Rindu Dari Bian

Rindu Dari Bian
Lalu...


__ADS_3

" Terimakasih Ndo... Atas keputusan kamu, memilih tetap bersama ku.." Aku menatap wajah Nando. Aku lihat kesedihan yang mendalam di matanya.


" Tapi, apakah kamu siap kehilangan semua nya? Kehilangan orang tua, kehilangan fasilitas yang kamu punya selama ini? Lalu memulai semua nya dari nol, berat lho itu sayang..." Lanjutku lirih. Aku mencoba hati-hati sekali berbicara, aku berusaha menggiring Nando, agar berfikir realistis. Dan memang aku bahagia, aku mencintai Nando, dan dia memilihku, tapi aku juga gak mungkin memaksakan cinta buta, justru karena aku sayang dia, aku gak mau menyusahkan nya.


" Kita coba Bi,,, kita coba. Toh gak akan kosong-kosong amat, kita cari tempat kerja secepatnya, lalu bersiap tinggal disana, apartemen ini milik aku pribadi, papa mama ku gak tau kok, bisa kita jual buat beli mobil, dan pelan-pelan kita bisa nabung buat beli rumah"


Aku kenal Nando. Nando selalu berfikir sangat realistis, cerdas, dan matang. Tapi kali ini aku seperti berhadapan dengan anak kuliahan, yang berfikir gegabah, tanpa perhitungan.


" Baik Ndo... Aku ikut kamu. Tapi kamu yakin? Hubungan kamu dengan orang tua bakal sangat buruk, dan bukan gak mungkin mama papa kamu black list kita ke hotel-hotel lain. Mereka pasti dengan mudah cari tau kita melamar kemana, se Indonesia raya, bahkan negara lain. Lalu bagaimana kita? Jika itu terjadi?" aku melemah.. Sekuat tenaga yang aku punya untuk menjelaskan pada Nando. Karena, jika aku menemukan sedikit saja sesuatu yang bisa membuat aku yakin tetap bertahan, aku akan bertahan, tetapi dari tadi, aku tidak mendapatkan kata-kata dan perhitungan matang dari Nando.


" Lalu harus gimana Bi? Aku cinta kamu, aku mau kamu, dan aku......" Nando menangis lebih kecang.. Mungkin sebagai laki-laki harga dirinya terhempas saat ini. Saat dia ingin mempertahan kan cinta nya, dan menangis seperti ini.


" Aku janji, aku janji harus bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan ke kamu. Aku gak mau kamu benci aku dan menganggap aku penjahat yang udah merusak kamu..." Lanjutnya lagi.


" Nando.... Aku gak pernah anggap kamu penjahat yang udah menodai aku. Aku lakukan itu semua juga tanpa paksaan. Aku cinta kamu Ndo. Sama seperti kamu, aku juga ingin orang yang telah mengambilnya dari ku, akan jadi suami ku" bela ku.


" Lalu?" Nando bertanya, seperti nya pikiran di kepala nya mulai terurai.


" Izin kan aku pulang... " Kondisi berbalik. Saat ini, aku yang tidak bisa lagi membendung tangis ku. Aku tetap menatap nya dalam. Nando seperti terkejut mendengar permintaan ku.


" Ya silahkan, setelah itu kamu balik ke sini lagi kan?" Jawab nya

__ADS_1


" Gak..." aku menggeleng.


" Maksud kamu gimana? Kamu mau ninggalin aku? gitu?" Nando emosi. Muka nya memerah, wajah sedih nya mulai membentuk wajah dengan amarah dan ia melepaskan tangan nya yang sedari tadi memeluk ku.


" Aku fikir Ndo, mama kamu ada benar nya. dia gak mau ajak aku, karena dia gak mau aku nyakitin ayah dan Ibu ku. Lalu aku dengan tega menyakiti orang tua mu?" Aku mulai emosional, dada ku sesak.


" Jadi kamu mau ninggalin aku Bi? Tega kamu Bi" Nando marah, dia membanting remot tv di dekatnya, lalu mendorong ku pelan, tapi aku tau artinya dia ingin menjag jarak dengan ku. Saat aku melepaskan nya, Nando berdiri marah, kembali menatap ku.


