risna berbisaik geram sambil meremas pergelangan tangan ku.
“ Bos ku, FO Manager, emang apa? “ kening ku berkerut
“ Anak-anak FO gak ada yang cerita ke kamu? “ tambah Risna lagi,
“ Gak..”
“ Kamu gak liat GM kita Pak Agus sangat dekat dengan Nando?” tambahnya
“ Oh iya, dekat banget malah, sering ke kantor Nando lho dia. Aku sempat heran juga waktu Nando bilang dia gak punya pacar, aku fikir dia gak suka sama yang cantik, tapi sama yang ganteng, ya ammmppuuunnn,,, jadi mereka pacaran?” tambah ku sok tau
“ Heeeeiiii gak Biaaaaannn, mereka gak pacaran, tapi mereka dekat “ teriak Donat
“ Ah terserahlah aku malas mikirin nya. Aku udah capek mikir dari tadi di jalan, rebut-ribut. Sekarang senang-senang aja “ jawab ku, Buat ku mereka gak jelas banget arah pembicaraannya. Ku lihat mereka geleng-gelengin kepala keheranan dengan kata-kata ku.
Aku lanjutkan memasak beberapa daging barbeque, Nando datang ingin makan, satu tangan nya merangkulku, dan bertanya mana yang sudah bisa di makannya. Aku ambilkan. Dan Nando kembali ke meja Pak Agung dan Pak Reza.
Kembali,,,, rangkulan Nando tadi dilirik semua mata yang ada disana. Nando ada apasih, biasa di kantor juga gak begitu kali. Tetapi kenapa disini malah nunjuk-nunjukin gini. Jujur aku gak tau gossip apa yang beredar setelah ini di hotel.
Sudah pukul 4 Pagi, kami akhirnya mulai menuju tenda satu persatu, aku bergabung dengan Risna, Donat, dan mba Iren, karena memang Cuma kami berempat yang perempuan.
Karena sudah terlalu capek, rencana menggibah gagal, semua pada tertidur pulas.
*
*
Walau mata masih 5 watt, aku berjalan mencuci muka, dan mengambil air minum, mau menyikat gigi udah gak sempat, karena semua sudah siap berangkat. 13 orang termasuk aku, Risna, Nando, dan Pak Reza penyelundup di luar anak-anak Accounting.
Kami mulai berangkat, kalau Pak agung dan Pak Reza berjalan sambil ngobrol berdua, Nando malah berjalan di sekitar ku, sesekali berhenti melihat aku yang ketinggalan dari nya, dan menyamakan langkah kembali. Aku malah iri lihat 3 cewek riweh yang tertawa terbahak-bahak di depan sana, entah apa yang mereka tertawakan. Aku ingin bergabung, tapi Nando selalu aja di sekitar ku.
Jalan setapak nya sangat kecil, mungkin karena beberapa sudah pernah melewatinya, mereka sepertinya hapal medannya, termasuk Nando. Aku lihat enteng saja melewati jalan ini. Sedangkan aku? Sudah terengah-engah hampir tak berdaya.
“ Udah ngos-ngosan neng? “ Tawa Nando sambil mengulurkan tangan kepada ku, karena jalannya agak memanjat.
“ luaarr biasa…” jawab ku sambil menggeleng.
“ Butuh nafas buatan gak? Aku kasih ni, ikhlas…” tawarnya sambil senyum nakal
“ Bau jigong ni, mau? Belum gosok gigi lho, siniiiii” canda ku
Akhirnya tangan Nando gak sanggup lagi aku lepas, karena aku memang kelelahan. Saat sampai di atas, kondisi tempat makan sudah ramai sekali, banyak sate kelinci, Mie Instan Cup, dan Mie rebus pastinya.
“ Nantti pulang, kita lewat jalan itu aja, biar gak capek, dekat itu dari perkemahan” tunjuk Nando
“ Terserahlaaahhhh,, aku lapaaarrr” jawab ku sambil semangat memasuki salah satu tempat makan yang di dalamnya sudah berkumpul teman-teman lain. Rupanya aku dan Nando jauh tertinggal.
Sambil makan, kami tertawa-tawa menceritakan kejadian-kejadian lucu yang terjadi di hotel dahulu, semua sangat bersemangat bercerita. Ada FO Manager lama dulu, wanita, Cuma sombongnya minta ampun, kalau jalan dagu nya di angkat. Malah pernah suatu hari, ada acara penting di hotel, si FO Manager escort tamu VVIP, aneh nya karena dia ngangkat dagu nya terlalu tinggi, dia gak sadar sudah jalan sendirian, sedang kan tamu nya sudah belok ketempat lain. Dan itu terekam di Video kegiatan, malu nya setengah mati.
