Rindu Dari Bian

Rindu Dari Bian
Ingin Menikah


__ADS_3

Kejadian tadi masih mondar mandir di pikiran ku. Nyaris air mata ku keluar, seperti merasa di leceh kan, walau itu hanya kecupan di kening. Tapi kami tidak punya komitmen. Itu jelas-jelas Ryo tidak menghormati ku. Aku justru lebih respect kalau dia sopan, seperti sebelum nya. Mendapat izin dari orang tua ku, belum tentu juga aku mau.


Aku bolak balik menggigit kuku ku. Biasa aku lakukan saat aku panik, stress, dan kesal. Dan semua aku rasakan saat ini. Dalam pikiran ku, apakah aku mau pulang lagi ke kota itu. Setiap aku kembali, ada ada aja kejadian yang membuat aku sedih dan kesal. Aku merasa jadi bodoh saat ini. Kepulangan ku seperti sudah di set, untuk aku di kerjain. Aku mau menyalahkan Ibu? Mungkin niat nya baik, tapi kenapa para lelaki itu gak baik? Bahkan Ryo, Ya ampun, laki-laki cupu itu berani memperlakukan aku begini.


Pesawat pun sudah mendarat saja. Aku ingin langsung memeluk Nando dan menangis. Kalau sebelum nya aku gak ingin menceritakan tentang Ryo pada Nando, tapi seperti nya dada ku penuh, dan aku harus bercerita, aku gak mau menahan nya sendiri. Dan gak ada yang bisa aku ajak bicara sekarang selain Nando.


Benar saja, saat aku keluar dari pintu kedatangan, senyuman yang aku rindukan berbaris paling depan di antara kerumunan orang-orang. Aku antara mau tersenyum atau menangis, Nando langsung mengerutkan keningnya, bingung dengan ekspresi ku. Aku langsung berjalan lebih cepat menuju Nando.


" Kok jelek muka nya?" Tanya Nando saat memeluk ku.


" Kesallll" jawab ku langsung menangis. Aku gak bisa lagi menahannya.


" Kenapa?"


" Nanti aku ceritain"


Kami pun langsung berjalan menuju parkiran. Nando membantu ku menggeret koper kecil ku.


Sesampai nya si mobil, Nando langsung mengulang pertanyaan nya.


" Cerita yank, ada apa?"


" Aku kesal, aku merasa menghianati kamu. Tapi aku gak mau, dia yang jahat, dia melecehkan aku..."


" Maksud nya gimana? Kamu ngomongnya loncat-loncat, aku gak ngerti..."


Aku menarik nafas ku panjang. Mencoba sedikit tenang. Cuma aku mikir, apa yang akan dilakukan Nando setelah mendengar cerita ku nanti? Apakah dia masih bisa menerima aku? Memaafkan ku?


" Ndo... Sebelum nya aku mau minta maaf. Jadi gini, sesampai nya aku disana, aku besuk ayah. Setelah ngobrol tentang ayah, ibu bilang dokter yang merawat ayah, dia melamar ku. Lamaran itu di sambut baik oleh orang tua ku. Dan kemaren, waktu aku pulang aku di pertemukan dengan dokter itu, dan memang dia teman SMA ku"


" Lalu? "


Aku menceritakan pada Nando, tentang kejadian dua hari ini. Aku ceritakan semua nya tanpa aku tutupi apa pun. Aku harap Nando bijaksana mendengarkan ceritaku. Hingga di akhir Ryo mencium kening ku. Juga rasa kesal tiap pulang aku merasa di kerjain, hingga kesal dan mood yang rusak.


Lalu kami pun sampai di apartemen. Nando ikut turun. Dari parkiran, wajah nya sudah sangat merah. Aku bisa rasakan kemarahan Nando. Mungkin kalau Ryo di depan nya, sudah jadi dendeng.


Sesampainya di unit, aku langsung duduk di sofa TV, Nando pun membanting tubuh nya di sofa itu. Aku mulai agak takut, Nando membentang tangan nya di sofa. Aku coba mendekat, menaikan kaki ku, lalu membenamkan wajah ku di dadanya.

__ADS_1


" Kamu tau gak perasaan aku sekarang? " Tanya Nando.


" Marah.... " Jawab ku.