" Gak percaya aku kamu seperti itu. Bisa bisanya saat aku siang malam mencari solusi, kamu malah pasrah. Letih Bi, Letih... Kenapa cuma aku yang mau berkorban, kamu gak?"


" Ndo.. Bukan seperti itu. Bukan aku gak mikirin kamu, bukan tidak ingin mempertahan kan hubungan ini sampai pernikahan dan seterusnya, tapi sepertinya kita gak bisa... Kita sama-sama anak dari orang tua yang berharap sangat banyak pada kita, dan orang tua ku, tidak ingin kehilangan aku, aku tulang punggung mereka, kalau mereka marah dan tidak mau lagi menerima uluran tangan ku, bagaimana kehidupan mereka. Dan aku tidak ingin kehilangan restu orang tua ku, juga aku harap restu orang tua mu "


Nando semakin memerah, marah sekali, tidak pernah sekali pun aku melihat nya marah, apalagi semarah ini. Nandi berputar putar mondar mandir, seperti ingin mencari sesuatu yang bisa menjadi pelampiasan amarahnya.


" Aku mencintai kamu Ndo, gak pernah aku berfikir yang aku jalani dengan kamu hanya membuang-buang waktu, cuma sia-sia.. Gak Ndo, kamu sangat berarti buat aku. Aku bersyukur diberi kesempatan dicintai lelaki yang nyaris sempurna seperti kamu " jelas ku.


" Bohong. Kalau kamu bahagia kenapa kamu mau ninggalin aku? Kenapa?"


" Demi kita Ndo. Demi orang tua kita..."


" Aku udah bilang aku gak perduli. Aku ikhlas lepasin semua, kamu??"

__ADS_1


" Kamu hidup berkecupan sejak kecil Ndo. Hidup di beri fasilitas maksimal, dan kamu mau coba lepasin ini semua? Gak mudah Ndo. Kamu bisa saja depresi menjalani kehidupan nanti"


" Sekarang aja, aku udah depresi" Nando mendekatkan wajah nya pada ku, seolah ingin menelan ku dengan tatapan marah nya.


Nando lalu pergi, meninggalkan aku sendirian di sofa tv, dan masuk ke kamarnya.


Aku berjalan ke arah kamar ku, semoga besok, Nando lebih baik. Dan aku berharap bisa berkomunikasi sehat dan tenang dengan nya.


Aku mencoba membaring kan tubuh ku di tempat tidur. Menarik selimut, lalu memejamkan mata.


Gagal.


Aku sama sekali tidak bisa tidur. Aku mencoba membunuh waktu dengan memainkan ponsel ku. Hampir satu jam, tapi tidak ada perasaan kantuk. Sebenarnya adalah, aku merindukan Nando.


Aku memberanikan diriku. Toh kalau aku bertahan di kamarku, yang ada aku makin gelisah. Aku berjalan ke arah kamar Nando, dan mengetuk pintu nya.


Tiga kali ketukan, tak ada juga jawaban, aku coba untuk membuka pintu, dan ternyata pintu kamar nya pun tidak terkunci.


Lama aku memandangi Nando yang terbalut selimut. Aku menjauhkan semua harga diri dan resiko yang mungkin muncul, lalu aku membaringkan diri di samping Nando.


Ku sentuh wajah tidur Nando, laki laki yang membuatku benar-benar ingin hilang saja jika tidak memikinya.

__ADS_1


Tiba-tiba tangan Nando menggapai tubuhku, membelitnya kuat, tapi masih dengan mata tertutup. Aku terkejut, tapi mencoba mengerti. Aku kecup kening nya, lama... Sebelum aku lepaskan. Rindu, aku merindukan Nando, merindukan hari dimana kami hanya berdua, bercerita, bercanda, dan bercinta. Nyaris selama bersama Nando, tidak ada pertengkaran yang berarti. Pertengkaran hanya karena orang lain, pengganggu dan cemburu, dan itu pun tak berarti.


Aku menggeser tubuh ku walau sulit karena pelukan Nando yang sangat erat, dan membenamkan wajah ku di dadanya. Seketika wangi tubuh Nando mengingatkan ku pada hari pertama aku meminjam bahu nya untuk menangis. Dan hari ini, aku menangis karena cinta kami yang tidak berterminal...


__ADS_2