Banyak lagi cerita lucu lainnya. 2 Hari lagi Pak Agung akan berangkat ke kota lain, pindah ke property lainnya. Ya, inilah dunia hotel, berdiam di suatu tempat 2-3 tahun sudah termasuk lama, seringnya hanya 1-2 tahun saja.
Sudah pukul 10, kami kembali ke perkemahan. Mengosongkan semua tenda, mengemas semua peralatan yang sudah di gunakan, dan siap-siap bubar. Aku dan Nado menghampiri Pak Agung, menyalami nya, karena besok beliau memang tidak masuk lagi ke kantor.
“ Sukses ya Pak di tempat baru, jangan lupa kalau ada posisi buat saya, di infokan..hihihi” kata ku sambil tersenyum ke Pak Agung
“ Lah Pak Bro, dia mau ikut saya katanya ini, terus Pak Bro mau di tinggal? “ Canda Pak Agung kepada Nando.
__ADS_1
Nando ikut tertawa sambil tangannya seolah-olah ingin merangkul pinggang ku, rupanya malah sempat mencubit terlebih dahulu.
Dan akhir nya kami saling melambai, lalu bubar.
Aku pun masuk mobil bersama Nando. Kaki masih pegel, rasanya sudah ingin mandi, lalu baring, tidur sampai besok pagi. Aduh, tetiba rindu kasur kos.
“ Kamu gak pegel ?” Tanya ku ke Nando yang sepertinya santai bae..
“ Pegelah, tapi kalau gak nungguin kamu, aku udah cepat banget nyampai ke atas tadi. Aku sering kesana, udah hapal lubangnya dimana aku” jawab Nando sombong.
“ Oh ya? Aku gak mau lagi ya di ajak-ajak lewat sana, tapi kalau ke gunungnya mau, kata Risna disana ada air terjun juga ya? Terus pemandangan dekat kawah dan sungai disekitarnya juga bagus? “
“ Iyaaa, besok kapan-kapan kita kesana lagi..”
“ Ditunggu ya undangannya… gak perlu pakai nangis kan ya?” Tanya ku dengan muka serius
“ Nangis??” Nando menjawab bingung
“ Iyaaa,, kemarin nangis di jalan tiba-tiba di ajak ke pantai malam-malam, aku mikir, kali aja kalau aku nangis lagi, di ajak ke gunung, hahahahaaa”
Nando langsung mentoyor kepala ku.
“ Kamu suka mana? Pantai apa gunung?” Tanya nya
“ Dulu suka pantai, karena gak pernah liat gunung, sekarang aku suka gunung Ndo, udaranya segar banget. Aku lebih suka kedinginan daripada kepanasan”
“ Iyalah, kalau kedinginan kan bisa aku peluk, mincing-mancing aja kamu” tawa Nando.
Jadi teringat saat di pantai malam itu, bolak balik ada penduduk setempat yang menawarkan kamar, dengan bahasa yang sangat halus juga. Dengan bahasa yang sangat halus juga Nando menolak nya. Apalagi ke gunung malam-malam ya, apa ada juga hal yang sama, haahahahahaa
“ Kenapa kamu ketawa sendiri? “ ujar Nando
“ Gak ada, “ jawab ku malu
“ Eh, besok beberapa hari gak bisa pulang sama aku ya, orang tua ku datang, pasti aku bakal sibuk ngurusin mama”
“ Oh ya? Gpp, nanti pulang naik ojek atau sama Risna aja, “
“ Sama Risna aja, atau di antar driver ya, nanti aku bilang Risna”
“ Gak usahlah, segan aku, gimana nanti aja, gampang itu..”
Nando tersenyum dan langsung menggenggam tangan ku.
Gak terasa sudah sampai di kos, Aku melepaskan sabuk pengaman dari kursi ku, Nando hanya menatapku sambil tersenyum.
“ Pengen singgah, tapi takut gak bangun sampai besok” kata nya
“ Aku juga…”
“ Kalau udah bangun saling WA aja ya, kalau udah bangun baru di balas, jangan lupa kamu makan “ pesannya lagi
“ Wokgeeeh”
“ Gak sun dulu? “
“ Genit amat,, bau jigong ini mau? “
“ Gpp,,,,”
Akhirnya aku memberikan kecupan di pipi Nando. Nando tersenyum.
“ Hati-hati ya,,, “ ucap ku sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
Camping yang menyenangka, dan semoga ke gunung lain waktu lebih menyenangkan lagi. Misi selanjutnya mandi, dan langsung telpon Ibu. Biar Ibu tau, aku pergi gak lama-lama, sesuai janji, habis acara langsung pulang. Aku pun penasaran bagaimana reaksi Dion setelah kejadian kemaren. Ah, pikiran ku jadi kacau lagi, pengen cepat-cepat telpon Ibu, semoga semua baik-baik saja. Tapi jujur, yang aku takutkan hanya kalau Dion tiba-tiba bercerita yang bukan-bukan ke Ibu. Nando sih bikin runyam saja.