" Ya, kalau aku gak mikir perasaan kamu, gak mikirin ayah kamu, aku udah hubungi si dokter itu, aku maki. Atau aku datangi dia, ku benamkan wajah nya di bak mandi"


Aku hanya terdiam mendengar Nando marah. Tapi hanya sejenak, Nando menatap ku, ia lantas mengelus punggung ku. Aku rasa Nando bisa merasakan ketakutan, penyesalan, dan kecewa ku. Wajah nya pun kembali normal.


" Udah lah, jangan pernah berhubungan dengan dia ya... Janji, jangan angkat telpon nya atau membalas chat nya"


Aku mengangguk. Nando lalu memeluk ku erat.


" Capek? " tanya nya lagi.


" Kalau badan sih gak capek yank, yang capek tu hati.."


" Yang sabar ya...."


" Aku mau menikah Ndo..."


" Aku gak berani yank, seperti nya lebih baik aku ketemu dia, setelah kita mendapat restu"


" Oke, aku coba cari waktu untuk ketemu papa ku dulu. Setelah itu, baru aku ajak kamu "


" Semoga jalan nya gak seterjal yang kita bayangkan ya yank..."


" Kamu mau bertahan dengan kondisi ini, atau apakah kita harus mengalah salah satu?" Suara Nando mulai melemas.


Aku menggeleng, arti nya aku juga tidak tahu. Aku bingung.


" Kalau papa ku marah, aku lepasin semua hak ku, kamu mau kita hidup dari nol yank? Artinya aku akan cari pekerjaan"


Sejauh itu kah Nando berfikir?


" Aku gpp, Aku pun bukan orang kaya Ndo. Aku biasa berjuang dari nol, kita sama-sama berjuang kalau memang akhirnya harus seperti itu..."


" Berarti yang mengalah aku?" Suara nya semakin lirih..

__ADS_1


" Kalau menurut kamu gimana? Apakah kita harus satu keyakinan, atau tetap seperti ini ?"


" Aku cuma mikirin keluarga yang akan kita bangun Nanti Bi, aku gak mau anak-anak kita nanti bingung. Bingung menentukan siapa yang harus mereka ikuti. Dan aku gak mau akhir nya mereka berfikir mana yang lebih baik. Itu sama saja dia memvonis salah satu dari kita salah. Itu saja. Walau aku tau, Tuhan kita cuma satu, cara kita berdoa saja yang berbeda "


" Aku sampai saat ini, tidak pernah berfikir untuk menghianati Tuhan ku, atau mengajak kamu untuk ikut dengan ku. Aku gak pernah mau memikirkan itu. Aku takut, itu yang memisahkan kita"


" Itu pilihan Bi, ini ujian... Pilihan nya hanya tinggalkan kamu, atau tinggalkan Tuhan ku"


Deg...


Nando benar, ini pilihan dan keputusan sulit bagi nya. Apa yang di pilih nya nanti, adalah beban dan tanggung jawab besar, karena pada akhirnya dia yang menjadi kepala rumah tangganya. Sejujur nya aku gak sanggup memutuskan salah satu nya.


" Sudah saat nya kita mikirin ini Bi, ujian nya nambah terus. Setelah selesai Renya, sekarang muncul Ryo. Aku takut kalau lama-lama kita gak nikah, entah apalagi ujian baru nya"


" Ya ini Ndo, ujian baru nya setelah Ryo, Keyakinan kita dan orang tua kita "


Nando mengelus punggung ku.


" Kamu sudah haid ??"


" Sudah, kemaren waktu berkemah kamu juga nanya hal yang sama"


" Aku berusaha memperpendek prosesnya. Tapi Tuhan seperti nya belum mengizinkan kita memperpendek nya.. Kita harus ikuti jalan panjang nya."


" Ya, jalani aja..."


" Aku cari waktu dulu ya, buat ketemu Papa, semoga beliau bijaksana memandang masalah ini"


" Aku doakan dengan cara ku, semoga semua lancar dan baik-baik saja... Tapi apa pun keputusan kamu, aku dukung, dan aku akan ada di samping kamu"


Nando memeluk ku semakin erat. Dan kami pun hanyut dengan suasana itu..


Berdua...


Tuhan, aku ingin dia...


Semoga ada jalan bagi kami untuk bersama...

__ADS_1


__ADS_2