
Ayah dan Ibu menatap ku lama, ekspresi nya seperti berkata dalam hati "ada apa sama kamu Sena?" yaa.. itu menurut ku ya, asli nya mungkin lebih panjang.
"Sena…." panggil ayah, Ia masih berusaha menahan amarah dan berbicara lebih pelan.
Aku tidak menjawab. Tapi langsung mengarahkan pandangan ku kepada nya.
" Apa yang terjadi sama kamu dan Dion? kenapa kamu tiba-tiba pulang dan membawa orang lain? kamu gak lagi hamil kan nak?"
Aku menggeleng, padahal alasannya sudah aku jelaskan tadi. Tapi ayah masih bertanya, indikasi nya bahwa ayah memang tidak mempercayai aku.
" Sena udah jelaskan tadi yah, Dion semakin kasar ke Sena belakangan sebelum kami putus kemarin. Sena juga heran, kenapa tiba-tiba menurut informasi Ibu, Dion makin sering datang" jelasku, air mata ku mulai memenuhi kelopak mata. Yang aku rasakan, sebenarnya sakit, tapi orang tua ku gak percaya.
" Kan selama ini Dion perhatian sama kamu. Gak pernah ada masalah yang berarti, sekarang apa karena kamu udah dapat pacar baru? maka nya kamu tinggalkan dia?"
" Gak gitu yah, Sena jalan dengan Nando setelah Sena selesai dengan Dion Yah,,, gak tau kalau Nando gak ada nemanin Sena yah,,,"
" Kamu masih merasa baik-baik aja karena masih baru Sena, " bentak ayah.
" Pokok nya minggu depan pertungan akan berlangsung sesuai rencana. Titik. Kamu suruh pulang aja itu pacar kamu, jangan sampai kelihatan sama Dion, atau orang lain. Kamu harus tau, keluarga udah tau, jangan buat keluarga kita malu. Jangan mentang-mentang kamu cantik, kamu bisa aneh-aneh. Ingat keluarga Dion siapa" omel nya lagi.
" Yah, maaf kan sena sekali ini. Dion dari dulu sudah possessive, Sena berkali-kali ingin meninggalkan Dion, tapi alasan keluarga juga Sena tetap bertahan. Tapi terakhir kemarin Dion kurang ajar. Dia tuduh Sena jual diri, dia merendahkan ayah Ibu… Sena gak bisa terima yah"
" Sena, seumur kamu ini, bukan saat nya pacaran-pacaran kaya anak sekolahan. Bukan cuma mikir hidup untuk hari ini, kamu harusnya udah mikir pasangan untuk masa depan kamu. Kamu cari yang mapan, yang bisa bahagiakan kamu, memiliki hidup lebih baik dari yang ayah dan Ibu berikan, yang paling penting, hidup anak-ank mu harus lebih baik dari hidup mu saat ini " Ibu mulai ikut menasehati ku.
" Kamu lihat Dion, siapa orang tua nya? apa bisnis nya, kamu sekarang tulang punggung di rumah ini. Apakah kamu tidak ingin adik-dadik mu mendapatkan kesempatan yang baik?" tambah Ibu.
" Buuuu, Sena gak bisa lanjutkan dengan Dion..maafkan Sena bu" Aku memohon pada Ibu untuk mengerti.
" Apa bisa kamu cari lagi yang lebih baik dari Dion? " Ayah berteriak membentak ku
" Pa,,,, Nando juga bukan orang sembarangan, keluarga nya juga sangat berada, bahkan jauh lebih kaya dariapada Dion" jawab ku membela diri.
" Oh, jadi itu alasan kamu meninggalkan Dion? dapat yang lebih kaya?" Kata ayah lagi.
Aku binging, tadi ayah bertanya, aku jawab juga aku salah.
" Pokok nya, entah dengan siapa Sena akan berjodoh, tapi saat ini Sena belum bisa bertunangan dengan Dion" Dengan tegas aku sampaikan.
Tiba-tiba sebuah mobil masuk kehalaman rumah ku. Dion turun. Entah siapa yang menghubungi nya. Perasaan ku campur aduk, melihat pria egois yang tidak memikirkan perasaan ku.
Seketika ayah dan Ibu tersenyum, menyambut Dion. Sedangkan aku, seperti terdakwa yang sedang di adili.
Dion menyalami ayah dan Ibu, lantas duduk di sebelah ku. Sepertinya dia belum tau apa yang terjadi.
" Kok pulang sebelum jadwal nya?" tanya nya kepada ku.
Aku enggan menjawab. Sakit saat di kata-katai nya menjual diri, masih terasa oleh ku.
__ADS_1
" Siap-siap ya, minggu depan kita lamaran. semuq udah aku siapkan" tambah nya lagi dengan wajah kemenangan.
" Siapa? lamaran siapa?" tanya ku emosi.
" Ya kitalah, siapa lagi? kamu juga udah dengar kan dari orang tua ku kemarin"
" Maaf ya, gak bisa. Besok aku balik ke sana, Udah ah, aku mau istirahat" aku langsung berdiri dari sofa. Diluar dugaan ku, ayah malah membulatkan matanya marah kepada ku.
" Duduk kamu Sena" gertak nya.
" ada apa sih ini semua. Kan udah bilang Sena capek yah.."
" Kamu gak akan bisa balik lagi ke kota itu. Dengar ya, ayah tidak akan mengizinkan kamu lagi pergi " Aku terkejut mendengar kata-kata ayah. Ada-ada saja. Bisa gitu ya, ayah lebih percayakan aku ke Dion daripada kebahagiaan ku.
Dion yang menyaksikan itu semua, seperti bahagia. Ia menang. Inilah rencana yang di aturnya selama tidak menghubungi ku. Dasar orang egois. Tapi apa pun itu, tidak akan membuat aku menjadi pasrah, aku gak mau, tidak akan membiarkan Dion kembali menang dan menghina ku.
Aku pun masuk ke kamar. terserah ayah berteriak sebesar apa pun. Aku sedang ingin sendiri. Aku putuskan untuk tidak dulu berbicara dengan Nando. Aku yakin Nando akan menduga kondisinya seperti apa, tanpa aku beri tahu.
Apa aku kembali saja ? padahal aku masih rindu keluarga ku. Aku menutup pintu kamar ku, mengganti pakaian, dan mencoba menghubungi Nando.
" Yank.." chat ku pada Nando
" Ya, gimana? aman?"
" Gak lah, ayah marah besar, dan Dion ada di sini sekarang"
" Aku kesana ya, pengen liat tampang anak itu langsung"
"Sekalian, udah ribut juga"
" Iya, ayuk lah, jemput aku, aku pengen keluar, malas di rumah, padahal masih rindu ayah ibu sebenernya"
" Oke, aku jemput ya"
" sini… bawa security yang banyak"
" Kok?"
" Buat bantuin berantem"
" Hahahahhaaaa, aku berangkat"
Aq pun menunggu Nando datang saja. Tiba-tiba pintu kamarbdi ketuk. Ayah dan Ibu masuk. Ayah masih seperti tadi kondisi nya.
" Siapa laki-laki yang kamu bawa tadi?"
tanya ayah
__ADS_1
" Tadi udh Aena kenalkan yah, nama nya Nando"
" Dia yang berani cium kamu di depan Dion?" tambah Ibu seakan tidak percaya
" Bu, itu terjadi setelah Sena dan Dion putus, dan awal nya Nando diam saja Dion menelpon, tapi setelah Dion memaki maki Sena, Nando marah"
" Terus dia itu siapa? bos kamu? kamu bohong, kata nya tadi pemilik hotel" kata Ayah..
" Iya, bos Sena, pemilik hotel, yang hotel nya ada dari Sabang sampai Merauke.. "
" Terus keyakinan nya beda sama kita?" Teriak Ayah sampai aku terkejut. Ayah benar-benar marah.
Aku terdiam, kali ini gak sanggup lagi menjawab. Kalau untuk yang satu ini aku memang mengaku salah.
" Kamu ada yg di depan mata tinggal melangkah aja, malah pilih yang masuk ke semak belukar Sena. Ayah tidak akan pernah menyetujui kalau berkaitan dengan keyakinan, dan kamu pikir, dia yang kaya raya itu mau mengalah? lalu orang tua nya akan menerima kamu apa adanya begitu?"
Kurang ajar si Dion, malah mencari tau siapa Nando secepat itu. Aku sangat benci Dion. Rasa nya gak bisa nahan lagi, emosi ku ke Dion sudah memuncak. Malah membuat aku semakin jijik melihat nya.
Aku lantas keluar kamar. Tidak perduli dengan ayah dan Ibu, menurut ku ini semua ulah Dion. Aku susul si pengecut itu di ruang tamu.
" Kamu mau nya apa? kamu racuni pikiran ayah dan ibu, padahal kamu yang merusak hubungan ini, kamu yang menghina keluarga ku, termasuk ayah ku kamu hina, kamu suruh aku jual diri, lalu kamu sembunyi, seolah-olah semua salah ku, aku yang berkhianat" sambil berurai air mata aku luapkan amarah ku ke Dion. Aku berbicara sampai berteriak-teriak.
" Lalu kamu gak salah, secepat itu kamu gantikan aku sama cowok itu? kenapa? apa karena dia lebiha kaya?" bela Dion
" Kalau iya kenapa? kamu harus nya malu sama dia, dia punya segala-galanya, tapi dia hargai aku, dia gak pernah berbicara merendah kan aku, tapi kamu? bertahun-tahun aku harapkan kamu berubah, tapi gak bisa, kamu tetap Dion yang egois.. Maaf kalau dulu banyak pertimbangan yang aku pikirkan untuk mutusin kamu, sekarang gak, apa pun yanh kamu lakukan gak akan menarik simpati aku, aku gak perduli" Teriak ku lagi.
Dalam pikiran ku, kalau ayah Ibu tidak juga kooperatif, aku akan pergi saja, aku gak mau tinggal di rumah ini. Berbahaya buat ku.
" Ayah, Ibu, kalau ayah ibu mau Sena tetap menikah sama Dion, anggap aja Sena hilang selama nya. Gak mau Sena… Tetap tidak. Walau bukan Nando nanti nya yang akan menikah dengan Sena, siapa saja, tapi bukan dia…"
" Sena, kenapa kamu jadi seperti ini? siapa yang ajarin kamu marah-marahin ayah Ibu? " teriak Ibu.
" Apa pun yang Sena lakukan sekarang salah, terserah ayah ibu mau mikir apa, Sena capek"
Tiba-tiba Nando datang. Dengan sopan Nando mengetuk pintu. Semua mata tertuju pada Nando. Dan tiba-tiba Dion berjalan cepat menuju Nando. Satu pukulan ke arah wajah Nando tidak tertangkis oleh Nando.
Dion membabi buta menyerang Nando, Nando yang awal nya masih mengalah, melawan juga akhirnya. Hidung Dion berdarah.
Aku lantas berteriak sekuat hati, sampai driver yang d bawa Nando turun untuk membantu melerai nya, aku langsung masuk kekamar mengambil koper ku kembali, dan keluar.
"Sena…" teriak ayah
" Sena pergi dulu yah, Nanti kalau kita semua sudah bisa berfikir waras, Sena pulang. Ayah Ibu bisa kapan saja menghubungi Sena, tapi maaf, sekarang Sena pergi dulu"
" Kalau kamu keluar sekarang, jangan balik lagi kesini, jangan pernah, sanggup kamu mempermalukan keluarga. Gak nyangka Ayah kamu buat ayah seperti ini Sena"
Aku keluar dari rumah sambil menyeret lengan Nando. Nando melepaskan tangan ku, dia berbalik arah ke Ayah.
__ADS_1
" Bapak, ibu, maaf atas senua kejadian ini. Saya janji akan jaga Bian, tidak akan sakiti Bian, dan Nanti saya akan kirimi Bapak Ibu nomor saya,, saya tulus mencintai Bian Pak, saya janji Bian akan bahagia bersama saya" Ucap Nando. Lalu Nando mengatupkan kedua tangan nya, untuk berpamitan.
Aku hanya menyaksikan dari jauh, aku takut di tarik kembali masuk ke rumah, dan apa yang aku rasakan sekarang? aku sedih, hati ku rasanya sakit, orang tua yang aku sayangi harus aku tinggalkan, karena seorang laki-laki pengecut.